Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Kebaikan


__ADS_3

"Apa Vandra ga kasih jawaban tentang itu sama, kamu?" Dinda menanyakan.


"Vandra ga jawab apapun soal itu. Apa itu artinya memang ada sosok lelaki lain dihidup Vandra?" Randy memastikan lagi bertanya.


"Rand, aku ga bisa jawab soal itu. Aku bukannya membenarkan atau engga, tapi soal itu hak Vandra untuk jawab. Aku memang sahabatnya, tapi untuk urusan hati aku ga bisa ikut campur. Kamu bersabar aja, aku yakin Vandra pasti akan jawab semuanya sama kamu" ucap Dinda.


Randy menatap Dinda sekilas, yang diucapkan Dinda memang benar. Tapi jika seandainya memang ada sosok lain dihati Vandra bagaimana dengan perasaan Randy saat ini? jika dipikir kembali, ini semua memang salahnya. Kepergian Randy tanpa mengabari Vandra bisa saja menjadi salahsatu alasan perasaan Vandra menjadi goyah.


***


Hampir jam11 siang Vandra bersiap menunggu tamu sesuai yang Andra minta. Vandra mengumam dalam hati karna harus menunggu, rasanya ingin tertidur lelap agar tubuhnya merasa lebih baik. Tak lama Andra membuka pintu karna tamu sudah tiba.


Vandra tersenyum senang, ternyata tamu yang ditunggu adalah keluarganya. Dengan berlari kecil Vandra menghampiri Ayah Hadi, Ibu Hani, Vina dan Adit. Rasanya begitu bahagia mendapat kejutan seperti ini.


"Aku seneng kalian semua datang kesini" ungkap Vandra gembira.


Andra tersenyum kecil melihat ekspresi bahagia Vandra, tak disangka ternyata Vandra sebahagia itu dengan kedatangan keluarganya.


"Kami juga senang bisa ketemu kamu" ucap Ibu Hani mewakili.


"Ayo duduk" ajak Vandra pada keluarganya.


"Saya buatkan minum dulu" ucap Andra namun ditahan oleh Vandra.


"Ga usah Mas, biar aku aja"


"Ga apa-apa. Kamu pasti rindu kan sama Ayah, Ibu, Ka Vina dan Adit. Biar Mas yang buatkan minum" Andra kekeh.


"Ya udah kalau gitu kita buat berdua aja. Aku buat minum dulu ya" pamit Vandra sembari mengandeng tangan Andra.


Andra terkejut dengan apa yang dilakukan Vandra, Andra yakin Vandra refleks memegang tangannya. Tapi apa ini? kenapa rasanya bahagia?.


Vandra membuat minum dan menyiapkan cemilan dengan wajah gembira, Andra yang melihatnya begitu ikut bahagia. Entah merasa berhasil membuat Vandra bahagia atau memang senang melihat senyuman Vandra, Andra tak bisa membedakannya.

__ADS_1


Tak lama Ibu Hani datang menghampiri Vandra didapur, Andra yang tadi menemani Vandra sudah bergabung kembali dengan keluarga Vandra yang lain sambil membawa minuman. Ibu Hani lalu menyimpan paper bag berisi makanan yang dibuat oleh Ayah Hadi sebelum datang ke apartemen Vandra.


"Ini apa Bu?" tanya Vandra.


"Ini makanan yang Ayah buat. Tadi pagi Nak Andra telpon, katanya kamu dan Nak Andra ada diapartemen terus Nak Andra minta dibawakan makanan buatan Ayah untuk makan siang dan juga Nak Andra minta kami semua datang. Makanya Ayah, Ibu,Ka Vina, Adit datang kesini" jawab Bu Hani.


Vandra seketika memandangi Andra dari arah dapur, tak disangka walau dipandang angkuh dan dingin ternyata Andra masih memiliki rasa peduli. Vandra tersenyum kecil, tak diduga Andra melihat Vandra tersenyum padanya. Refleks Vandra dengan cepat membalikan tubuhnya.


"Kenapa dia harus liat aku senyum kearah dia coba? pasti dia mikir aneh-aneh" gumam batin Vandra dengan memasang ekspresi malu.


"Van, kamu kenapa?" Bu Hani bertanya melihat Vandra yang bersikap salahtingkah.


"Ga apa-apa Bu. Sini biar aku siapin Bu" Vandra mengalihkan.


Vandra mengambil paper bag lalu menyusunnya dipiring. Ia segaja melakukan hal itu agar Ibu tak bertanya lebih lagi.


