Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Sosok masalalu


__ADS_3

Walau sudah memakai masker dan topi tetap saja Andra merasa tak aman mengikuti Vandra didalam supermarket. Andra menjaga jarak beberapa meter dari Vandra, hal itu juga dilakukan Andra agar orang-orang tak mencurigainya datang dengan seorang perempuan.


Sejujurnya Vandra ingin sekali menertawakan sikap Andra yang terlalu takut akan hal itu. Tapi Vandra tak peduli dengan ketakutan Andra itu, ia hanya fokus mengambil bahan makanan, snack dan kebutuhan rumah tangga lainnya.


Dering telpon memecah konsentrasi Vandra saat memilih snack dihadapannya. Vandra menoleh ke arah Andra berada, untuk apa dia menelpon? pikir Vandra.


"Apa?" sinis Vandra sambil memasukan snack ke dalam troli.


"Kamu kapannya selesainya? saya cape ikutin kamu terus" keluh Andra.


Hah, apa dia bilang? Capek? padahal tak ada yang menyuruhkan mengikuti kemanapun Vandra pergi.


"Kalau Anda capek ngapain ikutin saya? Anda tunggu aja sana dimobil" kesal Vandra langsung mematikan telpon.


Vandra berlanjut mengambil kebutuhan yang lainya, sebenarnya Vandra segaja memperlama kebutuhan belanja disupermaket. Ia tak peduli Andra akan marah atau kesal dengan apa yang Vandra lakukan. Yang terpenting Vandra bisa sepuas hati mengambil semua kebutuhan tanpa merasa takut total belanjaannya akan menguras dompet. Karna Vandra tak khawatir, ia memegang kartu kredit yang diberikan Andra untuknya.


Akhirnya belanja kebutuhan disupermaket malam itu selesai, semua belanjaaan pun sudah masuk kedalam bagasi mobil. Vandra pikir setelah semuanya selesai Andra tak akan mengomelinya dan memprotes Vandra, tapi nyatanya Andra masih saja tak terima dengan sikap Vandra yang segaja membuatnya lelah mengikutinya karna berlama-lama didalam supermarket tadi.


"Kamu itu segaja ya mau buat saya capek?" Andra memprotes.


"Lha kenapa Anda marah? saya udah bilang kan, Anda tunggu aja dimobil" Vandra membalas tak terima.


"Kenapa jadi kamu yang balik marah? Bukannya terimakasih saya sudah antar, kamu malah balik protes sama saya"


"Si Tuan kutub ini makan apa sih? heran, ada juga dia yang salah kenapa jadi dia yang marah-marah?" gumam batin Vandra memandangi Andra.


"Kenapa kamu liatin saya?"


"Ga apa-apa. Ya udah kita pulang sekarang, Tuan mau ada yang liat kita kalau kita masih disini?" Vandra manakuti.

__ADS_1


Andra tak berkutik dengan ucapan Vandra, yang diucapkannya benar tak mungkin mereka masih berdiam diparkiran supermarket, bisa-bisa ada seseoran yang melihat mereka.


Vandra menyusun barang belanjaan sesuai dengan tempatnya. Andra memperhatikan Vandra dibalik meja makan sambil menikmati secangkir teh, apa pernikahan seperti ini? ada yang mengurusi rumah dan juga ada yang menemani.


Andra pergi menuju ruang kerjanya meninggalkan Vandra seorang diri yang sedang menyusun belanjaan. Karna barang belanjaan saat itu cukup banyak membuat Vandra mengentikan kegiatannya lalu menyandarkan tubuhnya disofa. Vandra menghembuskan nafas pelan, ternyata menjadi Ibu rumah tangga tak semudah yang dibayangkan.


Sebuah bel berbunyi menganggu istirahat Vandra. Vandra sedikit kesal karna hal itu menggangunya, dengan terpaksa Vandra melihat siapa yang datang. Vandra terdiam mematung, melihat sosok wanita bertubuh tinggi langsing memancarkan senyuman dihadapan Vandra.


"Maaf, Kaka ini siapa ya?" tanya Vandra. Wanita itu terlihat usianya jauh diatas Vandra. Dia bernama Vivi.


"Saya teman Andra, apa Andra ada?" tanyanya. Vandra mengerutkan dahi, siapa dia?.


"Ada. Tunggu sebentar, silakan masuk" Vandra mempersilakan.


Vandra mengetuk pintu ruang kerja Andra lalu masuk menemui Andra, dilihat Andra sedang mengerjakan sibuk dengan laptopnya. Sebenarnya Vandra malas harus berdebat dengan Andra, tapi Vandra terpaksa menemui karna ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Ada apa?" ketus Andra.


