
"Ada apa? Gue tau, pasti ada sesuatu hal yang lo mau bicarain kan? lo mau bicarain soal apa?" tebak Dino. Dari raut wajah Andra, Dino sudah bisa menebak jika Andra sedang ingin mengutarakan apa yang ia pikirkan.
Andra mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Vandra dan keluarganya tentang perlakuan Oma Mira. Bahkan Andra juga mengutarakan tentang rencananya untuk mengumumkan pernikahannya dan juga tempat tinggal baru untuk Vandra.
"Memang kapan lo mau umumin pernikahan lo?" tanya Dino
"Minggu depan. Sebelum itu terjadi, gue bakal pergi selama 3hari untuk tangani tender besar. Gue minta tolong lo cari rumah sekitar sini untuk tempat tinggal gue sama Vandra. Lo bisa kan?" pinta Andra.
"Gue bisa, lo serahin itu sama gue. Tapi kenapa lo berniat beli dirumah sekitar sini? apa Vandra ga nyaman tinggal diapartemen?"
"Gue gak bisa jawab itu Din. Selama ini Vandra memang gak pernah mengeluh dimana dia tinggal. Tapi setelah gue pikir lagi, Vandra pasti ngerasa kesepian selama ini. Apalagi semenjak kejadian perlakuan Oma yang semakin menjadi, gue jadi takut Vandra merasa tertekan dan tinggalin gue. Jadi gue putusin untuk cari rumah disekitar keluarga Vandra, gue berharap dengan begitu Vandra punya kekuatan dan ga ngerasa sendiri lagi"
"Bener juga. Pokoknya lo tenang aja, gue bakal cari rumah yang nyaman untuk tempat tinggal lo berdua"
"Gue percaya sama lo, thanks ya Din. Lo sahabat yang paling gue percaya" puji Andra.
"Iya. Vandra tau soal rencana lo ini?"
"Gak, gue mau kasih kejutan buat dia"
"Ok gue paham"
"Ya udah Ayo masuk, pasti semua udah nunggu" ajak Andra.
"Ok"
Semua menikmati makan malam dengan santai termasuk Vina yang sudah tiba dirumah. Disela makan tanpa dilihat yang lain, Dino yang baru pertama kali bertemu dengan Vina merasa begitu takjub dengan kecantikan juga keramahan yang Vina miliki. Dino bahkan sesekali tersenyum menatap Vina yang tengah berbincang kecil dengan Adit yang duduk disampingnya. Walau Dino mengetahui semua tentang kehidupan Vina lewat Andra, tapi nyatanya sosok Vina mampu membuat Dino jatuh hati pada pandangan pertama.
Selesai acara makan malam Dino berpamitan pada Andra dan keluarga Vandra jika ia harus kembali ke kafe. Sebelum pergi, entah mengapa Dino menghampiri Adit lalu memeluknya dengan erat. Vina tak menduga dengan apa yang Dino lakukan, jujur saja hampir selama 1tahun ini tak ada sosok lelaki selain Ayah Hadi yang memeluk Adit.
"Anak baik, Om pulang dulu ya" pamit Dino tersenyum pada Adit.
"Iya Om, hati-hati" jawab Adit.
Dino berdiri kembali sambil mengelus rambut Adit.
"Om, Tante, semuanya. Saya pamit pulang ya"
"Iya Nak Dino hati-hati"
"Iya Om"
__ADS_1
Kepergian Dino ditatapi terus menerus oleh Dinda, entah kenapa Dino seakan menatap lain semenjak bertemu dengan Vina dan juga Adit. Tak ingin memikirkan hal yang jauh, Dinda ikut berpamitan pulang pada Vandra dan keluarga.
"Kamu pulang naik apa? mau Om antar pulang?" Ayah Hadi menawarkan.
"Gak usah Om. Kebetulan aku udah pesan taxi online, sebentar lagi sampai. Van, aku pulang ya. Besok aku kesini lagi sama Vania"
"Iya Din. Kamu hati-hati ya"
"Om, Tante , semuanya Dinda pamit ya"
"Iya" jawab Ayah Hadi, Ibu Hani, Vina bersamaan.
Selesai mengantar kepulangan Dino dan Dinda, Andra mengajak Vandra berbicara dikamar. Andra ingin memberitahukan tentang kepergiannya pada Vandra. Sambil duduk berdua ditepi kasur, Vandra dengan setia menunggu Andra berbicara.
"Mas mau bicarain apa?"
