Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Menjadi Teman Baik


__ADS_3

"Apa yang kamu suka dari aku?" Tanya Vandra tanpa melihat Randy.


"Kenapa? kamu mau kasih aku kesempatan untuk dapatin hati kamu?" tebak Randy melihat Vandra.


"Ran, aku bukannya benci apalagi ga terima tentang perasaan kamu. Aku menghargai semua karna itu hak perasaan kamu sendiri. Tapi aku ga mau mengecewakan siapapun termasuk kamu Ran, jujur sampai saat ini aku belum bisa membuka perasaan aku untuk siapapun. Mungkin akan terasa nyaman kalau diantara kita hanya menjadi teman baik, gimana menurut kamu?" Vandra menawarkan.


Randy tak menolak ajakan Vandra, baginya mungkin saat ini hati Vandra belum bisa menerimanya. Randy hanya menyakinkan dirinya, jika memang Vandra takdirnya pasti perasaan itu akan datang dengan sendirinya.


"Aku mau" jawab Randy menerima tanpa berpikir panjang.


"Aku seneng dengernya, makasih ya" ucap Vandra dengan senyuman.


"Iya. Kalau gitu, Mulai sekarang kita berteman baik ya, apapun yang dibilang anak-anak tentang kita disekolah termasuk Gadis kamu ga usah peduliin lagi, ok?"


"Iya. Semoga kita jadi teman baik sampai kapanpun ya" harap Vandra.


"Iya"


"Aku harap semoga kata-kata kamu itu tak terjadi Van. Yang aku harapkan kita bersama sampai kapanpun sebagai sepasang yang saling mencintai. Sekarang tak apa kamu menganggap aku teman, karna yang terpenting bagi aku sekarang aku bisa berada disamping kamu sampai kapanpun" batin Randy menatap Vandra yang tengah menyantap Ice cream.


"Oh iya Ran, aku penasaran. Kamu kan jadi salah satu cowo populer disekolah, tapi kenapa kamu dingin sama cewe terutama Gadis. Padahal Gadis cantik dan juga populer lho kaya kamu" tanya Vandra.


"Cantik itu milik semua perempuan, yang membedakan itu hatinya. Gadis emang cantik, tapi percuma kalau dia memanfaatkan hal itu untuk menarik perhatiaan para cowo. Apalagi banyak cowo disekolah yang sering dapat harapan kosong dari dia, itu kan namanya menyakiti"


"Terus kenapa sikap kamu dingin sama cewe? Dan anehnya kenapa sama aku beda? bukan bermaksud percaya diri, tapi kenapa kamu tiba-tiba mau kenal dan deket sama aku?" Vandra heran.


"Mungkin karna kamu beda. Dari awal aku menyakinkan itu, terserah kamu mau anggap aku gombal atau apapun. Tapi aku yakin kamu juga ngerasa hal itu kalau kamu itu cewe yang baik" puji Randy.


"Ternyata kamu ga sedingin yang beredar disekolah ya, aku sering denger lho waktu baru datang ke sekolah sebagai anak baru. Bahkan, katanya banyak cewe yang patah hati karna sikap kamu, padahal mereka mengharap lebih sama kamu. Kamu ga takut karma karna mengacuhkan perasaan suka mereka?" Vandra bertanya.


"Buat apa takut, sekarang pun karma itu terjadi"


"Maksudnya?"


"Masa kamu ga paham. Sekarang aja perasaan suka aku diacuhkan sama kamu, kalau itu bukan namanya karma lalu apa? iya kan?"


"Kamu nih malah ngeledek aku. Udah ah, jangan bahas itu. Udah terlalu siang Aku mau pulang, aku duluan ya"


"Eh tunggu" Randy menahan Vandra.


"Ada apa lagi?"


"Mau aku antar pulang?"


"Ga usah Ran"


"Katanya sekarang kita teman baik, teman itu ga boleh menolak permintaan temannya lho"


"Apa sih kamu, pemaksaan lewat kata ya. Ya udah ayo"

__ADS_1


"Lets Go" senang Randy.


***


Randy memberhentikan motornya tepat dirumah Vandra. Randy menatap sebuah kedai makanan yang berdampingan dengan rumah Vandra, merasa penasaran Randy menanyakan pada Vandra.


"Ini rumah kamu Van?" tanya Randy.


"Iya"


"Enak ya kamu, disamping rumah kamu ada kedai makanan"


"Itu kedai makanan milik keluarga aku Ran, segaja berdekatan biar bisa terpantau antara kedai dan rumah. Ya walaupun kedainya ga besar tapi kedai ini yang mencukupi kehidupan keluarga aku" ucap Vandra.


