
"Setelah ini kita akan punya urusan. Bagaimana bisa Pak Elang Sanjaya yang terhormat menikah dengan wanita yang pernah tidur dengan keponakannya sendiri," ujar Sena dengan tangan dilipat didada dan senyum sinis pada Kayla.
"SENA!!!" teriak Elang. "Kamu sudah melewati batasanmu, tidak ada hak kamu bicara begitu. Sebaiknya kamu keluar, dan tunggu surat pemecatan atau mutasi untuk kamu."
"Tidak bisa begitung dong Mas, aku sampaikan ini demi kebaikan kamu," ucap Elang.
"Jangan sok tau, keluar atau aku panggil security untuk seret kamu."
Setelah Sena pergi, makanan pun datang. Elang menyandarkan punggungnya, dia tampak sangat kesal. "Mas El jadi makan enggak, kalau enggak ya udah aku aja," ucap Kayla.
Elang menoleh pada Kayla, "Kay, kamu tidak khawatir kalau nanti Sena sebarkan berita tadi. Aku khawatir sama kamu Kay."
"Kan kamu punya power masa atasi hal kayak begini aja enggak becus. Aku udah capek urusan macam ini, kesel-kesel nanti aku jambak si Sena. Abang kok bisa sih dulu menikah sama dia."
"Kamu mau aku suapi?" tanya Elang.
"Ngeles kayak bajaj. Enggak, aku makan sendiri."
"Tuh kan, nanti aku nih yang rugi. Pokoknya sampai aku berangkat aku maunya dimanja sama kamu Kay," ucap Elang, "enggak ada ngambek ya."
Saat ini Elang dan Kayla sudah kembali ke kamar. Bahkan Kayla sudah bersandar pada head board dan mengelus perutnya yang sejak tadi terasa berkedut.
Elang yang sedang bicara dengan Edo, cukup serius sepertinya tentang Sena. Mengenai mutasinya.
"Kay, ini dibuka dong," titah Elang menunjuk dress yang dikenakan Kayla saat ia sudah ikut berbaring disamping Kayla. Setelah itu Elang benar-benar memanfaatkan waktu dengan bergerilya pada tubuh Kayla.
Kayla hanya bisa menggigit bibirnya sambil mere_mas seprai menahan kenikmatan, sesekali ia mendessah. "Mas ... ahhh..."
Elang masih bergerak sambil tersenyum melihat tubuh Kayla yang mengejang, kembali bergerak dengan sedikit cepat kemudian mengerang panjang. Merebah di sisi Kayla sambil terengah.
.
.
.
Reka, Rika dan Vano sedang berjalan menuju parkiran, mereka baru saja mengakhiri jadwal hari ini. Terlihat Rika yang terbahak karena guyonan Vano dan Reka.
Rika yang menggandeng lengan saudara kembarnya, memukul lengan Vano. "Awas kualat loh ngatain guru kayak gitu."
"Loh, Bang Eltan," ucap Vano. Membuat Reka dan Rika menoleh. Ternyata Eltan serius dengan ucapannya untuk menjemput Rika, mengenakan kaos abu yang pas di badan dan celana jeans serta kaca mata hitam membuatnya tampak gagah dan sangat tampan.
__ADS_1
Raut wajah Rika berubah, apalagi disini ada Vano. Ia menggandeng Reka lebih kencang hingga Reka menoleh pada Rika, lalu menghela nafasnya.
"Abang ngapain? Ada perlu di sekolah aku?" tanya Vano. Kehadiran Eltan bukan hanya mengejutkan mereka bertiga tapi menjadi perhatian siswi lainnya.
"Mau jemput dia," tunjuk Eltan pada Rika setelah membuka kacamatanya. Rika menoleh pada Reka yang kini sedang menatapnya, mereka seakan berbicara lewat Batin. "Jangan kemalaman, cepet pulang nanti kabari gue jadi kita sampai di rumah barengan." Rika melangkah pelan menuju Eltan dan mobilnya.
"Ka, mereka pacaran?" tanya Vano. Reka hanya mengedikkan bahunya. "Wah, Rika gimana sih. Gue ditolak eh maunya sama abang gue. Bisa kalap si mamih, sampe sailor moon berubah syar'i juga belum tentu dapat restu."
"Berisik, gue ke tempat loe ya. Kita mabar," ajak Reka.
"Siapa takutttt," jawab Vano.
Sedangkan di mobil Rika tampak canggung, tas yang ia simpan di bawah kakinya dipindahkan Eltan ke kursi belakang.
