
Vandra, Vania dan Dinda menikmati makanan yang disajikan disebuah meja. Selain menikmati makan, mereka pun saling membicarakan tentang kemerian acara pertunangan Randy dan Yasmin.
"Guys, gue gak nyangka ya. Ternyata keluarga Randy sama Yasmin setajir ini. Liat kan? hampir semua tamu undangan punya status sosial tinggi" ucap Vania.
"Kita salah gak sih datang kesini? jadi ngerasa minder deh" Dinda menambahkan.
"Cuek aja. Lagian kita disini kan tamu juga" Hibur Vandra.
"Lo bisa cuek, suami lo kan kalau diungkap disini juga sama tajirnya, malah lebih kaya dari keluarga Randy. Jadi lo gak ngerasa minder lah" sinis Vania.
"Kamu ngomong apa sih Vani. Aku kan cuma mau kita gak ngerasa minder aja." Vandra membela diri.
"Gue becanda kali ngomong gitu, gak usah dibawa serius" canda Vania.
"Ih dasar kamu, aku pikir kamu kesel. Mukanya udah serius gitu"
"He... Maaf"
"Permisi, boleh ikut duduk?" tanya seorang lelaki tinggi tampan datang menghampiri.
Vania yang tak bisa berdiam diri mengijinkan lelaki itu untuk bergabung bersama dirinya, Vandra dan juga Dinda.
"Silakan, masih ada kursi kosong ko" ucap Vania.
"Terimakasih. Kalian semua pasti teman kampus Yasmin ya?" tanya lelaki itu bernama Adrian.
"Iya" jawab Dinda mewakili.
"Kenalkan, saya Adrian. Saya Kakanya Yasmin"
"Waw.." gumam Vania takjub. Bagaimana tidak, postur tubuh dan wajah tampan Adian sangatlah mempesona. Pantas saja, Yasmin sangat cantik ternyata dia pun memiliki keturunan istimewa dari keluarganya.
"Saya Dinda Ka"
"Saya Vandra"
"Lalu kamu?" tanya Adrian pada Vania yang masih takjub menatapnya.
__ADS_1
"Saya Vania Ka"
"Salam kenal semuanya ya. Gak disangka, Yasmin bisa secepat ini dapat teman. Kaka harap kalian semua bisa menjadi teman baik Yasmin ya" harap Adrian.
"Iya Ka" Jawab serentak Vandra, Vania dan Dinda.
"Kaka boleh minta nomor kalian? ya, untuk jaga-jaga tanya tentang Yasmin. Bolehkan?" ijin Adrian.
"Boleh Ka" Jawab spontan Vania.
Vania dan Dinda memberikan nomor mereka pada Adrian. Namun tiba giliran Vandra, seseorang datang menghalangi. Dan sosok itu adalah Andra. Tanpa diduga Andra datang menghampiri lalu memberitahu status Vandra yang sebenarnya pada Adrian.
"Saya beritahu Anda, wanita ini sudah menikah dan memiliki suami. Jadi saya rasa Anda tak berhak tau nomor handphonenya. Kalau Anda tak percaya dengan ucapan saya, silakan Anda tanyakan sendiri. Karna saya pun meminta nomornya ditolak dengan alasan menjaga perasaan suaminya" ucap Andra berbohong untuk memutuskan niatan Adrian mendekati Vandra. Karna sebagai lelaki, Andra sudah bisa melihat niatan Adrian untuk mendekati Vandra.
"Apa benar Van yang dibilang Tuan Andra?" Adrian memastikan.
"Benar Ka. Saya sudah menikah" jujur Vandra.
"Oh. Maaf saya gak tau"
"Iya Ka"
Setelah acara tukar cincin berlangsung, Vandra mengajak Vania dan juga Dinda untuk pulang. Rasanya tubuhnya Vandra lelah, mungkin karna kehamilannya yang masih muda membuat Vandra lebih cepat lelah. Tanpa penolakan mereka berdua pun ikut berpamitan pulang pada Yasmin dan juga Randy.
Vandra berterima kasih pada Vania karna sudah mengantarnya. Namun saat Vandra hendak membuka pintu rumah, Andra tiba-tiba datang menghampiri Vandra. Vandra hanya mengira Andra masih ditempat acara, namun nyatanya Andra mengikutinya pulang.
