Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Menahan godaan


__ADS_3

"Masakan kamu enak ya, pasti keahlian memasak kamu turun dari Ayah kamu" puji Mama Amira pada masakan Vandra.


"Mama terlalu memuji, aku masih belajar masak ko Mah" Vandra merendah diri.


"Kamu memang istri sempurna, Papa bangga sama kamu Vandra" ucap Papa Tomy. Sejak awal Papa Tomy memang mengagumi sikap dan juga semua hal dalam diri Vandra.


"Aku juga bangga Pah punya istri seperti Vandra" Andra tersenyum memandangi Vandra yang duduk disampingnya.


"Mama seneng bisa melihat pernikahan kalian harmonis, Mama jadi ga khawatir lagi tentang pemberitaan yang terjadi. Tapi akan lebih indah lagi kalau Vandra segera hamil anak Andra, iya kan Pah"


"Iya Mah"


Vandra menatap kedua orangtua Andra dengan senyuman. Tak ada kata yang mampu Vandra ucapkan. Tapi jika membicarakan soal kehamilan, Vandra belum siap untuk memikirkan hal itu. Apalagi menyangkut pernikahan rahasianya, Vandra hanya tak ingin jika sampai ia mengandung dan melahirkan seorang anak, anak itu akan menjadi sebuah rahasia juga seperti pernikahannya.


Makan malam selesai, Vandra sibuk memotong buah untuk disajikan sebagai cemiĺlan. Namun tak segaja jari tangan Vandra terkena pisau, Vandra mengiris kesakitan merasakan perih ditangannya. Andra yang datang tiba-tiba segera mengisap darah dijari Vandra.


"Tunggu, Mas ambil plester dulu untuk kamu"


Andra dengan telaten menempelkan plester dijari Vandra, Vandra hanya menatap Andra yang tengah fokus mengobati jari tangannya, Kenapa rasanya sulit membenci kamu Mas? kenapa aku ngerasa bersalah dengan ucapan aku sama kamu, apa aku terlalu takut untuk kehilangan kamu? batin Vandra.


"Lain kali hati-hati ya. Potong buahnya biar aku yang lanjutin, kamu temenin Mama sama Papa ya" pinta Andra.


"Iya Mas"


Vandra berbincang dengan Mama Amira dan Papa Tomy sampai mereka tertawa bersama. Andra tersenyum senang melihat keakraban Vandra dan kedua orangtuanya, rasanya hal itu membuat Andra semakin yakin jika mencintai dan memiliki Vandra adalah hal yang tepat.


"Ini buahnya" Andra menyuguhnya dihadapan Vandra dan kedua orangtuanya.


"Kalian cerita apa? aku liat kaya seru banget" tanya Andra.


"Bukan cerita apa-apa, Mama sama Papa cuma ceritain soal kisah dulu pacaran sampai menikah. Oh iya Dra, nanti kalau pernikahan kalian sudah publish ajak Vandra bulan madu ya. Habiskan waktu berdua sebelum ada malaikat kecil hadir diantara kalian" saran Mama Amira.


"Iya Dra, apalagi bulan madu itu bisa membuat kalian semakin dekat dan juga usaha lebih untuk kalian memberikan kami cucu" Papa Tomy menambahkan.


"Papa nih, bahas cucu aja. Doain terus aja Pah, semoga sebentar lagi Vandra dan aku bisa memberikan cucu untuk kalian, iya kan sayang" tanya Andra pada Vandra.


"Iya Mas" pasrah Vandra menjawab.


"Mama ga sabar deh, pasti seru dan menyenangkan ya Pah" khayal Mama Amira.


"Iya Mah"


Mereka melajutkan obrolan sampai larut malam, karna mulai merasakan kantuk mereka semua berpamitan untuk tidur. Sebelum tidur Vandra membersihkan dirinya terlebih dahulu, selesai membersihkan diri, Andra yang melihat Vandra keluar dari kamar mandi menggunakan piyama tidur membuat mata Andra tak berkedip.


Andra mengatur nafasnya, gairah dan permasalahan yang terjadi seakan tak sejalan dengan keinginannya saat melihat Vandra. Tanpa memperdulikan apa yang Andra rasakan, Vandra menidurkan tubuhnya membelakangi Andra.


"Tahan Dra, jaga hawa nafsu lo. Ingat, walaupun Vandra buat candu tapi lo harus bisa memahami perasaanya sekarang" batin Andra.


Tak ingin terlena dengan gairahnya melihat Vandra, Andra memutuskan keluar kamar untuk mengambil air minum. Saat akan kembali ke kamar, Andra tak segaja melihat Papa Tomy tengah duduk sendiri dibalkon. Tanpa berpikir lama, Andra segera menghampiri.

__ADS_1


"Papa belum tidur?" tanya Andra duduk disamping Papa Tomy.


"Kamu kagetin Papa aja. Kamu sendiri belum tidur?"


"Belum Pah. Papa keliatan lagi mikirin sesuatu?" tebak Andra.