"Siapa?" tanya Andra.


"Entah, dia perempuan cantik. Mungkin pacar Anda, temuin sana. Kasian kalau terlalu lama nunggu nanti dia marah" saran Vandra sambil berlalu pergi keluar.


"Pacar? apa maksud dia?" gumam Andra.


Tak ingin mengetahui obrolan Vandra bergegas membereskan sisa belanjaan yang harus dirapihkan lalu masuk kedalam kamar. Vandra memperhatian wanita itu sambil berjalan menuju kamar.


"Berani banget dia bawa cewe ke apartemen, dia ga sadar status pernikahan kita apa? Eh tapi ga peduli juga, pernikahan ini kan cuma pernikahan sesaat. Mau dia punya pacar juga bukan urusan aku" cuek Vandra.


Andra menemui wanita yang dimaksud Vandra. Ia merasa bingung siapa wanita yang menemuinya malam-malam begini. Andra cukup terkejut dengan kehadiran Vivi, bagaimana dia bisa tau apartemennya?.

__ADS_1


Vivi adalah temen Andra, lebih tepatnya cinta pertama Andra. Dulu Vivi adalah nafas untuk Andra, setiap hari Andra selalu berusaha agar bisa bersama dengan Vivi. Seiring berjalan waktu, Vivi meruntuhkan perasaan Andra dengan penolakan yang menyakitkan. Vivi pergi meninggalkan Andra hanya karna cinta sesaatnya bersama pria lain, Andra sangat kecewa bahkan mencitai Vivi bagai sebuah penyesalan yang selalu terbayang olehnya.


Dan sekarang, Vivi datang kembali. Andra tak mengharapkan dia kembali, bahkan tak pernah mengingatnya lagi. Lalu untuk apa dia kembali? apa luka dulu yang pernah dia berikan tak membuatnya malu untuk datang kembali menemui Andra?.


"Vivi" gumam Andra yang bisa menebak siapa wanita yang sedang menunggunya disofa. Andra datang menghampiri dengan wajah dingin dan tak suka.


"Untuk apa kamu disini? kenapa kamu bisa tau aku tinggal disini?" Andra bertanya tanpa basa-basi. Andra duduk dihadapan Vivi memperhatikan wanita yang pernah melukainya itu.


"Kamu apa kabar? maaf aku datang tiba-tiba, aku mau ketemu kamu. Aku tau kamu tinggal disini dari Oma kamu" jawab Vivi santai.


Oma? ya, Oma memang salahsatu orang yang mendukung Vivi untuk bersama Andra. Oma begitu menyukai pribadi Vivi termasuk silsilah keluarga Vivi yang kaya raya. Oma tak tau keadaan yang sebenarnya terjadi diantara Vivi dan Andra, yang Oma tau mereka berdua baik-baik saja.


"Untuk apa kamu masih menghubungi Oma?" ketus Andra.


"Ko kamu malah tanya gitu. Silaturahmi itu kan penting. Kamu emang ga kangen ketemu aku? udah beberapa tahun ini lho kita ga ketemu" ucap Vivi manja.


"Vi, hubungan kita sekarang ini ga sebaik dulu. Dan tolong, kamu jangan bersikap ga sopan kaya gini. Ini udah malam, ga sepantasnya kamu bertamu malam-malam begini" Andra memprotes sikap Vivi.


"Kamu kenapa sih? apa karna ada dia?" tuduh Vivi mengarah pada sosok Vandra.


"Dia itu kan cuma istri sesaat kamu. Kehadirannya juga ga ada artinya dihidup kamu" Vivi menambahkan.


Andra menatap Vivi. Wanita itu pasti sudah mengetahui pernikahan tersembunyinya dengan Vandra. Orang yang memberitahu tentang hal itu pasti Oma.


"Lalu urusannya dengan kamu apa? kalau dia istri sesaat aku kenapa? masalah dengan kamu?" kesal Andra.


"Kamu kenapa beda? kenapa nada bicara kamu jadi kasar begitu?" tanya Vivi.


"Lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan pernah tanyakan hal itu sama aku, seharusnya kamu tanya soal itu sama diri kamu sendiri. Pintu keluar ada disana, silakan kamu pergi" usir Andra.

__ADS_1


Vivi merasa cukup sakit hati dengan ucapan Andra, tanpa mengucapkan kata lagi Vivi melangkah pergi keluar. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa hidupnya saat ini harus bermasalah dengan wanita.


***


__ADS_2