
"Dino"
Dino mengalihkan pandangannya kearah suara yang memanggilnya. Ya, orang itu Andra. Andra dengan tergesa-gesa datang menghampirinya lalu menanyakan keberadaan Vandra padanya.
"Vandra mana Din?" tanya Andra memalingkan pandangannya kearah lain.
"Tadi pamit sama gue mau ke toilet"
"Dari kapan?"
"Sebenarnya dari setengah jam yang lalu" Dino menjawab jujur.
"setengah jam yang lalu? terus Lo gak cek?"
"Gue udah cek, tapi gue bingung harus gimana. Sedangkan gue gak bisa masuk kesana. Tapi Lo tenang aja, gue udah minta orang untuk cek Vandra kesana"
Orang yang diminta Dino datang, ia memberitahu jika Vandra tak berada ditempat yang ia cari. Sontak hal itu membuat Dino merasa bersalah karna membiarkan Vandra pergi seorang diri, dengan spontan Andra berlari pergi mencari Vandra walau ia tak tau harus mencari kemana, pikiran negatif pun langsung menerpa pikirannya. Apa sesuatu terjadi pada Vandra? kenapa ia pergi begitu saja.
Andra mengendari mobilnya sembari memikirkan kemana Vandra pergi, Setiap sudut jalan tak terlepas dari pandangannya. Andra berharap ia bisa segera menemukan Vandra, Andra benar-benar tak sanggup jika Vandra menghilang dari hidupnya.
Andra lalu berinisiatif menelpon rumah untuk menanyakan keberadaan Vandra. Dan betapa leganya Andra ketika mendapati kabar jika Vandra sudah berada dirumah. Dengan cepat Andra mengemudikan mobilnya untuk bisa cepet segera sampai dirumah.
Andra berlari kecil untuk segera masuk menemui Vandra, kali ini Andra bisa menebak jika ada sesuatu hal yang membuat Vandra merasa terluka sampai ia pergi tanpa memberitahunya. Dengan pelan, Andra membuka pintu kamar. Sembari tersenyum Andra melihat Vandra tengah merapihkan tempat tidur.
"Sayang" panggil Andra menghampiri. Vandra seketika menoleh kearah suara yang memanggilnya.
"Mas Andra" Vandra merasa terkejut dengan kehadiran Andra.
"Mas kenapa disini? harusnya kan Mas masih disana" tanya Vandra.
Tanpa menjawab Andra dengan cepat memeluk erat Vandra. Vandra hanya berdiri mematung mendapat pelukan hangat dari Andra. Entah kenapa, Vandra merasa Andra seperti merasakan sesuatu yang salah dengan perasaanya.
"Lain kali, jangan pergi begitu aja tanpa sepengetahuan aku. Aku gak sanggup kalau kamu pergi jauh dari aku" ucap Andra memelas.
"Maaf ya Mas" Vandra mengelus punggung Andra sebagai tanda menenangkan.
Andra melepas pelukannya lalu menatap wajah Vandra. Wajah yang Andra sadari menahan rasa sedih karna keadaan yang tengah dialaminya.
"Kenapa kamu pergi? apa Vivi nyakitin kamu lagi?" tanya Andra.
Vandra tersenyum menatap Andra.
"Maaf ya Mas, aku kalau dengan perkataannya. Mungkin karna aku lagi hamil jadi perasaan aku mudah goyah"
"Kamu gak perlu minta maaf sayang. Sebenarnya, tadi aku cari kamu untuk memberitahu semua rekan bisnis aku tentang kamu. Tapi kamu malah pergi dan buat aku khawatir"
__ADS_1
"Maaf ya Mas, aku gak tau"
"Kamu gak salah sayang, maaf aku gak kasih tau kamu. Seharusnya aku kasih tau kamu tentang niatan aku ini, tapi nyatanya aku malah membuat kamu gak nyaman dengan ini"
"Mas"
"Kenapa?"
Vandra sedikit ragu untuk bicara pada Andra.
"Ada apa sayang?" tanya Andra.
"Aku boleh minta sesuatu gak?" jawab Vandra pelan.
"Kamu mau apa emang?"
"Aku pengen makan mie, boleh gak?"
"Makan mie? Mie instan maksudnya?" Andra memastikan.
"Iya Mas. Boleh ya? tiba-tiba aku mau makan itu, boleh ya" Vandra memelas.
