
Selesai acara Akad nikah, keluarga inti Andra dan Vandra berkumpul. Mereka membahas soal dimana Andra dan Vandra akan tinggal, Vandra merasa sedikit sedih, itu artinya dia akan berpisah dengan keluarganya. Tapi Vandra harus kuat dan tak menunjukan kesedihannya itu.
"Ayah akan menyerahkan semuanya pada Vandra dan juga Nak Andra. Dimana pun mereka tinggal itu adalah hak mereka" ucap Ayah Hadi.
"Jadi gimana Dra? Dimana kamu akan mengajak Vandra tinggal?" tanya Papa Tomy.
"Aku sudah menyiapkan apartemen Pah, Yah. Kalau boleh saya juga mau meminta ijin pada Ayah untuk mengajak Vandra tinggal mulai besok disana. Ayah akan mengijinkan kan?" tanya Andra pada Ayah Hadi.
"Ayah dan Ibu tentu akan mengijinkan, lagipula Vandra sekarang bukan tanggung jawab kami lagi. Nak Andra sekarang kan sudah menjadi suami Vandra sudah seharusnya Vandra mengikuti dimana Nak Andra tinggal" jawab Ayah Hadi.
"Terimakasih Yah atas ijinnya"
"Iya Nak Andra"
"Akhirnya sekarang Papa bisa lega, kamu sudah menikah dengan Vandra. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia ya" doa Papa Tomy.
"Iya Pah, makasih doanya" ucap Andra.
"Mama juga seneng Dra, selamat ya. Sekarang kamu ada yang menemani hari-hari kamu dan juga ada yang memperhatikan kamu. Kamu harus bisa menjaga Vandra dengan baik ya" pinta Mama Amira.
"Iya Nak Andra, Ibu juga minta tolong jaga Vandra. Maaf kalau misalkan sikap, ucapan dan pemikiran Vandra masih belum dewasa. Ibu juga minta bantuan Nak Andra untuk selalu memberitahu Vandra jika Vandra berbuat salah" Ibu Hani menlanjutkan.
"Iya Bu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik yang menjaga Vandra. Ibu dan Ayah ga perlu khawatir" ucap Andra.
"Iya Nak Andra, Ibu dan Ayah percayakan Vandra pada Nak Andra"
"Kenapa rasanya sesedih ini ya, aku pikir kalau aku menjalani pernikahan ini aku akan baik-baik aja. Tapi nyatanya, perasaan aku salah. Mulai besok aku akan tinggal bersama si Tuan Muda, apa aku mampu bertahan selama 1tahun hidup bersama dia?" batin Vandra.
Hari mulai malam, keluarga Andra berpamitan untuk pulang. Andra yang sudah resmi menjadi suami Vandra malam itu menetap tinggal dirumah Vandra, setelah keluarga Andra pulang Ayah Hadi menyuruh Andra untuk beristirahat dikamar Vandra.
Vandra merasa canggung satu kamar bersama Andra, ini adalah pertama kalinya ada lelaki asing yang masuk kedalam kamarnya. Vandra merasa bingung harus melakukan apa, akhirnya Vandra memiliki ide untuk membuat pembatas diatas kasurnya dengan tumpukan bantal dan juga boneka. Vandra tak ingin ada hal tak diinginkan saat sedang tidur terlelap.
__ADS_1
Andra yang masih saja berdiri menatap apa yang sedang Vandra lakukan. Rasanya sangat lucu, melihat Vandra merasa takut dan khawatir jika dirinya melakukan hal diluar batas saat tertidur nanti.
"Apa ketakutan dan rasa khawatir kamu berlebihan seperti itu? kamu pikir saya akan menyentuh kamu? jangan mimpi kamu, saya ga punya niatan seperti itu" ucap Andra.
Vandra menatap serius sambil menatap curiga.
"Saya cuma berjaga-jaga aja, namanya kesadaran orang tidur itu kan ga tau. Lagian Anda itu laki-laki, harus diwaspadai"
"Maaf ya, kamu itu bukan tipe saya. Jadi hal seperti itu ga akan pernah terjadi. Awas kamu, saya mau istirahat" Andra mengusir Vandra lalu membaringkan tubuhnya dikasur.
"Dasar Tuan Rese, kalau bukan karna Ayah dan Ibu udah aku usir dari kamar" gumam Vandra kesal.
