
"Kenapa dia ga angkat telponnya? apa dia merasa dirinya penting?" gumam Andra.
Andra masih terdiam dikafe yang sama dengan Vandra dan Randy. Tapi saat itu Randy dan Vandra sudah tak ada dikafe itu. Sekertaris Riko datang menghampiri Andra untuk melaporkan sesuatu. Andra menatap wajah Sekertaris Riko, rasanya cukup mengejutkan mendengar laporannya.
Andra memutuskan untuk kembali ke kantor. Andra sejujurnya ingin sekali mengetahui kejadian yang sebenarnya dari Vandra. Tapi saat ini urusan kantor adalah yang terpenting, mungkin saat pulang nanti Andra akan menanyakan langsung tentang apa yang ia dengar dari Sekertaris Riko.
***
Vandra duduk terdiam dihadapan Dinda dan Vania yang tengah menikmati makanan mereka. Keduanya saling menatap Vandra bersamaan, ada apa dengan Vandra? itu yang terpikirkan oleh mereka berdua.
"Van, lo kenapa? Lo sehat kan?" Vania menanyakan.
"Iya Van, kamu kenapa? ga biasanya lho kamu diem tanpa ekspresi gini. Apa ada sesuatu yang terjadi waktu kamu pergi?" Dinda menambahkan.
Vandra tiba-tiba menebarkan senyuman pada Vania dan Dinda.
"Akhirnya aku ketemu dia dan kita berdua banyak bicarain hal tentang dulu" ucap Vandra membuat sahabatnya tak mengerti.
"Maksud lo? lo ngomong apa sih? jangan kaya Dinda deh, suka bikin mikir orang" protes Vania.
"Aku tadi ketemu sama Randy" Vandra memberitahu.
"Randy? dimana?" Dinda terkejut mendengar ucapan Vandra.
"Diloby Mall. Tadi kita berdua juga sempet ngobrol berdua. Aku seneng akhirnya aku bisa ketemu sama Randy, tapi entah kenapa rasanya ini ga adil. Kenapa pertemuan kembali aku sama Randy harus terjadi disaat aku terikat kesepakatan sama Tuan kutub" keluh Vandra.
__ADS_1
"Kamu sabar ya, mungkin kamu belum dipersatukan dengan Randy. Lagian juga, ada baiknya kamu lupain Randy Van. Kamu kan sekarang udah jadi istri orang, aku bukannya ga mendukung kamu soal kebahagiaan kamu sama Randy. Tapi ga baik Van, kalau kamu masih menyimpan rasa disaat status kamu udah jadi istri sekarang" Dinda memberi nasihat.
"Yang dibilang Dinda bener Van. Gue tau, lo masih menyimpan rasa sama Randy. Tapi lo harus jaga perasaan Tuan Kutub juga, walaupun kalian berdua belum saling cinta tapi tetap aja lo harus ingat sama pernikahan lo dan ingat kalau Tuan Kutub itu suami lo" Vania menambahkan.
"Kalian ga tau yang terjadi sebenarnya sama pernikahan aku. Aku bisa aja menerima Randy, tapi aku ga bisa lakuin itu disaat kesepakatan pernikahan aku sama Tuan kutub masih berjalan. Andai aja kalian tau, aku yakin kalian akan ada dipihak Randy bukannya Tuan Kutub" Batin Vandra.
***
Vandra terkejut melihat Andra duduk disofa seorang diri saat ia masuk kedalam apartemen. Entah apa yang dilakukan Andra, karna tak biasanya sore itu Andra sudah tiba diapartemen. Vandra melangkah masuk melewati Andra, namun tiba-tiba Andra memanggil lalu meminta Vandra duduk untuk berbicara dengannya.
"Ada apa?" singkat Vandra bertanya.
"Saya dengar tadi siang kamu pergi menemui Oma dan Vivi, apa itu benar?" tanya Andra.
"Kalau Anda sudah tau kenapa harus tanya lagi" cetus Vandra menjawab.
"Kenapa? Anda penasaran mau tau?"
"Apa itu ada hubungannya dengan Saya?" tebak Andra.
Vandra tersenyum licik mendengar tanya Andra.
"Iya" singkat Vandra menjawab.
"Apa mereka mengancam kamu?"
