
Semakin Vania pikirkan semakin membuat Vania penasaran. Sebenarnya suapa wanita yang diauka oleh dino? apa Vania mengenalnya? San wajita seperti apa dia itu? Vania bertanya-tanya dalam benak hatinya.
Disaat Vandra, Andra, Vania, Dinda, Vina, Aruki dan Dino berkumpul, Tak segaja Andra membicarakan sosok wanita yang kini tengah disukai Dino dihadapan Vandra dan semua orang. Dino sedikit malu karna wanita yang disukaijya ada dihadapannya, tak ingin terlihat salah tingkah Dini mencoba bersikap seperti biasanya.
"Gimana nih perkembanganya? cerita dong" Goda Andra pada Dino.
"Apaan sih, perkembangan apaan?"
"Pura-pura gak paham. Menurut kalian, Dino sama Ka Vina serasikan?" tanya Andra pada Arumi, Dinda dan Vania.
Vania, Dinda dan Arumu saling menatap Andra bersamaan. Sejujurnya diam-diam Arumi juga menyukai Dino, hanya saja Arumi menyukai Di i dalam diam Mereka bertiga tak menyangka jika Andra akan mengajukan pertanyaan seperti itu pada mereka.
"Maksud ucapan Kaka apa?" Tanya itu spontan keluar dari mulut Vania.
"Memang Ka Dino sama Ka Vina pacaran?" Arumi bertanya tiba-tiba untuk memastikan.
Merasa malu digoda oleh Andra, Vina berpamitan pergi untuk menghampiri Ibu Hani dan juga Mama Amira yang tengah berbincang berdua. Menyadari Vina tengah merasa malu Dino pun refleks mengerjar Vina untuk membicarakan soal ucapan Andra.
Beberapa pasang mata itu bisa menilai jika Dino memang benar-benar menyukai Vina. Vania, Dinda dan Arumi hanya bisa terdiam dan merasa cemburu melihat Dino mengejar Vina dihadapan mereka. Apa ini artinya perasaan mereka harus terhapuskan begitu saja pada Dino? melihat sikap Dino, sekan membuat harapan memiliki seakan sirna begitu saja.
__ADS_1
"Ka, apa ucapan Kaka itu serius kalau Ka Dino suka sama Ka Vina?" tanya Arumi lagi.
"Iya. Dino memang suka sama Ka Vina, menurut kamu mereka serasi juga kan? kaka bahkan begitu berharap mereka segera meresmikan hubungan mereka. Apalagi Ka Vina perempuan yang baik untuk mendampingi Dino" jawab Andra.
Vandra bisa melihat kesedihan diwajah Arumi, Dinda dan Vania. Walau sejujurnya Vandra terkejut dengan tatapan tak suka Arumi saat Andra memberitahu perasaan Dino sebenarnya pada Vina. Tapi mau bagaimana lagi, semua hak perasaannya adalah milik Dino jadi pada siapapun hatinya berlabuh itu adalah hak perasaannya.
Keheningan beberapa saat pun tak bisa terhindarkan, Andra yang memang tak mengetahui perasaan Arumi, Vania dan Dinda yang menyukai Dino hanya bersikap biasa dan tak mencurigai apapun. Lain hal dengan Vandra, Vandra merasa tak tega dan bingung dengan luka perasaan tiga wanita dihadapannya. Rasanya ingin menghibur, tapi apa daya. Sejauh apapun Vandra meleburkan kesedihan lewat kata, jika menyangkut tentang perasaan pasti setiap insan tak akan mudah melupakaan rasa sakitnya begitu saja.
***
Panggilan Dino membuat Vina menghentikan langkahnya lalu menatap kearah Dino. Tanpa harus menjelaskan arti tatapan Dino, Vina akhirnya menyerah dan mengerti jika Dino ingin menjelaskan apa yang sedang ingin Dino utarakan padanya.
