
Tin tin
Terdengar suara klakson, "Papih," ucap Rika. Eltan yang mendengar itu pun segera turun dan menghampiri Rika yang wajahnya sudah khawatir.
"RIKA!!" teriak Meera dan Kevin keluar dari mobil di belakang Eltan.
Wajah Rika terlihat pias, Eltan melihat itu sangat merasa bersalah. Meera menghampiri Rika dan Eltan. "Apa-apaan kalian?" tanya Meera dengan wajah emosi.
"Meera," ucap Kevin, "kita bicara di dalam."
Meera menarik tangan Rika dan membawanya masuk. Eltan dan Kevin kembali ke mobil memasuki gerbang.
Berada di ruang tamu, Meera dan Kevin duduk berdampingan. Rika yang sejak tadi duduk hanya menunduk dan mere_mas ujung roknya, Eltan masuk ia menghela nafas melihat Rika seakan tertekan. Eltan pun akhirnya duduk di samping Rika, sungguh ia sangat ingin merangkul atau menggenggam jemari Rika seraya mengatakan "it's ok, everyhing gonna be fine." Namun lidahnya kelu dengan tatapan Meera dan Kevin, ia tidak ingin Rika mendapatkan ketidaknyamanan lebih dari pada ini.
"Sejak kapan?" tanya Kevin.
"Belum lama Om, ini salah saya. Saya yang memulai, saya yang tidak tau diri. Jadi kalau kalian bisa salahkan saya," jawab Eltan.
Meera melipat kedua tangannya di dada, "Apa yang ada dipikiranmu, Rika masih SMA. Apa tidak ada wanita lain, kamu pikir dengan masa lalu kamu dengan keluarga ini aku akan menyetujui atau menyerahkan putriku."
"Meera, tenanglah."
"Eltan," ucap Kevin, "Om tau, cinta tidak dapat dilarang dan dicegah dia akan muncul kapan dan kepada siapa. Tapi perlu kamu tau, kami tidak akan menyetujui kamu dekat dengan Rika dengan segala macam alasan," ungkap Kevin.
"Jangan lagi ganggu putriku, jangan menemui atau menghubunginya," titah Meera.
"Kaa," panggil Reka yang terengah. Ia baru saja tiba dan melihat mobil Kevin juga Eltan yang terparkir, feelingnya mengatakan ada yang tidak beres. Hatinya ikut sakit melihat wajah Rika yang tertunduk terlihat air mata sudah menetes dengan kedua tangannya mere_mas ujung rok seragamnya.
"Dari mana kamu? Kalian memang sekongkol ya untuk bohongi Bunda."
“Enggak Bun, Reka enggak salah,” ucap Rika dengan suara lirih karena menahan tangis.
“Kalian masuk ke kamar,” perintah Meera. Rika berdiri, Eltan meraih tangan Rika. “Rika!!” teriak Meera, membuat Rika berlari meninggalkan ruangan, disusul oleh Reka.
__ADS_1
Eltan merasakan amat menyesal, menyesal pernah mengalami hal yang membuatnya memiliki masa lalu yang buruk dengan keluarga ini. Juga menyesal karena memulai rasa dan berhubungan dengan putri bungsu Meera yang telah mereka ketahui kalau ini akan terjadi.
“Om Kevin dan Tante Meera, tolong jangan marahi Rika. Kalian boleh menghujat saya tapi jangan Rika,” pinta Eltan.
“Lebih baik aku yang menghujat dari pada anak-anakku dihujat oleh Ibu kamu,” ujar Meera.
Eltan menyugar rambutnya.
Entah apa yang disepakati oleh Kevin, Meera dan Eltan. Rika mendengar klakson mobil Eltan, ia berlari ke jendela menyaksikan Eltan yang perlahan meninggalkan tempat tinggalnya.
“Rika, buka pintunya!!!” Bunda mengetuk pintu kamar Rika sambil berteriak. Rika menjauh dari jendela dan menghapus air matanya lalu membuka pintu kamarnya. “Bunda gak mau lagi lihat kamu berhubungan dengan anaknya Laksmi, termasuk komunikasi lewat telpon. Kamu dengar?” Rika mengangguk, Meera menjauh dan meninggalkan kamar Rika.
Sejak tiba di apartemennya, Eltan tampak murung. Harapannya mendapat amunisi semangat malah sebaliknya, badmood.
Ponsel Eltan bergetar, ternyata ibunya menelpon.
"Halo."
"Eltan, kenapa Meera marah-marah sama Ibu. Dia bilang kamu gangguin putrinya. Apa di dunia ini sudah tidak ada gadis lain sampai kamu harus terus-terusan berharap sama Kayla."
"Kamu kalau dinasehati malah lebih galak."
"Aku sudah dewasa, tau mana jalan terbaik yang akan aku pilih."
"Eltan ..."
"Aku sibuk, aku tutup telponnya.
Alarm paginya telah berbunyi dan sudah dimatikan kembali, namun Rika masih bergelung dengan selimutnya. Sejak Eltan disidang oleh kedua orangtuanya ia menonaktifkan ponselnya, bahkan Rika sengaja melewatkan makan malam. Sesekali ia memegang dadanya yang terasa sesak.
Menuju meja makan, Papih Kevin, Bunda dan Reka sudah sarapan lebih dulu. Semua makan dalam diam, sampai Kevin memulai pembicaraan.
“Mulai hari ini kalian berangkat diantar mobil sampai pulang. Reka boleh menggunakan motor kalau kamu ada acara sendiri, Papih harap kalian ikuti aturan ini untuk kebaikan kalian,” titah Kevin.
“Mana Ponsel kamu, biar Bunda pegang. Bunda enggak mau kamu masih komunikasi dengan anaknya Laksmi,” ujar Meera. Rika menyandarkan punggungnya pada kursi. “Bunda, aku pakai ponsel sebelum kenal Bang Eltan, jadi jangan ambil ponsel aku. Aku salah, aku minta maaf dan aku akan blokir kontak Bang Eltan. Tapi please, belajar pun terkadang aku memanfaatkan ponsel. Aku janji tidak akan menghubungi Bang Eltan. Aku akan serius belajar, ujian dengan baik dan kuliah sesuai dengan kemauan kalian.” Reka yang duduk disebelah Rika, mengusap paha Rika seraya memberikan kekuatan.
__ADS_1
Rika meraih gelasnya yang berisi sussu coklat, menghabisi hampir seluruh isinya lalu berdiri, “Aku sudah kenyang,” ucapnya sambil memakai tas dan meninggalkan ruang makan diikuti Reka.
Sedangkan Eltan dan Elang pagi ini sudah bertolak menuju Singapur, Elang tau ada sesuatu yang tidak beres saat ia melihat Eltan. “Eltan, jangan sampai mood kamu merusak atau mengganggu aktifitas, biasakan selesaikan masalah atau tinggalkan masalah itu sementara,” nasehat Elang yang dijawab Eltan dengan anggukan.
Kayla berada di apartemen, ia tidak mengantar Elang, saat sedang duduk malas pada sofa dengan remote di tangannya. Bel apartemennya berbunyi, Kayla menuju pintu dan membukanya. Meera datang berkunjung, sebelumnya sudah mengirimkan pesan pada Kayla.
“Bunda mau minum apa?” tanya Kayla menuju pantry. “Kamu enggak tinggal dengan Bunda aja, selama Elang pergi,” ajak Meera.
Kayla membawakan cangkir berisi teh manis hangat untuk Bundanya, “Tadinya aku mau minta Rika yang temani di sini.” Kayla duduk di samping Meera. “Justru Bunda mau bicara tentang Rika, Kayla, kamu tau kalau Rika dan Eltan berpacaran?” tanya Meera.
Kayla mematikan Tv nya lalu menoleh pada Meera. “Pacaran? enggak Bun.”
‘Sudah kuduga ada yang aneh dari mereka berdua,’ batin Kayla.
“Mereka pacaran Kay, Bunda enggak habis pikir adik kamu pikirannya dimana. Bisa-bisanya dekat dengan orang yang pernah ...”
Kayla menyela perkataan Meera, “Bun, sudah Bun. Ingat, aku menikah dengan Pamannya Bang Eltan. Baiknya kita jangan bahas masalah lalu, karena disini akan menyakiti aku, Elang bahkan juga Eltan.”
“Tapi masalahnya Eltan berani-beraninya bilang dia mencintai Rika.” Kayla menghela nafasnya, “Bunda tidak setuju?”
“Ya enggak lah, ngaco aja. Mana mungkin Bunda akan biarkan anak Bunda dihujat terus oleh Laksmi.”
“Bunda tidak setuju alasannya apa ?” tanya Kayla
bersambung ya
follow ig : dtyas_dtyas
atau facebook : dtyas auliah
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author💖💖
__ADS_1