
Jam 6 pagi dering handphone membangunkan Andra dari tidurnya, sambil mengusap wajah Andra mengambil handphonenya yang terletak diatas nakas. Andra mendudukan dirinya sambil melihat layar telponnya, ada apa Sekertaris Riko menelponya pagi hari begini?.
"Halo" Andra memulai pembicaraan.
"Selamat pagi Tuan, maaf menelpon pagi hari"
"Iya, ada apa Rik"
"Maaf atas keterlambatan saya karna tak mengetahui hal ini Tuan, baru saja artikel tentang pengakuan Nona Vivi yang mengaku sebagai kekasih Anda tersebar dimedia. Saya akan mencoba menarik berita itu dan menutup pemberitaan ini" ucap Sekertaris Riko.
Andra tak menyangka dengan ucapan Vivi semalam, ternyata ucapannya benar-benar tak bisa dianggap sepele. Tak bisa berpikir jernih, Andra pun menyetujui ucapan Sekertaris Riko untuk mengurus pemberitaan yang dibuat oleh Vivi.
"Baiklah Rik, kamu urus tentang itu"
"Baik Tuan"
Andra meletakan kembali handphonenya. Andra mengusap wajahnya dengan kasar, apa lagi sekarang? kenapa disaat perasaannya mulai bangkit persoalan tentang Vivi harus menjadi sebuah permasalahan sekarang. Apa tak semudah itu mendapatkan seseorang yang pantas untuk dicintainya lagi?.
Andra bergegas bersiap untuk pergi kekantor, karna mulai hari ini dia akan bersiap menghadapi hal yang akan terjadi menyangkut dengan Vivi. Semua media, partner bisnis, orang-orang perusahan termasuk keluarganya pasti akan menanyakan persoalan Vivi padanya.
Disela Andra bersiap diri, Vandra sudah siap terlebih dahulu mempersiapkan sarapan. Saat Vandra meletakan piring dimeja makan, sebuah notif masuk dihandphonenya. Vania mengirim artikel berisi pengakuan Vivi pada media tentang statusnya menjadi kekasih tersembunyi Andra pada Vandra. Merasa tersayat hati, Vandra mendudukan tubuhnya dengan lemas. Apa maksudnya ini? apa Andra memang menjalin hubungan tersembunyi dibelakangnya? apa mereka benar-benar berpacaran? duga Vandra.
Tak berselang lama Andra keluar dari kamarnya dengan setelan kantor. Vandra refleks menatap Andra, ia seketika menyembunyikan kesedihannya dan berpura-pura tak terjadi apapun. Vandra kembali kedapur untuk menyiapkan secangkir teh untuk Andra, sambil menahan rasa cemburu Vandra sesekali menatap Andra yang tengah sibuk memainkan handphonenya.
"Ini Mas teh untuk kamu" Vandra menyuguhkan.
Tak disadari Vandra bersikap acuh dengan ekspresi datar pada Andra sambil menyantap sarapannya. Andra tak berpikiran apapun dengan tingkah Vandra, mungkin saja dia sedang tak ingin berkomunikasi seperti biasa. Tak lama sebuah dering telpon masuk dihandphone milik Andra, Andra hanya menatap layar handphonenya. Saat ini pasti para dewan direksi akan meminta klarifikasinya tentang berita yang terjadi.
Andra segera menghabiskan sarapannya lalu berpamitan pergi pada Vandra. Saat ini pasti perusahan akan mendapat sebuah permasalahan karna pengakuan Vivi. Andra hanya berharap semoga pemberitaan ini bisa diatasi secepatnya.
__ADS_1
Vandra menatap kursi kosong tempat Andra duduk. Apa pemberitaan yang terjadi itu benar? apa Andra dan Vivi memang berpacaran? mengingat selama ini Andra dan Vandra memang tak pernah menjalani pernikahan ini dengan penuh cinta dan saling melengkapi. Apa sekarang akhir dari pernikahan sementaranya dengan Andra? Tuhan, kenapa rasanya hancur sekali perasaan ini? sekarang sia-sia saja semuanya, berharap pernikahan ini tumbuh rasa cinta hanya menjadi sebuah impian yang tak pernah bermakna.
Sebuah bel berbunyi ketika Vandra bersiap pergi ke kampus, Vandra dengan cepat membuka pintu. Seorang kurir datang membawa sebuah buket bunga mawar putih dan juga sebuah kue tart bertuliskan ucapan selamat ulang tahun Andra. Vandra termenung, apa hari ini ulang tahun Andra?.
"Apa benar ini kediaman apartemen Tuan Andra?" tanya kurir.
"Benar"
"Ini ada kiriman bunga dan juga kue tart untuk Tuan Andra dari Nona Vivi. Mohon diterima"
Vandra meraih bunga dan juga kue tart yang dikirimkan untuk Andra, sambil mendatangi kertas bukti penerima Vandra segera masuk dan menyimpannya diatas meja.
