Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Badmood


__ADS_3

Andra tengah bersiap memakai kemeja untuk pergi menuju kantor. Tiba-tiba suara handphonenya berdering, Andra mengambil handphonenya yang ia simpan diatas nakas. Andra mengerutkan dahi saat ia melihat nama si penelpon, untuk apa dia menelpon pagi hari begini?.


"Iya, ada apa?" tanya Andra tanpa basa-basi. Andra memang bersikap ketus seperti itu pada semua wanita termasuk Vandra yang saat ini menelponnya.


"Maaf menelpon pagi-pagi, ada yang mau saya tanyakan" ucap Vandra.


"Apa yang mau kamu tau?"


"Apa Anda semalam mengirimkan uang kerekening saya?" tanya Vandra.


"Iya. Kenapa? anggap saja uang itu untuk membeli kebutuhan persiapan untuk kedatangan keluarga saya nanti, saya tak ingin merepotkan keluarga kamu"


"Aku berharap semoga keluarga Anda tak jadi datang nanti malam" batin Vandra.


"Tapi uang yang Anda kirim itu terlalu banyak Tuan. Lagipula keluarga saya juga masih mampu untuk mempersiapkan kedatangan keluarga Anda, pokoknya saya akan mentransfer kembali uang Anda" Kekeh Vandra lalu mematikan sambungan telpon.


"Dasar keras kepala. Saya berbaik hati tapi dia seolah bersikap tak butuh" gumam Andra.


Setelah siap dengan setelan jas kantornya, Andra menghampiri Papa Tomy dan juga Mama Amira. Kebetulan pagi itu Arumi sudah berangkat kesekolahnya jadi mereka hanya sarapan bertiga saja.


"Jangan lupa ya, malam nanti kita akan mengunjungi keluarga Vandra" Papa Tomy mengingatkan Andra.


"Iya Pah, aku ingat. Nanti aku akan pulang dari kantor lebih cepat"


"Bagus kalau begitu. Papa jadi ga sabar untuk menjadikan Vandra menenatu Papa. Semoga niat baik kita dilancarkan ya Mah"


"Iya Pah"


Andra hanya fokus menikmati sarapannya. Kali ini hidupnya akan berubah sebentar lagi, sejujurnya ada ketakutan kecil yang ditakutkan Andra. Bagaimana jika ia suatu hari menyukai Vandra? Ah, tidak tidak. Hal itu tidak akan terjadi, kebersamaan dalam pernikahan mereka hanya akan terwujud selama satu tahun sesuai perjanjian, ketakutan itu pasti tak akan terjadi.


"Pah, Mah. Aku berangkat ke kantor dulu, ada kline yang harus aku temui"


"Iya. Kamu hati-hati ya"


"Iya Mah"


Setiap ada kline yang harus ditemui, Andra selelu mengecek berkas yang akan dibahas. Pengecekan itu ia lakukan dalam perjalanan menuju kantor, sembari mengecek sesekali Andra melihat kearah jalan lewat jendela kaca mobil. Tanpa segaja Andra menangkap sosok Vandra yang sedang duduk menunggu Bus dihalte. Andra hanya menatapnya sekilas, sampai akhirnya mobilnya melaju melewati halte tiba-tiba Andra meminta Sekertaris Riko untuk menghentikan mobilnya.


"Rik, tolong kamu panggilkan Vandra untuk masuk kedalam mobil. Dia ada dihalte sedang menunggu Bus datang" perintah Andra.

__ADS_1


"Baik Tuan"


Seketaris Riko turun untuk menghampiri Vandra yang tengah duduk dihalte Bus. Vandra merasa bingung dengan sosok Sekertaris Riko, untuk apa dia datang menghampiri?.


"Selamat pagi Nona Vandra" sapa Sekertaris Riko.


"Pagi. Anda bukannnya Sekertaris Tuan Andra?" Vandra memastikan.


"Benar Nona. Saya diperintahkan Tuan Andra untuk meminta Nona masuk kedalam mobil Tuan Andra disana" Sekertaris Riko menunjukan mobil Andra yang terparkir cukup dekat dengan halte.


Vandra menatap Sekertaris Riko yang terlihat seperti memohon untuk Vandra menuruti perintah Andra. Karna tak ingin Sekertaris Riko mendapat masalah, dengan terpaksa Vandra menuruti. Jika seandainya Andra yang memintanya langsung pasti dengan tegas Vandra menolaknya tanpa berpikir panjang.


"Baik, ayo Pak" Walau usia Riko sama dengan Andra tapi demi kesopanan Vandra memanggilnya dengan sebutan itu.


Sekertaris Riko membukakan pintu mobil agar Vandra bisa dengan leluasa masuk mobil. Sebenarnya Vandra ingin sekali duduk didepan bersama Sekertaris Riko, tapi lagi-lagi ini soal Andra. Vandra tak ingin oranglain mendapat masalah karna keegoisannya.


