Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Menerima


__ADS_3

Vandra bersiap pergi setelah menyelesaikan sarapannya, hari itu semua orang dirumah berkumpul karna hari libur. Vandra sebenarnya ingin bersantai dirumah, tapi Vandra tak bisa lakukan itu karna ia sudah menyangupi untuk menerima ajakan bertemu Tuan Tomy dan Nyonya Arumi. Walau bagaimanapun ucapan Vandra harus ia tepati.


Tiba dirumah Om Tomy, Vandra disambut dengan ramah. Disana sudah ada Om Tomy, Tante Amira yang sudah menunggu. Vandra duduk berhadapan dengan dua orang yang meminta untuk menemui mereka.


"Gimana kabar kamu Vandra?" tanya Om Tomy.


"Baik Om. Kesehatan Om gimana sekarang?"


"Sudah jauh lebih baik. Makasih ya, kamu bersedia datang kesini"


"Iya Om"


"Kamu pasti bingung ya, kenapa Tante sama Om minta kamu datang kesini?" ucap Tante Amira.


"Iya"


"Tante sama Om, mau memperkenalkan anak kami berdua sama kamu. Sebentar ya, Bi Mirna" panggil Tante Amira.


"Iya Nyonya" Bi Mirna datang menghampiri.


"Tolong panggilkan Andra"


"Baik Nyonya" Bi Mirna berlalu memanggil Andra dikamarnya.


Sambil menunggu, Vandra tak segaja melihat foto keluarga yang terpajang dinakas dekat dengan sofa yang didudukinya. Vandra seolah teringat dengan sosok Andra yang seolah ia pernah temui sebelum adanya pertemuan kesepakatan dan perjanjian diantara mereka.


"Kenapa aku ngerasa kaya pernah ketemu Tuan Muda rese itu ya? tapi dimana?" Batin Vandra sambil mengingat.


Tak lama Andra datang menghampiri. Andra menatap dingin Vandra sekilas begitupun sebaliknya. Andra duduk menghadap Vandra, rasanya lucu sekali harus dinikahkan dengan seorang pelajar seperti ini.


"Andra, kenalkan ini Vandra. Vandra ini yang pernah menolong Papa, dan juga Vandra ini orang pilihan Papa untuk mendampingi kamu" jelas Mama Amira.


"Kenalkan, saya Andra Wijaya"


"Saya Vandra"


Vandra dan Andra bersikap seolah mereka baru pertama kali bertemu. Bukan tanpa alasan, mereka segaja melakukan itu agar pertemuan mereka kemarin tak menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


"Papa segaja mempertemukan kalian untuk memberitahukan sesuatu"


"Soal apa Pa?" tanya Andra.


"Vandra, beberapa bulan lagi kamu selesai sekolah kan?" tanya Om Tomy.


"Iya Om"


"Sebelumnya Om mau tanya sama kamu. Seperti yang kamu sudah tau sebelumnya, Om meminta kamu untuk menerima permintaan Om. Apa penolakan kamu sekarang ini masih sama?"


Vandra terdiam sesaat. Sejujurnya ingin sekali Vandra dengan tegas menolak kembali namun keadaan yang terjadi pada keluarganya seketika meruntuhkan penolakan itu. Vandra mencoba tenang dan mengatur nafasnya, rencananya jika Vandra menerima Vandra akan meminta syarat tertentu.


"Vandra datang kesini juga mau membahas soal itu Om"


"Apa ini ada kaitannya dengan kamu merubah jawaban kamu?" Tebak Om Tomy.


"Iya Om"


Om Tomy merasa percaya diri. Ia yakin Vandra akan menerima permintaannya.


"Lalu, apa kamu mau menerima permintaan Om sekarang?" tanya Om Tomy tak sabar menunggu jawbaan Vandra.


"Iya Om, Vandra menerima permintaan Om"


Om Tomy dan Tante Amira tersenyum senang.


"Tapi Om, Vandra belum mau menikah sekarang" pinta Vandra.


"Iya, Om tau. Om dan Tante tidak akan menikahkan kamu dan Andra sekarang. Kita akan tunggu setelah kamu lulus sekolah dan masuk kuliah. Lagipula, kamu pasti masih ingin menikmati masa sekolah kamu kan? Tapi, Om sama Tante minta tolong kamu jaga hati kamu ya. Jangan sampai sebelum pernikahan tiba, perasaan kamu malah jadi milik oranglain" ucap Om Tomy.


"Iya Om" ucap Vandra. Vandra hanya bisa mengiyakan semua yang dikatakan Om Tomy, bagaimanapun perasaannya miliknya sendiri. Siapapun yang mendapatkan hatinya nanti Vandra pun tak bisa menjamin itu pada Andra.


