
Sepanjang jalan menuju kampus, Vandra tak hentinya mendengar dan juga melihat pemberitaan tentang Andra dan juga Vivi, hampir setiap media televisi, radio bahkan sosial media membahas tentang hal itu. Vandra benar-benar merasa tak nyaman akan hal itu.
Karna perjalanan pagi itu cukup macet, Vandra memutuskan mendengarkan musik untuk menghindari pemberitaan yang ia lihat dan dengar. Sambil menyandarkan tubuh dan memejamkan mata, Vandra menikmati alunan musik yang ia dengarkan.
***
Andra menatap layar laptopnya dengan sebuah lamunan. Pikiran Andra saat itu tertuju pada Vandra, Pasti sikap Vandra tadi pagi ada hubungannya dengan pemberitaan ini, Andra tak hentinya terus memikirkan hal itu. Bagaimana perasaan Vandra? apa dia tak mempermasalahkan hal itu? sampai dia bersikap seolah tak peduli?.
Lamunan Andra terpecah saat Sekertarias Riko masuk kedalam ruangannya. Sekertaris Riko memberitahu jika Mama Amira dan juga Papa Tomy datang untuk menemui, Andra mengijinkan dan meminta Sekertaris Riko untuk meminta kedua orangtuanya masuk.
Terlihat dari ekspresi wajah Papa Tomy yang begitu terlihat serius membuat Andra yakin jika kedatangannya ada kaitannya dengan berita yang tengah tersebar. Andra menghampiri kedua orangtuanya yang sudah duduk disofa, mereka terlihat begitu penasaran dan tak sabar ingin berbicara dengannya.
"Mama sama Papa mau minum apa?" tanya Andra berbasa-basi.
"Ga perlu. Papa sama Mama kesini karna mau memastikan tentang pemberitaan yang tersebar diluaran sana, apa benar kamu berpacaran dengan Vivi?" Serius Papa Tomy bertanya.
Andra sebenarnya sedang tak ingin membahas ini, pikirannya saat ini hanya fokus pada Vandra.
"Pemberitaan itu ga bener Pah. Dulu aku memang pernah menyukai Vivi, tapi aku ga pernah berpacaran dengan dia. Ada permasalahan yang terjadi diantara aku dan Vivi, dan permasalahan itu membuat Vivi menyebarkan pemberitaan itu. Aku akan segera menyelesaikan pemberitaan ini Pah" Andra menjelaskan.
"Dra, sejujurnya yang Mama khawatirkan itu perasaan Vandra. Seperti yang kamu tau, pernikahan kalian itu masih dirahasiakan. Mama ga bisa bayangkan gimana perasaan Vandra terutama keluarganya juga. Apalagi pemberitaan itu semakin menyebar luas, pasti ga mudah menarik ataupun mengelak tentang berita itu. Dan kamu juga tau kan kekuasaan keluarga Vivi itu seperti apa? pasti ga mudah untuk menghilangkan pemberitaan itu" ucap Mama Amira.
"Yang dibilang Mama kamu benar Dra. Pasti sekarang keluarga Vivi menggangap kalau pemberitaan itu benar. Kamu harus segera mencari cara agar pemberitaan itu tak mempengaruhi pernikahan kamu" pinta Papa Tomy.
Andra terdiam memikirkan ucapan Mama Amira dan Papa Tomy. Sejujurnya Andra pun ingin menutup pemberitaan itu, tapi bagaimana caranya?.
__ADS_1
***
Vandra tak bisa fokus dengan materi yang tengah dijelaskan oleh Dosen. Semua pemikirannya terfokus pada pemberitaan yang terjadi, Vandra menerka-nerka dengan kepastian pemberitaan itu. Vandra tak mungkin meminta penjelasan Andra tentang rasa penasarannya, walau status Vandra sebagai istri Andra tapi tetap Vandra tak punya hak untuk mencampuri kehidupan Andra, karna pernikahan yang mereka jalani hanyalah pernikahan yang terikat karna kesepakatan.
Kelas selesai Vandra hanya terdiam duduk ditaman kampus ditemani Vania dan Dinda, tak ada yang membuatnya semangat saat itu. Dan tak diduga disamping bangku taman, Vandra tak segaja mendengar dua wanita membicarakan soal Vivi dan Andra.
