Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Pertanda hamil?


__ADS_3

Vandra melambaikan tangan pada Vania dan Dinda saat tiba dikafe. Hari itu Vania mengajak Vandra dan Dinda bertemu di kafe karna ada hal yang ingin Vania tunjukan. Vandra merangkul tangan Mama Amira sembari menghampiri kedua sahabatnya itu.


Merasa tak pernah bertemu dan mengenal, Dinda dan Vania hanya tersenyum bingung melihat sosok Amira yang datang bersama Vandra. Mereka bertanya-tanya, siapa sosok yang datang bersama Vandra?.


"Kalian pasti bingung ya, aku datang sama siapa?" tebak Vandra pada kedua sahabatnya sembari duduk.


Dinda dan Vania hanya terseyum kecil sambil memandang Mama Amira.


"Kenalin, ini Mama Amira. Mama mertua aku" Vandra mengenalkan.


"What? Mama mertua?" Vania terkejut.


"Iya Vani, Kenapa kamu kaget gitu sih" Vandra terheran.


"Omg. Itu artinya, Tante ini Mamanya Andra Wijaya pewaris Wijaya Group itu?" bisik Vania memastikan agar tak terdengar oranglain.


"Iya, kamu benar" jawab Mama Amira.


"Omg, Tante cantik banget. Aku ga nyangka lho bakal ketemu langsung, ah beruntung banget hari ini" haru Vania.


"Maaf ya Tante kalau tingkah Vania begitu. Kenalin Tante, saya Dinda" Dinda memperkenalkan.


"Ga apa-apa. Kenalkan saya Tante Amira, senang bertemu dengan kamu Dinda dan juga....." ucapan Mama Amira terhenti karna tak tau nama Vania.


"Vania Tante" Vania dengan spontan mengucapkan namanya.


"Oh Vania, Tante senang bisa ketemu dan mengenal kalian. Kalian udah pesan makanan?" tanya Mama Amira.


"Belum Tante" jawab Vania.


"Kita pesan makanan ya. Pelayan" panggil Mama Amira memanggil salah satu pelayan kafe.


Menyadari sosok yang memanggilnya dengan cepat pelayan kafe datang menghampiri.


"Selamat siang Nyonya. Selamat datang, maaf atas keterlambatan kami menyambut Nyonya" ucap Pelayan kafe.


"Tidak apa. Tolong catat pesanan kami semua ya"


"Baik Nyonya"


"Kenapa pelayan kafe ini begitu spesial menyambut Mama? apa sebenarnya Mama pemilik kafe ini?. Batin Vandra.


Selesai mencatat pesanan, pelayan kafe pergi untuk mempersiapkan makanan. Selagi menunggu, Vania dengan antusias memberitahu alasannya mengajak Vania dan Vandra bertemu dikafe.


"Kalian ga penasaran apa? kenapa gue minta ketemu dikafe ini?" tanya Vania pada Vandra dan Dinda.


"Emang ada alasannya kamu ngajak kita ketemu disini?" Vandra bertanya balik.


"Iyalah. Gue mau tunjukin calon pacar gue ke kalian berdua" bangga Vania.

__ADS_1


"Siapa? dia kerja disini memang? coba tunjuk pelayan kafe mana yang jadi gebetan kamu" ucap Dinda melihat sekeliling.


"Sekata-kata ya lo, siapa bilang pelayan kafe. Gue bisa menilai jelas ya, gebetan gue itu pemilik kafe ini" yakin Vania.


"Kamu yakin?" ledek Dinda.


"Ih ngeyel ya lo. Lo tau kan selera pandangan gue sama cowo gimana? selera berkelas. Jadi kalau sampai lo liat dia, gue minta dengan sejelas-jelasnya jangan naksir apalagi bersaing dapatin dia" jelas Vania.


"Mah, maaf ya. Tingkah mereka tuh begitu, ga bisa berhenti berdebat dimana pun" ucap Vandra.


"Gak apa-apa. Namanya juga anak muda, Mama juga pernah merasakan muda seperti kalian. Oh iya, memangnya kamu tertarik sama pemilik kafe ini Vania?" tanya Mama Amira.


"Iya Tante. Soalnya ganteng banget, tipe cowo aku banget Tante" Vania berucap malu-malu.


Mama Amira hanya tersenyum mendengar ucapan Vania. Tak lama makanan datang, namun tak hanya pelayan kafe saja yang mengantar makanan. Ada sosok lelaki tampan yang menemani dan menghampiri. Vania mematung tak percaya saat melihat sosok dambaannya ada dihadapannya.


"Guys, itu dia. Cowo tampan gue dateng" bisik Vania pada Dinda dan Vandra.


