
"Van, aku takut nih. Apa dia mau buat perhitungan sama kita ya?" gumam Dinda pada Vandra.
"Ga akan Din, kamu tenang aja. Dia ga akan berbuat apa-apa ko"
Andra menatap Vandra dingin, rasanya masih tak percaya wanita dihadapannya itu adalah calon istrinya.
"Apa kegiatan kamu setelah selesai sekolah itu main?" tanya Andra dingin.
"Apa urusannya dengan Anda?" sinis Vandra.
"Saya hanya bertanya. Saya juga ingin mengingatkan, tolong jaga sikap kamu. Saya tadi tidak segaja melihat kamu bersama teman lelaki selain teman disamping kamu. Saya tau saya bukan siapa-siapa kamu, tapi jangan pernah kamu lupakan apa yang terjadi pada kita. Ingat status kamu, kalau seandainya kamu membatalkan sepihak karna perasaan lain kamu, saya akan membuat hidup kamu tidak tenang" ancam Andra.
"Sebenarnya maksud Anda apa?" Vandra bingung.
"Saya tau, teman lelaki yang bersama kamu tadi adalah orang yang mencintai kamu. Dan dia sedang berusaha untuk mendapatkan kamu, kita ga pernah tau apa yang terjadi selanjutnya. Saya ga mau sampai perasaan kamu sama dia bisa merusak apa yang sudah kita rencanakan"
"Van, sebenernya yang kalian bahas tentang apa?" Dinda penasaran.
"Jadi teman kamu ini belum menceritakan apapun sama kamu?" tanya Andra pada Dinda.
"Memang ada apa diantara kalian?" Dinda memberanikan diri bertanya.
"Saya Andra Wijaya, calon suami Vandra"
Dinda benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. Apa? calon suami Vandra? bagaimana bisa? Selama ini Vandra tak pernah menceritakan apapun soal calon suami.
"Van, yang dibilang Tuan itu bener?" Dinda meminta kepastian.
Vandra menghela nafas, mungkin sudah saatnya Dinda tau mengenai hal yang terjadi pada Vandra.
"Iya Din, itu bener" ucap Vandra.
Merasa masih tak percaya Dinda hanya terdiam memperhatikan Vandra dan Andra.
__ADS_1
"Ga ada yang mau dibahas lagi kan Tuan Muda? kalau begitu saya pamit dulu, permisi. Ayo Dinda" Vandra menarik tangan Dinda meninggalkan Andra.
Dinda sesekali memalingkan wajahnya kebelakang melihat Andra, rasanya masih tak percaya jika sosok lelaki dingin itu adalah calon suami Vandra. Tapi bagaimana bisa seperti itu? Dinda benar-benar penasaran.
Sebelum pulang Vandra mengajak Dinda ke taman untuk menceritakan semua yang terjadi. Vandra sadar, mau sejauh apapun menyembunyikan pasti akan ketahuan juga.
"Van, aku bener-bener penasaran sama yang terjadi antara kamu dan Tuan Muda itu, gimana bisa kamu jadi calon istri dia?" tanya Dinda.
Vandra memulai bercerita dari awal dia mengenal Tuan Tomy bahkan keluarganya termasuk alasan kenapa Vandra menerima permintaan Tuan Tomy untuk menikah dengan Andra. Dinda mendengar cerita Vandra dengan begitu serius, walau Dinda merasa amat terkejut tapi Dinda mencoba mendengar dengan baik apa yang Vandra ceritakan.
"Cerita kamu kaya drama ya, aku ga nyangka lho. Ko bisa kamu sedewasa dan seberani ini mengambil keputusan untuk menikah sama Tuan Muda rese itu? aku tau, kamu sayang dan ingin membayar semua kebaikan keluarga kamu. Tapi apa kamu yakin sama keputusan kamu ini?" Dinda bertanya.
