Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Putriku Pun Cantik


__ADS_3

"Aku sayang kamu Kay, kalau begini beresiko untuk kalian berdua. Kamu tetap seorang Ibu walaupun tidak melahirkan normal. Aku putuskan operasi ya?"


Air mata Kayla membasahi bantal lalu ia mengangguk. "I love you sayang," ucap Elang kemudian menciumi pipi Kayla berkali-kali.


"Bunda temani Kayla, aku temui dokter."


Setelah berdiskusi kembali dengan dokter, Elang diminta menandatangani beberapa formulir terkait tindakan untuk Kayla.


Tidak lama kemudian, perawat membawa Kayla untuk persiapan tindakan. Meera dan Elang berada di luar ruang operasi. Meera terlihat cemas, menunggu kelahiran cucu pertama dari putri tercintanya.


Sesaat ia merasa sedih, khawatir jika selama ini Kayla tidak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang. Karena jelas, Kayla adalah korban dari perpisahannya dengan Agha.


Berharap jika bersama Elang, Kayla akan menjemput bahagianya. Ditambah dengan kehadiran bayi diantara mereka, Meera selalu berharap Kayla akan semakin bahagia.


"Suami Ibu Kayla," panggil perawat.


Lebih dari dua jam, proses persiapan dan tindakan untuk Kayla. Elang dipanggil untuk melihat bayinya sedangkan Kayla masih berada pada ruang observasi.


Jam sembilan malam Kayla sudah berada di kamar perawatannya, masih belum bisa bergerak karena efek dari anastesi yang masih ada pada tubuhnya.


Hanya ada Elang di kamar Kayla, Meera baru saja dijemput Kevin. Kayla yang minta agar Bundanya istirahat karena sejak pagi terus berada di sisinya.


Elang mengelus punggung tangan Kayla yang terbebas dari infusan, "Terima kasih sayang, terima kasih telah membuat hidupku sempurna menjadi seorang Ayah." Lalu menciumi tangan itu.


.


.


.


Esoknya, Kayla sudah belajar menyusui walaupun ASInya belum keluar, bayi laki-laki penerus keluarga Sanjaya terlihat sangat menggemaskan.


"Ughhhh, gemes banget sihhh kamu. Jadi pengen gigit hidung kamu Nak," ujar Kayla. "Mirip aku enggak sih?" tanya Elang.


Tidak lama kemudian Elang tidur karena semalam menemani Kayla yang sesekali meneteskan air mata karena rasa perih setelah pengaruh anastesinya hilang.


Pintu kamar Kayla diketuk, masuklah Rika. "Ya ampun Kak, agak bule ya. Hidungnya Kak Elang banget, udah fix enggak ada miripnya sama Kak Kay," ujar Rika saat menatap ke dalam box bayi.


"Kamu ke sini sama siapa?"

__ADS_1


"Supir, kata Bunda suruh anterin itu," menunjuk sebuah goody bag. "Nanti malam Bunda sama Papih mau ke sini."


Rika duduk pada sofa asyik memainkan ponsel saat pintu kamar Kayla diketuk dan masuklah seseorang.


Rika menatap kedua netra pria yang terpaku di tengah pintu. Pria yang Rika berusaha untuk hindari, pria yang sempat mengaduk-aduk perasaannya. Berusaha tetap tenang, karena kemungkinan ini pasti terjadi secara pria itu adalah keponakan dari kakak iparnya, Eltan.


Rika kembali mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponsel. Eltan berjalan melewati sofa tempat Rika duduk, menyapa Kayla dan menggoda bayi yang berada di boxnya.


"Hei, tampan, kau mirip sekali dengan ayahmu," ujar Eltan. "Paman tidur sudah lama? Aku bawa beberapa berkas yang harus ia approve," tanyanya pada Kayla.


"Hmm, belum ada dua jam. Bangunkan saja," titah Kayla.


"Kamu saja Kay, enggak berani saya," jawab Eltan lalu duduk pada sofa yang sama dengan Rika namun berjarak. Eltan meletakan map pada meja sofa.


Kayla menyaksikan kediaman Eltan dan Rika, ia menghela nafas ternyata seberat itukah perjuangan cinta diantara mereka.


Tidak lama ponsel Eltan bergetar,


"Halo."


"Eltan, malam ini kamu temui Nana ya."


"Aku sibuk."


"Ayolah Nak, kapan kamu bisa menikah kalau seperti ini terus. Lagi pula nanti kan malam minggu, apa iya kamu masih mengurus hotel di malam weekend."


