
Oma menghela nafas kasar melihat sikap Andra yang seolah tak menghargainya lagi. Melihat Oma yang tengah kesal membuat Vivi memanfaatkan momen itu. Vivi menghasut Oma untuk menemui Vandra, bukan tanpa alasan. Vivi hanya ingin Oma membuat Vandra pergi dari hidup Andra.
Oma meminta Asisten Lina untuk mencari keberadaan Vandra dan meminta Vandra datang menemuinya dirumah Utama. Asisten Lina menuruti perintah itu, Vivi merasa senang karna Oma bisa terhasut dengan ucapannya. Dengan begitu Vivi tak perlu berusaha keras untuk menyingkirkan Vandra.
Siang itu Vandra selesai dengan kuliahnya. Dan disaat Vandra bersiap untuk merapihkan buku, sebuah dering telpon masuk dihandphonenya. Vandra sempat ragu untuk mengangkatnya, tapi karna merasa penasaran dengan yang menelpon Vandra akhirnya mengangkatnya.
"Halo"
"Selamat siang Nona Vandra" sapa penelpon disebrang sana yaitu Asisten Lina.
"Siang, maaf ini siapa?" Vandra bertanya.
"Saya Asisten Lina Nona, saya diminta Nyonya besar Mira untuk meminta Nona datang kerumah utama" ucapnya.
"Buat apa Oma Mira minta aku datang kerumahnya? apa ada sesuatu hal yang salah lagi?" batin Vandra.
"Baik. Saya akan kesana sekarang"
"Baik Nona. Nyonya besar akan menunggu Anda"
Perbincangan itu berakhir. Vandra menebak-nebak dipikirannya tentang Oma Mira yang ingin menemuinya. Vandra yakin pasti ada hal yang ingin dibahas tanpa sepengetahuan Andra.
"Dinda, Vani. Aku pulang duluan ya" Vanda berpamitan.
"Lho, kenapa? katanya kita mau jalan ke mall. Lagi ada promo menu makanan terbaru tau, gue kan pengen coba" rengek Vania.
"Aku ada urusan dulu. Kalian duluan aja, nanti kita ketemuan disana. Aku duluan ya, nanti kabarin aja. Bye" Vandra berlalu pergi.
__ADS_1
"Urusan apa sih tuh anak. Lo tau ga Dinda?"
"Mana aku tau Vani, nanti kita tanyain dia aja. Ya udah yuk kita pergi duluan" ajak Dinda.
"Ayo"
Vandra memberhentikan taxi menuju rumah utama. Sepanjang perjalanan Vandra merasa gugup dan juga penasaran, sebenarnya ada apa Oma Mira ingin menemuinya? seingat Vandra, Oma Mira tak menyukainya apalagi tentang pernikahannya dengan Andra.
Tiba dirumah utama, Vandra menunggu Oma Mira seorang diri diruang keluarga. Tak lama Oma Mira datang menghampiri, Vandra terheran dengan sosok yang datang bersama Oma. Siapa dia?.
Vandra mendudukan dirinya mengikuti Oma dan juga sosok wanita disamping Oma yang tak lain adalah Vivi. Vivi ingin menyaksikan amarah Oma pada Vandra dengan kedua matanya, rasanya akan sangat menyenangkan jika Vandra bisa pergi dari hidup Andra. Pikir Vivi.
Vandra dan Vivi saling menatap, walau sejujurnya ada rasanya tak terduga dirasakan Vivi saat bertemu Vandra tapi Vivi mencoba bersikap biasa. Vivi tak menyangka jika Vandra ternyata memiliki fisik dan paras yang cantik, Vivi mengakui hal itu. Tapi Vivi juga tak merasa kalah dengan kecantikan yang Vandra miliki.
"Jadi ini Oma istrinya Andra?" tunjuk Vivi Angkuh.
"Siapa dia? Kenapa tatapannya sinis begitu?" batin Vandra menatap Vivi.
"Vandra, kamu pasti belum tau kan dengan perempuan disebelah saya ini? Dia Vivi, wanita yang paling Andra cintai" tegas Oma Mira memberitahu.
Vandra menatap sekilas Vivi. Untuk apa Papa Tomy meminta Andra menikah dengannya sedangkan Andra memiliki wanita yang ia cintai? Apa ada yang salah dengan wanita ini? Sampai Papa Tomy tak rela Andra menikah dengannya?. duga Vandra.
