
Ditengah perjalanan menuju rumah Om Hadi (Ayah Vandra) Dinda menyempatkan memberi cake untuk Vandra. Dinda yang sudah mengetahui tentang kehamilan Vandra dan juga kesedihan yang tengah dialami Vandra memutuskan menjenguk Vandra malam itu juga. Rasa khawatir dan tak ingin Vandra merasa seorang diri membuat Dinda ingin memastikan keadaan Vandra.
Selesai membeli cake tak diduga pertemuan kembali terjadi diantara Dinda dan juga Dino. Mereka berdua saling menatap, Dinda yang sejak awal tertarik pada pesona Dino membuat Dinda sedikit salah tingkah. Dino yang mengenal sosok Dinda dengan cepat datang menghampiri untuk menyapa.
"Hai, kamu Dinda temannya Vandra kan?" Dino memastikan.
"Iya Ka. Kita ketemu lagi" Dinda tersipu malu.
"Kamu selesai beli cake ya?"
"Iya Ka. Ini aku beli buat Vandra"
"Jadi kamu mau kerumah Om Hadi ya?" tanya Dino.
"Iya Ka"
"Kebetulan, Kaka juga mau kerumah Oma Hadi, mau jenguk Vandra kebetulan Andra juga ada disana. Kamu naik apa kesini?"
"Naik taxi online Ka"
"Gimana kalau kamu bareng Kaka aja, mau kan? arah tujuan kita kan sama" Dino menawarkan.
"Iya Ka" pasrah Dinda. Sejujurnya Dinda ingin menolak tapi jika dipikir lagi tak ada salahnya menerima ajakan Dino.
"Ayo"
"Iya Ka"
Diperjalanan didalam mobil, Dinda tak hentinya mengatur nafas karna bisa duduk berdekatan disamping Dino. Sebenarnya ini adalah hal yang paling membuat jantung Dinda bedegub kencang, bagaimana jika Dino menyadari kegelisahaannya saat ini.
"Kamu udah lama berteman sama Vandra?" tanya Dino mengangetkan Dinda.
"Hah?" ucap Dinda spontan.
"Kamu lagi melamun ya?"
"Gak ko Ka, aku tadi kurang denger aja" bohong Dinda.
"Oh, tadi Kaka tanya kamu udah lama berteman sama Vandra?"
"Lumanyan lama Ka, aku berteman sama Vandra dari jaman sekolah"
"Oh, trus temen kamu yang satu lagi kemana? kalau ga salah Vania kan namanya?"
"Iya Ka, dia ga ikut karna pergi sama keluarganya"
"Oh"
__ADS_1
"Kenapa aku jadi salahtingkah gini sih, sadar Dinda. Inget, Vania itu suka sama Ka Dino jadi kamu harus sadar diri sama ketertarikan kamu" batin Dinda.
***
"Kenapa Mas mau tetap bertahan sama aku? padahal Mas tau kan gak mudah membalikan keadaan untuk kita. Apa Keluarga besar Mas mau menerima anak kita nanti?" tanya itu terlontar dari mulut Vandra begitu saja.
"Kita berusaha. Aku yakin, Oma akan luluh pada akhirnya dan akan menerima pernikahan ini termasuk anak kita. Liat sekarang, kamu hamil. Itu tandanya apapun yang terjadi, kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kamu harus kuat, ini adalah cobaan untuk pernikahan kita, jadi apapun hal yang menerpa, aku akan tetap bertahan untuk kamu dan anak kita" Andra berusaha menyakinkan.
"Aku ga mau, kamu menjalani hari-hari kehamilan kamu tanpa aku. Aku mau menjadi suami yang baik dan selalu ada untuk kamu. Mulai sekarang, jangan pikirkan hal yang membuat kamu terluka. Pikirkan hal yang baik dan membuat kamu bahagia, ingat ada anak kita didalam rahim kamu. Dan untuk kebaikan kamu, aku akan mengijinkan kamu sementara waktu untuk tinggal disini bersama keluarga kamu" Andra menambahkan.
"Mas serius ijinin aku sementara tinggal disini?"
"Iya sayang. Tempat yang paling tepat untuk mengobati kesedihan kamu dan juga membuat kamu bahagia adalah rumah keluarga kamu. Ayah juga sempet minta aku untuk mengijinkan kamu tinggal disini selama kehamilan kamu, dan aku pikir itu hal yang benar. Selama aku kerja pasti kamu akan merasa sering kesepian, jadi aku harap kamu bisa menerima keputusan aku dan Ayah. Kamu mau kan?"
"Tapi Mas, nanti siapa yang mengurus pakaian, siapin makan dan keperluan kamu kalau aku disini?"
