
Tak terduga Vandra tiba-tiba bangun dari tidurnya. Andra menatap bingung saat Vandra menatapnya, Andra merasa cukup bersalah karna membangunkan tidur Vandra. Tapi melihat Vandra terbangun seakan membuat lelah yang Andra rasakan terbayarkan.
Berbeda dengan Vandra, Vandra segera terbangub dari tidurnya lalu memeluk Andra yang kini sudah berada dihadapannya. Rasa rindu yang terpendam selama beberapa hari ini seakan terbayar dengan kepulangan Andra yang begitu cepat.
"Aku rindu" rengek Vandra manja.
Andra tersentuh bahagia mendengar kata yang terucap dari mulut Vandra. Rasanya begitu membahagiakan ada yang menenatinya dengan kerinduan.
"Aku juga Rindu. Kamu baik-baik aja kan selama aku pergi?"
"Iya Mas, aku baik-baik aja. Tapi ngerasa sesak aja beberapa hari ini" ucap Vandra sembari melepas pelukannya pada Andra.
"Sesak? kamu sakit? kalau gitu kita periksa ya, aku panggil dokter " panik Andra yang ditertawai oleh Vandra.
"Ko ketawa? ini ga lucu lho, aku gak mau kamu kenapa-kenapa" lanjut Andra.
"Mas, please deh gak bisa becanda dikit ya. Serius banget sih tanggapinnya" protes Vandra tertawa kecil.
"Terus, apa maksudnya kamu bilang tadi ngerasa sesak?" tanya Andra serius.
"Maksud aku bukan sesak karna sakit Mas, tapi karna rindu. Mas sih pergi ninggalin aku, kan rindu aku jadi bikin sesak didada" goda Vandra.
Andra tersenyum kecil mendengar penjelasan Vandra.
"Kamu ini ya, Aku pikir kamu beneran sakit. Dasar ya kamu, untung istri aku" ucap Andra sambil mengelus rambut Vandra.
"Oh iya, Mas kenapa bisa pulang cepet? bukannya Mas harusnya sampai nanti malam ya" Vandra bertanya.
"Iya, kebetulan kerjaan aku disana selesai cepat jadi aku bisa pulang cepet. Kenapa? kamu gak seneng?"
"Senenglah Mas. Aku udah rindu berat soalnya sama kamu. Eh iya, Mas udah makan?"
"Udah tadi dipesawat. Kamu sendiri udah makan?"
"Udah Mas, tapi tiba-tiba Mas tanya soal makan aku jadi laper lagi deh"
"Uh dasar bumil ya. Sinyal lapernya kuat kalau soal makanan. Kamu mau makan apa?" Andra menawarkan.
"Nanti aja deh, Mas mandi aja dulu sana" pinta Vandra.
__ADS_1
"Ya udah aku mandi dulu ya. Anak Papa, papa mandi dulu ya. Selesai Papa mandi, kita ngobrol-ngobrol lagi ya" usap Andra mengelus perut Vandra.
"Aku mandi ya"
"Iya Mas"
Selagi Andra membersihkan diri, Vandra bergegas menyiapkan pakaian untuk Andra. Saat Vandra menaruh pakaian dikasur, tak segaja Vandra melihat layar telpon Andra yang tengah berbunyi diatas nakas. Vandra tak berani mengangkat telpon itu, karna orang yang menelpon itu adalah Oma Mira.
Tak berselang lama, Andra keluar dari kamar mandi sembari menanyakan siapa yang menelponnya. Namun Vandra berbohong, ia hanya menjawab jika Vandra tak tau siapa orang yang menelpon dihandphone Andra.
"Siapa yang telpon sayang?" tanya Andra menghampiri Vandra.
"Aaaa.... ga tau Mas. Tadi waktu aku mau liat keburu mati telponnya" bohong Vandra terbata-bata.
Andra mengecek handphonenya lalu terdiam melihat Vandra setelah melihat handphonenya.aa Tak ingin membahas, Andra mengalihkan keadaan meminta untuk Vandra menyiapkan cemilan untuknya. Dengan cepat Vandra keluar kamar untuk membuatkan Andra cemilan.
Selesai memakai baju, Andra duduk terdiam ditepi kasur sambil menatap layar handphonenya. Oma Mira sekarang pasti merasa kesal karna Andra tak mengangkat telponnya. Merasa cukup lelah pikiran, Andra menaruh handphonenya kembali diatas nakas. Andra berencana akan berbicara pada Oma Mira esok hari.
