
"Makasih ya, kamu memang selalu bisa memanjakan kebutuhan aku seperti ini. Kamu istri yang luarbiasa, aku gak salah menerima kamu jadi istri aku" puji Andra.
"Iya Mas"
Andra memeluk Vandra dengan erat sembari berbaring bersama ditempat tidur. Setelah beraktifitas yang melelahkan, mereka pun merilekskan diri berbincang kecil bersama.
"Sayang"
"Iya Mas"
"Sejak kapan kamu berteman sama Yasmin?" tanya Andra.
"Belum lama Mas. Kebetulan Yasmin mahasiswi pindahan dikampus aku, aku kenal dia lewat Randy Mas"
"Lalu sejak kapan kamu kenal sama Randy?" Tanya Andra lagi.
"Aku kenal Randy sejak aku masih sekolah Mas, kebetulan Randy satu sekolah dulu sama aku"
"Apa gak ada yang mau kamu ceritakan lebih soal Randy sama aku?" tanya Andra membuat Vandra memandangnya.
"Kenapa Mas bilang gitu?"
"Dari tatapan Randy, sudah bisa dinilai jika dia menyimpan perasaan lebih sama kamu. Aku mau tanya, apa kalian pernah terlibat dalam perasaan yang sama dimasalalu?" Andra penasaran.
"Apa Mas sekarang cemburu juga sama Randy?"
"Iya. Aku cemburu, lelaki mana yang gak cemburu kalau ternyata masalalunya masih ada disekeliling orang yang dicintainya"
"Aku paham rasa cemburu Mas. Tapi Mas harus tau, perasaan aku sama Randy itu sekarang cuma perasaan masalalu. Aku bukannya gak mau menghilangkan Randy dihidup aku, karna Kalau aku menghindari Randy karna perasaanya, itu sama artinya sampai kapanpun aku akan tetap ingat sama perasaan Randy. Makanya itu, aku mencoba berdamai dan berteman sama Randy sampai saat ini. Aku gak mau Mas, merusak pertemenan aku sama Randy hanya karna masalah perasaan kita yang tak bisa sejalan lagi"
"Tapi aku minta tolong kamu bisa membatasi diri ya, aku gak mau semakin kamu membiarkan Randy ada disekeliling kamu semakin besar niatan dia kembali untuk merebut perasaanan kamu dari aku" pinta Andra.
"Iya Mas. Aku akan berusaha untuk tetap menjaga perasaan aku sama Mas"
__ADS_1
"Aku percaya sama kamu sayang. Oh iya, besok aku mau kerumah Oma. Tadi Asisten Oma bilang kalau Oma sakit" Andra memberitahu.
"Oma sakit Mas? sakit apa?"
"Bukan sakit yang serius. Entahlah, aku juga gak tau Oma memang beneran sakit atau engga"
"Kenapa kamu gak peka sih Mas. Harusnya kamu paham, Oma seperti itu karna Oma mencari perhatian kamu dan keluarga yang lain. Kalau kamu punya waktu luang besok, kamu ajak Oma pergi. Aku yakin Oma merindukan sosok kamu dihidupnya, apalagi semenjak kita menikah Oma pasti merasa aku merebut kamu dari hidup Oma" saran Vandra.
"Kenapa kamu harus sebaik ini? padahal Oma menunjukan rasa gak sukanya berlebih sama kamu, tapi kamu masih peduli perasaan Oma"
"Oma bukannya gak suka sama aku Mas. Lebih tepatnya karna aku bukan pilihan terbaik untuk kamu jadi Oma menunjukan rasa gak sukanya itu. Aku yakin Mas, Oma itu sebenarnya hatinya baik, cuma karna Oma mudah terpengaruh dan juga kurang dipahami Oma jadi seperti ini" Vandra mencoba mengerti.
"Kita harus percaya Mas, suatu hari nanti Oma dan kelurga yang lain pasti akan menerima pernikahan kita. Jadi aku harap, Mas jangan pernah membenci Oma apalagi menghindarinya. Kasian Mas, Oma itu juga orangtua kamu. Jadi kamu harus tetap menghormati dan juga memahami sikap Oma saat ini" Vandra menambahkan.
