
Vandra tengah menyiapkan makan malam untuknya dan juga Andra, namun tiba-tiba Andra keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Andra berpamitan pada Vandra bahwa ada seseorang yang harus ia temui. Vandra hanya mengangguk tanpa merasa penasaran siapa yang akan Andra temui.
Diperjalanan Andra menelpon Vivi dengan rasa cemas, Andra merasa sedikit khawatir dengan apa yang Vivi rencanakan padanya. Sampai berkali-kali Andra menghubunginya tetap saja Vivi tak mengangkat telponnya. Dengan cepat Andra menambah kecepatan mobilnya untuk sampai dikafe milik Dino.
Sampai dikafe Andra mencari sosok Vivi kesegala arah, dan akhirnya Andra menemukan sosok Vivi tengah duduk seorang diri. Andra dengan cepat menghampiri Vivi dan langsung mempertanyakan maksud dari notif yang dikirim untuknya.
"Apa maksud kamu tentang rahasia yang kamu punya tentang aku?" tanya Andra tanpa basa-basi duduk dihadapan Vivi.
"Kamu tenang dulu dong, kita santai-santai aja dulu"
"Aku ga punya waktu untuk itu. Sebenernya apa yang kamu rencanain?" Andra bertanya serius.
Flashback On.
Andra baru saja selesai membersihkan dirinya, dan tak lama Andra mendapat sebuah notif dihandphonenya. Andra mengambil handphonenya lalu membaca notif yang dapat dari Vivi.
"Aku tunggu kamu dikafe Dino sekarang. Ada hal yang harus aku bahas tentang rahasia kita berdua"
Andra termenung memikirkan rahasia yang terjadi diantara Vivi dan Andra. Seingat Andra, tak ada hal rahasia yang pernah terjadi diantara mereka. Tak ingin Vivi melakukan hal yang melewati batas, Andra menuruti keinginan Vivi untuk menemuinya dikafe milik Dino.
Flashback Off.
"Kamu kenapa curiga gitu sih sama aku? aku tuh ga pernah mau rencanain apapun sama kamu, aku cuma mau ketemu kamu aja" manja Vivi menjawab.
"Vi, ini bener-bener ga lucu ya. Aku tau kamu pasti merencanakan sesuatu kan? aku tau kamu Vi, kamu itu licik" tuduh Andra.
Vivi hanya tersenyum manis menatap Andra. Ia tak peduli Andra menilai buruk tentangnya. Tak lama seorang pelayan kafe datang menyuguhkan dua minuman untuk Andra dan juga Vivi.
"Dra, aku tuh cuma mau mendapatkan kamu lagi. Karna ga ada cara lain lagi selain aku mengancam untuk ketemu kamu" santai Vivi berucap.
Andra mengendus kesal mendengar ucapan Vivi, rasanya ingin sekali menghujat Vivi dengan kata-kata kasar. Karna menahan kesal tanpa disadari Andra menenguk minuman dihadapannya, Vivi tersenyum penuh arti melihat Andra menenguk minuman dihadapannya.
__ADS_1
Tak berselang lama Andra merasa ada yang berbeda dari tubuhnya, rasanya seperti memacu gairah saat melihat Vivi dihadapannya. Andra menahan diri dan tak ingin terjebak oleh rencana Vivi. Sambil mengontrol diri Andra berpura-pura berpamitan ketoilet pada Vivi, Vivi membiarkan Andra pergi karna Vivi yakin Andra pasti tak akan tahan melihatnya.
Andra menghentikan taxi untuk pulang menuju apartemen. Andra benar-benar tak ingin hal dirasakannya bisa membuatnya dalam masalah. Bahkan Andra pun tak memperdulikan mobil yang ia tinggalkan dikafe Dino. Urusan itu Andra akan meminta Sekertarus Riko untuk mengurusnya.
Tiba diapartemen Andra langsung menuju kamar Vandra, saat itu gairahnya benar-benar sudah tak bisa ditahannya lagi. Pintu kamar Vandra yang tak terkunci pun dengan mudah dimasuki Andra dengan leluasa. Tanpa memikirkan apapun Andra langsung menghampiri Vandra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Andra mencium bibir Vandra bertubi-tubi, bahkan Vandra yang berusaha melawan Andra seakan tak berdaya untuk terlepas dari pelukan Andra. Fisik Andra yang lebih besar dibanding Vandra membuat Vandra terjebak dalam gairah yang tengah dirasakan oleh Andra.
