
Andra masih diam terduduk disofa menunggu Vandra keluar dari kamarnya. Hampir jam 8 malam Vandra masih bertahan dikamarnya, Andra mulai khawatir karna Vandra sudah melewatkan jam makan malamnya. Andra lalu berinisiatif membawakan makanan untuk Vandra.
Tok... tok...
"Vandra" panggil Andra mengetuk pintu kamar Vandra.
Tak ada sautan dari dalam kamar Vandra.
"Apa dia udah tidur?" gumam Andra.
Ingin memastikan keadaan Vandra, Andra dengan berani membuka pintu kamar Vandra. Dan benar saja, Andra tengah melihat Vandra tertidur sambil menangis. Perlahan, Andra mulai mendekati Vandra. Jujur saja, melihat Vandra seperti ini seolah ada rasa tak tega dibenak Andra.
"Van, Vandra" Andra memanggil duduk didekat Vandra, namun tak ada jawaban apapun.
Andra mencurigai Vandra terlihat seperti mengigil, Andra lalu memegang dahi Vandra.
"Kamu demam Van" Andra sedikit panik.
"Mas ambil obat dulu ya buat kamu" Andra bergegas mengambil obat yang selalu tersedia dikotak khusus.
Andra membantu Vandra duduk bersandar disandaran kasur. Wajah lemas dan mata sembab seakan tak terhindarkan terpasang diwajah Vandra. Andra merasa tak tega melihat Vandra seperti itu. Ingin rasanya bertanya, namun saat ini Andra tak mungkin menanyakan penyebabnya.
"Kamu makan dulu ya"
"Aku ga lapar Mas" tolak Vandra.
"Kamu ga boleh begitu, kamu ini tanggung jawab Mas. Kalau kamu sakit itu artinya Mas ga bisa jaga kamu. Ayo buka mulut kamu" paksa Andra.
Vandra dengan terpaksa membuka mulutnya. Dengan telaten Andra menyuapi Vandra dengan penuh perhatian, tak ada perdebatan atau perkataan dingin diantara mereka saat itu.
Selesai menyuapi, Andra memberikan obat untuk Vandra. Tiba-tiba Andra mengelus pucuk rambut Vandra, Vandra cukup terkejut mendapat perlakuan seperti itu.
"Sekarang kamu istirahat ya. Mas akan jaga kamu"
Andra menyelimuti Vandra agar Vandra tetap hangat saat tertidur. Karna teringat kejadian kemarin malam , Andra memutuskan untuk tidur disofa kamar Vandra. Andra tak ingin Vandra merasa tak nyaman jika Andra memaksa menemani Vandra tidur disampingnya.
__ADS_1
Andra tak mampu memejamkan matanya, ia mengusap wajahnya lalu menghampiri Vandra yang sudah tertidur lelap. Andra menatap dalam wajah Vandra yang sangat terlihat cantik, jujur saja Andra memang mengakui kecantikan Vandra.
***
Pagi menjelang Vandra terbangun dari tidurnya, Vandra merasa tubuhnya menjadi lebih baik. Pandangan Vandra tiba-tiba tertuju pada soaok Andra yang tengah tidur pulas disofa. Vandra mengambil selimut lalu menghampiri Andra dan mengumam ucapkan terimakasih pada Andra karna sudah menjaganya semalam.
"Ga nyangka ternyata Tuan kutub ini baik juga" batin Vandra memandangi.
"Kamu pasti tersentuh sama ketampanan saya kan" ucap Andra sambil memejamkan mata.
Sadar memandangi Andra refleks membuat Vandra berbalik badan, namun tubuh Vandra terhenti saat Andra memegang tangan Vandra. Andra membuka matanya lalu duduk menarik Vandra duduk dipangkuannya.
Vandra terkaku dengan tatapan Andra yang begitu dekat dengan wajahnya, bahkan yang membuat Vandra menjadi lebih salahtingkah ketika Andra memengang dahi Vandra.
"Demam kamu udah turun. Aku lega" Andra mengucap syukur.
Saling menatap tak bisa dihindarkan oleh mereka berdua, dan perlahan tatapan itu membawa mereka pada situasi yang mendebarkan. Andra memandangi bibir manis Vandra, walau sebelumnya Andra sudah mengecup bibir itu tapi entah kenapa rasanya menjadi candu baginya. Tubuh Vandra pun seakan diam terkaku menatap Andra, dan tanpa disadari mereka berdua pun melakukan ciuman pagi yang sungguh mengairahkan untuk pertama kalinya tanpa paksaan.
