
"Gimana Bu ice creamnya? enak kan?" tanya Vandra sambil tersenyum.
"Iya. Kamu ini masih seperti dulu, Tapi sekarang gimana perasaan kamu? mulai membaik?" Ibu Hani bertanya.
"Iya Bu. Maaf ya untuk pemberitaan diluar sana" sesal Vandra.
"Kamu ga perlu minta maaf. Yang Ibu khawatirkan itu perasaan kamu, Ibu yakin kamu pasti terluka kan? Ibu mengerti perasaan kamu, tapi kamu jangan goyah ya. Ini adalah cobaan untuk pernikahan kamu dan Nak Andra, Ibu harap kamu bisa sabar dan bijak ya menghadapinya" nasihat Ibu Hani.
"Apalagi Nak Andra itu seorang pewaris perusahaan keluarganya, pasti pemberitaan apapun akan menjadi perbincangan publik. Kamu harus tetap mendampingi Nak Andra ya, walaupun saat ini pernikahan kalian masih menjadi rahasia tapi Ibu percaya kalian mampu menghadapi ini" Ibu Hani menambahkan.
"Iya Bu"
"Tunggu sebentar ya, Ibu mau ambil sesuatu" Ibu Hani pamit masuk kedalam.
Tak lama Ibu Hani datang kembali membawa sesuatu.
"Ini. Ibu dan Ayah menyiapkan kue tart dan juga makanan kesukaan Nak Andra. Hari ini Nak Andra ulangtahun kan, Ibu titip ya tolong sampaikan ini" Ibu Hani menaruhnya dihadapan Vandra.
"Iya Bu nanti aku sampaikan sama Mas Andra. Makasih ya Bu"
"Iya. Kamu apa sudah siapkan hadiah untuk suami kamu?" tanya Bu Hani membuat Vandra memandangnya.
"Belum Bu" jujur Vandra.
"Kenapa belum? seharusnya kamu sebagai istri mengutamakan hari spesial seperti ini, yang paling ditunggu dan diharapkan suami saat hari ulangtahunya itu pasti ucapan dan hadiah spesial dari isrtinya"
Vandra hanya tersenyum menatap Ibu Hani. Apa harus Vandra mengucapkan dan memberikan hadiah untuk Andra?.
"Makanan sudah siap" Ayah Hadi datang membawa makanan untuk Vandra.
"Ayo kamu makan" perintah Ayah Hadi.
Vandra tersenyum pada Ayah Hadi, Vandra merasa bersyukur mendapat kedua orangtua yang begitu mengerti perasaanya. Selain Ibu Hani, Ayah Hadi selalu memberi makanan banyak dikala Vandra merasa sedih.
__ADS_1
"Ayah kenapa harus repot buat makanan, padahal Ayah kan bisa istirahat selagi ga ada pelanggan" ucap Vandra.
"Ini ga repot ko, perasaan sedih itu harus kamu lawan. Ayah ga mau kamu merasakan sedih yang berlarut, apalagi kamu suka lupa makan kalau lagi ngerasa sedih. Kamu makan ya, jangan sampai kesedihan kamu membuat kamu sakit"
"Iya Ayah. Makasih untuk makanannya, aku makan ya"
"Iya"
Walau Vandra sedang tak merasa berselera tapi Vandra menghargai Ayah Hadi yang sudah menyiapkan makanan untuknya. Vandra melahap habis makananya, ia hanya ingin melihat Ayah Hadi dan Ibu Hani tenang jika melihatnya seperti itu.
Karna sudah cukup lama Vandra berdiam dirumah Ayah Hadi, Vandra berpamitan pulang karna hari sudah mulai sore. Seperti sudah menjadi hal biasa, sebelum berpamitan Vandra memeluk Ibu Hani dan juga Ayah Hadi bergantian, rasanya sangat nyaman dan bisa memberi Vandra sedikit semangat menghadapi perasaanya saat ini.
Ditengah perjalanan Vandra meminta Pak Anton mengantarnya kesebuah mall, rencananya Vandra berniat membelikan hadiah ulangtahun untuk Andra sesuai saran Ibu Hani.
"Pak, tunggu ya.Saya gak akan lama ko" ucap Vandra meminta Pak Anton menunggu.
"Baik Non"
Didalam mall Vandra berjalan seorang diri sembari melihat dan memikirkan hadiah apa yang pantas ia berikan pada Andra. Dan Vandra tak segaja berdiri didepan sebuah toko sepatu. Tanpa berpikir lama, Vandra masuk kedalam toko untuk memilih sepatu untuk dihadiahkan pada Andra.
