
Jam hampir menunjukan waktu makan siang. Andra terpikirkan untuk memasan makan dan menikmatinya diruanganya saja. Namun siang itu Andra kedatangan tamu yang tak diduga, Andra tak menyangka Oma akan datang menemuinya. Namun Oma tak datang seorang diri, beliau datang dengan Vivi.
Ada rasa curiga dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba, karna tak biasanya Oma mendatanginya langsung dikantor. Andra mempersilakan Oma dan Vivi duduk, tanpa berbasa-basi Oma mengomeli Andra karna tak menyambut kedatangan Vivi dengan baik dan juga bersikap dingin padanya. Andra sudah menduga hal itu akan terjadi, Vivi akan mengadu dan mencari pembelaan Oma agar Andra tak berkutik mengusirnya dari hidup Andra.
"Vivi sudah menceritakan apa yang terjadi diantara hubungan kalian sekarang. Dra, kenapa sikap kamu jadi seperti ini pada Vivi? Yang Oma tau, kamu itu begitu mencintai Vivi. Lalu kenapa sikap kamu berubah pada Vivi?" Oma mencerca tanya pada Andra tanpa berbasa-basi.
"Oma. Aku menghargai kedatangan Oma kemari, tapi ada baiknya kita membahas soal itu dirumah saja Oma. Aku ga mau ada pembahasan pribadi dikantor, lagipula Aku ini kan sudah menikah Oma. Aku ga bisa bersikap baik ataupun mencintai Vivi lagi seperti dulu" Andra beralasan. Andra terpaksa menjadikan pernikahannya sebagai alasan untuk menghindari Vivi.
"Menikah? Dra, Oma tau kamu tidak mencintai wanita itu. Bangun Dra, Vivi adalah wanita yang terbaik untuk kamu. Pernikahan kamu itu hanya sesaat, pasti pernikahan kalian pun ga akan bertahan lama. Oma juga yakin dia itu perempuan kotor yang hanya memanfaatkan harta kamu, kamu dibodohi Dra" amarah Oma.
Andra merasa terpancing sedikit emosi dengan ucapan Oma. Walau dia tak mencintai Vandra tapi Andra tau Vandra adalah wanita baik, Bahkan Vandra jauh lebih baik dibanding Vivi. Tak ingin ada perdebatan yang tak diinginkan Andra berbohong pada Oma bahwa ia akan bertemu dengan kline.
"Ini udah jam makan siang Oma, aku mau pamit pergi dulu. Ada janji makan siang sama kline" Andra tak berkata apapun lagi, ia keluar ruangan meninggalkan Oma dan Vivi. Sekertaris Riko yang sudah menunggu Andra diluar ruangan bergegas mengikuti Andra.
"Rik, mulai sekarang jangan biarkan siapapun masuk tanpa ijin saya termasuk keluarga saya sendiri" perintah Andra.
"Baik Tuan"
Andra benar-benar merasa kesal dengan sikap Oma, rasanya tak punya ruang bergerak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Andra sejujurnya merasa lelah karna harus tetap bersikap sabar menghadapi Oma, kalau saja Andra tak memiliki rasa hormat mungkin saja Andra akan membentak atau bahkan mengusir dan memberontak pada Oma.
Secangkir cappucino tersaji hangat dimeja. Sambil memandangi arah jalan Andra terus memikirkan kisah hidupnya terutama soal percintaanya yang benar-benar tak seindah yang diharapkan. Siang itu Andra mengunjungi kafe milik Vano. Bagi Andra itu adalah salahsatu tempat nyaman untuk meluapkan segala penat yang dirasa.
Vano menghampiri Andra yang tengah melamun memandangi jalan. Vano sudah bisa menduga Andra sedang mengalami hal yang membuatnya marah, kesal ataupun sedih.
__ADS_1
"Jalanan kalau lo liatin terus ga berhentinya" ledek Vano mengejutkan Andra dengan lamunannya.
Andra tersenyum kecil melihat sahabatnya itu duduk dihadapannya. Vano pasti sudah menyadari kehadiran Andra dikafenya siang itu.