Vandra menatap bunga dan juga kue tart untuk Andra. Dan ada sebuah surat yang terselip dibunga itu, merasa penasaran Vandra membuka dan membaca surat itu.
Happy brithday Andra sayang...
Semoga dihari lahir kamu ini, kamu menjadi sosok yang terus mencintai aku sampai kapanpun. Dan aku berharap kamu juga selalu bahagia dan terus selalu menjadi Andra yang baik dan juga penyayang.
Aku sayang kamu Andra Wijaya❤
...Vivi...
Vandra mulai meneteskan airmatanya. Seharusnya Vandra menyadari akan hal ini sebelumnya, Andra dan dirinya memang berbeda bahkan tak pantas bersama. Kebersamaan mereka saat ini pun tak ada arti apapun untuk Andra, tapi kenapa Vandra harus mengharap lebih seperti ini? Sekarang apa yang harus Vandra lakukan dan jelaskan? pasti sekarang keluarganya akan mempertanyan tentang pemberitaan itu.
Dan yang ditakutkan Vandra terjadi, Ayah Hadi menelponnya saat itu. Vandra segera menghapus aairmatanya dan menghembuskan nafas agar tak terdengar menangis sebelumnya. Tak ingin membuat Ayah Hadi khawatir Vandra segera mengangkat telpon Ayah Hadi.
"Halo Ayah"
"Halo Van, Gimana kondisi kamu? Ayah dengar pemberitaan dimedia soal Nak Andra dan juga Vivi. Sebenarnya apa yang terjadi? apa pemberitaan itu benar?" tanya Ayah Hadi.
__ADS_1
Vandra mencoba bersikap tenang, ia tak ingin Ayah Hadi mengkhawatirkannya.
"Pemberitaan itu ga benar Ayah. Ayah dan Ibu jangan khawatir soal itu ya" pinta Vandra.
"Van, bagaimana Ayah dan Ibu tidak khawatir, ini menyangkut dengan pernikahan anak Ayah. Bagaimana bisa ada perempuan yang mengaku sebagai kekasih nak Andra sedangkan status Nak Andra sudah menikah dengan kamu"
Ucapan Ayah Hadi benar. Orangtua mana yang tak khawatir jika pernikahan anaknya mengalami hal seperti itu.
"Aku tau Ayah dan Ibu khawatir. Tapi percaya sama aku Yah, pemberitaan itu ga benar. Perempuan itu bukan kekasih Mas Andra, Ayah tau kan Mas Andra itu seorang penguasa muda? Wanita manapun pasti mengharap jadi kekasih Mas Andra. Aku yakin perempuan itu hanya mengaku-ngaku sebagai kekasih Mas Andra Yah" Vandra mencoba menjelaskan.
"Apa kamu yakin dengan ucapan kamu?" Ayah Hadi memastikan.
"Aku yakin Ayah. Aku percaya sama Mas Andra, aku tau yang paling Ayah khawatirkan itu pernikahan aku yang tersembunyikan? Aku tegasin sama Ayah, pemberitaan itu ga benar. Ayah harus percaya sama Mas Andra" Vandra terus menyakinkan.
"Baiklah Ayah percaya. Ayah hanya takut kamu terluka Van, apalagi pernikahan kamu dan Nak Andra yang tak diketahui orang-orang. Ayah takut kamu menjadi istri yang tak dianggap oleh orang-orang disekitar Nak Andra" ketakutan Ayah Hadi.
Vandra begitu merasa bersalah dan bersedih mendengar ucapan Ayah Hadi. Hal seperti ini saja sudah membuat Ayah Hadi dan Ibu Hani begitu khawatir dan takut. Lalu bagaimana Vandra menghadapi pernikahan sementara ini yang sebentar lagi akan berakhir? Vandra tak bisa membayangkan reaksi dan perasaan Ayah Hadi dan Ibu Hani nanti.
"Ayah sabar dan jangan khawatir lagi ya. Pemberitaan ini pasti akan berlalu, dan juga suatu hari nanti akan ada saatnya pernikahan aku dan Mas Andra diketahui semua orang. Ayah dan Ibu selalu doakan yang terbaik untuk aku dan Mas Andra ya"
"Iya Van, Ayah dan Ibu pasti akan selalu mendoakan kamu. Ayah sekarang bisa tenang mendengar penjelasan kamu, kalau begitu Ayah lanjut siap-siap buka kedai ya"
"Iya Ayah, aku juga mau siap pergi kuliah"
"Hati-hati kamu ya"
"Iya Ayah. Sampai nanti Ayah, Dah"
"Dah"
__ADS_1
Vandra merasa bersalah harus bersikap seperti itu pada Ayah Hadi, Vandra tak bisa membayangkan jika pemberitaan itu benar. Pasti Ayah dan Ibu akan sangat begitu terluka.
***