Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Menekan kode yang sama, dan pintu pun terbuka. Menyusuri kamar yang pernah ditempati Kayla. Perlahan membuka pintu, "Sayang," panggilnya melihat Kayla berbaring dengan posisi miring sambil terisak.


Kayla menoleh Elang yang menghampirinya, "Jangan dekat," ucap Kayla.


"Kayla," panggil Elang sambil mendekat ke arah ranjang. Kayla menggeser tubuhnya sambil memegang perutnya. Tangis sudah tidak dapat ditahan.


"Lebih baik Mas El pergi, tinggalin aku. Aku enggak pantas jadi pendamping Mas El. Aku..." kalimat Kayla terhenti karena Elang dengan gerakan cepat menghampiri dan memeluk Kayla.


"Sstttt, kamu mau terjadi sesuatu dengan anak kita ini," ucap Elang sambil mengelus perut Kayla.


"Tapi aku..."


Elang menangkup wajah Kayla dan menghapus air mata yang membasahi wajah istfinya. "Ingat kata Dokter, tidak boleh stress."


"Tidak usah dengarkan kata orang," ucap Elang.


Kayla menatap kedua mata Elang, "Mas Elang yakin tidak masalah ?"


"Masalah apa?"


"Aku kan pernah disentuh keponakan Mas El." Kayla menundukan kepalanya. "Itu sudah aku ketahui sebelum kita menikah, Kay," jawab Elang.


"Tapi aku malu, karena apa yang dikatakan Mami Laksmi ada benarnya"


"Sudahlah Kay, kamu enggak percaya kalau aku tidak mempersoalkan itu, kan dari dulu juga aku sudah tau." Kedua mata Kayla menatap lekat netra milik Elang, tidak ada kebohongan di sana.


Elang mendekati Kayla, dan mellumat lembut bibir ranum Kayla. Penuh gelora terbakar api asmara "Mau bukti kalau aku tidak permasalahkan hal tadi?" tanya Elang dengan menempelkan kening mereka setelah melepaskan pagutannya.


"Hal itu bukan masalah, yang jelas aku mencintai kamu apa adanya. Bahkan seharusnya aku bersyukur kamu menerima dengan segala kekurangan aku Kay," ungkap Elang.


"Aku buktikan ya?"


"Bukti gimana sih," ujar Kayla. Elang tersenyum penuh arti, ia melepaskan semua penutup tubuh Kayla.


"Bukti, kalau hal itu bukan masalah, yang jelas aku mencintai kamu apa adanya. Bahkan seharusnta aku bersyukur kamu menerima dengan segala kekurangan aku Kay," ungkap Elang.


"Mas," ucap Kayla. "Tenang aja, aku akan pelan-pelan," sahut Elang.


Berikutnya suasana kamar apartement Dipta berubah menjadi lebih panas karena kegiatan mereka berdua.


Bahkan Elang membuat Kayla mendessah dan melenguuh menikmati sentuhan dan gerakan yang membawa mereka melambung menikmati manisnya puncak madu cinta.


Tanpa mereka sadari pemilik apartement hadir, berniat mengecek keadaan Kayla. Namun mendengar erangan dan desaahan dari pasangan yang memadu kasih tanpa menutup rapat pintu kamar akhirnya Dipta urung melakukan niatnya.


"Bener-bener ini orang, gue mah mikirin dari tadi takut kabur lagi si Kayla. Eh, malah kikuk-kikuk di kamar gue," ucap Dipta saat keluar dari unitnya.


"Halo, Bun."


"Dipta, gimana? Elang sudah bertemu Kayla belum. Bunda tunggu kabar dari tadi."


"Sudah Bun, udah tenang aja. Kayla sudah aman kok."

__ADS_1


"Beneran kamu sudah ketemu Kayla? Bunda takut dia kabur lagi."


"Kayla ada di apartemen aku, suaminya juga ada di sana."


"Reka, kasih tau adik kamu, Kayla sudah bersama Nak Elang," pinta Meera pada Reka saat ia mengakhiri telpon Dipta.


Di tempat berbeda, Eltan baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran Cafe, Rika langsung berlari masuk.


Eltan melihat Rika berbicara dengan pemilik cafe, "Kak Kay enggak ada ke sini," ucap Rika lalu duduk di salah satu kursi dan membuka ponselnya.


"Owh, Kak Elang sudah menemukan Kak Kayla."


"Serius?" tanya Eltan sambil duduk di kursi bersebrangan dengan Rika.


Rika mengangguk, Eltan menghela nafas lega. Rika menatap Eltan dengan memicingkan mata, "Kenapa?" tanya Eltan.


"Bang Eltan kenapa tadi khawatir begitu, jangan bilang kalau masih suka dengan Kak Kay," ujar Rika.


