
Hay, reader..... bahagia bisa dapat respon para pembaca tentang kisah Elang dan Kayla. Tenang aja mereka enggak akan cepat bertemu (tidak semudah itu Ferguso πβ), semangat untuk yang sedang bacanya maraton.
Sempat tidak PD up kisah Kayla di sini karena di toko sebelah sempat ditolak katanya cerita tidak menarik π,, sabar menunggu update ya. Love you seabreg abreg.
#jangan lupa mampir di karya author 1 lagi ya
...~ β‘ Happy Reading β‘~...
"Kayla Do, aku harus ketemu Kayla. Foto yang loe kirim ini Kayla. Daerah mana ini, biar gue susul ke sana?"
"Nanti dulu Lang, ini tempat pusat perbelanjaan. Disusul ke sana juga belum tentu masih ada. Tapi bisa dipastikan Kayla ada di Bandung dan dia sehat. Sabar Lang, kita tunggu info lagi dari mereka."
Ria dan Kayla sudah tiba di Ruko, setelah kurang lebih menempuh perjalanan 30 menit. Bara menurunkan bahan-bahan yang dibeli oleh Ria.
"Kay, gue mau buat yang model begini. Loe bisa jahitnya?" tanya Ria sambil menyerahkan sketsa gaun pada Kayla.
"Ini yang merancang siapa?"
"Ya gue lah."
Kayla mengernyitkan dahinya, ternyata wanita pemilik usaha di hadapannya ada perancang busana juga.
"Bisa, aku bisa."
"Gue ada rencana buka usaha gaun pesta dan gaun pengantin dan ini pesanan pertama. Kalau respon bagus mau gue seriusin."
"Ukurannya?" tanya Kayla.
"Ini," jawab Ria sambil menunjukan ukuran tubuh pemesan gaun.
"Jadi, aku yang jahit sampai selesai atau ..."
"Hmm, kita buat dari 2 jenis bahan."
"Oke,"
"Kay, kerjakan di lantai 2, di rungan khusus," titah Ria.
Kayla hanya menunjukan ibu jarinya, lalu pergi ke ruangan yang dimaksud oleh Ria.
Bara mendekati Ria yang sedang mengecek pembukuan, "Ngapain sih percayain pesanan baru sama Kayla."
__ADS_1
"Sekalian mau tau kemampuan dia. Hasil kerjanya bukan abal-abal, gue curiga sama identitas dia."
"Bukannya dia udah ngunjukin ktpnya? Mana coba lihat." Ria menyerahkan fotocopy ktp Kayla, lalu Bara memfotonya dan menyerahkan kembali pada Ria.
"Mau ke mana loe, barang udah dikirim belum?" tanya Ria. "Udah beres, bawel bener deh."
Bara masuk ke ruangannya, memandang layar monitor lalu membuka ponselnya dan menampilkan kembali foto dari identitas Kayla lalu berselancar dengan komputernya.
***
Sudah hampir 3 hari Kayla mengerjakan gaun yang dirancang oleh Ria, bahkan sudah hamlir selesai. Mengerjakannya dengan hati-hati, kini gaun tersebut sudah digantung dalam manekin tinggal mengerjakan detail finishing.
"Teh Kayla," panggil Lia, gadis yang juga bekerja pada Ria.
"Hmm," jawab Kayla. Lia masuk ke dalam ruangan tempat Kayla mengerjakan gaunnya.
"Teh, ini kan malam minggu. Anak-anak mau jalan, mau ikut enggak? Kita keliling Bandung teh."
"Loh, sudah sore ya. Kayaknya aku enggak ikutan, mau istirahat aku kurang sehat. Mual aku kumat lagi nih," jawab Kayla sambil membereskan perlengkapan kerjanya.
"Owh iya, pucat ih wajah teteh. Ya udah atuh mending pulang terus istirahat."
"Iya, sorry ya Lia. Mungkin lain kali aku ikut," sahut Kayla.
"Shhh, Bunda perut Kay sakit." Kayla merintih, ia menangis. Dalan batinnya ia nengeluh ternyata hidup sendiri itu sulit.
Sudah dua hari ini ia merasakan mual muntah yang lebih parah dari biasanya, belum lagi sulit tidur karena terus memikirkan Elang. 'Aku tidak boleh menyerah, mereka sudah menyakitiku. Om Elang pasti mencariku, dia harus merasakan sakit hati seperti yang aku alami,' batin Kayla sambil menitikan air mata.
Di tempat berbeda, Rika, Reka dan Avano sedang berada di Glow Cafe. Karena malam minggu suasana cafe cukup ramai.
