Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Tinggal bersama


__ADS_3

Vandra sudah bersiap dengan kopernya. Semua pakaian, barang dan keperluan Vandra yang lain pun sudah siap Vandra bawa menuju apartemen. Walau Vandra anak yang selalu terlihat ceria tapi jika ada sesuatu hal yang membuatnya tersentuh tanpa melihat situasi Vandra akan menangis. Dan itu pun terjadi saat Vandra berpamitan pergi pada Ayah Hadi, Ibu Hani, Vina dan juga Adit.


Vandra memeluk erat Ibu Hani, rasanya sangat sedih harus berpisah tempat tinggal saat ini. Walau hanya berbeda tempat tinggal tapi tetap saja, bagi Vandra itu sebuah hal yang sangat mengharukan karna Vandra akan jarang bertemu dengan keluarganya.


"Vandra pasti bakal kangen sama Ibu" keluh Vandra.


"Udah jangan sedih, hapus airmata kamu. Malu lho ada suami kamu disini"


"Ibu ko keliatan ga sedih sih? Ibu seneng ya kalau aku ga tinggal disini lagi" tuduh Vandra.


"Kamu ini ngomong apa sih, Ibu bukannya ga sedih. Tapi mau bagaimana lagi, kamu harus ikut suami kamu"


"Iya Van, yang dibilang Ibu benar. Lagipula jarak kamu tinggal dengan rumah kami kan tidak jauh, masih bisa dijangkau" Ayah Hadi menambahkan.


"Iya Van. Udah ya jangan sedih, nanti kamu atau kami bisa berkunjung ke apartemen kamu" hibur Vina.


"Janji ya nanti Ibu, Ayah , Ka Vina sama Adit sering berkunjung ke apartemen" ucap Vandra.


"Iya. Nak Andra, Ibu titip jaga Vandra ya. Pasti Vandra perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya disana"


"Iya Bu, Ibu ga perlu khawatir. Kalau begitu, saya ijin pamit Bu" Pamit Andra.


"Aku pamit ya. Kalian jaga kesehatan, sering-sering telpon aku ya" rengek Vandra.


"Iya. Ya sudah kamu pergi, kasian Nak sudah menunggu" pinta Ayah Hadi.


"Dah Ibu, Ayah, Ka Vina, Adit" Vandra melambaikan tangan sembari memasuki mobil.


Sejujurnya ada rasa sedih dihati keluarga Vandra melihat Vandra tak akan bersama mereka lagi seperti biasanya, tapi rasa sedih itu segaja mereka tutupi. Mereka semua tak mau Vandra semakin bersedih melihat mereka.

__ADS_1


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah keluarga Vandra. Tangisan Vandra itu pun masih saja berlanjut, ia masih begitu merasa sedih karna ini adalah pertama kalinya Vanda berpisah dari keluarganya. Andra yang mengemudi mobil hanya bisa menggelengkan kepala melihat Vandra yang menangis sedih seperti kehilangan mainan kesayangannya.


"Sedih kamu itu berlebihan" komentar Andra.


Vandra seketika melihat kearah Andra, bagaimana bisa ada orang yang dingin seperti itu yang tak merasa sedih karna hal yang Vandra rasakan?.


"Hati Anda itu pasti terbuat dari Es kutub ya? dingin dan ga mengerti dengan perasaan orang. Anda itu ga tau rasanya tinggal jauh dari keluarga" kesal Vandra.


"Kamu ini jangan asal aja kalau ngomong. Saya pernah tinggal jauh dari keluarga saya, tapi sedih yang saya rasakan ga berlebihan kaya kamu"


"Ga peduli. Terserah saya mau sedih kaya gimana juga, bukan urusan Anda. Udah sekarang Anda fokus menyetir aja, karna saya masih pengen hidup panjang" omel Vandra.


Andra semakin merasa tak mengerti dengan sikap Vandra. Mengapa sikap perempuan sulit dipahami? karna tak ingin ada perdebatan lagi Andra memutuskan untuk tak mengatakan apapun lagi pada Vandra. Karna percuma saja, berdebat dengan wanita tak akan ada habisnya.