"Papa memikirkan kamu dan Vandra. Papa takut pernikahan kalian nanti goyah karna menghadapi ini"


"Pah, Papa ga perlu khawatir. Percaya sama aku dan Vandra, aku akan berusaha mempertahankan pernikahan aku semampu aku Pah" Andra menenangkan.


"Dra, apa kamu benar-benar mencintai Vandra?" Papa Tomy memastikan lagi.


"Iya Pah. Aku sangat mencintai Vandra. Oh iya Pah, aku mau mempercepat mengumumkan pernikahan aku. Menurut Papa gimana?" tanya Andra.


"Papa setuju. Lagipula Papa juga merasa lebih baik seperti itu, soal Oma dan para dewan direksi nanti biar Papa yang hadapi. Papa memikirkan perasaan Vandra Dra, Papa bisa melihat dengan jelas ketidak nyamanan Vandra dengan berita itu"


"Iya Pah, yang Papa bilang memang benar. Udah malam Pah, Papa tidur ya. Ga baik untuk kesehatan Papa, aku juga mau tidur" ucap Andra.


"Iya"


***


Karna hari libur, Vandra membiarkan Andra masih terlelap dengan tidurnya. Mengingat ada kehadiran Papa Tomy dan Mama Amira, Vandra bergegas bangun membersihkan diri lalu menyiapkan sarapan. Vandra terkejut melihat Mama Amira dan Papa Tomy yang sudah bangun dan tengah berbincang berdua disofa.


"Mama sama Papa udah bangun" tanya Vandra.


"Ga Ma, aku kan harus menyiapkan sarapan"


"Kamu tenang aja, Mama udah siapkan sarapan"


"Ya ampun Ma, aku jadi buat repot Mama"


"Ga ko, Mama seneng ngelakuinnya. Oh iya, nanti siang kita jalan yuk.. Mama lagi kepengen belanja, kamu mau kan?" Mama Amira menawarkan.


"Tapi siang nanti aku ada janji sama temen Ma mau ketemu"


"Gitu ya, ya udah deh lain kali aja" ucap Mama Amira sedikit kecewa.


"Gimana kalau Mama ikut gabung sama aku dan temen-temen aku? biar seru juga kan Ma, sekalian juga Mama bisa kenal sama temen-temen aku"


"Memang boleh?"


"Bolehlah Ma, gimana Mama mau?"


"Mau, Pah ga apa-apa kan Mama ikut Vandra?" ijin Mama Amira pada Papa Tomy.


"Iya Mah boleh"


"Makasih ya Pah, Mama seneng deh"

__ADS_1


Mama Amira begitu bahagia akan pergi bersama dengan Vandra, Papa Tomy yang melihat pun ikut senang.


"Oh iya, Andra masih tidur?" tanya Papa Tomy.


"Masih Pah"


"Mungkin Andra kelelahan Pah, akhir-akhir ini kan kerjaan dikantor banyak. Kalau gitu kita sarapan duluan aja. Ayo Van, Pah kita sarapan" ajak Mama Amira.


"Iya Mah"


Mereka bertiga pun menikmati sarapan pagi tanpa Andra.


Siang hari Vandra dan Mama Amira sudah bersiap untuk pergi. Andra yang merasa sedih karna harus ditinggalkan Vandra pergi bertemu dengan teman-temannya seakan tak rela. Ia hanya menatap Vandra diam, sejujurnya disaat waktu libur seperti ini Andra ingin sekali menghabiskan waktu bersama Vandra seharian. Namun hal itu hanya keinganan belaka, sejujurnya Andra menyadari jika Vandra sedang menghindarinya, dan juga Vandra pergi pasti karna masih merasa terluka dan tak terima dengan apa yang sudah terjadi kemarin.


"Kamu yakin mau pergi?" tanya Andra pada Vandra dihadapan Mama Amira dan Papa Tomy.


"Iya Mas"


"Biarkan istri dan Mama kamu pergi, mereka juga butuh waktu untuk menyenangkan diri mereka" sindir Papa Tomy pada Andra yang sedikit sedih melihat Vandra akan pergi.


"Iya Pah"


"Mas, Pah aku pergi dulu ya" Pamit Vandra.


"Mama juga ya"


Saat Vandra dan Mama Amira hendak keluar, Andra tiba-tiba menghentikan langkah Vandra.


"Kenapa Mas?" tanya Vandra.


"Kamu lupa sesuatu" ucap Andra sambil menghampiri Vandra.


Cup...


Andra mengecup kening dan juga pipi Vandra.


"Have fun ya"


"Iya Mas"


"Romantisnya, udah yuk Van pergi. Nanti kelamaan suami kamu ini nangis lagi karna ditinggal pergi" ledek Mama Amira.


"Iya Mah. Aku pergi ya Mas"


"Iya"


Akhirnya Andra harus merelakan Vandra pergi bersama Mama Amira, walau sejujurnya berat tapi Andra mencoba memahami. Vandra pasti butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2