Makan siang berlangsung dengan suasana hangat, Vandra benar-benar merasa bersemangat karna bisa merasakan berkumpul menikmati makan bersama keluarganya. Tubuh yang semula merasa tak baik pun berubah menjadi lebih baik saat ini. Sungguh, Andra benar-benar sangat memahami apa yang Vandra rasa dan inginkan.


"Terimakasih ya Ayah untuk makanannya. Maaf merepotkan" ucap Andra.


"Karna Ayah dan keluarga ada disini, saya mau memberitahu sesuatu"


"Soal apa Nak Andra?" Ibu Hani bertanya.


"Sebelumnya saya tidak bermaksud apa-apa. Tapi saya sudah menyiapkan hadiah untuk Ayah dan Ibu. Maaf kalau misalkan Ayah tersinggung, tapi saya mau Ayah dan Ibu bisa lebih mengembangkan usaha yang dijalani"


"Ayah jadi bingung, maksudnya Nak Andra bagaimana?"


"Saya sudah menyiapkan sebuah restoran untuk Ayah dan Ibu. Anggap saja ini hadiah untuk Ayah dan Ibu dari kami berdua" Andra menjelaskan.


"Restoran?" Ayah tercengang.


"Iya Ayah. 1 bulan lagi restoran itu siap dibuka, saya harap Ayah dan Ibu mau menerimanya"

__ADS_1


Ayah Hadi dan Ibu Hani saling menatap tak percaya.


"Tapi Nak Andra, Ayah rasa itu terlalu berlebihan"


"Ayah pantas menerimanya. Saya merasa bakat Ayah harus lebih dikembangkan, saya yakin restoran yang Ayah kelola nanti pasti akan ramai"


"Ternyata ucapan dia ga main-main. Aku pikir rencana dia mau kasih restoran buat Ayah cuma ucapan kosong aja, ternyata itu nyata" batin Vandra melihat Andra.


"Ibu ga tau harus bilang apa. Nak Andra sangat baik"


"Ini sudah kewajiban saya juga Bu memberi yang terbaik untuk kehidupan Ayah, Ibu, Ka Vina dan Adit" Senyum Andra berucap.


"Terimakasih ya Dra untuk kebaikannya" Vina menambahkan.


"Iya Ka"


Tak terasa langit senja mulai datang, keluarga Vandra berpamitan pulang karna hari mulai gelap. Vandra dan Andra melepas kepulangan mereka dengan senyuman, walau akan berpisah lagi tapi bagi Vandra ini bukan sesuatu hal yang sulit lagi.


Tersisalah Vandra dan Andra berdua diapartemen. Vandra menghampiri Andra yang tengah mengambil minum, Vandra memberanikan diri mengucapkan terimakasih pada Andra tentang kebaikan pada keluarganya.


"Kenapa?" Tanya Andra melihat Vandra mendekatinya.


"Makasih ya Mas. Aku ga tau harus bilang apalagi, kebaikan kamu sama keluarga aku bener-bener ga bisa aku balas lebih"


"Iya. Mas cuma mau membalas kebaikan kamu juga, pasti ga mudah menjalani pernikahan sementara dan terpaksa seperti ini. Lagipula setelah pernikahan kita ini berakhir, Mas mau kamu dan keluarga kamu hidup lebih baik. Sekarang kamu istirahat, Mas mau ruang kerja dulu" pamit Andra berlalu.


Vandra terus memperhatikan sosok Andra sampai Andra masuk keruang kerjanya. Ada sedikit rasa sedih mendengar ucapan Andra, bagaimana jika waktu pernikahan itu berakhir? apa Ayah dan Ibu akan menerima jika pernikahannya dengan Andra harus berakhir?.


Vandra menutup pintu kamarnya. Ia berjalan menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya sambil menatap langit kamarnya. Tak lama handphone Vandra berdering, Vandra meraih handphonenya diatas nakas. Tertera nama Randy dihandphonenya, pasti sekarang Randy ingin mencari tau tentang ketidakhadiran Vandra dikampus.


Vandra membiarkan Randy terus menelponnya, saat ini Vandra sedang tak ingin berbicara dengan Randy. Kejadian kemarin membuat Vandra seolah merasa tertekan dengan paksaan Randy agar Vandra mau menerimanya. Baru saja Vandra menyimpan handphonenya, sebuah notif pesan masuk. Vandra pun mengambil ponselnya kembali dan membaca pesan dari Randy.


"Kamu baik-baik aja kan? kenapa telpon aku ga kamu angkat? kamu marah? tolong kabari aku, aku khawatir"

__ADS_1


***


__ADS_2