30menit berlalu mereka sudah sampai disebuah apartemen mewah. Andra lalu mengajak Vandra masuk kedalam Apartemennya, Vandra tak menyangka jika ternyata apartemen milik Andra benar-benar sangat mewah dan begitu terlihat rapi. Vandra masuk membawa kopernya dengan penuh kekaguman, setiap sudut apartemen itu bahkan dihiasi oleh hiasan yang indah.


"Kamar kita pisahkan?" tanya Vandra.


"Iya. Saya tidur disebelah kamar kamu. Ingat, jangan pernah asal masuk kedalam kamar saya. Kamu mengerti?"


"Iya Tuan Muda"


Tanpa berpamitan pada Andra, Vandra segera bergegas masuk kedalam kamar. Vandra semakin takjub dengan kamar yang ia tempati, sungguh sangat berbeda dengan kamarnya dirumah. Vandra lalu merapihkan barangnya dan pakaiannya kedalam lemari. Tanpa terasa sedih itu datang kembali, pasti akan sangat sepi sekarang. Tak ada teman berbincang disaat Vandra membutuhkan.


Merasa cukup lelah merapihkan barang bawaanya, tanpa terasa Vandra tertidur pulas diatas kasur. Karna hari sudah siang, Andra yang sudah menunggu Vandra untuk menikmati makan siang merasa sudah tak sabar menahan rasa laparnya. Dengan terpaksa Andra mengetuk pintu kamar Vandra.


Tok.. tok.. tok...


Andra berulang kali mengetuk pintu kamar Vandra namun masih saja tak ada respon. Andra benar-benar kesal, sedang apa yang ia lakukan didalam kamar? pikir Andra.

__ADS_1


Merasa tak tahan, Andra pun menikmati makan siang itu seorang diri. Andra tak memperdulikan Vandra merasa lapar atau tidak. Yang terpenting Andra sudah ada niatan baik untuk mengajak Vandra makan siang.


Jam sekarang sudah menunjukan pukul 3 sore, Vandra mulai tersadar dari tidurnya. Tiba-tiba Vandra merasakan perutnya lapar, tapi seketika Vandra teringat jika ia sekarang bukan tinggal dirumahnya lagi. Lalu Vandra berinisiatif untuk keluar kamar, mungkin saja ada bahan makanan yang bisa dibuat.


Vandra harus menahan kekecewaan, ternyata didalam kulkas tak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Vandra mengehembuskan nafas kesal, apa isi kulkas orangkaya selalu kosong seperti ini?.


"Sedang apa kamu" Suara Andra yang tiba-tiba datang mengejutkan Vandra.


"Lagi liatin kulkas kosong. Kenapa? dilarang?"


"Kamu pasti laparkan? Saya sudah pesankan kamu makan, kamu makan sana. Makanannya ada diatas meja" Andra memberitahu. Setelah memberitahu Andra lalu berlalu pergi masuk kembali kedalam kamar.


Merasa sangat lapar, Vandra pun dengan cepat menyantap makanan yang sudah dipesan oleh Andra. Tiba-tiba Vandra tersadar sesuatu, makanan yang ia makan seolah mengingatkan Vandra pada Ayah Hadi.


"Kenapa rasa makanan ini sama kaya yang Ayah buat ya? apa ini perasaan aku aja?" gumam Vandra.


Hari mulai gelap Vandra meminta ijin pada Andra untuk pergi ke supermarket terdekat. Ada beberapa bahan yang perlu Vandra beli untuk membuat makanan dan isi kulkas. Andra meragukan untuk mengijinkan Vandra, pasalnya Vandra belum begitu mengenal tempat tinggal barunya.


"Saya akan ikut dengan kamu" ucap Andra.


"Ikut? Ga usah Tuan, nanti kalau ada yang liat kita gimana? terus jadi berita besar dan heboh? Anda ga akan masalah?" tanya Vandra.


"Saya bisa memakai masker dan topi. Lagipula kalau saya biarkan kamu pergi sendiri nanti kamu nyasar dan ga tau jalan pulang gimana? nanti buat saya repot"


"Terserah Anda"


Andra menggunakan mobil biasa menuju supermarket terdekat. Ia tak ingin terlalu menunjukan dirinya saat bersama Vandra, kalau sampai ada yang mengenalnya sedang bersama wanita bisa saja hal itu membuatnya dalam berita besar yang akan memperngaruhi bahkan menjadi masalah untuknya.


***

__ADS_1


__ADS_2