Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Kebahagiaan Keluarga Sanjaya (End)


__ADS_3

Kehamilan Rika sudah menginjak sembilan bulan, tubuhnya terlihat semakin berisi membuat Eltan semakin gemas. Bahkan saat Eltan pulang ia menghabiskan banyak waktu di kamar. "Ayolah, Mut," ajak Eltan dengan tatapan sendu. "Apa sih, Bang," jawab Rika yang saat ini berbaring di sofa dengan pangkuan Eltan sebagai bantal. 


"Aku mau jenguk anak aku, Mut," ujar Eltan lalu menunduk dan melummat bibir Rika yang dilanjutkan dengan penyatuan diri Eltan dan Rika. Eltan mencium bahu Rika setelah pergulatannya "Aku enggak bisa dekat kamu tanpa menyentuh, karena kamu selalu membuat resah." 


"Tau ah," ujar Rika yang masih dalam posisi berbaring miring. Eltan hanya bisa terkekeh, "Beneran loh, Mut." 


"Abang masih mau panggil aku Mut Mut terus, aku sebentar lagi melahirkan jadi seorang Ibu. Nanti anak kita berfikir kalau kamu manggil aku marmut," rengek Rika. "Itu panggilan cinta aku ke kamu kalau lagi berdua begini." 


"Sshhhh," Rika mendesis menahan rasa tidak nyaman di perutnya. "Kenapa? Sakit? Mau melahirkan sekarang?" tanya Eltan mulai panik dan beranjak bangun. Rika memukul lengan Eltan, "Apaan sih, kata Bunda jangan panik nanti akunya ikutan panik. Memang sering begini, namanya kontraksi palsu." 


"Ya udah kamu istirahat ya," ujar Eltan sambil menyelimuti tubuh mereka yang polos. "Usapin punggung aku, rasanya pegel," rengek Rika. "Iya." 


"Ihhh, punggung bukan dada," pekik Rika. "Sekalian Mut," goda Eltan.


Esoknya, Eltan sudah berangkat ke Two Season sejak pagi, semenjak kehamilan Rika memasuki sembilan bulan ia sudah kembali ke Jakarta. Karena tidak ingin melewatkan proses kelahiran bayinya. Juga ingin mendampingi Rika saat melahirkan. 


"Reka, coba lihat Rika kenapa dari pagi belum turun juga," titah Meera pada Reka. Reka segera naik ke lantai dua menuju kamar Rika. "Rika," panggil Reka sambil mengetuk pintu kamar mandi karena tidak menemukan Rika di ranjang.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, Rika yang mengenakan baby doll selutut dengan lengan pendek keluar sambil meringis.


"Kenapa loe?" 


"Perut aku mules," jawab Rika. "Bunda nanyain, loe mau turun enggak?" Rika mengangguk. Berpegangan pada lengan Reka menuruni tangga. 


"Bun, perut aku mules," ujar Rika sambil duduk disamping Meera yang langsung menoleh pada Rika. "Sejak kapan?" 


"Tadi pas bangun tidur," jawab Rika.


“Sudah ada cairan atau lendir yang keluar?” tanya Meera. Rika menggelengkan kepalanya. “Kamu sudah siapkan yang mesti di bawah ke Rumah sakit?” Rika kembali menggelengkan kepalanya.


Meera menghela nafasnya, “Mending kamu banyak gerak, siapa tau sakitnya karena pembukaan. Bunda siapkan dulu perlengkapan yang harus dibawa.” Rika hanya mengangguk, masih dengan posisinya bersandar pada sofa.


“Rekaa!!”


“Apa sih Bun,” jawab Reka. “Temani Rika, Bunda mau ke kamar Rika,” titah Meera.


“Ka, usapin punggung aku, rasanya pegel,” pinta Rika. “Hmm, manja,” ledek Reka namun tetapa melakukan apa yang diminta Rika.


Semakin lama, Rika semakin merasakan sakit bahkan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Sesekali dia meringis dan mendesis menahan nyeri. “Bunda, panggilkan Bunda. Perut aku sakit,” rengek Rika pada Reka.

__ADS_1


“Iya, kamu diem disini,” ujar Reka lalu berlari memanggil Meera.


“Bunda,” ucap Rika, “aku pipis, enggak kerasa tau-tau udah begini.”


“Reka, siapin mobil. Pakai supir aja, sekalian tas yang tadi Bunda bereskan bawa masuk ke mobil. Telpon juga Eltan, Rika sudah pecah ketuban,” jelas Meera. “Ketuban? Terus bayi aku gimana Bun?” tanya Rika.


“Sudah, kamu tenang, memang prosesnya harus begitu. Ini belum seberapa, nanti akan lebih sakit. Makanya jangan suka ngelawan orangtua, karena melahirkan itu luar biasanya sakitnya.”


.


.


.


“Suster, adik saya mau melahirkan,” ucap Reka pada perawat UGD sedangkan Rika sedang dipapah keluar dari mobil oleh Meera. Berbaring pada brankar lalu dibawa menuju ruang tindakan.


“Kamu sudah hubungi Eltan?” tanya Meera pada Reka.


“Sudah, Bang Eltan dan Papih.”


Setelah dilakukan pemeriksaan, Rika sudah sampai pembukaan enam. Kontraksi yang dirasakan semakin kuat dan sering, dia hanya bisa mendesis dan mencengkram pinggiran ranjangnya saat rasa itu datang.


“Bunda,” rengek Rika, “sakit,” ucapnya lagi.


“Pembukaan enam, ketuban juga sudah pecah. Ini tadi diinduksi biar cepat proses pembukaannya,” terang Meera.


