Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Karena Ibu


__ADS_3

Eltan hanya bisa menghela nafasnya saat mendengarkan respon Rika saat tau dirinya hamil. "Bang El janji ajak aku honey moon, belum terlaksana tapi aku udah hamil. Dasar tukang bohong," ujar Rika. 


"Bisa, kita masih bisa pergi tapi judulnya jangan honey moon. Liburan ya," jawab Eltan sambil kembali mengambil sup jamur yang akan disuapi pada Rika. Aroma rempah yang keluar saat membuka penutup kotak bekal itu sangat kuat. 


"Kemana?" tanya Rika. Eltan menyuapkan sendok berisi nasi dan kuah sup ke depan mulut Rika. "Kamu maunya kemana?" Eltan terus mengajak Rika ngobrol sampai isi kotak bekal yang ia pegang hampir habis. 


"Sudah Bang, perut aku mual," sahut Rika. "Libur semester aku udah lewat, libur berikutnya masih lama,” ucap Rika sambil cemberut. Eltan kembali duduk disamping ranjang Rika setelah meletakan gelas minum Rika. "Bisa ambil weekend," jawab Eltan. 


"Itu sih cuma sebentar, aku maunya yang agak jauh." 


"Kemana?" 


"Hmm ... Bang El kepala aku pusing lagi."


"Ya udah kamu baringan lagi, mau aku panggilkan dokter?" tanya Eltan sambil menaikan selimut sampai ke pinggang Rika. Rika menggelengkan kepalanya, memilih memejamkan matanya. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus tanda si pemilik tubuh telah terlelap. 


Eltan bersandar di sofa, tubuhnya terasa lelah. Bergegas pulang ke Jakarta saat mendengar Rika masuk rumah sakit, saat hendak memejamkan matanya, Laksmi datang berkunjung. 


"Ibu sama siapa?" 


"Mas Agha, dia sedang jenguk Kenan, Rika hamil?" tanya Laksmi yang ikut duduk di sofa sambil menatap Rika yang sedang tertidur. 


"Iya." 


Laksmi menghela nafasnya, "Kenapa kamu tidak tunda dulu, Rika kan masih kuliah. Yang ada bikin kamu susah, kayak sekarang ini. Belum apa-apa sampai dirawat segala, gimana kalau perutnya sudah semakin membesar saat melahirkan dan menyusui nanti."


“Aku mencintai Rika dan sangat bahagia saat tau dia hamil, bahkan aku ingin dia melahirkan banyak keturunan aku. Rika harus dirawat karena memang fisiknya, bukan dibuat-buat,” sahut Eltan pelan karena khawatir membuat Rika terbangun.


“Ibu tidak yakin pernikahan kamu akan awet,” ucap Laksmi yang memicu emosi Eltan. Pria itu hendak menjawab ocehan ibunya namun urung karena Rika yang terlihat bergerak tidak nyaman. Eltan bergegas menghampiri Rika, “Kenapa? Apa yang sakit?” tanya Eltan penuh khawatir.


Rika berbaring miring membelakangi Eltan, “Aku mau pulang, enggak nyaman tidur di sini,” ucapnya yang hanya alasan. Ia mendengar ucapan Laksmi barusan yang langsung membuatnya ingin menangis.


Laksmi menghampiri Rika, “Rika, kamu jangan manja. Bukan kamu aja perempuan yang bisa hamil. Enggak usah lebay,” ucap Laksmi.

__ADS_1


“Bu, cukup. Rika sedang sakit,” sela Eltan. Rika hanya diam sambil mengeratkan pegangannya pada selimut. Eltan tidak ingin kasar pada ibunya, juga tidak ingin berdebat, namun ibunya memang kelewatan. Dendam kesumat apa yang ada pada hati Laksmi hingga bersikap seperti itu.


Tidak lama kemudian Agha masuk ke dalam kamar, berbasa basi sebentar dengan Eltan lalu mengajak Laksmi pulang. Rika masih pada posisinya, berbaring miring dengan arah berlawanan.


“Sayang,” ucap Eltan menyentuh lengan Rika yang langsung ditepis olehnya. Terlihat tubuh mungil itu bergetar, karena isak tangis Rika. Eltan merangkak naik ke brankar Rika ikut berbaring dan memeluk tubuh itu. “Kamu dengar yang Ibu sampaikan?”


“Enggak, aku kan tuli,” ucap Rika disela isak tangisnya. “Sayang jangan begini, kepala kamu akan tambah pusing kalau dibawa menangis.”


“Lalu aku harus gimana? Terbahak, waktu dengar ucapan Mamih.” Rika bangun dari posisinya yang diikuti dengan Eltan. Lalu berusaha turun dari brankarnya, “Mau kemana?” tanya Eltan sambil merangkul tubuh Rika.


