
Mama Amira, Papa Tomy dan Andra menunggu Vandra diruang keluarga, mereka menanti dan ingin menanyakan apa yang tengah dirsakan oleh Vandra.
Tak berapa lama Vandra keluar dari kamar mandi, Andra dengan cepat menghampiri Vandra untuk menanyakan kondisinya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Andra.
"Aku cuma ngerasa mual aja Mas"
Andra menuntun Vandra duduk disofa.
"Kamu kenapa Van? apa kamu lagi merasa kurang sehat?" Tanya Papa Tomy.
"Aku baik-baik aja Pah, mungkin aku kecapean karna akhir-akhir ini lagi banyak tugas" Vandra menjawab.
"Atau mungkin aja kamu lagi hamil Van" celetuk Mama Amira.
"Mah, jangan menyimpulkan seperti itu dulu" protes Papa Tomy.
"Ya gak apa-apa dong Pah. Ucapan kan doa, siapa tau aja ucapan Mama benar"
"Ya udah Van, kamu istirahat ya. Papa sama Mama mau pulang dulu, Dra kalau ada apa-apa kabarin kita ya. Jangan terlalu dipikirkan ucapan Mama kamu ya" ucap Papa Tomy.
"Iya Pah"
"Van, Papa sama Mama pulang dulu ya"
"Iya Pah" ucap Vandra.
Setelah kepergian Mama Amira dan Papa Tomy, Andra kembali menghampiri Vandra.
"Aku antar ke kamar ya" Andra menuntun Vandra kekamar.
Vandra menidurkan tubuhnya diatas kasur, rasanya entah kenapa tubuhnya merasa begitu lelah. Sembari tubuhnya diselimuti Andra, Vandra dengan cepat memejamkan matanya sambil memikirkan perkataan Mama Amira.
"Apa mungkin aku hamil Tuhan? jujur aku belum siap untuk itu, aku harap semoga itu salah" Batin Vandra.
"Istirahat ya" ucap Andra mencium pucuk kepala Vandra lalu keluar kamar membiarkan Vandra istirahat.
__ADS_1
Sadar Andra sudah berlalu pergi, Vandra beranjak bangun dari kasur lalu mengambil sesuatu dilaci Nakas. Dengan cepat Vandra pergi menuju kamar mandi untuk memastikan sesuatu.
Malam hari tepat jam makan malam, Vandra keluar kamar untuk menyiapkan makan. Namun saat Vandra melangkah menuju dapur, Andra datang membawa paper bag berisi makanan yang ia beli.
"Kamu udah bangun? Gimana kondisi kamu? udah baikan? kebetulan, Aku udah beli makanan. Kita makan ya" ucap Andra melawati Vandra menuju meja makan.
"Jangan mengharap aku hamil Mas" ucap Vandra tiba-tiba dengan serius yang membuat Andra menghentikan langkahnya.
Andra terkejut mendengar ucapan Vandra. Ia menaruh Paper bag diatas meja lalu kembali menghampiri Vandra, Andra ingin memastikan tentang ucapan Vandra.
"Apa maksud ucapan kamu?" Andra meminta penjelasan.
Andra dan Vandra saling menatap serius.
"Aku minta jangan pernah punya harapan untuk aku hamil Mas" tegas Vandra.
"Kenapa? apa kamu ga punya niatan untuk punya anak dipernikahan kita ini? apa kamu ga mau punya anak dari aku?" tanya Andra.
"Entah, aku ga bisa pastiin itu. Tapi yang pasti, aku ga punya keinginan itu sekarang. Percuma Mas, kalau nanti kita punya anak, aku ga mau nanti anak kita ikut tersembunyi seperti pernikahan kita ini" ungkap Vandra menjawab.
"Kenapa pemikiran kamu sejauh itu?"
"Van, aku udah bilang sama kamu. Tolong kasih aku waktu sedikit lagi, apa kamu ga bisa bersabar lagi untuk itu. Percaya sama aku, aku akan mengakui kamu sebagai istri aku. Jadi aku mohon, jangan kamu hancurkan harapan aku bahkan keluarga kita untuk kehadiran seorang anak" mohon Andra.
"Aku tetap pada pendirian aku Mas. Aku belum siap memberikan seorang anak untuk kamu. Dan kalau sampai nanti aku berhenti dititik rasa menyerah aku, aku minta tolong Mas hargai itu. Dan juga soal ucapan Mama Amira tentang dugaan aku hamil, aku minta Mas jelasin kalau aku ini lagi ga hamil Mas. Aku ga mau membuat orangtua Mas berharap lebih sama aku"
"Darimana kamu tau kalau kamu itu ga hamil?"