Sebelum mengijinkan Vandra memakan mie, Andra terlebih dahulu berkonsultasi pada Dokter kandungan yang menangani Vandra. Dan Dokter mengijinkan dengan beberapa hal tertentu agar asupan gizi untuk kandungan Vandra tetap terpenuhi.
"Makasih Mas" Vandra begitu antusias.
"Aku minta Bi Ina buatin ya"
"Gak mau Mas"
"Lho, kenapa gak mau?" Andra terheran.
"Aku mau Mas yang buatin. Mau ya" mohon Vandra.
Demi Vandra dan juga anak didalam kandungan Vandra mau tak mau Andra menuruti keinginan Vandra. Untung saja Vandra hanya meminta dibuatkan mie, seandainya Vandra meminta hal lebih dari membuat mie mungkin Andra tak bisa melakukannya.
10menit berlalu, mie buatan Andra sudah siap tersaji diatas meja. Vandra yang sudah tak sabar dan merasa lapar dengan cepat memakan mie buatan Andra itu dengan penuh antusias.
"Rasanya enak Mas. Ini bakal jadi makanan bersejarah yang pernah aku makan deh" ucap Vandra.
"Ko begitu?"
"Karna ini yang buat kamu Mas. Aku yakin, seumur hidup kamu pasti kamu gak pernah masak kan? ayo ngaku"
"Gak juga. Kamu ini so tau ya, dulu aku pernah masak waktu kuliah diluar"
__ADS_1
"Masa sih"
"Kamu ragu ya? mie nya enakkan? itu artinya aku bisa masak"
"Iya juga sih. Oh iya Mas, aku boleh cerita gak?" Vandra teringat.
"Cerita apa sayang?"
"Soal Ka Dino sama temen-temen aku"
"Kenapa memang?"
"Sejujurnya, tanpa kamu tau. Dinda, Vania sama Arumi itu sebenarnya suka sama Ka Dino"
Andra benar-benar terkejut dengan ucapan Vandra.
"Kamu serius?" Andra memastikan.
"Iya Mas. Aku ngerasa gak enak sama mereka lho waktu kamu bilang soal Ka Vina sama Ka Dino dihadapan mereka. Aku yakin mereka pasti hati dan cemburu" cerita Vandra.
"Aku bener-bener gak tau lho, aku jadi ngerasa bersalah. Tapi apa kamu yakin kalau Arumi suka sama Dino?" Andra memastikan Adiknya menyukai Dino atau tidak.
"Aku yakin Mas. Dari tatapan Arumi sama Ka Dino tuh beda, Mas inget ga? waktu Arumi memastikan Ka Dino sama Ka Vina waktu itu? apa Mas gak curiga sama hal itu? itu jelas lho Mas, Arumi itu menyimpan rasa sama Ka Dino"
"Begitu ya. Menurut kamu aku harus dukung Dino sama siapa?" tanya Andra bingung, karna disisi lain Arumi juga menyukai Dino.
"Aku rasa, Mas kamu bersikap netral aja. Perasaan Ka Dino itu kan milik Ka Dino sendiri Mas, kamu gak bisa mengatur apalagi mengendalikan perasaan orang. Aku tau, Arumi adik kamu Mas. Tapi kita gak bisa menghakimi Ka Dino untuk suka balik sama Arumi, lagipula Mas juga tau kan kalau Ka Dino itu suka sama Ka Vina"
"Kamu bener. Lagipula, Ka Vina adalah perempuan yang baik. Aku akan tetap mendukung hubungan mereka, ya walaupun Arumi harus menahan kecewa. Semoga aja Arumi bisa mendapat laki-laki yang lebih baik dari Dino" harap Andra.
"Aaminn.. kita berdoa aja ya Mas"
"Oh iya sayang, besok kan libur. Kita ngedate yuk, kamu mau gak?" Ajak Andra.
"Kemana Mas?"
"Ya ke mall, kita nonton gitu.
"Mas yakin? hubungan kita aja belum diketahui publik lho, gimana kalau nanti ada yang liat"
"Apa peduli, lagipula suatu hari nanti hubungan kita juga akan diketahui publik juga. Gimana, mau kan?"
Tak ingin mengecewakan Andra, Vandra dengan tersenyum mengangguk tanda setuju dengan ajakan Andra.
***
__ADS_1