Vandra kembali masuk kedalam kamar sembari membawa cemilan dan jua untuk Andra. Andra mencoba Bersikap biasa dan memasang senyum diwajahnya agar Vandra tak merasa khawatir.
"Ini Mas cemilannya" Vandra menaruhnya diatas meja.
"Iya Mas"
"Sini duduk" pinta Andra pada Vandra duduk disampingnya.
"Gimana soal pemeriksaan anak kita beberapa hari yang lalu? Dokter Lita bilang apa?" tanya Andra.
"Dokter Lita bilang kehamilan aku sehat Mas. Sekarang kehamilan aku juga berjalan 2minggu"
"Syukur kalau gitu, Aku seneng dengernya. Kamu jaga terus kesehatan kamu dan anak kita ya" pinta Andra.
"Iya Mas"
"Anak Papa, sehat terus ya. Papa sayang kamu" ucap Andra sambil mengelus perut Vandra.
"Oh iya, tadi kamu bilang laper. Kamu mau makan apa? biar aku pesanin makanan" tanya Andra sembari mengelus pipi Vandra.
"Gak usah lah Mas. Udah mau malem juga, lagian Ayah sama Ibu lagi siapin makan malam" tolak halus Vandra.
__ADS_1
"Ok. Tapi kalau kamu mau makan sesuatu bilang ya"
"Iya Mas"
"Oh iya, kemarin Dino telpon aku. Katanya kamu merestui perasaannya Dino sama Ka Vina, itu bener?"
"Iya Mas. Walaupun aku belum kenal jauh Ka Dino, tapi aku ngerasa Ka Dino lelaki yang baik. Apalagi Ka Dino juga perhatian sama Adit, sekarang pasti yang sebenarnya dibutuhkan Ka Vina adalah sosok penganti Ayah untuk Adit. Aku mau Ka Vina bisa bahagia lagi Mas, jadi aku merestui Ka Dino untuk bisa deketin Ka Vina. Aku yakin, Ayah dan Ibu juga pasti mendukung perasaan Ka Dino"
"Dino memang laki-laki yang baik. Sejujurya aku sempat mau jodohin Ka Vina sama Dino, tapi nyatanya takdir lebih dulu berjalan jadi aku ngerasa bahagia karna itu"
"Semoga Ka Vina juga suka ya Mas sama Ka Dino. Karna selama ini hati Ka Vina masih belum bisa terbuka untuk lelaki lain" harap Vandra.
"Iya, kita berdoa ya. Semoga mereka berjodoh"
"Aamiin"
Semua keluarga berkumpul menikmati makan malam dimeja makan. Tanpa disangka Ayah Hadi membahas soal Dino yang memberikan hadiah mainan pada Adit.
"Vina, kamu harus berterima kasih pada Nak Dino. Tadi siang Nak Dino menitipkan hadiah untuk Adit lewat Vandra" pinta Ayah Hadi pada Vina.
"Iya Ayah, nanti aku ucapin terimakasih sama Dino" jawab Vina.
"Oh iya Nak Andra, apa Nak Dino itu masih single?" Ayah Hadi ingin tau.
"Iya Yah. Dino masih single, tapi ada perempuan yang lagi dia sukai sekarang" jawab Andra menatap Vina.
"Pasti beruntung sekali perempuan itu. Ayah melihat Nak Dino sangat baik, semoga saja suatu hari nanti Vina bisa mendapatkan lelaki sebaik Nak Dino" harap Ayah Hadi.
"Ayah terus berdoa ya. Semoga hal itu bisa terwujud"
"Iya Nak Andra"
Vina merasa sedikit salahtingkah mendengar apa yang diucapkan Ayah Hadi. Memang, menurut Vina pun Dino memang lelaki yang baik. Tapi apa masih pantas Vina mendapatkan cinta lagi dari seorang laki-laki baik? sementara traumanya saat ini masih ada dihatinya.
"Om Dino memang baik kakek. Adit seneng bisa dapet mainan sebagus itu dari Om Dino. Nanti kalau Adit ketemu Om Dino, Adit mau ucapin terimakasih" ucap Adit.
"Iya harus dong, cucu Kakek memang pintar" puji Ayah Hadi pada Adit.
Vandra memperhatikan pandangan Vina pada Adit. Pasti Vina merasa bersalah karna harus mengorbankan kebahagiaan Adit yang haus akan perhatian seorang Ayah. Vandra tersenyum menatap Vina yang tiba-tiba mengarah padanya, mulai sekarang Vandra harus berusaha menyatukan perasaan Dino dan juga Vina.
__ADS_1
***