
Semakin hari semakin dekat pertemanan Vandra dan juga Randy, bahkan sekarang Dinda pun menjadi akrab dengan Randy. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bertiga, entah itu dikantin, taman atau bahkan tempat lainya disekolah. Hari itu selesai jam pulang sekolah mereka berencana untuk pergi bersama ke toko buku, dan mereka pergi memakai mobil Randy.
Toko buku yang mereka datangi berada disebuah mall. Dengan penuh canda tawa mereka bertiga memasuki toko buku sembari memilih buku yang dibutuhkan. Randy dengan setia menemani Vandra memilih buku, Dinda yang menyadari Randy tengah mendapatkan hati Vandra mencoba menghindari dan membiarkan mereka berdua.
"Kamu sebenernya mau ikut cari buku atau ngikutin aku sih? dari tadi ikutin aku terus" komentar Vandra.
"Aku ikutin kamu aja, supaya kamu ga hilang kemana-mana"
"Apa sih kamu, emang aku anak kecil?"
"Siapa tau aja kamu diculik cowo di sini, kamu kan cantik. Siapa tau aja kecantikan kamu itu membuat mereka jadi mengincar kamu" goda Randy.
"Kamu tuh ngaco deh, udah ah ke kasir yuk. Oh iya Dinda mana?" Vandra mencari sosok Dinda kesegala arah.
"Aku disini" Dinda datang menghampiri.
"Kamu udah selesai?" tanya Vandra.
"Udah, kalian udah selesai?"
"Udah, ya udah kita bayar" ajak Vandra.
"Ayo"
Selesai membeli buku Randy mengajak Vandra dan Dinda untuk makan siang, mereka bertiga pun menuju salah satu tempat makanan. Sambil menikmati makan, mereka bertiga bercengkrama bersama, dan tiba-tiba ada dua sosok yang datang menghampiri.
"Randy" panggil salah satu sosok itu yang tak lain Papa Marko, Papa Randy yang datang bersama Pak Tedy Asisten Papa Marko.
"Papa"
"Sedang apa kamu disini?" tanya Papa Marko.
"Aku lagi makan Pah sama temen-temen aku, kebetulan tadi kita habis beli buku"
"Siang Om, kenalkan saya Vandra teman sekolah Randy" Vandra bangun dari duduknya lalu memperkenalkan diri.
"Saya Dinda Om, teman sekolah Randy juga" Dinda ikut memperkenalkan diri.
"Saya Marko, Papanya Randy. Pak Tedy, bawa Randy pulang sekarang" perintah Papa Tedy.
__ADS_1
"Baik Tuan"
"Pah, aku masih belum selesai" ucap Randy.
"Cepat bawa Randy pergi" tegas Papa Marko sambil berlalu pergi.
Karna perintah Tuan Marko dengan cepat Pak Tedy membawa Randy pergi, Randy pasrah dengan paksaan pergi oleh Papa Marko. Randy hanya menghindari pedebatan yang akan menjadi ramai dan menjadi tontonan orang-orang disana.
"Van, Din. Aku pulang duluan" pamit Randy berjalan pergi.
"Iya Ran"
Vandra dan Dinda menatap kepergian Randy bersama Papa Marko dan Asistennya. Vandra merasa heran dengan sikap dan ekspresi wajah Papa Randy yang terlihat seperti tak suka melihatnya dan juga Dinda berteman dengan Randy.
"Din, kayanya Papanya Randy ga suka kita berteman sama Randy deh" Vandra menebak.
"Kamu bener. Aku belum bilang sama kamu ya?"
"Bilang apa?"
"Randy itu salah satu anak donatur disekolah kita. Yang berteman dengan Randy itu harus orang pilihan, salahsatunya Vino. Dia sahabat Randy yang selalu menemani dia disekolah. Banyak anak-anak disekolah yang segan untuk berteman sama dia, bahkan banyak dari mereka yang diancam untuk jauhin Randy. Dan sekarang kita diminta jauhin Randy dengan kejadian tadi"
"Ya udahlah, orang kaya kan begitu. Udahlah, kita lanjut makan aja"
"Iya"
Vandra dan Dinda kembali duduk dan menikmati makan mereka yang belum selesai. Vandra termenung memikirkan nasib Randy, apa Randy akan mendapat masalah karna berteman dengannya? lalu bagaimana nasib pertemanan mereka nanti?.