"Aku yakin Din. Lagipula, aku kan cuma menikah sama Tuan Muda itu selama 1 tahun. Setelah itu aku kan menjalani hidup aku dengan bebas tanpa merasa berhutang budi sama siapapun"
"Semoga keputusan kamu ini yang terbaik ya, aku mendukung dan mndoakan kamu. Aku juga ga bisa membantu atau kasih solusi untuk kamu, tapi aku berharap kedepannya hidup kamu menjadi lebih baik"
"Aaminn... Din, aku minta kamu rahasiakan ini ya sama siapapun. Aku ga mau mereka membentuk pemikiran yang membuat aku merasa tertekan nantinya, sampai suatu hari tiba aku yakin akan ada jalan untuk semua orang tau tentang ini"
"Aku rasa saat ini Randy ga perlu tau dulu deh, lagian juga aku ga mau masalah ini muncul dulu. Pernikahan aku kan terjadi saat kuliah nanti, jadi aku rasa nanti Randy akan tau sendiri. Aku takutnya, kalau Randy tau dia akan merusak semuanya"
"Kalau itu menurut kamu begitu aku akan dukung itu"
"Makasih ya Din untuk pengertian kamu"
"Iya Van, kita teman baik"
Vandra dan Dinda saling melempar senyum.
***
Malam hari Andra berdiri seorang diri dibalkon kamar. Entah mengapa ingatan masalalu datang menghampirinya lagi, kenangan pahit saat ditinggal seseorang yang amat sangat Andra cintai seolah membuatnya menjadi dingin seperti ini.
Andra menghembuskan nafas kasar sembari mengingat kejadian tadi siang saat melihat Vandra yang begitu dekat dengan Randy. Sejujurnya Andra tak peduli dengan kedekatan mereka, hanya saja Andra teringat dengan kejadian masalalu yang membuatnya sakit hati sampai saat ini.
__ADS_1
Rasanya dulu begitu indah dan bahagia bisa menikmati waktu berdua bersama orang yang dicintai, tapi apadaya. Kenyataan harus memperlihatkan semua untuk menyadarkan seseorang yang dicintai seperti apa.
Saat Randy tenggelam dalam renungannya, Arumi mengetuk pintu kamar lalu masuk kedalam kamar Andra. Arumi sudah hafal betul sifat Andra jika sedang merenung, ia akan berdiam diri didepan balkon kamar sembari menatap langit.
"Ka Andra" panggil Arumi.
"Kamu, ada apa?" tanya Andra.
Arumi mensejajarkan dirinya berdiri disamping Andra.
"Kaka kenapa? akhir-akhir ini Kaka sering merenung disini? apa Kaka masih sedih sama hal yang lalu?" tanya Arumi. Arumi memang sosok pendiam, tapi rasa pedulinya begitu besar.
"Kaka baik-baik aja. Ini udah malam, kamu kenapa belum tidur?"
"Aku belum ngantuk Ka. Oh iya Ka, Kaka yakin mau menikah sama Ka Vandra nantinya?" Arumi tiba-tiba membahas soal Vandra.
"Kamu kenapa tanya itu?"
"Aku penasaran Ka, aku tau Kaka mau menikahi Ka Vandra karna Papa. Tapi apa itu ga buat Kaka dan Ka Vandra saling terluka karna permintaan Papa? aku ngerasa Kaka ga perlu ngelakuin itu, rasa trauma Kaka aja belum sepenuhnya pulih kan? aku ga mau nantinya hubungan kalian berakhir menyakitkan"
Andra tersenyum mendengar ucapan Arumi.
"Makasih ya untuk perhatian dan rasa peduli kamu. Tapi kamu harus dengerin Kaka, kamu ingat kejadian yang menimpa Papa sebelumnya kan?" tanya Andra mendapat anggukan Arumi.
"Kaka ga mau terulang. Buat Kaka, asalkan Papa bahagia dan baik-baik aja itu udah cukup. Kaka cuma mau Papa bisa menemani kita sampai kapapun. Belum lagi masalah Ka Adrian yang masih seperti itu terlena karna kesedihannya, Kaka ga mau menjadi beban pikiran Papa dan Mama lagi. Lebih baik Kaka mengalah daripada Kaka harus melihat keluarga kita dirundung kesedihan terus-menerus. Kamu pahamkan maksud Kaka?" Andra menambahkan.
"Iya Ka. Semoga nantinya kehidupan keluarga kita menjadi baik ya Ka"
"Iya, kita berdoa ya"
Andra dan Arumi berpelukan, mereka saling menguatkan satu sama lain. Saat ini bagi Arumi, Andra adalah pelindungnya setelah Papa Tomy. Dan bagi Andra, Arumi adalah sosok yang harus ia jaga dan lindungi sampai tiba nantinya ia memilki sosok yang bisa menjaganya.
***
__ADS_1