"Senang bertemu dengan kamu" ucap Vandra pada Vivi sembari tersenyum. Tak ada yang salah dengan Vivi apalagi Vandra cemburu padanya soal Andra, walau status Vandra sebagai istri Andra tapi bagi Vandra sosok Vivi tak akan berpengaruh apa-apa dalam pernikahannya bersama Andra, karna diantara Andra dan Vandra tak ada rasa saling cinta.
"Kenapa kamu bersikap biasa begitu? kamu ga marah atau cemburu?" Oma bertanya.
Vandra tersenyum mendengar tanya Oma. Seperti dugaanya, Oma pasti ingin merusak pernikahannya dengan Andra lewat kehadiran Vivi.
__ADS_1
"Buat apa cemburu dan Marah Oma, Vivi itu kan hanya masalalu. Jadi aku menganggap biasa hal itu, dan ga ada yang perlu ditakuti juga" santai Vandra menjawab.
"Apa kamu seyakin itu Andra mencintai kamu dan ga akan goyah dengan kehadiran Vivi?" Oma memastikan.
"Oma, namanya pernikahan itu kan harus saling yakin dan percaya. Aku yakin suami aku mencintai aku dan ga akan pernah mengkhianati aku. Lagian juga, ga mungkin kan suami aku nikahin aku kalau dia masih mencintai Vivi" yakin Vandra.
Vandra sejujurnya merasa lucu harus memanggil Andra dengan kata suami pada Oma, tapi mau bagaimana lagi. Vandra terpaksa melakukan itu, ia tak mau merasa dihakimi karna kehadiran Vivi. Bisa saja Vandra mengatakan jika ia tak mencintai Andra, hanya saja saat ini Vandra harus berpura-pura mencintai Andra agar kesepakatan dengan Andra tak diketahui.
"Punya rasa percaya diri darimana kamu? denger ya, Andra itu cinta mati sama aku. Kamu ini orang baru dihidup dia, apalagi kalian menikah juga karna permintaan Om Tomy. Siapa yang akan percaya kalau Andra itu cinta sama kamu?" kekeh Vivi mempertahakan pendapatnya bahwa Andra masih mencintainya.
"Kalau kamu mau mau memastikan ucapan aku, silakan kamu temui dan tanyai sendiri" Vandra menyuruh Vivi.
"Ternyata sikap asli kamu begini ya, tidak tau malu. Saya benar-benar ga menyangka Andra bisa mendapatkan perempuan seperti kamu. Dengarkan saya baik-baik, sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau menerima kamu dikeluarga ini. Jangan harap juga pernikahan kamu akan diketahui semua orang" amarah Oma.
"Sebenarnya tujuan Oma meminta aku kesini untuk apa? apa Oma hanya mau menunjukan Vivi dihadapan aku? Maaf Oma kalau ucapan aku terkesan tidak sopan, tapi aku bener -bener ga suka kalau Oma menggangu pernikahan aku dan suami aku. Aku menghargai Oma, tapi aku ga bisa terima kalau ada masalalu datang mengganggu pernikahan aku" cecar Vandra.
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu pada saya" bentak Oma.
"Aku cuma mau mengutarakan apa yang aku rasain Oma. Maaf Oma, kalau ga ada lagi yang mau dibahas aku lebih baik pergi. Permisi"
Tak ingin ada perdebatan yang panjang Vandra memutuskan untuk pergi, Vandra sejujurnya juga tak ingin berdebat soal Andra dengan Oma dan Vivi. Tapi Vandra merasa kesal jika mereka terus mengusiknya hanya karna Andra, kalau saja kesepakatan itu bisa Vandra utarakan rasanya ingin sekali memberitahu mereka apa yang terjadi.
Tak ingin memikirkan kejadian bersama Oma dan Vivi, Vandra memutuskan untuk pergi kemall menemui Vania dan Dinda. Rencananya mereka akan menikmati makan dan menonton bioskop bersama. Hampir 30menit perjalanan Vandra sampai dilobby mall, Vandra meraih handphonenya didalam tas untuk mengubungi Dinda.
Sambil berjalan melihat Handphonenya tak segaja Vandra menabrak tubuh seseorang, dan tentu Handphone Vandra refleks terjatuh dari tangannya, Vandra bergegas mengambil handphonennya begitupun dengan seseornag yang ditabraknya, Vandra mengucapkan kata maaf sembari melihat seseorang itu. Dan betapa terkejutnya Vandra dengan seseorang dihadapanya itu. Orang yang selalu dia harapakan dan menunggu kedatangannya.
"Randy"
__ADS_1
***