"Maaf soal ucapan Andra tadi" Dino memulai pembicaraan.
"Aku mau tau, sebenarnya apa maksud kamu mengajak aku pergi?" tanya itu akhirnya terlontar dari rasa penasaran Vina.
Dino terdiam beberapa saat sambil menatap hangat Vina.
"Din, aku gak tau apa maksud kamu untuk mendekati aku. Yang pasti, Kamu tau kan kehidupan aku seperti apa sekarang? kalau memang kamu punya perasaan sama aku, aku akan hargai itu Din. Tapi aku gak akan bisa untuk mengijinkan kamu begitu aja masuk dalam kehidupan aku sekarang. Perasaan aku masih sama Din, masih terluka dengan masalalu terdahulu"
__ADS_1
"Dan Mau sejauh apapun kamu memaksa untuk terus berusaha dekatin aku, jawaban aku tetap sama. Aku gak bisa untuk menjalani hubungan lebih dengan siapapun termasuk kamu. Lihat diri kamu sekarang Din, kamu mapan dan juga masih single. Aku yakin banyak diluaran sana perempuan yang pantas kamu sukai"
Dino tersenyum kecil mendengar ucapan Vina. Dino sadar, saat ini Vina dengan terang dan jelas menolak perasaanya walau Dino belum sempat mengutarakannya.
Dino menghela nafas kasar.
"Vina. Sebelum aku mengajak kamu, aku udah memikirkan semuanya. Status, kehidupan kamu bahkan kehadiran Adit, semua aku terima dan aku udah pikirkan itu baik-baik. Aku tau gak mudah menjadi kamu, tapi sampai kapan kamu akan memepertahan kan rasa trauma kamu? apa kamu merasa bahagia sama hal itu? Aku yakin jawaban kamu pasti gak bahagia. Sekarang kamu lihat Adit, apa kamu pikir Adit nyaman hidup tanpa didampingi sosok seorang Ayah? Jangan egois Vin, hidup kamu sekarang bukan untuk diri kamu tapi untuk Adit juga"
"Aku bukan mau menyudutkan luka kamu. Tapi sampai kapan kamu akan menolqk lelaki yang berniat untuk membahagiakan kamu dan Adit? Kamu harus ingat Vin, semakin kamu terlalu mengabaikan dan menolak perasaan seseorang akan semakin sulit untuk kamu terlepaa dari luka itu. Dan sekarang bukan saatnya kamu mementingkan diri kamu. Lihat Ayah, Ibu, Vandra dan juga Adit. Mereka semua berharap kamu bahagia, jadi tolong. Jangan terlalu menuiksa diri dan perasaan kamu karna luka masalalu, dan mulailah untuk membuka perasaan untuk seseorang yang berniat untuk membahagiakan kamu"
Dino seakan lega bisa menguatarakan apa yang ia rasakan. Rasanya amat sangat berharap Vina bisa mendengarkan dan memahami isi dan maksud hatinya.
Melihat tatapan tulus Dino, membuat Vina terdiam dan berpikir. Jika diingat, sosok Vino adalah sosok lelaki yang baik dan semua keluarganya bisa menerima kehadirannya dengan terbuka. Tapi, apa ini sudah saatnya mengakhirnya semua luka yang terasa selama ini? mengingat, Vina juga sebenarnya sudah mulai rindu merasa bahagia dan bisa dicintai lagi oleh seorang lelaki.
"Apa kamu benar-benar yakin Din dengan perasaan kamu?" Vina memastikan.
Vina menatap Dino dengan penuh harap menanti jawaban yang akan ia dengar. Sejujurnya, apapun perasaan Dino padanya itu adalah hak Dino seutuhnya. Tapi bagaimana jika Dino benar-benar serius dengan perasaanya dan ingin menyakinkan hatinya? apakah ini awal perasaan dan kisah baru lagi untuk hidupnya?.
***
__ADS_1
***