Cukup lama mereka berciuman, sampai akhirnya dering telpon Andra memecah hal manis yang mereka lakukan. Vandra refleks berdiri salah tingkah, ia pun lalu bergegas pergi menuju kamar mandi. Andra menatap senyum tingkah Vandra, andai saja Sekertaris Riko tak menelponnya pasti ciuman itu masih terus mereka lakukan.
"Gimana ini. Kenapa coba bibir ini harus refleks terima perlakuan itu? Aaaa..aaaa Malu Tuhan" rengek Vandra sambil menatap kaca.
Selesai mandi, Vandra memberanikan diri keluar kamar. Keluhan perut lapar tak mampu dihindarkannya, berharap Andra masih dikamarnya Vandra pun berencana membuat sarapan dan akan memakannya dikamar. Tapi sayangnya, Andra sudah duduk siap mengajak Vandra untuk sarapan.
"Ayo duduk, kamu harus sarapan" perintah Andra.
Tak ingin berdebat, Vandra berjalan perlahan lalu duduk dikursi menghadap Andra. Menatap sarapan dihadapannya membuat nafsu makan Vandra tergoda, dengan cepat Vandra mengambil makanannya lalu menyantapnya.
"Mas udah minta Sekertaris Riko untuk menghubungi pihak kampus kamu kalau hari ini kamu ga bisa masuk kuliah" ucap Andra tiba-tiba.
"Kenapa gitu? aku udah ngerasa baik-baik aja, jadi ga perlu ijin ga masuk kampus" protes Vandra.
"Kamu harus nurut sama perintah suami kamu. Kesehatan kamu itu penting, kamu baru sembuh. Jadi jangan banyak protes, Mas mau kamu istirahat dulu"
Vandra tak mampu berkata apapun lagi. Sebenarnya Vandra masih merasa sedikit tak enak dengan badannya, hanya saja ia menutupinya dari Andra.
__ADS_1
"Mas juga hari ini ga masuk kantor. Mas mau jaga kamu" Andra memberitahu sembari fokus pada makanannya.
"Ga usah. Aku bisa jaga diri aku sendiri ko"
Andra menatap Vandra.
"Kamu jangan banyak protes. Habisin makan kamu, terus minum obat dan istirahat. Nanti siang akan ada tamu jadi kamu harus terlihat sehat" Lagi-lagi Andra memerintah.
Baru saja Vandra memujinya sekarang Andra mulai lagi dengan kata-kata menyebalkannya. Lagipula siapa tamu yang akan datang? kenapa harus aku yang menyambutnya juga? apa sespesial itu tamu yang akan datang? guman batin Vandra.
***
Randy terdiam duduk ditaman kampus seorang diri. Tak ada yang membuatnya bergairah pagi itu, Randy hanya sibuk memandangi langit pagi yang tampak mendung seperti suasana hatinya. Tak lama Dinda datang menghampiri, Randy memang segaja menunggu Dinda karna sebelumnya Randy meminta Dinda untuk bertemu.
"Hai Rand" sapa Dinda.
"Hai"
"Ada apa? tumben kamu ngajak aku ketemu" Dinda bertanya.
"Aku mau tau yang sebenarnya langsung dari kamu Din"
"Soal apa Rand?" Dinda tak mengerti.
"Apa ada sosok lain dihati Vandra?"
Dinda terkejut mendengar pertanyaan Randy, apa yang harus Dinda jawab. Yang Dinda tau Vandra memang mencintai Randy tapi Dinda juga tak tau lagi tentang perasaan Vandra bagaimana saat ini. Mengingat saat ini juga ada sosok Andra yang menjadi suami Vandra, dan bisa saja hati Vandra goyah karna pertemuan mereka yang intens.
"Kenapa kamu tanya itu Rand?"
"Aku mau tau. Aku ngerasa aneh dengan ucapan kamu dan Vandra yang sama. Entah kebetulan atau memang ada yang disembunyikan, aku bener-bener ga bisa pastiin. Sebenernya perasaan Vandra itu masih tetap sama atau mulai berubah sama aku Din? kamu sahabatnya, aku yakin kamu tau jawabannya" memelas Randy mengharap Dinda menjawab tanyanya.
Dinda terdiam, tak ada jawaban yang mampu membalas tanya Randy. Lalu apa yang harus Dinda jawab?.
***
__ADS_1