"Gimana nih kabar pengantin baru. Udah Aduhai malam pertama belum nih" bisik Vano meledek Andra.
"Apa sih lo. Ga ada ya hal begituan. Lagian gue sama dia juga pisah kamar"
"Lha, kenapa? hilang kesempatan dong lo"
"Pikiran lo itu mesum ya. Gue masih punya harga diri. Gue ga mau memanfaatkan kesempatan kaya gitu. Lagian juga gue sama dia ga saling cinta"
"Hati-hati tuh omongan, sekarang memang ga saling cinta. Tapi kelamaan tinggal bareng bisa aja kan tumbuh benih cinta" goda Vano.
"Lo nyumpahin gue jatuh cinta sama dia?"tuduh Andra.
Andra membenarkan apa yang diucapkan oleh Vano. Vandra memang lebih baik dibandingkan wanita dari masalalunya termasuk Vivi. Namun sayangnya walau Vandra lebih baik tapi Andra tak mencintainya.
"Bicarain soal masalalu, Vivi datang lagi dikehidupan gue" Andra memberitahu.
"Vivi? maksud lo dia udah balik lagi ke sini?" Tanya Vano mendapat jawaban anggukan dari Andra.
"Terus dia tau kehidupan lo sekarang gimana?" tambah Vano.
__ADS_1
"Seperti yang lo tau, Oma begitu kagum sama Vivi. Bahkan Oma juga kasih tau semua yang terjadi sama hidup gue ke Vivi. Ga ada rahasia apapun yang Vivi ga tau tentang gue, termasuk soal pernikahan rahasia gue sama Vandra"
"Gue ga ngerti sama dia, padahal dia yang mencampakan lo tapi dia juga yang masih berharap sama lo. Terus apa yang mau lo lakuin sekarang?" Vano bertanya.
"Gue harus berpura-pura kalau gue cinta sama Vandra. Dengan begitu Oma dan Vivi ga mudah untuk berbuat semau mereka, gue tau mereka pasti ga akan percaya gitu aja dengan alasan pernikahan yang terjadi diantara gue sama Vandra. Tapi gue akan berusaha untuk nunjukin kalau gue itu ga punya perasaan apa-apa lagi sama Vivi dan gue beneran cinta sama Vandra"
"Ide lo cukup cemerlang. Tapi dimana-mana itu sebuah kerjasama akan menghasilkan hasil yang baik. Dan gue rasa, loe dan Vandra harus saling kerjasama untuk nunjukin hal itu sama Oma dan Vivi" saran Vano.
"Lo bener Van"
"Tapi gimana caranya biar Vandra mau kerjasama untuk lakuin hal itu?" batin Andra.
***
Vania dan Dinda memperhatikan Vandra yang memainkan makanannya dihadapannya, kebetulan siang itu mereka tengan makan siang dikampus kantin. Mereka merasa Vandra terdiam seperti itu karna ucapan mereka yang seolah-olah meminta Vandra mengakhiri perasaanya pada Randy.
"Van, kenapa ga dimakan?" Vania bertanya.
"Kamu marah sama kita ya soal Randy tadi?" tebak Dinda.
"Ga ko. Aku cuma lagi ngerasa bingung aja, apa aku masih sanggup berdiri dihadapan Randy sedangkan status aku sekarang aja udah jadi istri orang" keluh Vandra.
"Aku pengen ketemu dia, tapi aku juga ga mau ketemu sekarang. Aku pengen ketemu dia disaat aku menjadi Vandra yang sebenarnya, bukan Vandra yang sekarang. Aku takut, kalau Randy tau kenyataan status aku sekarang dia akan kecewa dan pergi menghilang lagi, aku ga mau itu terjadi. Andai dia datang satu tahun kedepan aku pasti jauh lebih berani untuk temuin dia dan ungkapin perasaan aku ke dia" tambah Vandra.
__ADS_1
"Maksud omongan lo apa sih? kenapa mesti satu tahun lagi? emang satu tahun kedepan apa yang bakal terjadi?" Vania pernasaran dengan ucapan Vandra.
***