"Aku bisa urus itu sendiri. Lagipula nanti juga aku akan sering menjenguk kamu, jadi kamu ga perlu pikirin hal itu. Sekarang kita akhiri permasalahan diantara kita ya, aku mau menjalani hari-hari bahagia bersama kamu" pinta Andra.
"Iya Mas"
Andra menatap wajah Vandra, semakin melihat Vandra semakin Andra bersyukur memiliki Vandra.
Sebuah ketukan pintu membuat Vandra dan Andra menoleh kearah pintu. Andra bangun dari duduknya lalu membuka pintu. Ibu Hani memberitahu jika Dinda dan Dino menunggu Vandra dan juga Andra diruang tamu.
"Siapa Mas?" tanya Vandra saat Andra menutup pintu kamar kembali.
"Ibu. Kata Ibu didepan ada Dinda sama Dino. Aku mau temuin mereka dulu ya"
"Iya, ayo" Andra mengulurkan tanganya pada Vandra.
Vandra menangkap keanehan saat ia melihat Dinda datang bersama Dino, bagaimana bisa mereka datang bersamaan?. Vandra menerbarkan senyuman pada Dino dan Dinda sembari duduk disamping Andra.
"Kalian dateng barengan kesini?" tanya Vandra.
"Iya Van, tadi Ka Dino ga segaja ketemu Dinda jadi Kaka ajak bareng kesini" jawab Dino.
"Ini Van, aku bawa ini buat kamu" Dinda menyerahkan cake pada Vandra.
"Makasih Dinda"
"Iya, kamu harus banyak makan ya. Biasanya kalau lagi mual gitu kamu harus makan yang manis, diawal kehamilan pasti sulit kamu alamin" ucap Dinda membuat Dino tak mengerti. Selain keluarga Vandra, Dinda dan Vania juga sudah mengetahui kehamilan Vandra.
"Maksudnya apa nih. Vandra lagi hamil Dra?" Dino meminta penjelasan Andra.
"Iya Din" jawab Andra.
Dino begitu bahagia mendengar kehamilan Vandra, rasanya tak percaya sebentar lagi Andra akan menjadi orangtua.
__ADS_1
"Selamat ya, seneng gue dengernya"
"Iya Din. Sayang, aku ngobrol diluar dulu sama Dino ya. Adahal penting yang harus di bicarain" ucap Andra pada Vandra.
"Iya Mas"
"Kamu ngobrol sama Dinda dulu ya"
"Iya"
Vandra merasa sedikit curiga dengan tatapan Dinda yang terus menatap kepergian Dino. Apa Dinda menyukai Dino? duga Vandra.
"Dinda" panggil Vandra.
"Iya, kenapa Van" refleks Dinda mengalihkan wajahnya pada Vandra.
"Jujur sama aku, kamu suka sama Ka Dino" tanya Vandra.
"Ko kamu tanya itu sih" jawab Dinda salahtingkah.
"Aku bisa liat Din, kamu suka kan? kamu gak perlu bohong Din, tatapan kamu menjawab soal itu"
Dinda terdiam beberapa saat menatap Vandra.
"Aku harus gimana Van, ini diluar dugaan aku. Aku memang jatuh cinta pandangan pertama sama Ka Dino. Van, please jangan bilang soal ini sama Vania ya. Aku gak mau nanti dia marah dan kecewa sama aku soal ini," mohon Dinda.
"Dengerin aku. Itu semua hak kamu Din, kamu suka sama siapapun itu termasuk Ka Dino juga hak perasaan kamu. Soal Vania, aku tau kamu merasa takut karna Vania juga suka sama Ka Dino. Tapi ada baiknya kamu coba untuk jujur sama Vania, biar nanti ga ada kesalahpahan diantara kalian" saran Vandra.
"Ini minumannya" Ibu Hani datang tiba-tiba menghentikan pembicaraan Vandra dan Dinda.
"Makasih Bu"
"Lagi bicarain apa? Oh iya Van, Nak Andra sama Nak Dino kemana?"
"Didepan Bu sama Mas Andra"
"Oh. Dinda, kamu ikut makan malam sama kita ya, kebetulan Om lagi siapin makan malam" pinta Bu Hani.
"Ga usah Tante, buat repot" Dinda menolak halus.
"Ga ko. Mumpung kumpul, kita makan malem sama-sama. Kebetulan juga Vina lagi diperjalanan pulang"
"Iya deh Tante"
"Ya sudah, Bu pamit bantuin Ayah ya. Kalian berdua ngobrol aja" pamit Bu Hani.
"Iya Tante"
__ADS_1
Vandra dan Dinda melanjutkan obrolan mereka kembali sambil menunggu Andra dan Dino kembali.
***