
Vina masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Bos yang sangat dingin dan angkuh itu saat ini adalah calon adik iparnya. Keluarga Vandra pun berkumpul untuk membahas persoalan pernikahan yang dibicarakan keluarga Andra tanpa Adit. Walau hampir larut malam tapi Vandra kekeh ingin membicarakan hal itu secepat mungkin.
"Vin, dari tadi Ibu perhatikan kamu kenapa serius menatap Nak Andra. Apa sebelumnya kamu kenal sama Nak Andra?" tanya Ibu Hani.
"Ga Bu, aku cuma ga percaya aja kalau Vandra akan menikah dengan Andra" bohong Vina. Vina tak ingin orangtuanya tau bahwa Andra adalah atasannya dan juga sikap Andra yang sebenarnya. Apalagi sebentar lagi Vandra akan menikah dengan Andra, jika Ayah dan Ibu tau hal itu pasti akan membuat semuanya menjadi kacau.
"Begitu ya. Lalu Van, bagaimana pendapat kamu?" Tanya Ibu Hani.
"Tapi sebelum itu, Ayah mau menanyakan lagi sama kamu. Kamu yakin mau melanjutkan ini? pernikahan itu bukan sesuatu hal yang mudah, apalagi Ayah tau kamu belum mencintai Nak Andra. Kalau seandainya kamu ragu, Ayah dan Ibu akan membicarakan hal ini dengan keluarga Andra termasuk soal mengganti uang yang sudah diberikan pada keluarga kita" ucap Ayah Hadi.
"Ayah ga mau merusak masadepan dan pilihan hati kamu" Ayah Hadi menambahkan.
"Aku yakin Yah sama keputusan aku. Lagipula, perasaan cinta itu bisa datang kapanpun seiring berjalannya waktu" Vandra menyakinkan.
"Ibu, Ayah sama Ka Vina juga ga perlu memikirkan perasaan aku. Jangan menggangap apa yang aku lakukan itu menjadi beban buat kalian, aku akan membuktikan bahwa keputusan aku ini tepat" lanjut Vandra.
"Kamu dewasa sekali Van, maaf harus melibatkan kamu dengan apa yang terjadi" sesal Ibu Hani.
"Ini mungkin udah jalan takdir aku Bu. Aku harus siap dan hadapi ini semua" Vandra menenangkan.
"Jadi kamu akan menyetujui permintaan Pak Tomy untuk mengadakan pernikahan kamu dan Nak Andra bulan depan?" tanya Ayah Hadi.
"Iya Yah"
"Kalau itu keputusan kamu Ayah, Ibu dan Ka Vina akan mendukung kamu"
"Iya Yah"
"Lagipula kalau pernikahan ini cepat dilakuin aku akan cepat terbebas juga dari sebuah kebaikan hutang budi sama keluarga Om Tomy. Semoga aja satu tahun setelah pernikahan nanti akan cepat berlalu" batin Vandra.
"Sudah terlalu malam, kita istirahat. Kita bahas ini lagi nanti" ucap Ibu Hani.
"Iya Bu" ucap Vandra dan Vina bersamaan.
__ADS_1
Vina mengetuk pintu kamar Vandra. Malam itu Vina ingin tidur bersama Vandra, tapi disisi lain Vina juga ingin membahas tentang Andra. Untungnya malam itu Vandra mengijinkan, Vina pun berbaring disamping Vandra sembari menatap langit kamar berdua.
"Apa ada yang mau Kaka bahas sama aku? ga biasanya lho Kaka mau tidur dikamar aku" tebak Vandra.
"Kamu tau? Andra yang akan menikah sama kamu itu, Andra Bos Kaka dikantor"
Vandra refleks melihat Vina. Apa maksudnya?.
"Kaka yakin?" Vandra tak percaya.
"Kaka Yakin Van. Andra memang ga tau Kaka pegawainya, jujur Kaka kaget waktu dia datang tadi"
"Jadi karna itu Kaka terus perhatiin Andra?"
"Iya. Kaka ga jujur sama Ibu dan Ayah soal ini, Kaka ga mau nanti Ayah dan Ibu kepikiran karna memikirkan soal sikap asli Andra. Van, Kaka rasa kamu harus pikir lagi deh soal keputusan kamu. Menghadapi cowo kaya gitu pasti sulit dan bikin hati sakit"
"Ka, setiap orang pasti punya sisi baik dalam dirinya. Mungkin aja Andra bersikap begitu karna ada penyebabnya, lagiapula kalau Andra bukan cowo patuh mana mungkin dia menuruti kemauan Om Tomy sampai saat ini. Doain aja yang terbaik untuk aku Ka, apapun yang terjadi nanti semoga membuat kehidupan aku jadi lebih baik"
"Iya Van, Kaka akan mendoakan yang terbaik untuk kamu. Kamu sekarang benar-benar udah tumbuh dewasa dan kamu memiliki hati yang baik" puji Vina.