"Lho, Mas pulang juga? aku kira Mas masih disana"
"Aku khawatir sama kamu, jadi aku ikutin kamu pulang"
Vandra tersenyum menatap kekhawatiran Andra. Namun selain kekhawatiran, Vandra juga menangkap sebuah rasa cemburu diwajah Andra.
"Ya udah, masuk yuk. Diluar dingin" Vandra mengajak Andra masuk kedalam rumah.
Karna sebagian orang rumah tertidur, Vandra dan Andra berpamitan masuk kedalam kamar pada Ayah Hadi yang tengah menonton tv. Dan saat didalam kamar, Vandra mulai menggoda Andra yang terlihat cemburu saat diacara pertunangan Randy dan Yasmin.
"Mas boleh aku bilang sesuatu gak?" ijin Vandra pada Andra yang tengah membuka kancing lengan kemeja.
__ADS_1
"Bilang apa?"
"Tadi Mas cemburu ya, waktu Ka Adrian mau minta nomor aku"
"Iya, aku sangat cemburu. Bisa-bisanya ada lelaki yang berani minta nomor telpon kamu. Lagian kamu juga yang salah" tuduh Andra.
"Aku? salah aku apa? aku kan gak buat salah apa-apa Mas"
"Salah siapa kamu tadi terlalu cantik? kamu tau? banyak laki-laki yang terpesona sama kamu disana. Kalau aja terpesona sama istri orang bisa dilaporin polisi udah aku pidanain mereka semua" celoteh Andra.
Vandra tertawa kecil mendengar ocehan yang tak karuan dari mulut Andra.
"Mas ngaco deh. Lagian aku tadi gak ngerasa cantik ko, menurut aku penampilan aku biasa aja tadi"
"Kata siapa? liat ini" Andra menunjukan sebuah foto Vandra yang Andra ambil secara diam-diam.
"Cantik begini kamu bilang biasa aja? siapa yang akan menolak kecantikan kamu ini. Semua lelaki pasti akan bilang kalau kamu itu cantik" kekeh Andra.
"Ya udah, aku minta maaf ya buat Mas cemburu. Tapi udah ya, gak usah ngomel-ngomel lagi. Walaupun diluar sana banyak yang memuji atau suka sama aku, aku gak akan peduli Mas. Lagian aku kan udah milik kamu sepenuhnya, liat nih hasil perbuatan kamu. Apa kurang cukup untuk pastiin kalau aku milik kamu Mas" ucap Vandra menunjukan perutnya pada Andra.
"Iya Aku percaya. Tapi jangan gitu lagi ya, aku gak mau kamu terlalu cantik didepan orang" pinta Andra.
"Iya Mas. Mas ganti baju sana, aku mau siapin minum untuk Mas" suruh Vandra.
"Iya"
Selesai menganti baju, Andra membuka laptopnya untuk mengecek perkerjaanya yang belum selesai. Sambil menunggu Vandra berganti pakaian, Andra tiba-tiba teringat dengan ucapan Randy. Sejujurnya ingin rasanya menanyakan soal Randy pada Vandra, namun Andra bingung bagaimana memulainya.
Tak disangka Vandra keluar kamar mandi dengan pakaian yang begitu terbuka. Vandra segaja memakainya agar membuat Andra nyaman, Andra yang melihatnya begitu tak kuasa menahan gairahnya. Teringat penjelasan Lita membuat Andra perlahan mendekati Vandra.
"Kamu mau godain aku ya" tebak Andra.
"Kenapa? Mas tergoda ya"
"Jangan bilang, kalau Lita udah ceritain semua yang aku bilang"
"Iya. Tadi Dokter Lita ngadu sama aku, katanya ada yang minta jatah nih. Hayo ngaku sama aku" goda Vandra.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Andra dengan cepat menerkam Vandra dengan ciuman bertubi-tubi. Rasa bibir Vandra yang manis seakan membuat Andra begitu rindu sampai ia lupa dengan semua hal yang terjadi. Andra mengangkat tubuh Vandra lalu menidurkannya dengan perlahan, teringat pesan Lita padanya membuat Andra melakukan hubungan itu dengan pelan dan juga tetap membuat Vandra dan kandungannya nyaman. Dan malam itu kerinduan yang tersimpan bersama rasa cemburu melebur menjadi satu dalam sebuah kenikmatan yang Andra harapkan.
***