
(Beberapa part menjelang tamat)
“Eltan mesumm!!!”
Eltan beranjak dari posisinya, “Eh, mulai berani ya,” ucap Eltan sambil tertawa lalu meraih tubuh Rika dan membaringkannya. Dalam posisi mengungkung, Eltan melummat bibir yang selalu menjadi candu. Memagut kasar dan liar mengingat tidak lama lagi ia akan sangat merindukan hal ini karena harus terpisah sementara.
Rika terengah lalu menghirup oksigen untuk mengembalikan deru nafasnya saat Eltan melepaskan pagutannya. Bergegas melepaskan semua penutup tubuhnya, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan di depan mata.
Tak ketinggalan, Eltan pun membuat tubuh Rika polos tanpa sehelai benang pun. Rika meremmas rambut Eltan saat pria itu kembali asyik bermain di bagian depan tubuh Rika. “Ba-ng El,” panggil Rika lirih menahan gai*rah.
“Hmm,” sahut Eltan yang kembali menelusuri bagian tubuh Rika. “Mut, aku sudah enggak tahan,” ucapnya lalu mengarahkan bagian tubuh miliknya yang sudah menegang pada lubang kehangatannya.
Keduanya hanya bisa meracau merasakan sensasi luar biasa nikmat, Eltan merasa miliknya seakan dipijat oleh lubang hangat Rika. Menggerakan pinggulnya untuk mendapatkan nikmat maksimal sampai Rika menggelinjang dan menegang disertai desaahan panjangnya. Eltan tersenyum melihat wajah puas Rika saat mencapai puncaknya.
“Abang, ihhh.” Eltan hanya terkekeh karena Rika yang tersipu.
“Sayang, berbalik ya!” titah Eltan menuntun Rika untuk merubah posisinya. Dengan posisi terlungkup bahkan bokongnya sudah menempel pada tubuh Eltan. Entah apa yang akan dilakukan oleh suaminya, Rika khawatir namun tidak berani protes. Ia yakin Eltan tidak akan menyakitinya juga calon bayinya.
“Oughhhh, Bang El,” pekik Rika saat Eltan kembali menyatukan tubuhnya. Rasa dengan posisi ini sungguh luar biasa, lebih enak dibandingkan dengan posisi yang sebelumnya. Eltan memaju mundurkan tubuhnya lebih cepat, ia pun meracau menyebut nama Rika berulang-ulang.
Rika sudah tidak dapat berkata, karena merasa tubuhnya seakan melayang. Hanya sanggup mere*mas spreinya. “Ri-ka,” ucap Eltan terbata, “aku, ohhhhh, aku mencintaimu sayang,” ucapnya lirih dengan suara parau lalu mengerang. Rika yang merasakan pelepasan kedua kalinya tidak dapat membalas pernyataan Eltan. Dapat dibuktikan rasa cintanya dengan memberikan segenap jiwa dan raganya untuk Eltan.
...---*** ---...
Pagi itu Eltan akan bertolak ke Jogya, Rika yang semalam sudah membantu menyiapkan kebutuhan Eltan selama di sana kini malah murung. Rencana mengantarkan Eltan tinggal wacana, sejak bangun ia tampak tidak bersemangat. “Jangan begini, Sayang. Aku jadi khawatir mau ninggalin kamu.”
“Kalau aku kangen Bang El, gimana?”
Eltan menghela nafasnya, “Kita bisa telpon, video call bahkan naik pesawat ke Jogja hanya satu jam sepuluh menit,” ucap Eltan menghibur Rika. Berada dalam rangkulan Meera, Rika melambaikan tangannya saat mobil yang membawa Eltan mulai meninggalkan rumah Kevin.
__ADS_1
Kesibukan Eltan di Jogja juga padatnya jadwal kuliah Rika membuat rencana awal mereka akan bertemu saat weekend gagal. Meera tidak mengijinkan Rika yang harus bolak-balik Jogya Jakarta karena kondisinya sedang hamil. Eltan hanya memungkinkan selama sebulan dua kali datang ke Jakarta.
Kini umur kehamilan Rika sudah menginjak 20 minggu, perutnya sudah terlihat membola. Beberapa bagian tubuhnya terlihat lebih berisi termasuk kedua pipinya. Pulang kuliah hari ini, Rika akan menemui Laksmi, sesuai permintaan wanita itu saat menelpon Rika pagi tadi.
“Maaf Mih, macet. Aku sudah tidak boleh naik motor oleh Bunda, jadi tadi terpaksa naik taksi. Malah terjebak macet,” ujar Rika saat tiba di resto tempat yang ditentukan oleh Laksmi.