Vandra dan Dinda pun mengarahkan pandangannya pada sosok yang Vania maksud.


"Selamat datang Tante. Semua pesanan sudah diantar. Silakan dinikmati" ucap sosok tampan menyapa.


"Terimakasih ya Dino. Oh iya, ada yang mau kenal sama kamu" ucap Mama Amira mengarah pada sosok Vania.


Vania, Vandra dan Dinda terkejut saat Mama Amira memanggil nama sosok itu. Tanpa mereka tau, kafe yang mereka datangi adalah kafe milik Dino, Mama Amira segaja tak memberitahu karna ingin melihat ekspresi Vandra dan kedua sahabatnya.


Dengan malu-malu Vania berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Dino.


"Kenalkan Ka, aku Vania"


"Saya Dino, pemiliki kafe ini" Dino membalas uluran tangan Vania. Setelah berkenalan Vania lalu kembali duduk.


"Oh ya Din, kamu tau kan disebelah Tante siapa?" tanya Mama Amira.


"Kamu pasti Vandra ya? Andra banyak cerita soal kamu, akhirnya bisa ketemu kamu secara langsung ya. Pantas Andra jatuh cinta, ternyata aslinya kamu benar-benar cantik" puji Dino pada Vandra.


"Makasih Ka" ucap Vandra.


"Van, Dino ini sahabat suami kamu. Sebelum menikah kafe ini tempat favorit Andra" Mama Amira memberitahu.


"Oh"


"Kalau gitu aku pamit dulu ya Tante, masih ada yang harus aku selesaikan. Silakan dinikmati makanannya, kalau Tante butuh sesuatu silakan panggil aku Tante" pamit Dino.


"Iya Din, makasih ya"


"Iya Tante"


Vania tak hentinya memandangi kepergian Dino. Rasanya sangat membahagiakan bisa mengenal bahkan memegang tangan Dino.

__ADS_1


"Awas rabun tuh mata" ledek Dinda.


"Mana mungkin ya, pemandangan sedap mata tuh. Lagian yang ada juga bikin fresh mata kali" Vania melawan.


"Oh iya Tante. Ka Dino itu masih single atau punya pacar?" Vania penasaran.


"Setau Tante masih single. Kenapa? kamu mau daftar jadi calon pacarnya?" tebak Mama Amira.


"Iya Tante" Vania berucap malu-malu.


"Emangnya kamu sesuka itu sama Ka Dino?" Vandra bertanya.


"Iyalah. Ga mungkin gue ada niatan usaha kesini kalau bukan karna suka. Tapi kalian ngedukung kan?" Vania bertanya balik.


"Iya, aku sama Dinda pasti dukung kamu ko" ucap Vandra mewakili.


Dinda menatap Vandra dan Vania. Bagaimana ini? Sejujurnya Dinda terpesona pada sosok Dino, ini diluar dugaannya. Tuhan, Rasa kagum apa ini? tak mungkin aku terpesona juga pada Dino disaat pertemuan pertama ini. Jika sampai Vania tau, pasti akan merusak persahabatan yang terjalin.


"Din, kamu kenapa melamun?" Vandra menyadarkan lamunan Dinda.


"Hah? ga ko.." bohong Dinda.


"Ya udah kita mulai makan aja ya" ucap Mama Amira.


***


Vandra kembali ke apartemen bersama Mama Amira. Karna Mama Amira dan Papa Tomy hanya menginap satu hari, sore itu pun mereka berpamitan pulang pada Vandra dan juga Andra.


"Mama sama Papa yakin mau pulang?" Andra bertanya.


"Iya Dra, soalnya nanti malam Arumi pulang dari acara sekolahnya" jawab Mama Amira.


"Lain kali kalian gantian menginap dirumah, Papa yakin Arumi pasti senang kalau kalian menginap" saran Ayah Tomy.


"Iya Pah, nanti aku cari waktu menginap dirumah"


"Vandra, makasih ya untuk hari ini. Mama seneng bisa pergi dan ketemu teman-teman kamu, lain kalin kita jalan bareng Arumi juga ya" ajak Mama Amira.


"Iya Mah"


Ditengah berpamitan tiba-tiba Vandra merasa mual, ia bahkan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Andra, Papa Tomy dan Mama Amira merasa khawatir.


"Kamu kenapa?" Tanya Andra namun diabaikan oleh Vandra yang berlari menuju kamar mandi.


"Dra, Vandra kenapa?" Papa Tomy khawatir.


"Apa Vandra hamil?" spontan Mama Amira yang membuat Papa Tomy dan Andra menatap bersamaan.


***

__ADS_1


__ADS_2