"Aku udah cek Mas, dan hasilnya negatif. Jujur aku ngerasa lega, karna kalau sama aku postif hamil mungkin aja aku merasa terbebani lebih dengan keadaan ini Mas"
Andra tak mampu berkata apapun lagi, jika ia dan Vandra terus berdebat akan hal itu pasti semuanya tak akan selesai begitu saja. Andra mengalihkan dan mengakhiri perdebatan itu dengan mengajak Vandra menikmati makan malam.
"Kita bicarakan ini lain kali, sekarang kita makan" pinta Andra.
Vandra mengikuti Andra menuju meja makan. Walau Vandra merasa kesal tapi Vandra masih melakukan kewajibannya menyiapkan makan untuk andra. Setelah siap disajikan Vandra dan Andra saling menyantap makanan mereka masing-masing, tak ada obrolan lagi saat itu. Mereka hanya fokus makan dan juga berdiam diri.
Andra berlalu pergi begitu saja setelah selesai menyantap makanannya. Vandra hanya memandangi kepergian Andra menuju ruang kerjanya, sejujurnya ada rasa bersalah yang Vandra rasakan, namun Vandra mencoba memahami semua yang terjadi. Perasaannya kali ini mungkin sedang tak bisa berdamai dengan pemikiran dan keadaannya.
__ADS_1
***
Pagi itu Vandra tak melihat sosok Andra, Vandra berpikir mungkin Andra pergi untuk menghindarinya. Karna jadwal kuliah hari itu siang hari, Vandra yang merasa lapar segera menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Namun tak diduga, Vandra melihat segelas susu dan juga sepiring nasi goreng hangat tersaji dimeja makan. Apa Andra menyiapkan ini untuknya? pikir Vandra.
Vandra duduk dikursi sembari menatap makanan dihadapannya. Apa ucapan dan sikap Vandra semalam salah pada Andra? kenapa disaat Vandra merasa tak adil dengan hidupnya Andra masih saja berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini.
Perlahan Vandra mulai menyantap makanan yang disiapkan Andra untuknya.
"Kenapa rasa makanan ini hampir sama kaya buatan Ayah? apa mungkin Ayah yang kirim makanan ini?" Batin Vandra. Tak ingin memikirkan hal itu Vandra melanjutkan bahkan menghabiskan makanannya.
Disaat Vandra tiba didepan kampus, seseorang memanggil Vandra. Sosok itu adalah Yasmin, Yasmin dengan antusias menghampiri Vandra yang tengah berjalan seorang diri.
"Hai" sapa Yasmin.
"Hai"
"Kamu baru dateng? bareng ya" pinta Yasmin.
"Iya"
Tak ingin melewatkan kesempatan, Yasmin menanyakan Randy pada Vandra. Karna selama ini Yamsin dengar, Vandra adalah teman lama Randy sejak masih sekolah.
"Van, boleh tanya ga?" Ucap Yasmin.
"Tanya apa?"
"Kamu tau ga siapa cinta pertama Randy?" Tanya Yasmin membuat Vandra menatap tak percaya dengan tanya Yamsin.
"Kenapa kamu tanya itu ke aku?" Vandra penasaran.
"Jujur ya, aku cemburu sama cinta pertamanya Randy. Yang aku tau, kamu kan teman lama dan juga dulu satu sekolahan sama Randy. Kamu pasti tau kan siapa cinta pertamanya itu? kasih tau aku dong" desak Yasmin.
"Buat apa kamu tau? terus kenapa juga kamu harus cemburu sama cinta pertamanya Randy, aku yakin kamu lebih baik dibanding cinta pertamanya Randy" ucap Vandra. Sebenarnya Vandra menyadari sosok yang dicari Yasmin adalah dirinya, hanya saja Vandra menutupinya.
"Aku penasaran aja, karna sampai saat ini Randy masih mencintai cinta pertamanya. Aku pengen tanya sama dia, hal apa yang dia buat sampai Randy bisa sebegitu cintanya sama dia. Aku juga pengen banyak tau tentang Randy dari dia, siapa tau aja dengan cara itu aku bisa membuat Randy cinta sama aku" keluh Yasmin.
Vandra tak sanggup jika harus berkata jujur pada Yasmin tentang siapa cinta pertama Randy, tapi Vandra harus menutupi hal itu. Vandra hanya tak ingin jika Yasmin berburuk sangka padanya jika Yasmin sampai tau yang sebenarnya siapa sosok cinta pertama Randy.
__ADS_1
***