Rika terdiam lalu menggeser tiang infusan agar memudahkan ia melangkah. “Rika, mau kemana?” tanya Eltan dengan intonasi yang berbeda. “Mau ke toilet, Bang El pikir ada berapa pilihan tujuan di kamar ini.”


“Sabar Eltan,” ucapnya dalam hati.


Eltan hanya bisa mengikuti Rika yang berjalan mendorong tiang infus. Khawatir jika tiba-tiba tubuh istrinya koleps. Berada dalam toilet, “Bang El ngapain berdiri disitu,” ucap Rika.


“Aku tunggu kamu, khawatir butuh bantuan.”


Rika berdecak, “Sana, tunggu di luar. Enggak usah ngeliatin.”


“Kepengen juga enggak apa-apa kali,” ujar Eltan sambil membelakangi Rika.


“Mut, tidur ya. Ini sudah malam,” ajak Eltan karena Rika masih saja duduk di ranjangnya, enggan untuk berbaring. Wanita itu bergeming dengan ucapan suaminya, “Kamu harus banyak istirahat, katanya pusing,” ucapnya lagi.


“Mamih Laksmi enggak suka aku jadi menantunya.”


Mendengar ucapan Rika, Eltan menempelkan dahinya pada kedua kaki Rika yang terjulur ke bawah, “Bukan begitu sayang, beliau hanya khawatir tapi mengungkapkan dengan kata yang kurang pas.”


“Sudahlah Mut, tidak usah dipikirkan. Yang jelas aku sayang kamu, jangan ragukan aku.”  Eltan berdiri lalu merapihkan helaian rambut Rika. “Sekarang tidur, aku juga perlu istirahat. Agar besok fit untuk temani kamu,” pinta Eltan.


.


.

__ADS_1


.


Esok pagi, Rika yang muntah pada baskom stainles karena morning sickness. Eltan membantu Rika minum air hangat setelah ia mengeluarkan isi perutnya. “Kamu berbaring lagi, aku buang ini dulu.”


“Bang El, aku mau pulang,” rengek Rika. Akhirnya saat dokter visit, Eltan mengatakan keinginan Rika. Saat Eltan sedang mengurus kepulangan Rika, Laksmi kembali datang menjenguk Rika.


“Eltan kemana?”


“Ke kasir Mih, aku mau pulang,” jawab Rika, posisinya kini masih berbaring. “Iyalah, ngapain juga kamu lama-lama dirawat. Bikin susah suami kamu aja, tinggal bareng dengan Mamih aja, Eltan pasti lagi mikirin hal ini,” ujar Laksmi.


Saat perawat sudah melepaskan jarum infusan, Eltan memberikan pakaian ganti untuk Rika dan membantu Rika ke toilet. “Eltan, Rika itu cuma hamil bukan cacat. Kamu jangan manjakan dia terus.”


“Bu, aku yang buat dia begini, jadi wajar kalau aku khawatir dengan kondisinya. Ini bukan dalam rangka manja ...”


“Bang El, aku bisa sendiri,” ucap Rika lalu melepaskan tangan Eltan.


Dalam toilet, Rika duduk di atas closet yang tertutup. Hormon kehamilan membuatnya cengeng, ia pun menangis lagi. Biasanya ia akan dengan gagah menjawab kalimat sarkas dari Laksmi, namun saat ini hanya bisa diam tanpa menjawab.


Berada dalam mobil, Eltan memutuskan akan membawa Rika pulang ke rumah Kevin karena kondisi Rika. Namun Rika menolak, ia masih mengingat omongan Laksmi. “Aku enggak bisa tinggalin kamu sendiri saat aku kerja, Mut,” ucap Eltan sambil mengemudi. Rika yang bersandar ke kaca disisinya kembali kembali menangis tanpa suara.


“Pokoknya aku mau pulang ke apartement!” Eltan menghela nafasnya dan menuruti keinginan Rika.


Saat tiba di apartement, “Loh, ngapain duduk di sini,” ujar Eltan karena Rika memilih duduk di sofa, “ayo ke kamar, wajah kamu masih pucat.” Rika menggelengkan kepalanya, “Bang El mau berangkat kerja?” tanya Rika.


“Enggak.”


“Aku enggak apa-apa kok kalaupun Bang El mau berangkat, aku bukan anak manja. Sebentar lagi bakal ...”


“Rika,” ucap Eltan, “waktu aku urus pembayaran, Ibu ngomong apa sama kamu?” Rika hanya menggelengkan kepalanya. Eltan kembali mendekat pada Rika, “Ibu bilang apa? Ini karena Ibu kan?”


Rika kembali menggelengkan kepalanya, sambil menggigit bibirnya menahan tangis. 


_______

__ADS_1


Mak lampir dateng lagi gaesss,


jangan lupa jejaks yesss☺


__ADS_2