Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Pembicaraan


__ADS_3

Dikamar, Ayah Hadi berbicara pada Ibu Hani tentang apa yang dibicarakannya bersama Tuan Tomy. Ayah Hadi segaja tak mengajak Vandra karna tak ingin Vandra mengetahui hal yang dibicarakan terlebih dulu. Mendengar cerita Ayah Hadi membuat Ibu Hani terkejut, bagaimana bisa Tuan Tomy mengatakan itu.


Flashback On.


"Maaf tuan, hal apa yang ingin Anda bahas dengan saya?" Tanya Ayah Hadi.


"Begini Pak hadi, sebenarnya ada niatan utama saya datang kemari" Serius Tuan Tomy.


"Apa itu Tuan?"


"Saya ingin melamar Vandra untuk putra saya"


Ayah Hadi terkejut tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dengan tenang, Ayah Hadi meminta penjelasan dengan ucapan Tuan Tomy.


"Maaf Tuan, apa maksud dari ucapan Anda?"


"Saya ingin menikahkan Vandra dengan putra saya. Maaf jika permintaan saya ini membuat Anda terkejut, tapi saya benar-benar menyukai sosok Vandra. Saya merasa Vandra pantas mendampingi anak saya"


"Tapi saya mohon maaf Tuan, Vandra masih bersekolah dan saya pun belum ada niatan untuk mengijinkan Vandra menikah diusianya yang masih muda. Maaf jika saya harus menolak hal itu" Tolak halus Ayah hadi.


"Saya tau Anda akan menolaknya. Tapi saya hanya meminta terlebih dahulu pada Anda agar tetap menjaga Vandra untuk putra saya. Soal menikah, saya akan menunggu kesiapan umur Vandra. Saya mohon dan minta Anda pertimbangkan hal ini, saya akan menjamin semua kehidupan Anda dan keluarga"


"Saya memahami sebagai orangtua, Anda pasti mengharapkan putra Anda menikahi wanita yang baik, tapi Anda belum sepenuhnya mengenal Vandra. Bagaimana bisa Anda seyakin ini ingin menjadikan Vandra pendamping untuk putra Anda?" tanya Ayah Hadi.


Tuan Tomy tersenyum mendengar tanya Ayah Hadi.


"Saya yakin Vandra adalah gadis yang baik, saya tidak akan melangkah sejauh ini jika saya tak yakin dengan penilaian saya. Saya ingin jujur satu hal pada Anda, saya mengatakan ini bukan karna mengharapkan belas kasihan Anda. Hanya saja saya memiliki riwayat sakit yang cukup serius, saya takut jika Andra menikah dengan orang yang salah saat saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya harap Anda mengerti dengan apa yang saya maksud"


Ayah Hadi terdiam beberapa saat, setelah berpikir Ayah hadi pun meminta saran dari Ibu Hani terlebih dulu sebelum memutuskan pada Tuan Tomy. Tuan Tomy menghargai dan akan menunggu keputusan Ayah Hadi.


Flashback Off.


"Bagaimana bisa Yah, Tuan Tomy meminta Vandra untuk menikah dengan anaknya. Vandra itu masih kelas 3 SMA dan baru berumur 18tahun, Ibu ga akan mengijinkan Vandra menikah diusia itu"


"Ayah juga tau. Tuan Tomy memang menginginkan Vandra menikah dengan anaknya, tapi bukan sekarang Bu. Beliau meminta saat Vandra sudah mulai kuliah. Ayah sejujurnya ingin menolak itu Bu, tapi Ayah tahan. Seperti yang Ibu dengar, Tuan Tomy memiliki riwayat sakit yang serius. Ayah ga mau melukai keinginan beliau, apalagi Beliau begitu memohon tulus pada Ayah"

__ADS_1


"Lalu apa yang akan Ayah lakukan? apa perlu kita beritahu Vandra soal ini? Vandra berhak tau Yah, kita juga harus jujur tentang apa yang Tuan Tomy bicarakan"


"Tahan dulu Bu, sebaiknya kita jangan memberitahu dulu soal ini pada Vandra. Ayah ingin Vandra fokus pada sekolahnya saat ini tanpa memikirkan hal itu" pinta Ayah Hadi.