***
Didalam mobil Tuan Marko, Randy hanya diam sambil menatap jalan lewat jendela. Tuan Marko yang duduk disamping Randy tiba-tiba membahas soal pertemannya dengan Dinda dan Vandra.
"Jangan lagi kamu berteman dengan mereka" pinta Papa Marko dengan tegas.
"Sampai kapan Papa mau membatasi pertemanan aku kaya gini? aku butuh berteman dengan siapapun Pah"
"Jangan membantah Papa. Papa tau, kamu berteman dengan perempuan yang bernama Vandra itu karna kamu jatuh cinta kan sama dia?"
Randy menatap Papa Marko, bagimana bisa Papa Marko tau soal itu? Ah iya, Randy melupakan sesuatu jika semua kehidupannya terpantau oleh Papa Marko. Mungkin juga Papa Marko melarang berteman dengan Vandra karna beliau tau tentang perasaannya pada Vandra.
__ADS_1
"Buang perasaan kamu itu"
"Apa sekarang perasaan aku juga harus diatur Papa? Itu hak aku Pah, terserah aku mau jatuh cinta sama siapapun itu" protes Randy.
"Kamu itu akan jadi pewaris perusahaan, bagaimana bisa kamu jatuh cinta sama perempuan yang hanya sebagai anak pemilik kedai kecil seperti itu"
"Dia baik Pah, bahkan keluarganya pun lebih baik. Aku akan lebih bahagia Pah memiliki seseorang yang hatinya baik dibanding aku harus memiliki perempuan yang terikat bisnis dan kekayaan, aku ga suka itu Pah" tegas Randy.
"Kamu tau apa tentang hidup? berpikir realistis Rand, hidup itu bukan soal tentang cinta aja. Sekarang kamu masih sekolah, jadi kamu belum memahami kehidupan sebenarnya itu seperti apa. Pokoknya, Papa minta kamu tetap jauhi perempuan itu"
Randy tersenyum tipis, bagaimana bisa ia terlahir dan harus mengalami kondisi seperti ini. Randy terdiam, ia tak ingin berdebat lagi dengan Papa Marko. Rasanya tak akan selesai dan hanya akan menjadi pertengkaran terus-menerus.
Tiba dirumah Randy bergegas menuju kamar, dikamar Randy melempar tas kearah kasur sebagai tanda kemarahannya. Rasanya amat sangat menyebalkan, ingin rasanya memberontak sesuka hati namun Randy tak bisa melakukan itu saat ini.
***
Vandra dan Dinda berjalan menuju lobby mall untuk pulang, namun tak disangka Vandra bertemu dengan Andra dan juga Sekertaris Riko. Mereka saling beradu tatap, bagaimana bisa mereka bertemu saat ini? dunia sangat sempit sekali. Lain hal dengan Dinda, Dinda sedikit merasa takut melihat Andra.
"Din, kamu kenapa?" tanya Vandra.
"Van, buruan pergi" bisik Dinda sembari melihat Andra.
Vandra melihat kerah Dinda menatap Andra, apa yang ditakutkan oleh Dinda?.
"Kamu kenapa takut liat orang itu?"
"Van, kamu lupa. Dia itu cowo yang waktu itu ga segaja bajunya ketumpahin minuman aku" Dinda mengingatkan Vandra.
"Kamu serius? dia orang yang waktu itu bikin aku kesel?"
"Iya"
Pantas saja Vandra seolah pernah bertemu dengan Andra sebelumnya, ternyata kejadian bersama Dinda adalah pertemuan pertama mereka. Takdir macam apa ini? saat itu Vandra berucap tak ingin mendapat sosok lelaki seperti Andra, tapi kenyataan apa ini? sekarang lelaki menyebalkan itu adalah calon pendamping hidupnya. Hidup memang tak bisa ditebak dan terduga.
Vandra bersikap biasa dan berjalan melawati Andra begitu saja. Tapi langkah Vandra terhenti saat Andra memanggilnya. Vandra membalikan tubuhnya lalu memandang wajah Andra, sekarang apa yang ingin dia bicarakannya lagi? batin Vandra.
Andra berjalan menghampiri Vandra dengan santainya. Vandra menatap dingin, untuk apa dia datang menghampiri?.
***
__ADS_1