
"Kalian selesai kuliah nanti ada acara ga?" tanya Vandra.
"Aku ada acara anter Mama aku kerumah temennya" jawab Dinda.
"Kalau gue ga ada, kenapa emang?" ucap Vania.
"Kamu mau ga temenin aku ke supermarket? ada beberapa keperluan yang harus aku beli" Vandra menanyakan pada Vania.
"Dengan senang hati"
"Ah Vania, makasih" manja Vandra sembari mecubit gemas pipi Vania.
"Iya. Emangnya kamu mau beli apa?"
"Aku disuruh Ibu untuk beli beberapa bahan makanan, soalnya nanti malam keluarga Tuan Muda rese mau berkunjung kerumah"
"Serius? memang ada hal apa sampai keluarga si Tuan Muda kerumah kamu?" Dinda penasaran.
"Entah" Vandra menggelengkan kepala.
"Jangan-jangan mau bahas soal pernikahan kalian lagi" tebak Vania berbisik. Vania tak ingin ada oranglain mendengar hal itu, bisa-bisa nanti jadi bahan perbincangan seluruh kampus.
"Jangan sok tau kamu deh Vani, mungkin aja mereka datang buat silaturahmi" ucap Dinda.
"Tapi silaturahmi mereka itu pasti ada maksud, gue yakin pasti keluarga si Tuan Muda mau menentukan tanggal pernikahan" yakin Vania.
"Van, emangnya kamu ga bisa berusaha lagi untuk menolak permintaan Papanya Tuan Muda?" tanya Dinda.
"Ga bisa Din, kalian tau kan ceritanya seperti apa. Aku terpaksa harus melakukan itu, aku ga mau punya beban balas budi sama siapapun"
"Menikah karna terpaksa pasti ga akan mudah kamu lalui Van. Sejujurnya aku merasa sedih karna kamu harus menikah dengan seseorang yang kamu ga cinta. Tapi aku berharap semoga jalan yang kamu lalui nanti bisa memberi kehidupan kamu menjadi lebih baik" doa Dinda.
__ADS_1
"Aamiin. Makasih ya Din untuk doa kamu"
"Iya Van"
"Terus soal cinta lama lo gimana? apa lo masih mau mempertahankan perasaan cinta lo sama Randy?" tanya Vania.
Vandra terdiam memikirkan ucapan Vania. Randy? ya Randy, sosok lelaki yang mampu buat Vandra menyadari arti tentang jatuh cinta tanpa ia disadari. Satu tahun berlalu rasa itu masih bertahan untuk Randy, Randy mungkin tak akan pernah tau tentang perasaan Vandra sebenarnya saat ini. Bahkan sampai kapanpun Randy tak akan pernah mengetahuinya.
Jika seandainya pernikahan itu terjadi pun, Vandra akan membiarkan rasa itu bertahan dengan semampunya. Lagipula, penikahan yang akan di jalani nanti hanya sebagai balasan kebaikan pada keluarga Andra. Dan perasaan itu pun tak akan bepengaruh apapun untuk Vandra maupun Andra untuk masa depan pernikahan mereka nanti.
Vandra menghembuskan nafas pelan, rasanya rindu yang hilang sesaat pada Randy tiba-tiba kembali datang. Apa yang harus Vandra lakukan? tetap mempertahan perasaan ini atau mencoba perlahan melepaskan perasaan ini? sungguh membuat Vandra dilema.
Tapi, apa disana Randy masih sendiri? atau mungkin Randy sudah memiliki cinta yang baru? Vandra tak bisa menyakinkan salah satunya. Saat ini Vandra hanya ingin mengetahui kabar Randy, tapi sayangnya Vandra tak tau harus bertanya dan mencari tau pada siapa.
Dinda menggumam kesal pada Vania tanpa suara, seandainya Vania tak membahas soal Randy pasti Vandra tak akan terlihat sedih dan merindukan Randy lagi seperti itu.
"Van, jangan sedih gitu dong. Maaf ya soal pertanyaan gue" Sesal Vania.
"Kamu ga perlu minta maaf Vani, lagian kamu bener ko. Sampai kapan ya perasaan aku ini ada? bisa aja kan, diluar sana Randy udah melupakan perasaanya sama aku. Tapi kenapa rasanya sulitnya lupain perasaan ini" keluh Vandra.