__ADS_1
"Mereka ga mengancam saya. Tapi secara langsung mereka meminta saya untuk melepaskan Anda dan mengakhiri pernikahan ini. Kalau seandainya saya bisa lakukan itu, saya akan lakukan saat ini juga. Tapi saya pikir, itu ga semudah yang dibayangkan. Apalagi mengingat keluarga Anda dan juga saya, saya ga mau membuat mereka bersedih diawal pernikahan kita ini" tutur Vandra.
"Ada hal yang mau saya tanyakan. Kenapa Papa Tomy menginginkan kita menikah sedangkan Vivi adalah orang yang Anda cintai. Saya heran, apa Anda sebagai laki-laki sebegitu pengecutnya. Rela melepas orang yang dicintai hanya untuk menuruti menikah dengan saya? Seharusnya Anda itu memperjuangkan dia" Vandra meluapkan apa yang ingin ia utarakan.
"Kamu ga tau apa yang terjadi sebenarnya. Dan saya rasa kamu ga berhak tau soal itu, kamu bukan siapa-siapa dihidup saya. Ingat, status kamu hanya istri sementara buat saya. Jadi jangan pernah menilai saya seperti apa yang kamu pikirkan" ucap Andra.
Andra berlalu pergi masuk kedalam kamarnya, ada rasa amarah mendengar ucapan Vandra. Ingin rasanya menjelaskan tentang Vivi dan juga perasaannya, tapi tak ada pengaruhnya jika Andra menceritakan itu pada Vandra.
Vandra memasuki kamarnya mengikuti Andra yang pergi masuk kekamarnya terlebih dulu. Sejujurnya Vandra tak memperdulikan sikap pengecut Andra saat berbicara tadi, hanya saja rasa kecewa pada Randy seolah diluapkan pada Andra.
Merasa terlalu lelah, Vandra menidurkan dirinya dikasur. Vandra bahkan tak menganti baju atau hanya sekedar membersihkan wajah dan tubuhnya. Perasaannya membuat raganya seolah tak ingin melakukan apapun, apalagi tergangu oleh siapapun.
Jam menunjukan pukul 6malam, Vandra bergegas menyiapkan makan malam karna ia merasa cukup lapar. Karna kebutuhan makanan sudah tersedia, Vandra pun langsung pergi menuju dapur untuk membuat makan malam. Dua piring nasi goreng seafood sudah tersaji hangat diatas meja makan, tanpa menunggu Andra yang masih berada dikamarnya, Vandra langsung menyantapnya seorang diri.
Vandra hampir selesai dengan makanannya, dan tiba-tiba pintu kamar Andra terbuka. Vandra masih asyik dengan makanannya tanpa menawari Andra yang berjalan menghampirinya. Andra melirik kearah sepiring nasi goreng seafood yang masih utuh, tanpa memperdulikan Vandra nasi itu pun Andra santap dengan lahapnya.
"Ternyata nasi goreng buatannya enak juga" gumam batin Andra.
Vandra menaruh piring ke wastafel lalu mencucinya, selesai mencuci tanpa menengur Andra yang tengah menikmati makan malamnya Vandra melewati Andra begitu saja dan masuk kedalam kamarnya tanpa mengucapkan kata apapun.
Vandra fokus mengerjakan tugas kuliahnya didalam kamar, walau sejujurnya Vandra merasa sedikit bersalah pada Andra atas ucapannya, tapi Vandra mencoba menepis rasa bersalah itu dengan melakukan hal yang harus ia kerjakan.
Hampir jam 10malam Vandra masih saja mengerjakan tugas kuliahnya yang belum selesai, namun tiba-tiba apartemen malam itu mati lampu. Vandra sontak berteriak menjerit, Vandra tak suka kegelapan. Bahkan Vandra akan terus menerus menangis histeris sebelum ada seseorang yang memeluknya jika keadaan lampu masih saja mati.
Mendengar tangisan histeris membuat Andra masuk kedalam kamar Vandra tanpa mengetuk pintu. Dengan refleks Andra menghampiri Vandra, Vandra yang saat itu begitu merasa ketakutan tanpa segaja memeluk tubuh Andra dengan eratnya. Andra sebenarnya merasa sulit untuk bernafas, namun karna kekhawatirannya dengan tangisan Vandra membuat Andra mengabaikan hal itu. Andra pun mencoba untuk menenangkan Vandra, dan perlahan tangisan Vandra mulai mereda.
__ADS_1
***
"