Eltan berdecak, "Wajarlah khawatir, Kayla seperti itu karena ulah Ibu Aku," jawabnya.


"Mumpung sudah sampai sini dan aku lapar, aku mau pesan makan. Bang Eltan yang bayarin ya." Rika memanggil waitress meminta buku menu.


Eltan memindai Rika yang sedang membolak balik lembaran buku menu. Masih mengenakan seragam SMAnya, Rika terlihat imut. Wajahnya sedikit memiliki raut wajah Kayla, mungkin turun dari Bunda Meera. Sama cantik seperti Kayla, bedanya yang ini versi ceria dan cenderung galak.


"Bang Eltan mau pesan apa?" pertanyaan Rika membuyarkan lamunan Eltan. "Enggak usah, eh minuman aja."


"Apa?"


"Es jeruk aja. Aku butuh yang segar-segar," jawabnya. "Aku juga seger," ucap Rika ambigu, membuat Eltan melamunkan hal-hal konyol karena statement Rika.


Eltan mengendarai mobilnya mengantar Rika, "Bang Eltan kenapa sih enggak jadi menikah?" Bikin Mamih darting aja."


"Belum jodoh," jawab Eltan singkat.


"Ya cepat cari gantinya, biar Kak Kay enggak disalahin terus sama Mamih."


Eltan tersenyum jahil, "Kamu mau jadi gantinya?" candanya. "Bisa semaput Mamih Laksmi kalau sampai aku jadi menantunya. Bisa-bisa Mamih sama Bunda berdebat terus kalau bertemu."


Eltan masih fokus pada kemudinya, "Seandainya beneran jodoh gimana?"


Rika menoleh pada Eltan, "Ini maksudnya Bang Eltan nembak aku?"


"Seandainya, aku bilang seandainya."


"Avano aja udah aku tolak, enggak mau berurusan sama Ibunya Bang Eltan."


"Kamu pacaran sama Vano?"


"Tolak Bang, Vano sudah aku tolak," jawab Rika. "Kalau aku berjodoh sama Abang, nanti Bunda akan buat status viral 'Besanku, istri dari mantan suamiku', kaya judul sinetron ikan terbang."


Eltan terbahak mendengar ocehan Rika.

__ADS_1


Rika akan membuka seatbeltnya saat Eltan sudah memarkirkan mobilnya di carport kediaman Kevin.


"Jadi gimana ?" tanya Eltan menggoda Rika.


"Apanya?"


"Masalah jodoh."


"OMG, diseriusin. Aku mah bicara bercanda."


"Lalu."


"Lalu bang Eltan pulang deh. Aku enggak mau punya pacar Om-om. Berasa kayak sugar baby," jawab Rika.


"Astaga mulut kamu, aku belum setua itu sampai dipanggil Om."


Tok tok tok


Mereka menoleh ke arah kaca yang diketuk Reka. "Ajudan aku udah mgambek," ujar Rika. "Aku masuk dulu ya Om," ledek Rika sambil membuka pintu mobil.


Eltan hanya menggelengkan kepalanya. Terdengar pertanyaan posesif Reka pada saudari kembarnya.


Elang dan Kayla sudah berada di apartemennya sendiri, "Hari ini sepertinya jadwal aku padat, kamu mau tetap di sini atau ke tempat Bunda?"


"Disini aja," jawab Kayla.


"Ayah Agha ingin bertemu kamu Kay, kamu belum aktifkan ponsel ya ?" tanya Elang, Kayla yang sedang memainkan remote TV dengan pandangan fokus pada layar tidak menjawab.


"Beliau ingin bertemu sambil makan siang," ucap Elang, "bagaimanapun mereka orangtua kamu Kay. Kita selesaikan masalah jangan menghindar dari masalah."


"Kalau kamu merasa hubungan dengan Mamih kamu tidak baik, bahas dan sampaikan agar tidak berkelanjutan. Jadi, bisa aku sanggupi siang ini kita bertemu Ayah dan Mamih kamu?"


"Iya," jawab Kayla.


"Nah, gitu dong. Istri siapa sih, gemesin banget," seru Elang sambil mencubit pipi Kayla.


"Ihh, sakit tau." Elang hanya terkekeh, "Nanti, dijemput supir ya ?"


"Hmm."


Kayla sebenarnya enggan bertemu dengan Agha dan Laksmi. Namun yang dikatakan Elang benar, dia harus menyampaikan perasaannya, perasaan diabaikan dan disalahkan.


to be continue ....


haiii, seru deh komentar dua bab kemarin 😁, sabar ya Mak, bu-ibu dan kakak2 sekalian, tidak perlu emosi menghadapi Laksmi. Cukup kita emosi menghadapi harga minyak goreng ya meroket.....


lanjut silaturahmi \=\=>ig : dtyas_dtyas


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2