"Lo tau ga sama pemberitaan heboh dimedia? soal Pewaris Andra wijaya yang ternyata selama ini punya pacar, sumpah ya ternyata pacarnya cantik banget terus kaya raya pula lagi. Pasangan sempurna tau ga" ucap wanita pada temannya.
"Iya tuh bener, mereka bener-bener cocok. Jujur ya, gue tuh emang mengidolakan Andra Wijaya karna ketampanannya, tapi sekarang gue jadi agak kecewa karna ternyata dia udah punya pacar, padahal kalau dia belum punya gue mau deketin dia"
"Idih, ga tau diri lo. Lo ga ngaca Andra Wijaya tuh siapa? dia kan pewaris Wijaya Group, mana bisa cewe biasa kaya lo deketin dia. Bukan level dia lo"
"Rese lo. Ah tapi masa bodo sih, lagian mereka pacaran pun ga ada mengaruh apapun sama hidup gue. Udah yuk cabut, gue laper nih"
"Ayo"
"Van, kamu sabar ya. Aku tau pemberitaan itu buat kamu terluka" Dinda menenangkan.
"Iya Van. Gue yakin ko, pasti perempuan gatel itu yang ngaku-ngaku. Tuh orang bikin rese ya, lama-lama gue kirim setruk bedak gatel tuh biar kegatelannya luntur" kesal Vania.
"Bisa ga ngelucunya itu ditunda, ga sesuai keadaan tau" bisik Dinda.
"Siapa yang becanda sih, emang tuh orang bikin resekan?" bela diri Vania.
"Din, Vani. Aku pulang duluan ya, aku ngerasa kurang fit" ucap Vandra.
__ADS_1
"Iya Van, mau aku antar pulang?" Dinda menawarkan.
"Ga usah Din, aku dijemput supir ko. Aku duluan ya, bye" pamit Vandra pada Dinda dan Vania.
"Lo tuh Dinda lupa ya. Vandra kan seorang istri pewaris, ya kali ga diantar supir kemana-kemana, heran deh" protes Vania.
"Apa sih kamu, emang salah menawarkan diri. Lagian aku ga tega liat Vandra begitu, masalah sama Randy aja belum selesai sekarang permasalahan baru muncul, kamu sebagai sahabatnya gak ngerasa kasian?" oceh Dinda.
"Kasianlah. Eh tapi pemberitaan itu bener ga sih? ya lo tau lah, walaupun Vandra menikah sama Tuan Kutub tetep aja pernikahan itu cuma pernikahaan sesaat. Tapi kalau dipikir, pernikahan itu juga kan ga akan mengaruh apapun untuk Vandra sama Tuan kutub"
"Dasar ga peka ya kamu. Kamu ga liat ekspreai Vandra gimana? dia tuh terluka, itu artinya Vandra bener-bener jatuh cinta sama Tuan kutub" omel Dinda.
"Jadi Vandra bener-bener jatuh cinta beneran? OMG, kisah cinta terkeren sekaligus terumit. Mencintai dan dicinta dua pria sekaligus, bener-bener luarbiasa" takjub Vania.
"Tapi Din, menurut lo siapa yang bakal dipilih Vandra. Tuan kutub atau Randy?" tanya Vania.
"Pikir dan jawab aja sama kamu sendiri. Udah ah, aku mau pulang. Capek berdebat sama Miss micin yang ga ada ujungnya, Bye" Dinda beranjak pergi meninggalkan Vania.
"Tuh makhluk teka-teki bener-bener rese ya ninggalin gue, Dinda tunggu" teriak Vania sembari berlari mengerjar Dinda.
Vandra meminta Pak Anton supir yang ditugaskan mengantar Vandra kemanapun diminta untuk pergi kerumah Ayah Hadi. Saat ini Vandra ingin menenangkan diri dan juga perasaannya.
Vandra menghampiri Ayah Hadi dan Ibu Hani yang tengah sibuk merapihkan meja bekas pelanggan. Dengan senyuman riang, Vandra menyapa kedua orangtuanya sambil menyerahkan sekotak ice cream berukuran besar. Ibu Hani hafal betul maksud Vandra, pasti saat ini Vandra ingin menenangkan dirinya.
Sejak kecil, disaat Vandra merasa sedih Ibu Hani selalu mengajaknya bermain ditaman sambil menikmati ice cream, dan kebiasaan itu masih melekat pada diri Vandra sampai sekarang. Ibu Hani lalu mengajak Vandra duduk bersama sambil menikmati ice cream.
__ADS_1
***