Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Kencan


__ADS_3

"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Randy melihat Vandra hanya duduk terdiam.


"Aku baik-baik aja Rand" Vandra menatap kearah Randy.


"Kamu ga usah peduli ya ucapan cewe tadi" pinta Randy.


"Aku ga peduli soal itu Rand, aku cuma bingung gimana kasih tau kamu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Aku mau kamu tau, tapi aku takut jika jarak kita menjauh seperti dulu lagi" batin Vandra.


Randy melabaikan tangan kewajah Vandra.


"Kamu kenapa melamun?" khawatir Randy.


"Hah? aku ga melamun ko. Eh iya Din, kuliah terakhir masih lama kan? kamu bukannya mau beli buku? gimana kalau beli sekarang aja" ajak Vandra. Vandra menatap arti pada Dinda, semoga Dinda bisa memahami maksud ucapan Vandra.


"Iya. Kita pergi sekarang aja yuk, Rand aku sama Vandra pergi dulu ya. Ada buku yang harus aku beli, kamu ga masalah kan kita tinggal?" tanya Dinda pada Randy.


"Ga apa-apa. Apa mau aku antar?" Randy menawarkan.


"Ga perlu" Vandra dan Dinda menjawab bersamaan.


"Kompak banget. Ya udah, kalian hati-hati ya. Aku pergi dulu ya. Nanti kamu kabarin aku ya, aku mau ajak kamu pergi selesai kuliah nanti" ucap Randy pada Vandra sambil mengelus pucuk kepala Vandra dan berlalu pergi.


"Ah manis banget sih. Mau punya pacar jadinya" rengek Vania melihat hal manis yang dilakukan Randy pada Vandra.


"Cari sana, jangan asyik makan mulu. Kamu nih ya, dari tadi makan banyak tau" protes Dinda.


"Kenapa sih sirik aja, menjalani hidup tuh butuh makan kali" bela diri Vania.


"Terserah kamu deh"

__ADS_1


"Oh iya, lo kenapa mesti bohong sih Van. Ngapain juga lo buat alasan si Dinda mau beli buku ke Randy? lo ngelakuin itu karna lo mau menghindari Randy kan?" tebak Vania.


"Aku sekarang bener-bener bingung Vani. Kalau seandainya Randy tau yang sebenarnya gimana? apalagi sekarang Randy ada disini, kalau sampai dia tau dan buat semuanya kacau gimana?" keluh Vandra.


Tiba-tiba dering handphone Vandra berbunyi, Vandra menjauh dari Vania dan juga Dinda untuk mengangkat telpon itu. Ada rasa sedikit gugup kala Vandra menatap layar handphonenya.


"Halo Oma" Penelpon itu adalah Oma Mira. Vandra segaja menjauh dari Vania dan Dinda agar mereka berdua tak tau tentang apa yang akan dibicarakan.


"Nanti malam Oma akan ke apartemen, jadi Oma minta kamu dan juga Andra bersiap menunggu kedatangan Oma. Ada hal yang ingin Oma bicarakan" perintah Oma.


"Baik Oma"


Oma menutup telpon begitu saja, menyisakan sebuah pertanyaan dibenak Vandra. Sebenarnya apa lagi yang rencanakan Oma? dan hal apa yang sekarang akan dibicarakan lagi? kenapa rasanya Oma terlalu ikut campur akan pernikahan ini?.


***


Randy menunggu Vandra diparkiran kampus, rencananya mereka akan pergi jalan berdua untuk menonton film dibioskop. Vandra ingin menolak, tapi ini adalah momen yang selalu Vandra inginkan jika bertemu dengan Randy kembali, bisa menikmati waktu berdua dengan Randy adalah yang selalu Vandra khayalkan.


Mereka berjalan sambil menggemgam tangan, saat itu pikiran Vandra akan ketakutan tentang pernikahaannya seolah runtuh karna rasa bahagianya. Vandra mencoba acuh akan hal itu, karna pernikahan yang dijalani bersama Andra pun hanya pernikahan sementara dan itu pun tak ada rasa saling cinta. Apalagi pernikahan itu tersembunyi, siapapun orang yang melihat Vandra bersama Randy tak akan mempengaruhi atau membentuk isu yang akan terjadi.


