Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Keputusan terberat


__ADS_3

"Ayah" seru Ibu Hani tak percaya dengan apa yang didengar.


"Bu, apa Ibu tega membiarkan Vandra terus seperti ini? Ayah ga bisa terima Bu, Ayah merasa dibohongi oleh keluarga Pa Tomy. Ayah ga menyangka mereka harus menyembunyikan pernikahan Vandra hanya karna Nyonya Mira tak menyukai Vandra. Kalau memang seperti itu lebih baik sejak awal Ayah menolak permintaan Pak Tomy" amarah Ayah Hadi.


"Ayah tenang, jangan emosi seperti ini" Ibu Hani menenangkan sembari menepuk bahu Ayah Hadi.


"Maafin aku Yah, Bu" sesal Vandra.


"Kamu ga perlu minta maaf Van. Semua ini salah kami, kami pikir keluarga Wijaya akan ikut menerima kamu seperti keluarga Nak Andra. Tapi ternyata kamu harus melewati dan menghadapi hal ini sendiri tanpa kami tau" ucap Ibu Hani.


"Ayah minta maaf Van. Kamu harus merasakan hal seperti ini, sejujurnya Ayah merasa kagum dengan kedewasaan kamu. Kamu bisa menutupi bahkan menghadapi hal itu dengan sabar dan dewasa. Tapi Van, yang Ayah kecewakan adalah keadaan kamu. Kenapa kamu ga jujur dari awal sama Ayah,Ibu dan Ka Vina"


"Sebenarnya Ka Vina udah tau hal ini Yah" jujur Vandra.


Ayah dan Ibu menatap Vandra bersamaan.


"Apa? Ka Vina udah tau soal ini?" ucap Ayah tak percaya.


"Iya Yah"


Ayah Hadi benar-benar tak mampu berkata apapun. Bagaimana bisa kedua anaknya menutupi hal ini? apa mereka tak menganggap kedua orangtuanya ada. Pikir Ayah Hadi.


"Maaf Yah. Jangan salahkan Ka Vina, aku yang minta Ka Vina untuk menutupi hal ini dari Ayah dan Ibu. Aku ga mau Ayah dan Ibu sedih dan khawatir"


"Tapi kesedihan dan kekhawatiran yang kamu takutkan itu terjadi sekarang. Dan yang paling menyakitkan, Ayah dan Ibu harus tau hal ini dari oranglain bukan dari kamu sendiri. Apa susahnya kamu bicarakan hal itu pada kami?" kesal Ayah Hadi dengan pemikiran Vandra.


"Sudah Yah. Jangan sudutkan Vandra seperti ini, lebih baik sekarang kita pikirkan apa yang harus dilakukan" pinta Ibu Hani.


"Ayah tetap pada pendirian Ayah, kamu harus tetap tinggalkan Nak Andra. Ayah ga mau kamu terus menerus hidup seperti ini. Dan Soal hutang budi bahkan uang yang diberikan keluarga Nak Andra, Ayah akan berusaha membayar dengan keringat Ayah sendiri. Lebih baik sekarang kamu bersiap, Ayah antar kamu mengambil barang di apartemen" kekeh Ayah Hadi beranjak pergi.

__ADS_1


"Aku ga bisa tinggalin Mas Andra Yah" ucap Vandra membuat langkah Ayah Hadi terhenti.


Ayah Hadi membalikan tubuhnya. Ia menatap Vandra yang tengah menangis.


"Kenapa? apa karna kamu terlalu cinta pada Nak Andra sampai kamu ga rela meninggalkan Nak Andra?" tuduh Ayah Hadi.


"Bukan karna itu Yah. Aku akui, aku memang mencintai Mas Andra. Tapi aku ga bisa meninggalkan Mas Andra begitu aja"


"Lalu apa alasannya?"


"Karna aku lagi hamil anak Mas Andra Yah" ungkap Vandra.


DEG....


Ayah Hadi terdiam menatap Vandra. Entah mengapa rasanya begitu mengejutkan mendengar Vandra tengah mengandung anak dari pernikahannya bersama Andra.


Vandra mengambil sebuah amplop berisi hasil testpack miliknya yang ia coba semalam pada Ibu Hani. Ibu Hani tak menyangka, ternyata memang benar hasil testpack itu menunjukan dua garis yang artinya saat ini Vandra benar-benar positif hamil.


"Benar Yah, positif" ucap Ibu Hani menunjukan hasil testpack pada Ayah Hadi.


