Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Harapan keluarga


__ADS_3

"Lo gila ya Vin, gue rasa rencana lo keterlaluan deh" Salma memprotes setelah mendengar rencana Vivi.


"Sal, gue ga bisa liat Andra hidup bareng sama perempuan itu. Lagian juga, gue yakin Andra ga punya perasaan apapun sama dia. Kalau gue buat Andra terjebak sama rencana gue, otomatis Andra bakal jadi milik gue. Dan perempuan itu bisa gue lenyapkan begitu aja kehadirannya dihidup Andra" licik Vivi.


"Apa lo yakin rencana lo bakal berhasil? Terus gimana caranya lo bujuk Andra buat ketemu, lo tau sendiri kan kalau dia itu udah sebenci itu sama lo"


"Lo tenang aja, gue bakal manfaatkan Dino untuk rencana gue kali ini" Vivi tersenyum kecil menatap Salma.


Salma hanya bisa menggelengkan kepala dengan rencana nekat sahabatnya itu.


***


Vandra dan Andra berpamitan pada Ayah Hadi, Ibu Hani, Vina dan Adit. Ada rasa sedih karna pertemuan itu harus berakhir, tapi Vandra berusaha tetap tersenyum untuk menutupi rasa sedihnya. Vandra melambaikan tangan saat mobil melaju, rasanya sangat sulit berpisah seperti ini walau jarak diantara mereka masih bisa ditempuh tapi tetap saja, Vandra belum bisa menerima itu.


"Kamu harus bersabar, masih tersisa 11 bulan untuk kamu bisa berkumpul dengan mereka lagi" sindir Andra.


"Iya, aku tau itu"


Tiba-tiba keheningan terjadi. Vandra tak tau harus berbicara apa, tapi ia teringat dengan ucapan Andra pada Adit.


"Oh iya, tadi kenapa Mas bilang kaya gitu soal bayi kecil sama Adit? maksudnya apa? inget ya, diantara kita ga akan pernah ada seorang bayi" Vandra memperingatkan.


"Aku cuma berbasa-basi aja. Memang kamu mau mereka curiga dengan sandiwara kita? lagipula diantara kita itu ga akan pernah ada seorang bayi, kita kan ga pernah melakukan hubungan suami-istri. Jadi kamu ga perlu memikirkan hal itu"


"Tetep aja, ucapan Mas itu bisa jadi sebuah harapan buat keluarga aku" kesal Vandra.


Yang dikatakan Vandra benar, bagaimana jika keluarga Vandra mengharapkan hadirnya seorang bayi dipernikahan ini? itu tidak mungkin bisa terjadi, karna pernikahan ini bukan pernikahan sebenarnya. Harapan itu pasti hanya akan menjadi harapan yang kosong.


***


Baru saja tiba diapartemen, Vandra dan Andra dikejutkan dengan kedatangan Papa Tomy, Mama Amira dan Arumi. Mereka terkaku tak berdaya karna merasa terkejut, Andra yang membuka pintu segera meminta keluarganya untuk masuk.

__ADS_1


"Mama sama Papa kenapa ga kabarin aku mau kesini?" tanya Andra sembari berjalan mengikuti keluarganya menuju sofa.


"Papa segaja mau kasih kejutan kamu dan Vandra. Gimana nih kabar pengantin baru?" Papa Tomy bertanya saat semua orang sudah duduk disofa.


Vandra dan Andra saling tersenyum.


"Kabar aku sama Mas Andra baik Pah. Kabar Mama, Papa, sama Arumi gimana? maaf belum sempat jenguk kerumah" Vandra menjawab.


"Kabar kami semua baik Van. Mama seneng deh bisa melihat kalian rukun seperti ini, semoga hubungan kalian bisa menumbuhkan rasa cinta yang lebih dalam ya" harap Mama Amira.


"Kamu juga ga perlu minta maaf karna belum menjenguk kami, kami tau kalian berdua pasti sibuk. Oh iya, kapan kalian kasih Papa sama Mama seorang cucu?" Papa Tomy bertanya membuat Vandra dan Andra saling memandang.


Lagi-lagi seorang bayi yang dibahas. Entah kenapa hari ini semua keluarga harus membahas seorang bayi. Vandra tak mengerti apa maksud dibalik semua ini, padahal Vandra tak pernah terpikirkan memiliki seorang bayi.


"Papa doakan kita ya, semoga Vandra bisa memberikan cucu buat Mama dan Papa" Andra menghibur.


Dan untuk kedua kalinya Andra meminta doa seperti itu pada keluarganya saat ini. Vandra benar-benar tak mengharapkan doa mereka terkabul, karna Vandra memang tak mengharapkan adanya seorang anak dipernikahan sementaranya ini.