Selama film berlangsung, Randy tak melepas tangan Vandra. Rasanya begitu hangat dan bahagia bisa mengenggam tangan yang selama ini diimpikan.


"I love you" bisik Randy membisikan diteliga Vandra.


Vandra menatap Randy, bisikan Randy membuat Vandra memasang wajah datar. Vandra tak tau harus bereaksi seperti apa, karna ini pertama kalinya Randy mengatakan kata itu langsung dihadapannya. Tak mampu membalas ucapan Randy, Vandra mengalihkan pandangannya lagi kearah layar film.


Vandra sebenarnya merasakan jantungnya berdegub kencang, bahkan Vandra merasa salah tingkah setelah mendengar Randy mengungkapkan perasaanya. Jika saja Vandra bisa bersorak ria sambil berjingkrak, mungkin saja Vandra akan melakukannya saat itu juga.


***

__ADS_1


Andra termenung setelah mendapat telpon dari Oma Mira yang memberitahukan jika malam ini Oma Mira akan datang ke apartemen untuk membicarakan hal padanya dan juga Vandra. Andra sudah menduga, pasti hal akan dibicarakan Oma berkaitan dengan niatan Oma untuk merusak rumah tangganya dan juga Vandra.


Sekertaris Riko mengetuk pintu lalu masuk menghadap Andra untuk menginformasikan hal yang diperintahkan Andra. Mendengar penjelasan Sekertaris Riko membuat Andra sedikit emosi, bagaimana bisa Vandra melakukan itu dengan semaunya? apa dia tak memikirkan resiko apa yang akan terjadi jika ada yang melihatnya?.


"Kamu bisa pergi sekarang" perintah Andra.


"Permisi Tuan"


Andra menghembuskan nafas kasar, Andra tak bisa membayangkan Oma Mira akan mencecarnya dengan apa yang dilakukan Vandra dengan seorang lelaki. Oma pasti akan menyangka jika dugaannya menilai dirinya berpura-pura mencintai Vandra benar adanya.


Waktu hampir menunjukan jam pulang kantor, Andra bersiap untuk pulang ke apartemen. Sebelum meninggalkan ruangannya Andra menelpon terlebih dulu Vandra, Andra ingin memastikan dan menanyakan sesuatu.


***


Selesai berkencan, Randy yang berniat mengantar pulang tiba-tiba ditolak oleh Vandra. Vandra tak mungkin diantar Randy pulang, karna saat ini tempat tinggal Vandra sudah berbeda. Randy pasti akan bertanya dan mencari tau jika Vandra pulang ke apartemen Andra. Dengan sebuah alasan Vandra terpaksa membohongi Randy.


"Aku ada janji sama Ka Vina Rand, tadi Ka Vina bilang dia mau ajak aku makan malam dikafe temennya, jadi aku minta dia jemput aku disini" bohong Vandra.


"Gitu ya, ya udah aku tunggu kamu sampai Ka Vina jemput"


"Ga usah Rand, kamu pulang aja duluan" Vansra sedikit memaksa.


"Ga apa-apa, sekalian juga aku mau ketemu Ka Vina. Udah lama juga aku ga ketemu sama Ka Vina"


"Gimana ini. Aku ga mungkin telpon Ka Vina untuk jemput aku, bisa-bisa Ka Vina marah kalau sampai tau aku jalan berdua sama Randy" batin Vandra.


Disela Vandra bermain dengan kekhawatirannya karna alasan, tiba-tiba handphone Randy berbunyi. Randy mengangkatnya dengan sedikit rasa kesal, tak ingin mendengar percakapan Randy membuat Vandra sedikit menjauh dari Randy.


Randy menghampiri Vandra setelah selesai menelpon dan meminta maaf karna tak bisa menemaninya sampai Ka Vina menjemput, Vandra merasa lega karna akhirnya Randy pergi dengan sendirinya. Setelah sosok Randy tak terlihat lagi, Vandra bergegas mencari taxi untuk segera pulang menuju apartemen. Saat ini diapartemen Andra pasti sudah menunggunya untuk bersiap menyambut kedatangan Oma Mira.

__ADS_1


Tapi apa yang akan dibicarakan Oma nanti? tanya Vandra dalam hati sambil melihat pemandangan jalan lewat jendela kaca mobil.


***


__ADS_2