Ayah Hadi kembali duduk dihadapan Vandra. Ayah Hadi tak tau harus berkata apa, jika Ayah Hadi tetap meminta Vandra meninggalkan Andra, itu sama saja membiarkan Vandra harus menjalani kehamilannya selama 9bulan dan melahirkan seorang diri tanpa ada suami yang mendampingi.


"Apa Nak Andra tau soal kehamilan kamu ini?" tanya Ayah Hadi.


"Ga Yah, Mas Andra ga tau. Aku segaja berbohong soal hasil teatpack ini sama Mas Andra" ucap Vandra. Vandra memang segaja berbohong pada Andra tentang kehamilannya, hal itu segaja Vandra lakukan agar ia tak terus menerus terjebak dalam pernikahan rahasianya.


"Kenapa kamu harus berbohong soal itu? Apa kamu ga mau Nak Andra tau?" tanya Ibu Hani.


"Aku ga tau Bu, aku bingung harus gimana. Aku cuma takut Bu kalau anak ini akan ikut menjadi rahasia seperti pernikahan aku" sendu Vandra.

__ADS_1


"Lalu apa rencana kamu?" Ayah ingin tau.


"Aku ingin menutupi kehamilan aku ini Yah dari keluarga Mas Andra. Aku juga berencana untuk cuti kuliah dan pergi sementara waktu dari hidup Mas Andra. Aku ingin menenangkan diri aku, aku ga mau pemikiran bahkan perasaan sedih aku tentang pernolakan ini menganggu kehamilan aku"


"Memang kemana kamu mau pergi?"


"Kerumah Tante Dira Yah, aku rasa itu tempat yang tepat untuk aku menyembunyikan kehamilan aku. Ayah dan Ibu setuju kan?"


Ayah dan Ibu saling menatap. Yang dikatakan Vandra memang benar, rumah Tante Dira (adik Ibu Hani) adalah tempat yang aman untuk Vandra menenangkan dirinya, jarak tempat tinggal Tante Dira yang cukup jauh dari kota menjadi pilihan yang tepat untuk menghindar sementara waktu.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" Ibu Hani memastikan.


"Iya Bu" yakin Vandra.


"Ayah dan Ibu hanya bisa mendukung apa yang menjadi pilihan kamu. Tapi Van, apa kamu mampu menghadapi kehamilan kamu ini seorang diri tanpa Nak Andra?"


"Bu, disana kan ada Tante Dira. Tante Dira pasti akan dampingi aku Bu. Ini memang akan sulit, tapi kalau aku terus menerus bertahan disamping Mas Andra itu akan semakin membuat Oma Mira menjadi bersikap sesuka hatinya. Lagipula, kalau anak aku lahir nanti itu akan menjadi alasan kuat untuk aku terus mempertahan pernikahan aku. Aku bukan mau menyerah Bu, aku cuma mau membuat diri aku tangguh untuk bisa menghadapi hal yang paling menyakitkan nantinya. Aku minta doa dan dukungan Ayah juga Ibu"


"Baiklah. Ayah hargai pilihan dan keputusan kamu. Sejujurnya meninggalkan Nak Andra juga bukan hal baik untuk kamu, ada anak kamu yang nantinya membutuhkan kehadiran dan juga kasih sayang dari Ayahnya. Memangnya kapan kamu akan pergi kerumah Tante Dira?" tanya Ayah Hadi.


"Aku belum tau Yah. Tapi sebelum aku pergi, aku akan mengajukan cuti terlebih dulu dan menjelaskan apa yang akan aku lakukan sama Mas Andra. Tapi aku mohon, Ayah dan Ibu tolong rahasiakan hal ini dari keluarga Wijaya" pinta Vandra.


"Iya. Lebih baik sekarang kamu istirahat, Ayah akan menghubungi Nak Andra kalau kamu akan menginap malam ini disini. Bu, tolong antarkan Vandra ke kamarnya" perintah Ayah Hadi.


"Iya Yah. Ayo Van, kamu harus istirahat" ajak Ibu Hani.


Ayah Hadi menghembuskan nafas kasar. Cobaan yang menimpa keluarganya sungguh menyita kesabaran yang luar biasa. Sebagai Ayah, Ayah Hadi merasa cukup gagal membuat kehidupan kedua puterinya bahagia. Tapi dibalik ini semua Ayah Hadi yakin pasti adahal yang membahagiakan yang akan terjadi.


***

__ADS_1


__ADS_2