"Makasih ya sayang, kamu memang perempuan yang baik. Papa memang gak pernah salah menilai seseorang, aku sayang sama kamu" Andra bersyukur.
"Aku juga sayang sama kamu Mas"
***
Disaat Vina merasa panik dan putus asa, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepan Vina. Pemilik mobil itu pun membuka kaca jendela lalu menawarkan Vina untuk menaiki mobilnya. Pemilik mobil itu adalah Dino, Dino dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan Vina ke kantornya.
"Ayo masuk, aku antar. Nanti kamu bisa terlambat lho" ajak Dino.
Tak ada pilihan lain, Vina pun dengan terpaksa masuk kedalam mobil dengan cepat. Sejujurnya Vina ingin menolak ajakan Dino karna merasa tak enak, tapi apa daya karna keadaan mendesak Vina pun menerima ajakan Dino.
Sepanjang jalan Vina tak hentinya melihat jam, ia benar-benar takut jika terlambat masuk ke kantor. Melihat ada rasa tak tenang dari wajah Vina membuat Dino seketika inisiatif menelpon Andra.
"Halo Dra"
"Iya Din, kenapa? tumben telpon pagi gini?" tanya Andra.
"Vina lagi sama gue diperjalanan menuju kantor, kayanya dia bakal terlambat karna jalanan macet. Lo sebagai pemilik kantor bisa kan minta Sekertaris Riko buat kasih tau bagian marketing kalau Vina ada urusan jadi dia bakal telat masuk kantor. Dengan alasan begitu, Vina pasti gak akan dapat teguran. Gue minta bantuan lo, bisa kan?" mohon Dino.
__ADS_1
"Iya. Dasar alasan. Gue tutup telponnya" ucap Andra. Andra paham betul dengan ucapan Dino, pasti saat ini Dino begitu bahagia bisa mendapatkan momen bersama Vina.
Dino tersenyum senang, ternyata kali ini kekuasaan Andra begitu bermanfaat baginya. Dengan begitu Dino bisa memanfaatkan waktu berdua dengan Vina. Semoga saja jalanan bisa padat dengan waktu yang cukup lama.
"Kamu tenang ya, keterlambatan kamu nanti gak akan jadi masalah" hibur Dino.
"Kamu kenapa harus lakuin itu? aku kan jadi ngerasa bersikap seenaknya dikantor. Seharusnya kamu gak perlu minta bantuan Andra, lagipula masih ada waktu sedikit ko sampai dikantor tepat waktu" ucap Vina.
"Aku tau. Tapi untuk kali ini kamu maafkan ya sikap aku, tadinya kalau sampai kamu terlambat banget kamu jadi gak perlu dapat teguran dari kantor"
"Iya"
"Oh iya Vin. Nanti malam kamu ada waktu?" tanya Dino memberanikan diri.
"Kenapa memang?"
"Aku mau ajak kamu pergi sama Adit juga. Gimana? kamu mau?"
"Aku harus ijin dulu sama Ayah ya Din"
"Oh ok. Aku tunggu kabar kamu ya"
Dino memberhentikan mobilnya tepat didepan kantor Andra.
"Makasih ya Din udah anterin aku" ucap Vina.
"Iya. Oh ya, ini kartu nama aku. Nanti kamu kabarin aku ya soal nanti malam"
"Iya. Aku pergi ya"
"Iya. Semangat kerjanya"
"Hhmmm"
__ADS_1
Vina berjalan masuk ke dalam kantor sembari memikirkan ajakan Dino. Sebenarnya apa tujuan Dino mengajaknya dan juga Adit pergi? apa Dino ingin mendekatinya? tapi untuk apa dia mendekati perempuan single parent dengan satu anak? tak semua status single seperti Dino mau mendekati, apa Dino tertarik padanya? atau dia hanya merasa kasian padanya dan juga Adit? Vina menduga-duga dalam hatinya.
***