Andra meraih tangan Vandra lalu mengengamnya.
"Aku mau kasih tau kamu, selama 3hari kedepan aku harus pergi ke kota M. Ada pekerjaan yang harus aku tangani, kamu gak apa-apa kan aku tinggal"
"Gak apa-apa Mas. Jadi, Mas cuma mau bicarain soal ini aja?"
"Iya"
"Iya aku tau, tapi Entah kenapa aku ngerasa berat ninggalin kamu, apalagi sekarang ada calon anak kita diperut kamu" Andra mengelus perut Vandra.
"Mas" panggil Vandra pelan.
"Iya sayang"
"Apa kamu bahagia?" tanya Vandra melihat Andra yang begitu terlihat bahagia mengelus perutnya.
"Sangat bahagia sayang. Apalagi semenjak kehadiran kamu, aku jadi merasa hidup kembali" Andra menjawab dengan senyuman.
"Maaf ya Mas, kalau aku bukan wanita impian kamu. Terkadang disaat aku mau menyerah dengan semua ini, disaat itu pula aku ngerasa gak pantas untuk kamu. Apalagi menghadapi hal yang terjadi sekarang. Aku juga suka berpikir, apa kamu bahagia atau engga hidup sama aku? tapi setelah aku tau kalau kamu bahagia hidup sama aku, aku jadi merasa lega Mas" Vandra bersyukur.
"Kalau begitu Mulai sekarang anggaplah semua yang terjadi adalah perjalanan rasa bahagia kita. Dan aku juga minta kamu untuk tetap disamping aku sampai kapanpun"
"Iya Mas, aku janji aku akan tetap ada disamping kamu. Oh iya, Mas besok berangkat jam berapa?"
"Jam 9"
__ADS_1
"Terus gimana dong Mas, kita kan ada disini. Gimana kamu mau packing pakaian untuk pergi besok. Apa kita pulang aja untuk siapin keperluan Mas"
"Ga perlu sayang, Riko udah menyiapkan segalanya"
"Oh, aku lega dengernya. Ya udah Mas mandi sana, dari pulang kantor Mas belum bersih-bersih kan?" suruh Vandra.
"Emang aku bau ya?" Andra mencium bajunya.
"Gak, Mas wangi ko. Bahkan lebih wangi dari parfum laundry" canda Vandra.
"ih Istri aku udah bisa becanda ya sekarang" Andra mengelus pipi Vandra karna gemas.
"Receh ya becandanya?"
"Gak ko, lucu becandanya. Oh iya, aku hampir lupa kasih tau. Aku udah atur jadwal dokter kandungan untuk kamu di Rumah sakit X, besok siang kamu temuin dokternya ya. Maaf aku ga bisa temenin, tapi kamu tenang aja, aku udah minta tolong Ka Vina untuk temenin kamu"
"Iya Mas, makasih ya untuk perhatiaannya"
"Iya, jangan lupa kabarin aku besok kalau kamu selesai periksa kehamilan kamu ya"
"Iya Mas"
"Ya udah, aku mandi dulu ya"
"Iya"
***
Diruang keluarga, Vina yang menemani Adit mengerjakan tugas tiba-tiba dihampiri oleh Ibu Hani. Sambil membawa segelas susu dan cemilan untuk Adit, Ibu Hani tiba-tiba membahas tentang sosok Ayah baru didepan Vina untuk Adit.
"Cucu Nenek rajin banget. Ini susu dan cemilan untuk Adit" ucap Ibu Hani menyuguhkan dihadapan Adit.
"Makasih Nek"
"Iya"
Ibu Hani terus memandangi Adit yang tengah sibuk dengan tugasnya, namun hal itu membuat Vina terheran. Tak biasanya Ibu memperhatikan Adit seserius itu, apa yang sebenarnya Ibu pikirkan? batin Vina.
"Bu, kenapa Ibu liat Adit seserius itu?" Vina penasaran.
"Ibu cuma merasa kasihan sama Adit, seharusnya diusia Adit seperti ini dia bisa merasakan kasih sayang lebih dari seorang Ayah. Tapi nyatanya itu hanya khayalan. Vin, apa kamu masih belum siap membuka hati kamu lagi?" tanya Ibu Hani.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Ibu Hani membuat Vina begitu paham dengan apa yang dimaksud, memang yang dikatakan Ibu benar. Tapi sampai saat ini perasaan Vina belum mampu untuk menerima hati yang baru.
***