“Berapa bulan kandungan kamu?”
Rika meletakan tasnya di samping kursi yang ia duduki, “Lima bulan Mih.” Obrolan mereka terjeda karena pelayan menanyakan pesanan. Setelah pelayan pergi, terlihat Laksmi sudah akan mencecar Rika.
“Mamih kangen Bang El ya? Aku juga Mih. Kangen banget, tapi mau gimana lagi,” ujarnya sambil mengedikkan bahu.
“Coba kalau kalian menunda kehamilan, kamu kan bisa temani Eltan selama di Jogya. Apa kamu enggak kasihan Eltan akan tidur sendiri, bagaimana kalau disana ada perempuan yang mendekati Eltan.”
Rika menggaruk pelipisnya, ingin marah tapi yang dikatakan Laksmi ada sebagian yang masuk akal, tetap diam tapi kesal, mau dijawab khawatir dicap menantu kurang ajar. “Mamih gimana sih, emang enggak mau punya cucu? Kalau masalah tergoda, enggak usah jauh-jauh ke Jogya kali. Di Jakarta juga kalau memang Bang El enggak kuat Iman pasti tergoda sama perempuan-perempuan ganjen yang mencoba mendekat.”
Obrolan mereka kembali terhenti karena pelayan datang mengantarkan pesanan. Rika yang memang saat ini mudah lapar tidak menunda lagi, langsung menyantap hidangan yang ia pesan. “Minggu depan libur semester, aku akan susul Bang El. Mamih mau ikut?”
.
.
.
Rika baru saja keluar dari bandara Adisucipto, seorang pria paruh baya yang ditugaskan Eltan menjemputnya karena mendadak harus menghadiri pertemuan dengan pihak yang akan bekerjasama saat Two Season operasional.
“Mari Bu,” ujar pria tersebut membukakan pintu mobil untuk Rika. “Pak Eltan minta Ibu tunggu di hotel, beliau sudah reservasi kamar karena kebetulan pertemuan akan berlangsung sampai sore. Mungkin besok Bapak akan ajak Ibu ke rumah.”
Rika sedang duduk di lobby sambil memaikan ponselnya, mengirimkan pesan pada Meera bahwa ia sudah tiba di Jogya, walaupun sebenarnya belum bertemu dengan Eltan. Access card kamarnya sudah ia pegang, tapi ia masih nyaman pada posisinya.
__ADS_1
“Kamu adiknya Kayla kan?” tanya seseorang. Rika menengadahkan wajahnya. “Iya,” jawabnya pada pria yang seingat Rika pernah bicara dengan Kayla. Tanpa dipersilahkan pria itu duduk pada sofa bersebrangan dengan Rika. “Sepertinya kita menunggu orang yang sama,” ucap Bara.
Rika memicingkan matanya, “Maksudnya?”
Bara tertawa, “Maksudnya orang yang akan kita temui adalah orang yang sama. Kamu mau bertemu dengan Eltan suamimu, sedangkan aku akan melaporkan kemajuan pembangunan pada Eltan selaku penanggung jawab kerjasama.”
“Hmm,” sahut Rika lalu kembali asyik dengan ponselnya.
“Ternyata kalian berbeda ya.”
Rika kembali menoleh pada Bara, “Apa lagi nih, aku dengan Bang El pasti bedalah.” Bara menggelengkan kepalanya, “Maksud aku, kamu dan Kayla berbeda.”
“Ya pasti bedalah, kita hanya adik dan kakak, aku dan kembaran aku aja berbeda apalagi yang bukan kembar.”
“Nah ini yang aku maksud berbeda, aku mengenal Kayla orang yang lembut, pendiam dan mudah tersakiti. Kalau kamu ...”
“Apa?”
“Sayang,” panggil Eltan lalu duduk disamping Rika memeluk wanita itu dan mencium keningnya. “Maaf, sayang, ternyata jadwal hari ini full of meeting.”
Rika langsung memeluk Eltan dan menempelkan wajahnya pada dada Eltan, “Aku kangen Bang El.”
“Aku antar ke kamar ya,” ajak Eltan. “Pak Bara aku tinggal dulu, pertemuan kita masih,” Eltan melihat arlojinya, “lima belas menit lagi.”
“It’s oke, aku bisa menunggu. Tapi yang rindu biasanya lebih menggebu,” ujar Bara sambil terkekeh.
______
__ADS_1
Jejak yess, ☺