"Aku belum mampu Din, sampai saat ini belum ada orang yang bisa menggantikan Randy. Sejujurnya aku juga pengen melupakan perasaan aku, tapi aku belum bisa"
"Lo tenang aja Van, gue yakin suatu hari nanti bakal ada seseorang yang bisa membuat lo melupakan Randy. Yang terpenting itu, lo harus bisa membiasakan hidup tanpa mengingat Randy" saran Vania.
"Makasih ya buat rasa peduli kalian sama aku. Semoga perasaan aku ini bisa hilang dengan sejalannya waktu" ucap Vandra.
"Iya" jawab Dinda dan Vania bersamaan.
***
Disupermaket sore itu cukup ramai, Vandra dan Vania bahkan segera bergegas mencari kebutuhan yang dipelukan. Vandra dan Vania mendorong troli masing-masing, Vandra sudah menduga jika Vania pasti membeli cemilan untuk dirinya sendiri, untuk itu dia memilih mendorong troli miliknya sendiri. Bahkan Vandra cukup tekejut melihat isi troli milik Vania yang hampir semuanya terisi dengan snack.
__ADS_1
"Kamu ga salah belanja cemilan sebanyak itu?" tunjuk Vandra pada troli yang didorong oleh Vania.
"Ini sih cuma 50% doang Van dari yang biasa gue beli, berhubung stok dirumah masih tersisa jadi gue beli segini aja"
Vandra menggelengkan kepala dengan ucapan Vania. Bagaimana bisa ia begitu gemar dengan banyak membel cemilan?.
"Awas lho nanti otak kamu dipenuhi permicinan" ledek Vandra.
"Micin tuh enak tau. Selain oksigen, gue itu juga ga bisa hidup tanpa cemilan" ucap Vania.
"Apa sih kamu, berlebihan deh. Lama-lama gaul sama kamu makin aneh ya omongannya. Cari pacar sana, biar ga makin aneh" ejek Vandra.
"Lo tuh yang aneh, hubungannya apa coba sama cari pacar. Lagian kalau pun gue beniat cari pacar, gue tuh pengennya pacar gue itu minimal punya minimarket. Jadi gue bisa ngemil kapanpun gue mau"
"Dasar ya, yang ada nanti minimarket pacar kamu rugi besar kalau cemilannya kamu ambil gratis gitu aja. Ga kebayang sih, jadi pacar aja udah bikin rugi gimana kalau sampai nikah. Bisa-bisa tuh minimarket tutup selamanya"
"Rese lo, kan pacar gue banyak minimarketnya" ucap Vania tertawa.
"Udah ah, kehaluan obrolan kita nanti malah jadi makin aneh. Udah yuk kita ke kasir"
"Ayo"
Sambil menunggu antrian dikasir, Vandra tak segaja menangkap sosok familiar. Vandra yakin dengan apa yang ia lihat. Tanpa berpikir lama Vandra berpamitan pergi pada Vania.
"Vani, tolong titip belanjaan aku ya? sekalian tolong kamu bayarin dulu, aku mau kesana dulu" ucap Vandra berlalu pergi.
"Mau kemana sih tuh anak? kaya buru-buru amat" gumam Vania sembari melihat kepergian Vandra.
Vandra mengejar sosok itu sampai menuju tempat parkiran, pandangan Vandra pun mengarah kesana kemari mencari sosok itu. Dimana dia? Vandra yakin melihat sosok yang ia kenal. Tak lama mencari akhirnya Vandra menemukan sosok itu. Vandra berlari untuk memastikan sosok itu, dan benar saja sosok itu adalah orang yang ia kenal.
"Vino" panggil Vandra.
__ADS_1
Sosok itu refleks membalikkan tubuhnya saat Vandra memanggilnya. Benar saja dugaan Vandra, sosok itu adalah Vino. Vino sahabat terdekat Randy. Dengan cepat Vandra mendekati Vino untuk menanyakan kabar dan keberadaan Randy. Rasanya amat senang bisa bertemu dengan Vino, dengan begitu rasa penasaran Vandra tentang Randy bisa terbayar.
***