Vandra duduk disamping Andra yang tengah sibuk melihat berkas rapat bersama kline. Vandra benar-benar malas melihat Andra, sikap yang menggangap keluarganya tak mampu tentang uang seakan membuat mood Vandra buruk pada Andra. Sadar Vandra merasa sedikit kesal dengan sikapnya, Andra segera memprotes sikap Vandra itu.


"Ga perlu pasang wajah jutek seperti itu" komentar Andra membuat Vandra sekilas melihatnya.


"Terserah aku lah, wajah juga punya aku ko. Banyak komentar" gumam Vandra.


"Riko, ayo kita jalan. Antar kan dulu dia ke kampusnya" perintah Andra.


"Baik Tuan"


Mobil melaju kembali menuju kampus Vandra. Sepanjang jalan tak ada obrolan yang memecah keheningan, sampai akhirnya Vandra memulai pembicaraan.


"Anda kenapa mau berbaik hati mengantarkan saya ke kampus? Anda merasa bersalah soal apa yang Anda lakukan semalam?" tebak Vandra.


"Jangan berpikir sok tau kamu. Saya cuma tak ingin ada orang tau tentang kehidupan kamu sebelum menjadi Nyonya Andra Wijaya" ketus Andra.


"Dasar Tuan Muda angkuh, kalau ngerasa malu karna kehidupan aku kenapa harus turuti keinginan Tuan Tomy? harusnya dia bisa menolak dengan lebih keras" Batin Vandra sembari melihat Andra yang sedang sibuk dengan berkasnya.


Tiba didepan kampus Vandra mengucapkan terimakasih pada Sekertaris Riko karna sudah mengantarnya. Berbeda pada Andra, Vandra tak menatapnya sama sekali bahkan mengucapkan terimakasih pun tidak. Vandra hanya bergegas turun dari mobil dan berlalu begitu saja. Vandra begitu merasa kesal dengan sikap Andra yang begitu menyebalkan, apalagi kata-katanya. Rasanya ingin sekali mencubit bibir itu dengan puasnya.


Andra menghembuskan nafas kesal melihat kepergian Vandra tanpa berterimakasih sedikit pun padanya.


"Menyebalkan sekali dia, memang saya disini tak dianggap? tidak tau berterima kasih, dasar Wanita angkuh. Riko, jalan"

__ADS_1


"Iya Tuan"


***


Dikampus, Vandra menjadi salahsatu mahasiswi yang cukup dikagumi lelaki. Kecantikan fisik dan hatinya menjadikannya dambaan setiap lelaki dikampus, banyak yang berusaha mendekatinya namun Vandra selalu menolak bahkan menghindarinya. Vandra selalu menolak mereka dengan cara baik tanpa melukai, bahkan Vandra pun menengaskan bahwa hatinya sudah dimilki oleh seseorang.


Sebelum masuk kelas, Vandra menghampiri Vania dan Dinda yang sedang berbincang dikantin kampus. Mood kacau Vandra karna sikap Andra membuat Vandra tak sadar memperlihatkannya dihadapan kedua sahabatnya.


"Kamu kenapa Van? keliatan kaya lagi kesel gitu, lagi kesel sama siapa?" tanya Dinda.


"Iya Van, lo kesel karna para lelaki yang masih kejar-kejar dapatin lo?" tebak Vania.


"Bukan. Lagi kesel aja karna sikap seseorang" Vandra menjawab.


"Boleh ditebak? pasti karna sikap Tuan Muda rese itu ya?" Duga Dinda.


"Iya" singkat Vandra.


"Emang Tuan Muda itu buat hal apa sampai lo bete gitu?" tanya Viana. Karna Viana saat ini menjadi sahabat Vandra, Viana pun mengetahui semua tentang kehidupan Vandra termasuk soal Andra dan keluarganya.


Vandra menceritakan semua awal kekesalannya terhadap Andra pada Dinda dan Vania. Mereka merasa ikut kesal dengan Andra, bagaimana bisa ada sosok lelaki dingin dan angkuh didunia ini?.


"Kalau gue diposisi lo udah gue remukin tuh mukanya, kesel gue dengernya" omel Vania.


"Kenapa jadi kamu sih yang emosi. Ga kebayang deh kalau kamu punya pacar terus dia punya salah, bisa-bisa disidang ocehan seharian tuh sama kamu" ledek Dinda.


"Ih sok ngeledek banget, lagian kalau dia buat salah ya harus dikasih pelajaran lah"


"Kasian banget yang jadi pacar kamu, aku prihatin deh kalau beneran terjadi"


"Rese banget sih lo Dinda"


"Ssstt, cukup. Berisik deh kalian, suara debat kalian tuh menarik perhatian tau ga?" Vandra mengomeli.


"Loe sih" gumam Vania pada Dinda.


"Kamu juga tuh" Balik Dinda menuduh.


Vandra tersenyum kecil melihat tingkah dua sahabatnya itu, rasanya cukup terhibur melihat tingkah mereka saat berdebat seperti itu.

__ADS_1


***


__ADS_2