"Baik kalau itu yang Ayah mau, Ibu akan menghomati itu. Ya sudah kita bicarakan ini lain kali, sekarang kita istirahat"


"Iya Bu"


***


Ketika Ayah hadi mengantar Vandra kesekolah, sebelum sampai Vandra menanyakan apa yang dibicarakan Tuan Tomy dan Ayah Hadi, Vandra amat sangat penasaran soal itu. Tapi Vandra harus menahan penasarannya karna Ayah Hadi tak ingin memberitahunya dulu.


"Kenapa Ayah ga mau kasih tau aku sekarang?"


"Ada saatnya nanti kamu tau, sekarang kamu fokus belajar dan sekolah. Ayah juga minta, kamu jangan terlalu penasaran dengan apa yang Ayah dan Tuan Tomy bicarakan"


"Iya Yah" pasrah Vandra.


Vandra melambaikan tangan pada Ayah Hadi ketika Ayah Hadi selesai mengantarnya kesekolah. Vandra pun bergegas masuk kedalam sekolah menuju kelasnya, seperti biasa sosok Randy sudah menunggu kedatangan Vandra. Dengan memasang wajah sedikit jutek, Vandra melewati Randy yang duduk didepan kelas lain.


"Pagi" cetus Vandra.


"Randy" panggil Gadis dari arah berlawan sembari berjalan menghampiri Randy dan Vandra.


"Pagi Randy, pagi ini makin ganteng aja sih kamu" manja Gadis memuji.


"Apaan sih, lo ga cape apa tiap hari menyambut dan muji gue?" cetus Randy.


"Ko kamu gitu sih" rengek Gadis.


"Aku kekelas dulu ya, kalian silakan berdebat aja. Permisi" Vandra berlalu pergi.


Randy merasa kesal karna harus melepaskan Vandra karna kehadiran Gadis, melihat Vandra pergi Randy pun ikut berlalu pergi meninggalkan Gadis seorang diri. Sampai dikelas Vandra menghampiri Dinda yang tengah duduk membaca buku.


"Pagi Dinda"

__ADS_1


"Hai, pagi juga"


"Lagi baca buku apa?"


"Buku novel"


"Oh"


"Van, Randy kayanya bener-bener suka deh sama kamu" tebak Dinda.


"Kamu ngomong apa sih, jangan asal tebak gitu deh. Paling juga Randy mau tebar pesona aja sama aku"


"Tapi aku ngeliatnya dia bener-bener suka sama kamu, aku bisa liat dari pandangannya"


"Udah ah jangan bahas dia, kalau ada yang denger kita bahas dia bisa-bisa penggemarnya cari perkara lagi"


"Iya juga ya"


Pelajaran pertama pagi itu kosong, guru yang bersangkutan tak hadir. Merasa tergangu dengan keramaian kelas saat mengerjakan tugas membuat Vandra memutuskan pergi keperpustakaan. Sesampainya diperpustakaan, Vandra bergegas mengerjakan tugas sebelum jam pelajaran pertama habis.


Ditengah mengerjakan tugas, Vandra dikagetkan dengan seseorang yang menyimpan sebotol air mineral dihadapannya. Vandra menoleh kearah seseorang yang melakukan itu, dan orang itu lagi-lagi Randy.


"Hai" sapa Randy.


"Kamu ngapain ada disini? ini kan jam belajar" Vandra bertanya dengan nada pelan.


"Kebetulan kelas aku lagi ga ada guru jadi aku putusin untuk pergi ke perpus, tapi ga disangka aku malah ketemu kamu disini"


"Terus ngapain nyapa aku? kamu tuh menggangu tau ga?"


"Maaf. Ya udah kamu fokus belajar ya, aku pergi dulu" pamit Randy.


Vandra melanjutkan mengerjakan tugasnya setelah kepergian Randy. Vandra tak habis pikir dengan Randy yang masih saya mendekatinya, mau sejauh apapun Randy mengerjarnya Vandra tetap tak akan jatuh cinta pada Randy. Bagi Vandra saat ini semua lelaki yang menyukai dan mendekatinya hanya memandang fisiknya saja.


Jam istirahat tiba, Vandra menolak ajakan Dinda ke kantin. Vandra merasa malas jika harus bertemu dengan Randy, Vandra bukan merasa senang bertemu Randy melainkan merasa tak nyaman. Dinda yang mencoba mengerti akhirnya menemani Vandra didalam kelas, untungnya siang itu Vandra membawa bekal yang disiapkan Ibu Hani jadi Vandra pun menyantapnya bersama Dinda.

__ADS_1


***


__ADS_2