"Iya Van"
***
Andra sampai dikantor tepat sebelum jam kantor dimulai, saat berjalan dilobby kantor Andra seolah melihat sosok yang ia temui semalam. Sosok itu adalah Vina, Andra sangat yakin dengan sosok itu. Tak ingin membuat sebuah argumen dikalangan karyawan, Andra meminta Sekertaris Riko untuk mencari tau sosok yang dilihatnya, Andra hanya ingin memastikan benar atau tidak apa yang dilihatnya.
"Kalau kamu sudah selesai, serahkan informasi itu secepatnya"
"Baik Tuan"
Sekertaris Riko mengetuk pintu lalu masuk keruangan Andra untuk menyerahkan informasi yang diminta Andra. Andra memperhatikan baik-baik foto yang ia lihat, dugaannya benar. Ternyata Vina salah satu karyawannya yang juga Kaka Vandra. Dunia sangat sempit sekali, ternyata takdir mempertemukan hal yang tak pernah terduga.
"Tolong kamu panggilkan dia keruangan saya" Perintah Andra.
__ADS_1
"Baik Tuan" Sekertaris Riko berlalu pergi.
"Pantas aja semalam dia menatap serius, ternyata dia pegawai gue sendiri. Sekarang dunia terasa sungkan buat gue, bawahan gue bakal jadi Kaka ipar gue" gumam Andra.
Tak lama suara ketukan pintu memecah pemikiran Andra. Vina yang ditunggu oleh Andra bergegas masuk lalu berdiri dihadapan Andra. Vina sedikit canggung menghadapi situasi itu, saat ini pasti Andra sudah menyadari siapa dirinya.
"Anda benar Kaka perempuan Vandra yang saya temui semalam kan?" tanya Andra memastikan.
"Benar Tuan, maaf saya tidak memperkenalkan diri sebagai pegawai Anda semalam"
"Tidak masalah. Semalam kita sedang tidak dilingkungan kantor jadi saya tidak mempermasalahkan hal itu, saya hanya terkejut ternyata Anda bekerja diperusahaan saya. Saya juga meminta Anda datang kemari karna saya ingin memastikan bahwa Anda yang saya temui semalam. Kalau begitu Anda bisa kembali lagi bekerja"
"Baik Tuan"
"Oh iya, Saya minta tolong rahasiakan dulu soal yang terjadi diantara keluarga kita. Saya tak ingin ada argumen atau isu yang tersebar saat ini" pinta Andra.
"Baik Tuan, Saya permisi"
"Iya"
Vina berjalan kembali kemeja kerjanya, ada rasa sunggkan saat ini jika bertemu Andra. Selain Andra atasannya Andra juga akan menjadi adik iparnya nanti. Semakin Vina pikirkan semakin ada kekhawatiran pada Vandra, sosok Andra yang dingin seperti itu apakah bisa menjadi lelaki yang pantas untuk Vandra?.
"Vin, kenapa melamun?" tanya teman kantor Vina yang bernama Tina datang menghampiri.
"Ga apa-apa"
"Serius? Apa ada masalah? Soalnya Tadi katanya kamu diminta Sekertaris Riko untuk keruangan Tuan Andra"
"Iya, Tapi bukan masalah apa-apa ko. Aku lanjut kerja dulu ya" Vina berlalu pergi, ia tak ingin Tina bertanya lebih lagi soal Andra.
***
Kelas saat itu belum dimulai, selagi menunggu Vandra duduk seorang diri ditaman kampus sambil membaca buku. Tiba-tiba Vandra mendapat sebuah pesan dari Tante Amira. Vandra diminta untuk datang kerumahnya selesai kuliah nanti, Vandra membalas pesan itu dan bersedia untuk datang kerumah Tante Amira.
__ADS_1
Vandra menghembuskan nafas pelan, mulai saat ini kehidupannya akan berubah. Tapi apa Vandra sudah siap untuk menjalani hidup kedepannya? Apalagi Vandra sudah menyetujui pernikahan itu akan terjadi bulan depan, itu artinya semua mimpi bahkan cinta tak bisa Vandra raih dengan keinginan dan pilihannya sendiri.
***