Vandra ikut membaringkan tubuhnya. Karna terhalang tumpukan bantal dan boneka, Andra maupun Vandra tak bisa saling mengetahui sedang apa yang dilakukan. Andra dan Vandra malam itu tak bisa memejamkan mata, bahkan sesekali Vandra melirik kesamping untuk memastikan Andra tak melewati batas yang ia buat.
Jam menunjukan pukul 12 malam, tanpa diduga Vandra dan Andra sudah saling memejamkan mata. Bahkan tumpukan penghalang diantara mereka masih utuh, Vandra hanya berharap semoga pagi cepat datang dan semua tumpukan penghalang masih sama seperti semalam.
***
Pagi menjelang Andra sudah terbangun terlebih dulu, Andra menghembuskan nafas lega. Tumpukan penghalang diantaranya dan juga Vandra masih utuh, itu artinya semalam mereka tidur tanpa menyentuh satu sama lain. Andra memutuskan kekamar mandi untuk membersihkan diri, karna hari itu hari libur Andra bisa dengan santainya menjalani pagi itu.
"Selamat pagi Ibu, Ayah, Ka Vina" Sapa Andra.
"Pagi, Nak Andra sudah bangun? Vandra mana?" tanya Ibu Hani.
"Vandra masih tidur Bu"
"Ya ampun, pasti karna ini hari libur jadi Vandra segaja telat bangun. Maaf ya Nak Andra, pasti Vandra lupa kalau sekarang dia punya kewajiban yang harus dia lakukan" Ibu Hani merasa tak enak.
"Ga apa-apa Bu, saya memaklumi. Pasti perlu adaptasi dengan kewajibannya sekarang"
"Terimakasih ya Nak Andra atas pengertiannya, nanti Ibu akan mengingatkan Vandra"
__ADS_1
"Iya Bu"
"Nak Andra ayo duduk, Ayah sudah siapkan secangkir teh dan juga kue tart buatan Ayah" ajak Ayah Hadi.
"Iya Yah"
Pagi itu Andra, Ibu Hani, Ayah Hadi dan Vina berbincang pagi bersama. Vina dan Andra sekarang mulai bisa saling mengenal lebih sebagai adik dan Kaka ipar, walau mereka sudah menjadi ipar tapi tetap saja dikantor mereka akan kembali menjadi seorang karyawan dan juga atasan yang tak saling mengenal.
Dikamar Vandra mulai tersadar dari tidurnya, dilihat Andra sudah tak berada disampingnya. Sama seperti Andra, Vandra bisa bernafas lega karna semalam tak terjadi apa-apa dan juga tumpukan penghalang masih terlihat utuh.
Vandra lalu bergegas menuju kamar mandi, setelah selesai mandi dan merias diri Vandra keluar untuk menyapa keluarganya yang pagi itu pasti sudah berada dikedai. Namun saat Vandra baru saja menutup pintu kamar, Vina memanggilnya dari arah dapur. Kebetulan Jarak dapur dan kamar Vandra tak terlalu jauh Vandra bisa terlihat jika ia keluar dari kamarnya.
"Iya Ka, ada apa?" tanya Vandra pada Vina yang sedang menyiapkan sarapan.
"Kamu kenapa baru bangun, liat diluar sana. Suami kamu udah bangun tuh" komentar Vina.
"Suami?" Vandra terkejut mendengar Vina menyebutkan kata suami.
"Iya suami kamu, kamu ini lupa ya udah nikah?"
Vandra tersenyum kecil. Vandra bukannya melupakan statusnya sekarang yang sudah memiliki suami, hanya saja Vandra merasa asing dan belum terbiasa dengan kata suami.
"Ga lupa Ka, cuma aku belum terbiasa aja kalau aku udah nikah" Vandra beralasan.
"Kamu ini ya, Harus dibiasakan lho mulai sekarang. Ingat, suami itu wajib kamu layani dan perhatiin. Ga boleh lho kamu telat bangun dari suami kamu, jangan diulang lagi ya" Vina mengingatkan.
"Iya Ka, Ada yang perlu aku bantu?" Vandra bertanya karna melihat Vina terlihat sedikit repot menyiapkan makanan, maklum saja sekarang ada tambahan satu penghuni dirumah.
"Tolong kamu siapin roti diatas meja ya, Kaka mau buat omlet dulu buat Adik ipar" tolong Vina.
"Iya Ka"
__ADS_1
Vandra menuruti apa yang Vina perintahkan, rasanya cukup merepotkan harus menyiapkan juga sarapan istimewa untuk Andra.
***