"Kamu juga Dra, mulai sekarang jaga hati kamu. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama oranglain. Papa berharap kalian berjodoh dan bisa saling jatuh cinta" Harap Om Tomy.


"Iya Pah" sama halnya dengan Vandra, Andra tak bisa menjamin akan melabuhkan perasaanya pada Vandra.


"Tapi Van, orangtua dan keluarga kamu sudah tau dengan keputusan kamu ini?" tanya Tante Amira.

__ADS_1


"Sudah Tante" bohong Vandra. Vandra terpaksa berbohong, ia tak ingin keluarga Om Tomy tau yang sebenarnya. Rencananya Vandra akan menceritakan ini pada keluarganya sepulang dari rumah Om Tomy.


"Syukur kalau begitu"


Vandra dan Andra saling menatap. Sungguh takdir hidup yang tak pernah terduga, bagaimana bisa ini terjadi? jodoh memang sebuah rahasia, tapi segala rencana apapun untuk menyatukan belum tentu takdir Tuhan pun ikut menyatukan.


Memasuki jam makan siang, Vandra diminta Tante Amira untuk ikut makan siang bersama. Disaat makan bersama, Vandra tak menampak sesosok lelaki selain Andra dan Om Tomy yang ia lihat difoto keluarga. Vandra hanya mendapati Om Tomy, Tante Amira, Andra dan juga Arumi. Lalu sosok lelaki lain yang ada difoto keluarga kemana? apa dia tidak tinggal bersama? atau dia sudah tiada? itu yang menjadi pertanyaan dibenak Vandra.


Vandra berpamitan pulang pada keluarga Om Tomy, Vandra tak bisa berlama-lama disana karna ia sudah berjanji pergi sebentar kerumah Dinda pada Ibu Hani. Vandra tak ingin keluarganya tau kalau ia datang kerumah Om Tomy, karna Vandra ingin merahasiakan ini terlebih dulu.


Vandra menolak supir Om Tomy mengantarnya, jika Vandra diantar supir bisa saja keluarganya menaruh curiga. Saat ini Ayah, Ibu dan Ka Vina memang belum mengetahui Vandra menerima permintaan Om Tomy. Vandra tak ingin jika ia bicara terlebih dahulu pada keluarganya itu akan merubah keputusannya.


Vandra berjalan mengarungi pepohonan, saat ini taman menjadi tempat pelarian Vandra. Baginya tak ada tempat nyaman seperti taman yang bisa merubah suasana hatinya. Vandra menatap sepasang muda-mudi yang berjalan berdua saling tukar tawa. Rasanya Vandra ingin merasa seperti itu, tapi trauma dan ketakutan pada kisah Ka Vina masih membayanginya saat ini.


Saat Vandra duduk seorang diri, seseorang tiba-tiba duduk didekat Vandra sambil memberinya sebuah ice cream coklat.


"Makan ini" suruh seseorang itu sambil menunjukannya diwajah Vandra.


Vandra mengalihkan wajahnya untuk melihat sosok itu, dan dia adalah Randy.


"Randy"


"Apa? kaget? ga perlu kaget gitu. Ini bukan pertama kalinya lho aku selalu muncul tiba-tiba didepan kamu. Ambil ice creamnya, aku tau kamu butuh. Katanya Ice cream itu bikin mood jadi baik, ayo ambil" paksa Randy.


Vandra dengan terpaksa mengambil Ice cream dari tangan Randy. Sambil memakan ice cream berdua, Vandra sesekali menatap Randy disampingnya. Bagaimana bisa dia tau jika moodnya sedang tak baik? apa dia peramal perasaan? ah itu tak mungkin.


"Kalau mau menatap wajah aku lama-lama juga ga apa-apa" sindir Randy membuat Vandra menatap kearah lain.


"Aku heran sama kamu" ucap Vandra.


"Heran kenapa?"


"Bukannya tadi pagi disekolah kamu terluka sama ucapan aku? kenapa sekarang jadi baik gini sama aku?" Vandra penasaran.


"Kamu lupa apa yang aku bilang tadi pagi? aku suka sama kamu Van, ucapan kamu tadi pagi memang nyakitin perasaan aku. Tapi waktu itu aku ga marah, aku cuma berlari untuk membuang rasa takut dan putus asa aku untuk dapetin hati kamu. Terserah kamu mau percaya atau ga, yang pasti aku serius sama ucapan aku"


"Apa perasaan kamu seserius itu Ran? Aku mau percaya, tapi entah kenapa aku belum bisa yakin dan percaya sama perasaan lelaki manapun termasuk kamu" batin Vandra.

__ADS_1


***


__ADS_2