
Vandra sedikit gugup dan merasa tak tenang selama perjalanan menuju mall tempat yang akan menjadi kencan pertamanya bersama Andra setelah menikah. Ketakutan akan pemberitaan muncul tentangnya dipublik seakan membuat Vandra tak nyaman, ia takut jika pemberitaan itu terutama tentang jati dirinya akan membuat Andra dan keluarga besarnya menjadi pusat perhatian.
Menangkap kegelisahan dari wajah Vandra, membuat Andra seketika memegang tangan Vandra. Vandra menoleh kearah Andra yang tengah mengendarai mobil, senyuman Andra itu pun seakan menandakan jika semua akan baik-baik saja.
"Jangan terlalu khawatir, apapun pendapat publik tentang kita biarlah jadi urusan mereka" ucap Andra menenangkan.
"Iya Mas"
Vandra berusaha bersikap percaya diri berhadapan dengan orang-orang yang mungkin saja bisa mengenali Andra, untung saja setelah menikah penampilan Vandra begitu diperhatikan oleh Andra jadi apapun penilaian orang tentangnya Vandra merasa dirinya pantas mendampingin Andra.
Sesaat memasuki studio menonton, tiba-tiba seseorang mengenali Andra, ia bahkan begitu antusia melihat Andra. Tanpa berpikir panjang, ia meminta berfoto dengan Andra. Tak diduga, orng itu menatap kearah Vandra yang tengah berdiri disamping Andra.
"Apa ini istri Anda Tuan?" tanya sosok itu.
"Iya. Dia istri saya" jawab Andra tegas.
"Cantik sekali. Selama ini saya selalu ingin mengetahui siapa sosok istri Anda, ternyata istrinya Anda cantik sekali. Bolehkah saya berfoto dengan istri Anda Tuan?"
"Silakan"
Walau merasa gugup dan bingung, Vandra dengan rela hati berfoto bersama sosok pengagum Andra. Selesai berfoto, Andra dan Vandra berpamitan pergi karna film yang mereka tonton akan segera mulai.
Selesai menonton, Andra mengajak Vandra untuk menikmati makan siang. Hampir semua orang yang melihat Andra, seakan membisikan sesuatu. Andra yang sudah menduga akan seperti itu hanya bersikap biasa menikmati makan siangnya.
"Mas, apa kamu gak merasa orang-orang ngeliatin kita dari tadi?" ucap Vandra.
"Kamu gak perlu memperdulikan mereka, paling juga mereka udah baca berita terbaru soal kita" santai Andra berucap.
"Maksud Mas apa?" Vandra terheran.
Tanpa pikir panjang, Vandra mengecek handphonenya. Dan benar saja, pemberitaan soal dirinya menjadi salah satu topik yang paling banyak dicari.
Tak disangka, tiba-tiba Andra mengambil handphone Vandra tanpa meminta ijin. Hal itu sontak membuat Vandra terkejut.
"Kamu gak perlu liat pemberitaan itu, aku gak mau nanti menganggu pemikiran kamu terutama kandungan kamu"
"Tapi Mas aku cuma mau pendapat mereka"
__ADS_1
"Jangan. Lanjutkan makan kamu" perintah Andra.
Vandra sedikit kesal dengan sikap Andra.
"Kalau wajah kamu cemberut gitu, kamu keliatan makin cantik lho" puji Andra ditatap Vandra dengan serius.
"Mas ngeledek aku nih, tau ah aku sebel sama kamu"
"Ko gitu?"
"Aku pengen tau Mas, lagian aku gak akan terbawa baper kok" keluh Vandra.
"Sayang, bukanya aku ngelarang kamu tau berita itu. Aku cuma gak mau kamu terlalu memikirkan kata-kata mereka"
"Iya"
"Kamu nurut ya, nanti aku beli ice cream" bujuk Andra.
"Bener ya"
"Iya"
***
Merasa cukup lelah, sesampai dirumah Vandra tanpa berganti pakaian tertidur pulas diatas sofa. Semenjak hamil, Vandra seakan begitu mudah tertidur ditempat manapun yang menurutnya nyaman, karna tak ingin menggangu akhirnya Andra menemani Vandra sembari duduk memainkan handphonenya.
Dering telpon masuk, membuat Andra beranjak pergi menjauh dari Vandra, Andra tak ingin suara obrolannya menggangu tidur Vandra yang begitu pulas.
"Iya Rik, ada apa?" tanya Andra pada Sekertaris Riko.
"Saya ingin menginformasikan Tuan, tentang pemberitaan Anda dan Nona Vandra"
"Apa itu?"
Sekertaris Riko menjelaskan secara rinci perihal pemberitaan terbaru menyangkut Vandra dan Andra. Andra tersenyum lega, nyatanya respon publik tentang Vandra begitu baik dan banyak yang begitu memuji kecantikan Vandra.
"Terimakasih atas info kamu Rik, pastikan jangan sampai ada berita negatif menyangkut berita ini. Saya gak mau Vandra melihat atau mendengar berita buruk tentangnya, itu pasti akan menggangu pikirannya" perintah Andra.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Andra menutup telponnya. Akhirnya ia memiliki cara agar Oma Mira memberikan restu untuk pernikahannya, semoga saja dengan adanya pemberitaan ini membuat semuanya menjadi baik. Karna mulai sekarang, Andra tak perlu lagi menyembunyikan sosok Vandra dihadapan publik termasuk kerabat bisnis terdekatnya.
Hampir 2 jam Vandra tertidur pulas diatas sofa, akhirnya mau tak mau Andra membangunkan Vandra untuk membersihkan diri karna hari sudah mulai menjelang sore.
"Sayang, Vandra. Ayo bangun" halus Andra membangunkan.
Perlahan Vandra mulai membuka matanya, ia pun dibantu membangunkan tubuhnya duduk disamping Andra.
"Aku kelamaan tidur ya Mas, maaf ya"
"Gak apa-apa. Masih ngantuk ya?"
"Lumayan Mas. Mas...."
"Apa?"
"Denger bunyi sesuatu gak?" tanya Vandra yang membuat Andra memfokuskan pendengarannya.
Andra tersenyum mendengar suara bunyi perut Vandra yang cukup jelas terdengar.
"Kamu laper ya?"
"Iya Mas"
"Kamu mau makan apa?"
"Mau Sate ayam"
"Sate Ayam?"
"Iya"
"Ya udah nanti aku suruh Pak Amin untuk beli, sekarang kamu mandi dulu ya"
"Iya Mas"
__ADS_1
Saat hendak beranjak pergi, tiba-tiba seseorang tak terduga datang. Vandra dan Andra berdiri menatap seseorang itu, ada apa lagi ini?..
****