"Aku kabari kalau aku ada waktu."


Menjelang malam, Elang dan Eltan sedang membicarakan mengenai pekerjaan karena beberapa hari ke depan Elang tidak akan ke hotel.


Rika menemani Kayla, sambil sesekali menggoda keponakannya. Kemudian datanglah Agha dan Laksmi.


Agha menghampiri box bayi, "Kay, kamu sudah kasih Ayah cucu, Ayah merasa sudah tua." Agha lalu terkekeh dan mengambil baby dan menggendongnya.


"Jadi, ini yang kamu bilang sibuk?" tanya Laksmi pada Eltan. "Aku memang sibuk, ini sedang membicarakan urusan hotel."


Laksmi mengambil bayi dalam gendongan Agha, berkali-kali Agha mengecupi pipi cucu tampannya, Laksmi berusaha menenangkan bayi Elang karena hampir menangis.


Agha akhirnya bergabung dengan Elang dan Eltan. Laksmi menghampiri Kayla yang baru saja dibantu Rika ke toilet.

__ADS_1


"Kamu kan sekarang sudah punya anak dari Elang, jadi jangan lagi menggoda Eltan," ucap Laksmi pelan, tidak didengar oleh Elang juga Agha. Kayla menghela nafasnya, tidak menyangka Mamihnya akan tetap menyangka dirinya melakukan hal sehina itu.


Rika tidak ingin mendengar kalimat pedas Laksmi akhirnya memilih duduk pada ranjang penunggu pasien yang tadi ditempati Elang.


Eltan sesekali menoleh pada Rika yang terlihat takut pada Laksmi.


"Aku tidak pernah menggoda anak Mamih," jawab Kayla. "Bunda kamu telpon Mamih, minta Eltan tidak menggoda putrinya. Padahal kamu yang menggoda anak mamih."


Kayla menoleh pada Rika yang menunduk, Laksmi belum tau bahwa yang dimaksud Meera putrinya adalah Rika bukan Kayla.


Setelah meletakan baby pada box bayi, Laksmi duduk di samping suaminya. "Eltan, kalau besok masa iya kamu tidak ada waktu. Temui Nana, Ibu yakin dia cocok untuk kamu," pinta Laksmi.


"Nana?" tanya Agha. "Calon istri Eltan," jawab Laksmi. "Bukan, kemarin kita sepakat habya perkenalan bukan perjodohan," sahut Eltan yang melirik pada Rika.


"Kali ini Ibu yakin kalian akan berjodoh, Nana gadis yang baik," seru Laksmi.


"Michele pun menurut Ibu gadis yang baik tapi nyatanya zonk," sahut Eltan.


Setelah Agha dan Laksmi pamit pulang, Rika merasa lega. "Akhirnya," ucap Rika yang disambut tawa oleh Kayla, "takut ya?" tanya Kayla.


"Aku mau cari yang segar-segar, berasa enggak bisa nafas aku tuh," ungkap Rika. Saat keluar kamar Rika bersitatap dengan Eltan yang sedang merokok.


Rika berjalan melewati Eltan tanpa bicara. Bughh, Eltan menarik tangan Rika, kini mereka berhadapan dengan tubuh yang saling menempel.


Rika akan bicara namun mendengar suara mendekat, suara yang sangat ia kenal. Melepaskan tangannya dari genggaman Eltan lalu masuk kembali ke kamar Kayla.


"Kak, ada bunda sama Papih di depan."


Sementara para pria sedang berbicara di luar, Meera menatap tajam pada Rika. Kamu janjian dengan Eltan di sini?"


"Enggak Bun, kan Bunda yang minta aku ke sini bawakan cemilan sehat untuk Kakak."


"Iya Bun, Bang Eltan ada urusan dengan Mas Elang, sejak tadi mereka bicara urusan hotel.


"Mamih pikir yang dimaksud Bunda adalah aku, jadi dia malah tegur aku," kata Kayla. "Bunda enggak usah khawatir, Bang Eltan sudah dijodohkan lagi, sudah pasti enggak bakal bisa menolak. Jadi enggak akan dia milih Rika," ungkap Kayla menenangkan Meera.


"Kenapa enggak akan milih Rika, dia cantik kok. Bunda jadi penasaran seperti apa wajah perempuan yang dijodohkan dengan Eltan," ujar Meera.


"Hahh," ucap Rika dan Kayla serempak kemudian mereka saling tatap.

__ADS_1


Haiiii, jgn lupa jejakss. Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan 😊


__ADS_2