Vandra tak segaja bertemu dengan Randy, namun saat itu Randy tak sendiri. Ia ditemani seorang wanita cantik yang bernama Yasmin, calon istri Randy yang tak diketahui oleh Vandra. Vandra menatap Yasmin sekilas yang tengah merangkul lengan Randy, tak ada reaksi marah atau memastikan siapa wanita disamping Randy itu. Vandra hanya berpikir Randy mungkin sudah mulai perlahan mengantikan sosok dihatinya.
Tak beda dengan Yasmin, ia menatap Vandra dengan penuh tanya. Siapa wanita itu? kenapa Randy menatapnya begitu penuh arti.
"Rand, siapa dia? kamu kenal?" tanya Yasmin.
"Dia teman kampus aku" singkat Randy menjawab masih menatap Vandra.
Yasmin yang memiliki sikap ramah dan juga baik pada siapapun dengan cepat mengenalkan dirinya pada Vandra.
"Jadi kamu teman kampus Randy? kenalin aku Yasmin, aku calon tunangan Randy" Yasmin memperkenalkan diri.
Vandra terdiam beberapa saat mendengar pengakuan Yasmin, Calon tunangan? apa itu benar? kenapa Randy bisa secepat ini melupakan perasaanya.
__ADS_1
"Aku Vandra. Kamu keliatan cocok sama Randy" puji Vandra.
"Masa sih? makasih, banyak yang bilang begitu. Oh iya, kamu sendiri kesini?" tanya Yasmin.
"Iya"
"Oh, kamu beli sepatu untuk siapa? pacar ya" tebak Yasmin melihat Vandra menenteng paper bag.
"Itu untuk suaminya" Randy mewakili menjawab.
Yasmin dan Vandra menatap Randy bersamaan. Randy begitu ketus mengatakan hal itu dihadapan Yasmin dan Vandra.
"Kamu udah nikah? Wah, selamat ya" ucap Yasmin.
"Iya. Kalau gitu aku pergi dulu ya"
"Iya"
Vandra melewati Randy begitu saja. Entah kenapa Vandra mulai terbiasa dengan jarak diantara Randy dan dirinya yang terus menjauh. Walau begitu, Vandra masih merasa bersalah karna harus menutupi yang terjadi sebenarnya pada Randy. Jika ada kesempatan, Vandra ingin sekali menjelaskan semuanya pada Randy. Bukan mengharap Randy terus mencintainya, hanya saja Vandra merasa Randy harus mengetahui semuanya.
***
Andra bersiap diri untuk pulang, rasanya Andra ingin cepat bertemu dengan Vandra. Andra ingin menjelaskan tentang kebenaran pemberitaan yang terjadi pada Vandra, Andra tak ingin Vandra berpikir salah dan menganggap bahwa Vivi adalah kekasihnya.
Sepanjang jalan Andra terus menatap layar handphonenya. Andra sejujurnya berharap Vandra menghubunginya, tapi rasanya tak mungkin. Mengingat sikap acuh Vandra padanya membuat Andra hanya mengharapkan hal itu.
Sekertaris Riko yang melihat Andra seperti tak tenang menawarkan Andra untuk berhenti disebuah kafe untuk sekedar menenangkan diri sesaat, namun Andra menolaknya. Andra hanya meminta Sekertaris Riko melajukan mobilnya dengan cepat karna ia ingin cepat sampai diapartemen.
"Oh iya Rik, gimana perkembangan pemberitaan itu?" tanya Andra.
"Saya masih berusaha untuk meredakan pemberitaan itu Tuan. Kekuasan keluarga Vivi yang membayar media untuk terus memberitakan hal itu masih sedikit sulit untuk saya kendalikan Tuan, saya minta sedikit waktu lagi Tuan untuk menyelesaikan itu" jawab Sekertaris Riko.
Andra menatap kearah jendela. Jika dipikirkan kekuasaan keluarga Vivi memang tak bisa dianggap sepele, Andra harus berpikir keras memikirkan bagaimana caranya agar pemberitaan itu hilang. Andra yakin, selain keluarga Vivi pasti Oma ikut andil didalamnya.
__ADS_1
Semakin Andra pikirkan semakin membuat Andra membenci Vivi. Perbuatannya kali ini benar-benar tak bisa dimaafkan lagi. Sekarang apa yang harus dilakukan? Andra hanya tak ingin pemberitaan ini akan mempengaruhi kehidupannya kedepan.
***