
“Maaf Bang, Ibu Bang Eltan benar, aku masih bocah. Masih labil dan belum dewasa dalam menghadapi persoalan, jadi lebih baik ...”
“Tidak, aku tidak setuju. Kamu ikut aku, kita harus bicara.” Eltan kembali membawa mobilnya menembus jalan raya dengan kecepatan tidak biasa. Tiba di parkiran basement apartemennya, ia melepaskan seat belt Rika. “Ayo,” ajak Eltan setelah membukakan pintu mobil untuk Rika keluar.
“Ngapain ke sini, aku mau pulang,” ujar Rika.
Eltan kembali menghela nafasnya, “Aku bisa gendong kamu sampai kamar, kamu pilih jalan sendiri atau ...” kalimat Eltan berhenti karena Rika segera keluar dan bergegas berjalan meninggalkan Eltan dengan senyum terbit di bibirnya.
Eltan mempersilahkan Rika masuk setelah membuka pintu unit apartemennya. Menuju lemari es mengambil minuman kaleng yang akan diberikan pada Rika untuk menenangkan gadis itu. Ia juga melepaskan jas dan dasinya, “Minum dulu,” titah Eltan sambil menyerahkan salah satu kaleng soda yang dibawanya.
Rika menerima masih dengan wajah cemberut. “Jangan cemberut begitu, nanti aku khilaf,” canda Eltan. “Enggak lucu,” sahut Rika.
Eltan semakin mendekatkan tubuhnya pada Rika, “Jangan begitu Mut, aku mewakili Ibu minta maaf. Perlahan aku akan terus memberi pengertian pada Ibu agar tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Dia perempuan begitu juga kamu, mungkin dia mengatakan itu hanya untuk kebahagiaan aku tapi dengan cara yang salah.”
Rika bergeming, ia masih dengan posisi duduk memunggungi Eltan. “Lain kali, aku juga mohon kamu jangan ungkit kembali kesalahan aku dengan Kayla. Karena kalau ingat hal itu sudah pasti aku tidak bisa perjuangkan kamu,” ungkap Eltan.
Rika berbalik menghadap Eltan, “Maaf, aku emosi jadi ...”
Eltan meraih Rika dalam pelukannya, “Aku maafkan, tapi ada syaratnya.” Rika mendorong tubuh Eltan, “Syarat apa?”
“Mulut kamu tadi sama pedasnya dengan Ibu, jadi harus dinetralkan lagi.”
Rika mengerutkan dahinya, “Caranya?”
“Gampang kok,” jawab Eltan lalu mendekatkan wajahnya dan memagut bibir Rika, awalnya lembut namun berikutnya berubah menjadi ciuman panas dengan tangan yang mulai tidak kondusif karena meraba bagian tubuh Rika.
Rika berusaha melepaskan tubuhnya, “Bang El,” pekiknya ketika Eltan melepaskan penyatuan bibir mereka. “Astaga, maaf sayang, aku ...”
“Aku enggak suka Bang El seperti tadi,” ujar Rika dengan sorot mata kecewa. “Maaf, aku benar-benar khilaf.” Lalu memeluk Rika dan mengelus punggung gadis itu untuk menenangkannya.
Rika dan Eltan memilih meninggalkan apartement khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Hari itu mereka habiskan dengan jalan-jalan di mall, makan dan nonton bioskop. Kencan standar untuk gadis se umuran Rika, namun Eltan tidak menolak karena pertemuan hari ini sebagai pengobat rindu karena Eltan tidak menemui Rika selama gadis itu menjalani Ujian Sekolahnya.
__ADS_1
“Bang El mau masuk?” tanya Rika saat mobil Eltan telah terparkir di carport kediaman Kevin. “Aku jemput kamu baik-baik, ya harus aku antarkan baik-baik juga. Ayo,” ajak Eltan.
...~***~...
Kayla telah kembali tinggal di Apartemen Elang, sehingga rumah Kevin tidak seramai biasanya. Jika Elang ada jadwal ke luar kota, maka Kayla akan kembali menginap di rumah Kevin. Kini Reka dan Rika sudah mulai mengikuti perkuliahan, keduanya memilih jurusan yang sama yaitu manajemen agar dapat meneruskan bisnis keluarganya.