"Seat belt," ucap Eltan.
"Om ngapain sih datang ke sekolah?"
"Ngapain? Kemarin aku udah bilang mau jemput kamu," jawab Eltan mulai melaju meninggalkan area sekolah.
"Tapi kan Vano jadi tau, gimana kalau dia bilang ke Mamih," rengek Rika. Ia belum siap dimarahi dan dimusuhi dari kedua pihak.
Eltan tidak menjawab, dia masih fokus pada jalan di depannya. "Terus ini kita mau ke mana?" tanya Rika.
"Antar pulang aja deh Om," pinta Rika. Eltan berdecak, "Nanti sore, sekarang aku mau charg semangat dulu."
"Enggak jelas, terus mau ke mana? Aku lagi malas nge mall."
"Ke apartemen aku aja."
Rika terlihat panik, "Enggak ada ya Om, aku mau pulang aja."
"Tenang aja Mut, aku enggak bakal macam-macam. Cuma satu macam doang," ujar Eltan.
"Aku enggak percaya sama Om Eltan."
"Aku belum packing untuk besok Mut, bantuin ya!"
Sejak keluar dari mobil menuju unitnya, Eltan merangkul bahu Rika yang tubuhnya lebih rendah darinya.
"Om, malu tau dilihat orang." Jelas jadi perhatian, karena orang akan mengira Rika sugar baby dari Eltan.
__ADS_1
"Masuklah." Saat Eltan membuka pintu apartementnya. Rika lalu duduk pada sofa dan menatap sekeliling apartement Eltan.
"Beda ya apartemen Sultan Mah," ucap Rika. Eltan membawakan dua kaleng soda dan menyerahkan pada Rika.
"Kamu udah makan belum?" tanya Eltan sambil duduk disebelah Rika. "Sudah waktu istirahat."
"Mut," panggil Eltan wajahnya sudah sangat dekat dengan Rika bahwa hembusan nafas Eltan terasa di pipi Rika. Ia pun bergeser namun Eltan menahan tubuhnya. "Om, aku pulang aja deh."
"Kamu suka aku Mut?"
"Tapi bukan begini, banyak rintangan di depan Om. Sepertinya kita harus pikirkan ulang." Eltan tertawa mendengar ucapan Rika.
"Kamu bisa bijak juga ya, aku pikir enggak bisa serius," ujar Eltan. Rika mendengus kesal, "Please deh Om Eltan, aku serius ini."
"Ya, aku juga, serius. Serius mau makan kamu," ejek Eltan sambil berbisik. Rika refleks memukuli lengan Eltan. Eltan pun terbahak, lalu menggengam kedua tangan Rika.
"Jangan cemberut gitu, jelek tau. Bibir kondisikan, atau sengaja menggoda aku."
Eltan serius dengan ucapannya, dia tidak melakukan apapun pada Rika, lebih tepatnya menahan. Karena sebagai laki-laki dewasa berdua dengan lawan jenis sungguh dahsyat godaannya. Selain bercanda dan membantu Eltan mengemas kebutuhan selama di Singapur mereka juga sempat nonton film genre horror yang sukses membuat Rika menjerit lalu mematikan TVnya.
"Cepet Om, nanti kena macet." Saat mereka sudah berada di mobil mengantarkan Rika pulang.
"Pokoknya jangan abaikan telpon dan pesan aku," ujar Eltan. "Iya, bawel bener deh," sahut Rika.
Mobil Eltan berhenti di depan rumah Kevin persisnya sebelum gerbang, "Aku antar ke dalam ya?"
"Jangan aneh-aneh," ucap Rika lalu melepas seat beltnya, tanpa diduga Eltan meraih tengkuk Rika lalu memagut bibir ranum Rika. Cukup lama bahkan kali ini Rika tidak menolak ia malah mencengkram salah satu lengan Eltan.
Eltan menghapus bibir Rika yang basah saat mereka telah melepas pagutannya. "I love you Mut," ujar Eltan. Rika hanya tersenyum lalu membuka pintu dan keluar.
Tin tin
Terdengar suara klakson, "Papih," ucap Rika. Eltan yang mendengar itu pun segera turun dan menghampiri Rika yang wajahnya sudah khawatir.
"RIKA!!" teriak Meera dan Kevin keluar dari mobil di belakang Eltan.
bersambung ya
follow ig : dtyas_dtyas
atau facebook : dtyas auliah
__ADS_1
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐๐