
"Kamu Vino kan?" Vandra mendekat untuk memastikan lagi keyakinannya.
"Iya. Bentar, lo Vandra kan?" Vino bertanya balik.
"Iya. Aku Vandra, syukur kalau kamu masih ingat aku"
"Gue pasti ingatlah, lo kan salah satu cewe temen sekolah lulusan gue. Gimana kabar lo?"
"Baik Vin, kabar kamu gimana?"
"Baik. Lo makin cantik aja" puji Vino.
"Makasih. Kamu buru-buru ga?"
"Gue ada urusan, tapi gue masih ada waktu sebentar. kenapa?"
"Ada hal yang mau aku tanyain soal Randy sama kamu. Gimana kabar Randy sekarang?" tanya Vandra.
Vino terdiam mendengar nama Randy. Vandra yang menunggu Vino jawaban begitu berharap Vino mau memberitahukan tentang Randy saat ini.
"Kenapa lo masih tertarik tentang kabar Randy? gue rasa harusnya lo lupain Randy. Dulu Randy memang suka sama lo, tapi gue rasa dia udah terbiasa hidup tanpa mengingat lo lagi sekarang. Lo ga perlu khawatir tentang kabar Randy, Randy sekarang baik-baik aja disuatu tempat. Maaf, Gue ga bisa kasih tau lo banyak tentang Randy, gue harap lo bisa melupakan pertemanan lo dengan Randy. Gue pergi dulu, bye"
Vino berlalu pergi melajukan mobilnya. Ada rasa tenang karna Vandra akhirnya tau jika Randy baik-baik saja. Tapi, kenapa Vino bersikap seperti itu? apa itu karna permintaan Randy? Vandra membalikan tubuhnya berjalan untuk menghampiri Vania yang tengah memasukan barang belanjaan dibagasi mobil.
Vandra sedikit murung setelah mendengar ucapan Vino. Apa ini artinya Randy benar-benar sudah melupakan perasaannya? tapi kenapa harus seperti ini cara Randy melupakan semua kisah bahkan perasaannya tanpa memberi kejelasan apapun pada Vandra.
"Van, lo kenapa?" Vania bertanya.
"Udah selesai semuanya?" tanya Vandra yang tak sejalan dengan apa yang Vania tanyakan.
"Udah. Lo kenapa sih? lo kenapa kaya orang bingung gitu sih? cerita lo kenapa?" desak Vania.
Vandra refleks memeluk Vania sembari menangis. Akhirnya airmata yang tertahan itu tumpah seketika, Vania merasa penasaran sekaligus Iba dengan apa yang Vandra alami. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi saat Vandra pergi tadi, tapi hal apa? Vania benar-benar ingin tau.
Perlahan airmata Vandra mulai mereda, tak ingin dilihat orang-orang Vania mengajak Vandra masuk kedalam mobil. Melihat Vandra sudah sedikit tenang, Vania mulai menanyakan sebab Vandra menangis, Vania yakin ini pasti ada hubungannya dengan Randy.
"Sebenernya tadi lo itu ngejar siapa?" tanya Vania.
__ADS_1
"Aku ketemu Vino"
"Vino? siapa dia?"
"Dia sahabat Randy, aku ngejar dia karna aku mau tanya tentang kabar Randy"
"Terus?"
"Dia bilang Randy baik-baik aja. Vino juga bilang kalau Randy udah melupakan aku dan perasaannya. Jujur aku merasa tenang karna tau Randy baik-baik aja, tadi dilain sisi aku ngerasa terluka karna Randy udah lupain aku. Rasanya sakit Vani"
"Gue sama Dinda kan udah bilang sama lo, lo harus bisa terbiasa melupakan Randy. Gue tau sulit, tapi kalau lo ga pernah coba lupain sampai kapanpun lo ga akan bisa lepas dari bayangan Randy. Sekarang lo tenangin diri lo, minum ini" Vania menyerahkan sebotol air mineral pada Vandra.
"Sekarang gue antar lo pulang ya" ucap Vania.
***
Andra melepas jas kantornya setelah ia selesai rapat dengan kline. Andra mendapat kabar dari Sekertaris Riko jika Vandra mengirimkan uang yang dikirimkan semalam kerekningnya lagi.
"Jadi dia benar-benar mengirim balik uang itu?" tanya Andra menyakinkan lagi.
"Apa maksudnya dia mengembalikan uang itu? apa dia tidak butuh? atau dia pura-pura menolak untuk bisa mendapatkan yang lebih?" batin Andra.
"Oh iya, tolong nanti kamu siapkan hadiah untuk saya bawakan kerumah Vandra. Dan juga tolong awasi pergerakan Vandra lebih intens lagi mulai sekarang. Saya penasaran, sebenarnya seperti apa sifat dia yang sebenarnya" perintah Andra.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya pamit"
"Iya"
Ini pertama kalinya ada seorang wanita yang menolak salahsatu hal berharga yaitu uang. Bagaimana bisa dia menolak sedangkan semua orang membutuhkan hal itu? Wanita itu benar-benar membuat penasaran. Tapi apa dia hanya memanfaatkan situasi ini saja? atau memang sebenarnya dia memiliki sifat yang baik yang tak bisa diberi uang sebanyak apapun itu? Andra bergumam dalam hatinya.
Tiba-tiba Andra mengeluarkan handphonenya lalu membuka nomor contact Vandra diwhatapps miliknya. Andra terpesona sesaat meliat foto profil whatapps milik Vandra, tapi dengan cepat Andra menyadarkan pandangan matanya sambil melempar handphonenya diatas meja.
"Apa yang lo lakuin Dra? sadar sadar. Inget, dia itu cuma wanita yang kehadiraannya cuma sesaat dihidup lo. Dia bukan wanita yang pantas lo suka" gumam Andra.
***
Vandra mengambil barang belanjaan yang ditaruh dibagasi mobil Vania. Karna sudah sampai dirumah, Vandra seketika merubah ekspresi sedihnya kala Ibu Hani dan Ayah Hadi datang menghampirinya dirinya dan juga Vania.
__ADS_1
"Nak Vania, apa kabar?" tanya Ibu Hani.
"Baik Tante, Tante sama Om gimana kabarnya?"
"Tante dan Om baik. Udah lama lho kamu ga main kesini"
"Iya Tante, banyak tugas jadi jarang main"
"Sini biar Ayah bawa masuk belanjaannya" Ayah Hadi meraih belanjaan yang dibawa Vandra.
"Vania, ayo masuk dulu. Om siapkan makanan untuk kamu" ajak Ayah Hadi.
"Ga usah Om"
"Ga boleh menolak, ayo ikut Tante" Ibu Hani mengandeng lengan Vania.
Vandra tersenyum melihat sikap Ibu Hani dan Ayah Hadi yang selalu menyambut baik setiap teman yang Vandra ajak kerumah. Melihat kebaikan itu membuat Vandra merasa yakin untuk bisa membalas kebaikan Tuan Tomy walaupun itu harus menaruhkan masadepannya.
Bagi Vandra Sudah seharusnya Vandra membalas kebaikan Ayah dan Ibu, kalau sampai Vandra membiarkan Ayah dan Ibu mengantikan uang Tuan Tomy pasti sampai kapanpun Ibu dan Ayah tak akan tenang menjalani hidupnya.
Vandra duduk dikursi meja yang sama dengan Vania. Vania begitu terlihat bahagia karna bisa merasakan kembali makanan buatan orangtua Vandra. Selagi makanan sedang dibuatkan, Vania begitu merasa beruntung bisa berteman dengan Vandra.
"Beruntungnya gue punya temen kaya lo Van. Gue itu selalu antusias banget setiap makan masakan Ayah lo, sumpah ya makanan buatan Ayah lo itu terthe best parah didunia yang fana ini" celoteh Vania.
"Kamu ini berlebihan banget deh"
"Beruntung lo bisa makan tiap hari masakan Ayah lo"
"Ya udah kalau gitu kamu tinggal aja disini sekalian biar bisa makan setiap hari masakan buatan Ayah aku" saran Vandra.
"Kasian dong nanti keluarga gue kalau gue pindah kesini. Gini deh, Nanti kalau gue nikah sama cowo kaya raya, gue bakal rekrut Ayah lo sebagai kepala koki dirumah gue. Biar gue bisa merasakan masakan Ayah lo setiap hari, lo tenang aja nanti gue bakal gaji Ayah lo dengan tarif tinggi" khayal Vania.
"Iya Nona halu, gimana kata kamu aja" ledek Vandra.
Sambil menunggu makanan dibuatkan Ayah Hadi, Vandra dan Vania berbincang asyik berdua.
***
__ADS_1