Seperti saat sekolah, Reka dan Rika akan berangkat dan pulang bersama menggunakan motor sport Reka. Sudah hampir satu semester mereka mengenyam pendidikan perkuliahan. Rika mulai membiasakan mengenakan pakaian lebih feminim, bahkan saat kuliah ia memoles wajahya dengan bedak dan lip tint pada bibirnya. Hingga kini terlihat dewasa tidak lagi seperti bocah.
Namun hari ini, Rika cuek terhadap penampilannya. Mengenakan jeans dan kaos tangan panjang.
“Muka lecek amat, mirip pakaian belum disetrika,” ledek Vano pada Rika saat mereka bertemu di kampus. Mereka bertiga tetap bersama, kuliah dan mengambil jurusan yang sama. “Palingan juga berantem sama Bang Eltan,” ujar Reka.
“Sok tau,” sahut Rika. Memang alasan ia murung adalah Eltan, pria itu sedang sibuk jadi jarang menghubungi Rika.
Sudah kesepakatan Eltan pada orangtua Rika, jika ia akan menunggu Rika menyelesaikan pendidikannya. Maka Eltan pun tidak intens menemui Rika bukan karena ragu tapi justru untuk saling memantaskan diri. Bahkan diakui Eltan, berdekatan dengan Rika membuatnya resah sehingga ia mengurangi bertemu dengan Rika.
Saat mata kuliah terakhir untuk hari ini, Rika masih dengan kondisi tidak mood membuka ponselnya yang bergetar.
Pesan dari Eltan, walaupun hanya pesan namun membuat mood Rika langsung berubah. Ia senyam senyum membayangkan akan bertemu Eltan.
Dua puluh menit lagi beres. Ga pake lama, aku udah laper plus jenuh
Balas Rika.
Oke, otw. Nanti kita makan plus peluk untuk obat jenuh
Pesan Eltan
Forbiden
Balas Rika
__ADS_1
Reka yang duduk di belakang Rika menendang kursi yang diduduki Rika, “Stress loe senyum-senyum sendiri,” bisik Reka sambil mencondongkan tubuhnya.
“Apaan sih.”
Rika sudah ijin pada Reka kalau ia akan pulang bersama Eltan, bergegas menuju parkiran karena Eltan mengirim pesan bahwa ia sudah menunggu di sana. Rika terkejut karena ternyata Eltan menjemputnya menggunakan motor skooter dengan ukuran besar yang sedang hit.
“Bang El seriusan kita pakai motor?”
“Iya, kenapa? Kamu enggak suka?”
“Ih bukan gitu, aku sih udah biasa, tapi ...”
“Ternyata naik motor lebih romantis Mut, kamu bisa sambil peluk aku yang enggak mungkin kita lakukan waktu naik mobil,” jawab Eltan sambil terkekeh. Meraih ransel Rika dan memasukannya ke dalam bagasi motor dan menyerahkan helm untuk digunakan Rika.
“Sudah?” tanya Eltan.
“Ya udah, jalan,” jawab Rika.
“Pegangan dong, nanti jatuh.”
Rika berdecak lalu memegang jaket yang digunakan Eltan, “Kalau begitu belum aman, Mut,” ujar Eltan lalu menarik tangan Rika akan melingkarkan pada perutnya. “Modus,” ledek Rika. “Ya, memang,” ungkap Eltan sambil terkekeh.
Sepanjang perjalanan Rika memeluk Eltan, sambil mereka ngobrol yang terkadang diselingi dengan tawa Rika. Meskipun hal tersebut sedikit berbahaya, karena beresiko mengurangi konsentrasi dalam membawa kendaraan. Berhenti pada salah satu resto disebabkan Rika yang sudah ribut dengan rasa laparnya.
Memeluk lengan kiri Eltan, mereka berjalan masuk ke dalam resto tanpa mengetahui bahwa ada sepasang mata memperhatikan sejak mereka melewati pintu masuk.
_______
Hai, jangan lupa jejaks ya, love you pull
__ADS_1