"Maaaas.. lepas" ucap Vandra terbata-bata berusaha terlepas dari Andra. Namun Andra masih saja mencium Vandra dengan buasnya.
Tak hanya mencium dengan bertubi-tubi, Andra menarik Vandra ketempat tidur. Tanpa merasa kasian dan memperdulikan tangisan Vandra yang mulai terisak, Andra semakin berusaha membuat Vandra terikat dengan gairahnya.
"Mas aku mohon jangan" Vandra memelas sambil terisak tangis.
"Ini sudah waktunya kamu untuk melakukan kewajiban kamu sebagai istri" ucap Andra.
Andra sudah tak mampu lagi menahan gairahnya. Dengan sekali perbuatannya, Andra akhirnya mampu merebut mahkota Vandra yang selalu ia jaga selama ini. Vandra menangis tersedu-sedu merasakan apa yang ia alami. Berbeda dengan Andra, Andra seketika terlelap tidur tanpa merasa bersalah tentang apa yang terjadi.
***
Pagi hari Andra mulai terbangun dari tidurnya, Andra cukup terkejut melihat situasi kamar yang berbeda dan tubuh yang tak memakai kain sehelai benang pun. Semua sudut dipandangi Andra dengan baik, dan benar kamar itu bukan miliknya namun milik Vandra. Andra mengingat kejadian semalam yang membuat ia berada dikamar Vandra, dan seketika Andra teringat kejadian semalam yang telah merenggut mahkota Vandra.
Andra mengutuk kesal atas perbuatan yang dilakukannya pada Vandra, dan perbuatan itu terjadi pasti karna Andra menghindari rencana Vivi. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, sekarang bagaimana caranya menghadapi Vandra? Yah, Vandra? dimana dia? kenapa Andra tak melihat sosoknya? apa dia sudah pergi?.
Andra memakai pakaiannya lalu beranjak pergi keluar kamar. Andra tak melihat tanda keberadaan Vandra, lalu kemana dia? Andra mengambil handphonenya lalu menghubungi Vandra tapi Vandra tak mengangkatnya. Apa dia segaja menghindar karna perbuatannya semalam? gumam batin Andra.
***
Andra masih saja menatap layar handphonenya. Pikirannya tentang Vandra masih membuatnya tak fokus, ingin sekali menghubungi Vandra namun Andra takut Vandra masih terkejut dengan kejadian semalam.
Sekertaris Riko datang memecah pemikiran Andra. Ia melaporkan tentang Vandra atas perintah Andra, Andra segaja meminta Sekertaris Riko untuk mencari tau keberadaan Vandra, ia merasa cukup khawatir dengan kepergian Vandra yang pergi begitu saja.
__ADS_1
"Jadi dimana dia?" tanya Andra.
"Nona Vandra sudah berada dikampusnya Tuan"
"Apa dia baik-baik saja?" Andra penasaran.
"Nona Vandra baik-baik saja. Bahkan Nona terlihat ceria bersama teman-temannya. Tapi Tuan..." Sekertaris Riko menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" Andra menunggu jawaban Sekertaris Riko.
"Ada sosok lelaki yang begitu terlihat menyukai Nona Andra. Setelah saya selidiki ternyata lelaki itu adalah sosok lelaki yang dulu pernah Nona Vandra suka. Dan sekarang mereka berdua dekat kembali" Sekertaris Riko menjelaskan.
"Apa lelaki itu adalah orang yang pernah saya lihat dikafe bersama Vandra?"
"Iya Tuan"
"Itu berarti lelaki yang Oma maksud juga lelaki yang sama?" Andra memastikan.
"Iya Tuan"
"Apa mereka berdua menjalin hubungan rahasia?" batin Andra.
"Kalau gitu pantau terus mereka berdua terutama Vandra, saya mau kamu menjaga dan terus pantau keberadaanya" perintah Andra.
"Baik Tuan, saya permisi"
"Iya"
Andra mengepalkan tangannya mendengar apa yang ia dengar dari Sekertaris Riko. Rasanya Andra mulai kesal dengan sikap Vandra yang mulai dekat dengan lelaki lain saat kesepakatan dengannya masih berjalan.
Tapi kenapa Vandra masih bisa bersikap ceria? apa dia baik-baik saja dengan kejadian semalam?.
__ADS_1
***