"Oh. Aku boleh mampir ga? kebetulan aku belum makan siang"


"Boleh, ayo. Aku jamin kamu pasti bakal ketagihan sama masakan Ibu aku" Vandra bangga.


"Kalau misalnya ga ketagihan gratis ya" canda Randy.


"Ok, tapi aku jamin kamu pasti suka"


Vandra berjalan bersama Randy menuju kedai, Vandra memanggil Ibu Hani dan juga Ayah Hadi yang kebetulan tengah menjaga kedai.


"Kamu udah pulang Van?" tanya Ibu hani menghampiri.


"Iya Bu, maaf ya agak terlambat pulangnya"


"Kenalin Bu, Yah. Ini Randy, teman sekolah aku" Vandra memperkenalkan.


"Om, Tante kenalkan saya Randy" Randy memperkenalkan diri sembari mencium punggung tangan orangtua Vandra.


"Bu, katanya Randy mau coba makanan dikedai kita. Kebetulan dia juga belum makan siang" ucap Vandra.


"Begitu ya. Dengan senang hati, ayo Nak Randy duduk" pinta Ibu Hani.


"Iya Tante" ucap Randy sembari duduk disalah satu meja bersama Vandra.


"Nak Randy tunggu sebentar ya. Om akan buatkan makanan spesial untuk Nak Randy. Om pamit dulu ya" ucap Ayah Hadi.


"Iya Om"


"Ibu juga pamit dulu, Nak Randy ngobrol aja dulu sama Vandra"


"Iya Tante"


Ayah hadi dan Ibu Hani pergi untuk menyiapkan makanan untuk Randy. Entah kenapa Randy merasa nyaman dan senang, penilaiannya pada Vandra benar-benar tak salah. Keluarga Vandra begitu ramah dan baik, pantas saja Vandra memiliki sifat seperti itu. Randy merasa pantas menyukai Vandra, walau cintanya saat ini hanya sepihak tapi Randy masih bisa memilki kesempatan untuk memiliki Vandra. Tanpa sadar Randy tersenyum senang karna bisa merasakan momen bersama Vandra sekarang.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu Ran? ada yang lucu?" tanya Vandra.

__ADS_1


"Ga ada yang lucu ko, cuma kamu manis aja diliat jadi bikin aku senyum" gombal Randy.


"Apaan sih Ran, aku ga akan termakan gombalan kamu ya" ucap Vandra sembari tersenyum.


"Kamu disini tinggal bertiga?"


"Gak, aku tinggal sama Kaka dan juga keponakan aku"


"Jadi kalian semua tinggal berlima?"


"Iya"


"Ka Vandra" panggil Adit sambil berlari menghampiri.


"Hai keponakan Kaka" Vandra meraih Adit untuk memeluknya, Adit memang begitu dekat dengan Vandra.


"Ini temen Ka Vandra?" tanya Adit melihat Randy.


"Iya, namanya Ka Randy"


"Hai Ka Randy, aku Adit" Adit memperkenalkan dirinya pada Randy.


"Hai juga Boy"


"Adit, ayo kita pergi sekarang" panggil Vina menghampiri adit yang tengah bersama Randy dan Vandra.


"Kalian mau pergi?" tanya Vandra pada Vina.


"Iya Van, kebetulan ada beberapa kebutuhan sekolah Adit yang harus Kaka beli. Ini siapa nih? teman kamu Van?" tanya Vina mengarah pada Randy.


"Kenalkan Ka, saya Randy teman sekolah Vandra"


"Saya Vina, Kakanya Vandra. Terimakasih ya karna mau menjadi teman Vandra, Kaka sempat khawatir kalau Vandra sulit dapat teman disekolah barunya. Tapi ternyata Vandra sekarang bawa temannya kerumah, apalagi cowo temannya" goda Vina.


"Kaka apa sih" Bisik Vandra pada Vina.


"Ya udah kalian lanjutin ngobrol ya, Kaka sama Adit pergi dulu. Ayo Dit" pamit Vina.


"Hati-hati Ka" ucap Vandra.


"Iya Van"


"Ran, Kaka pergi dulu ya" ucap Vina pada Randy.


"Iya Ka, hati-hati"


Vina dan Adit berlalu pergi, tinggallah Vandra dan Randy. Mereka berdua melanjutkan obrolan kembali sambil menunggu Ayah Hadi membawa makanan yang sedang disiapkan. Disela obrolan Randy tak hentinya memandang Vandra yang sedang menceritakan tentang kisah kehidupannya sebelum ia pindah pada Randy. Semakin dipandang semakin cantik terlihat, rasanya keinginan memiliki Vandra semakin mengebu dirasa.


Tapi, akankah Takdir berpihak padanya? rasanya Randy seolah sudah menemukan takdir hidupnya pada Vandra.

__ADS_1


***


__ADS_2