"Mah, Pah aku pamit buat minuman dulu ya" Pamit Vandra segaja menghindari perbicangan tentang seorang anak.


"Kaka lagi buat apa?" Arumi datang mengejutkan Vandra.


"Hai.. Lagi buat teh" Vandra menjawab dengan gugup.


"Mau aku bantu?" Arumi menawarkan.


"Ga perlu, ini udah mau selesai ko"


"Oh. Ka, aku boleh tanya ga?"


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Kenapa Kaka mau mengorbankan masadepan Kaka? maaf kalau aku ga sopan tanya ini, tapi aku penasaran. Apa Kaka ga merasa tersiska harus menjalani hubungan sama orang yang ga pernah Kaka cintai?" tanya Arumi.


Vandra tak menyangka Arumi yang dikenalnya pendiam tiba-tiba menanyakan hal itu. Sejujurnya ingin sekali Vandra mengatakan bahwa hatinya cukup tersiksa menjalani pernikahan ini tapi Vandra tak mungkin melakukan itu.


"Terimakasih ya untuk perhatian kamu, Kaka tau kamu tanya soal itu karna kamu peduli sama Kaka kan? kamu ga perlu khawatir ya, pasti lambat laut perasaan Kaka maupun Ka Andra pasti akan saling terpaut. Kamu doain aja ya" ucap Vandra tersenyum.


"Iya Ka"


Vandra terpaksa mengatakan hal itu, ia tak ingin semua orang merasa kecewa jika ia mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Menutupi dan berbohong mungkin cara terbaik untuk membuat mereka semua percaya, walau sejujurnya amat berat dirasa tapi Vandra harus menyelesaikan apa yang sudah terlanjur ia jalani bersama Andra.


Vandra bersikap seperti dirinya sendiri dihadapan keluarga Andra, sikap Vandra yang mudah beradaptasi mampu membuat orang-orang disekitarnya menjadi nyaman. Andra yang memperhatikan sikap Vandra pun seakan menjadikan itu hal positif untuknya. Tanpa sadar senyuman pun terbentuk dibibirnya sambil melihat Vandra.


"Sekarang Mama yakin kenapa Papa begitu kekeh menikahkan Andra sama kamu, ternyata selain hati kamu yang baik kamu juga menyenangkan ya" puji Mama Amira.


"Mama terlalu memuji" Sungkan Vandra.


"Yang dibilang Mama kamu benar Van, Papa juga sangat bersyukur Andra menikah sama kamu. Mama sama Papa berharap pernikahan kalian bisa langgeng sampai kapan pun" harap Papa Tomy.


Begitu besar harapan dua keluarga tentang pernikahan Vandra dan Andra. Tapi mau bagaimana, diantara Andra maupun Vandra tak ada rasa cinta. Vandra melirik kearah Andra sekilas, apa yang harus dilakukan sekarang? apa menunggu waktu lebih lama lagi untuk mengakhiri pernikahan ini akan jauh lebih sulit? saat ini saja semua begitu berharap besar pada pernikahan ini.


"Oh iya Van, Mama minta kamu bersabar ya" ucap Mama Amira membuat Vandra tak mengerti.


"Maksud Mama apa ya?"


"Soal Oma. Maaf ya kalau ada perkataan dan perlakuan Oma yang membuat kamu terluka. Mama berharap kamu bisa sabar dan kuat menghadapi itu" pinta Mama Amira.


"Iya Mah. Mama tenang aja ya, aku akan berusaha untuk membuat Oma menerima aku. Yang terpenting sekarang Mama dan Papa harus selalu sehat dan bahagia, sekarang kan Mas Andra udah menikah jadi Mama dan Papa ga perlu khawatirin itu. Biar aku dan Mas Andra yang menghadapi Oma" Vandra menenangkan.


"Terimakasih ya untuk pengertian kamu. Dra, Mama ingatkan ya sama kamu. Jaga Vandra baik-baik, istri kamu ini begitu baik hatinya. Jangan pernah kamu sia-siakan apalagi menyakiti istri kamu ini, kamu ingat ya pesan Mama" ucap Mama Amira pada Andra.


"Iya Mah, aku akan berusaha ingat pesan itu"

__ADS_1


Andra tersenyum menatap wajah Mama Amira yang terpancar bahagia karna Vandra. Sejujurnya Andra merasa bingung saat ini, bagaimana jika hari akhir kesepakatan pernikahan itu tiba? apa masih ada harapan dan senyuman itu diwajah keluarganya maupun keluarga Vandra?.


***


__ADS_2