“Pembukaan?” ucap Eltan menatap Rika, sedang yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya, ia pun sama tidak paham dengan yang Bunda katakan. Yang ia yakini dan pahami ternyata melahirkan itu sangat sakit, tidak seperti saat dia dan Eltan menjalani proses pembuatannya. Semua di rasa penuh kenikmatan, sungguh berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini.


“Bang El, sakitttt. Aku enggak mau punya anak lagi, kalau melahirkannya sesakit ini,” jerit Rika sambil mencengkram lengan Eltan. “Iya sayang, aku juga enggak mau lihat kamu tersiksa begini. Kamu yang sabar ya,” ujar Eltan.


“Sabar, sabar. Ngomong sih gampang, kamu enggak ngerasain, tau enaknya doang. Aku yang merasakan mual muntah, perut gendut nafas juga sesak, ini mau dikeluarin rasanya amit-amit,” ungkap Rika sambil meringis tangannya kini kembeli mencengkram lengen Eltan.


“Iya gimana dong, memang perempuan yang harus melalui hal begini,” jawab Eltan. “Udah sih enggak usah ngejawab, jangan bikin aku tambah kesal,” tambah Rika lagi.


“Bun, kenapa tidak operasi saja, Rika kesakitan begini.”


“Jangan, kalau masih bisa normal lebih baik normal saja. Penyembuhannya lebih cepat kalau melahirkan normal.”


Dua jam kemudian, dokter mengatakan pembukaan sudah lengkap. “Siap-siap ya Bu,” ujar dokter yang sudah duduk di depan lubang inti Rika. “Kalau saya kasih aba-aba, ibu mengejan ya, didorong.”

__ADS_1


Rika yang setengah duduk bersandar pada tubuh Eltan, terlihat sudah sangat lelah. “Oke, sekarang dorong Bu,” titah dokter. Rika mengejan, namun karena belum ada pengalaman, teknik yang ia gunakan salah sehingga tidak mendorong bayi untuk keluar. “Oke, mulai lagi ya bu,” ujar dokter. “Ehhhhmmm,” Rika mengejan sekuat tenaga, “pinter, sedikit lagi ya bu.”


Eltan memberikan semangat untuk Rika, “Semangat sayang, aku sayang kamu,” bisik Eltan. Sedangkan Meera yang berada disisi lainnya terus mengusap lengan Rika seraya memberi kekuatan dan semangat. “Ayo Bu, dorong lagi, titah dokter.


Rika mengejan kembali dengan sisa kekuatan dan tenaganya, kemudian terdengar tangisan bayi. Eltan dan Meera merasa lega. Eltan mengecup kening Rika lama, ia meneteskan air mata. “Terima kasih sayang, terima kasih,” ucapnya.


Rika sudah dipindahkan ke ruang perawatan, bayi perempuan yang dilahirkannya dalam kondisi sehat. Eltan terus berada di samping Rika, sambil mengelus punggung tangan Rika. Sedangkan Meera dan Kevin sedang asyik memperhatikan bayi yang sedang tertidur di dalam boxnya.


Agha dan Laksmi datang menjenguk, “Kamu sudah siapkan nama?” tanya Laksmi pada Eltan. “Sudah, Kiran Malik Sanjaya,” ucap Eltan. Elang masuk ke dalam ruang rawat Rika sambil menggendong Kenan, wajahnya terlihat kacau. Kenan pun dalam keadaan menangis. “Loh, cucu Bunda yang ganteng kenapa menangis,” ujar Meera sambil mengambil alih menggendong Kenan.


“Kayla mana?” tanya Agha.


“Aku titip Kenan, Kayla baru saja masuk ruang perawatan, di kamar sebelah. Aku mau sampaikan dari tadi siang tapi Rika sedang butuh kalian,” ungkap Elang.


“Kayla sakit apa?” tanya mereka serempak.


Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Bukan sakit tapi Kayla mengalami hiperemesis gravidarum.” Meera, Kevin, Agha dan Laksmi hanya saling menoleh karena belum paham dengan apa yang diucapkan Elang. Sedangkan Rika dan Eltan masih menatap Elang menunggu penjelasan selanjutnya.


“Kayla, mengalami mual dan muntah parah, karena sedang hamil dua bulan.”


“Hahhhhh,” pekik Meera sedangkan Kevin terbahak melihat respon istrinya. Agha menghela nafas lega, karena sudah membayangkan hal serius menimpa Kayla.


...Menikahi Paman Mu...


...TAMAT...


 


-------


Hai para pembaca, terima kasih sudah setia mengikuti kisah Kayla, Elang dan Eltan sampai tamat. Terima kasih juga sudah memberikan jejak cinta kalian, cerita ini murni hasil pemikiran author. Sekedar untuk hiburan, silahkan ambil pesan positif dan abaikan hal-hal negatif dari ceritanya ini.


Dari awal cerita, memang sengaja ada hal-hal yang membuat pembaca berkomentar atau memberikan saran. Mohon maaf jika ada bagian yang membuat kalian emosi, piss hehehhe. Kalau ada yang tidak berkenan dengan akhir kisah karena Eltan menikah dengan Rika yang notabene adalah adik dari Kayla, saya mohon maaf karena dari awal memang sudah dibuat plot seperti itu.


Terima kasih untuk saran dan kritiknya, jika ada pesan tidak baik auhor minta maaf, pada dasarnya hanya ingin menyampaikan pesan yang baik saja. Silahkan mampir ke cerita baru author yang berjudul “Our Love Story”.


...Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya dan Selamat Hari Raya Idul Fitri....


Salam sayang dan salam cinta

__ADS_1


Dtyas


 


__ADS_2