Reka dan Avano yang baru saya mengakhir game dengan kemenangan, namun Reka yang melihat adik kembarnya diam saja sejak tiba di cafe, "Kenapa cantik? Ngelamun aja," tanya Reka sambil merangkul bahu Rika.
Vano pun menoleh ke arah Rika. "Aku kangen kak Kay, dia di mana ya ? Sedih aku tuh, pasti perasaannya hancur banget sampai pergi seperti ini," ujar Rika sambil mengusap air matanya.
Reka dan Vano saling memandang melihat Rika yang sudah menitikan air mata. "Ini semua karena abang kamu tau," ucap Rika pada Vano. "Emang dasar laki-laki tuh brengs*k."
"Enggak semua juga Rik, aku enggak loh. Kalau enggak percaya coba aja pacaran sama gue," ujar Vano sambil bersandar pada kursinya.
Bughhh, Rika memukul lengan Vano. "Gue tuh lagi sedih, loe nembak gue. Enggak ada romantisnya," ucap Rika.
"Apaan, enggak ada pacar-pacaran. Gue enggak mau jomblo sendirian," sahut Reka.
__ADS_1
"Gue juga bingung sama pola pikir orang dewasa, contohnya kita ini, kalian anak dari wanita yang pernah menikah sama Ayah gue. Gimana kalau nanti kita berjodoh ya? Besanku adalah mantan istriku," tutur Vano.
"Takdir kaleee, udahlah itu bukan urusan kita. Gue juga kangen kak Kay tapi mau gimana. Papih yang udah punya tim untuk cara keberadaannya aja belum ada titik terang apalagi kita. Mau cari ke mana ?" ungkap Reka.
"Kalian sadar enggak sih kalau dipikir Kak Kay memang tidak sebahagia kita, dia selalu berada di tengah. Orangtua kita lengkap dan selalu berada di belakang kita. Beda dengan Kak Kay, ketika dia butuh kedua orangtuanya, mereka sudah berada di pihak yang berbeda walaupun Bunda sama Papih juga sayang banget sama Kak Kay, termasuk juga Ayah Agha tapi aku ngerasa kak Kay enggak sebahagia kita. Apa ini contoh dari korban perceraian orangtua ya," jelas Rika.
"Wowww, daebak. Gue enggak nyangka Rika bisa berfikir sampai sejauh itu. Kirain kepala lo isinya drakor doang," canda Vano.
Reka terdiam, batinnya membenarkan apa yanh disampaikan Rika. "Tapi kita bisa apa?" Ujar Reka.
"Aku mau pulang," sahut Rika.
"Ayo," ajak Reka. "Lo jadi nginep di tempat gue?"
"Enggak, gue mau cari info tentang Kak Kay ke Ayah sama Bang Eltan."
"Oke, nanti kita berkabar aja."
Bukan hanya keluarga yang merasakan kerinduan pada Kayla, Elang yang selain merasa rindu pada istrinya juga merasa sangat bersalah.
"Kay, kamu di mana sayang?" ucap Elang sambil memandang foto Kayla di ponselnya.
Keeaokan harinya Kayla berniat memeriksakan kehamilannya, mencegah terlacaknya keberadaan saat ini Kayla hanya mendatangi tempat praktek Bidan bukan Rumah Sakit.
"Kalau bersasarkan hasil USG dan perhitungan tanggal terakhir datang bulan, saat ini sudah masuk 12 minggu ya." Bidan menjelaskan usia kehamilan Kayla.
Kayla menyampaikan keluhan yang ia rasakan. "Jangan terlalu lelah apalagi stress, ibu hamil harus selalu bahagia agar perkembangannya juga baik. Dipaksa makan ya, ganti menunya kalau sering muntah."
"Neng Kayla," panggil Bibi penjaga kostan saat Kayla baru saja memarkirkan motornya.
"Itu ada tamu," ucap Bibi.
"Dari mana?" tanya Ria yang sudah berada di ruang tamu rumah kost Kayla. Kayla yang melihat Ria dan Bara sedang menunggunya tampak lega, ia khawatir jika tamu yang dimaksud adalah orang suruhan keluarganya.
"Dari Bidan," ucap Kayla lalu duduk di sebelah Ria.
"Bidan ? Lo hamil ?" tanya Ria dijawab Kayla dengan mengangguk.
Ria dan Bara saling menatap, "Apa ini alasan lo melarikan diri?" tanya Ria.
"Sepertinya lo harus mulai ceritakan ini, agar kita bisa putuskan bisa bantu lo atau enggak," ucap Bara sambil meletakan tablet di meja yang mana layarnya menampilkan berita tentang Kayla yang sebelumnya ramai dipemberitaan.
__ADS_1
__________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ππ