Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Keluarga Pasien


__ADS_3

"Gawat !"


Kayla memutar badannya dan pergi ke sisi yang berlawanan dengan Elang yang berlari berputar mengikuti besi pembatas, menuju tempat Kayla tadi berdiri.


Elang menoleh kiri dan kanan di tempat Kayla tadi berada. Melihat ke bawah dan sosok Kayla kembali terlihat di escalator turun.


"Itu Kayla, aku yakin Kayla." Elang menuju Escalator untuk turun, tidak sabar dengan laju eacalator yang menurutnya sangat lamban ia pun melangkah turun.


Berjalan berputar menuju escalator berikutnya untuk kembali turun mengejar Kayla. Sedangkan Kayla yang sedang berada di escalator mencoba menghubungi Ria namun tidak dijawab.


"Halo, Bara."


"Lo dimana?"


"Aku di bawah, mereka menemukanku."


"Posisi lo di mana?" tanya Bara sambil berlari menuju escalator juga. "Ra, Bara kok gue ditinggal."


"Aku di....." Kayla melihat sekitar namun tatapannya kembali melihat sosok Elang yang berlari menuju escalator tempatnya berdiri.


"Kayla," panggil Elang saat melihat Kayla sudah melangkah menjauh dari escalator.


"Aku belum mau bertemu dengan kalian," batin Kayla lalu masuk ke dalam salah satu toko pakaian dan kebetulan toko pakaian muslimah. Kayla mengambil salah satu model busana yang menurutnya pas dengan ukuran tubuhnya.


Keluar dari kamar pas telah mengenakan busana yang tadi diambil dengan random. Membayar di kasir, dengan model baju gamis yang membuat tidak terlihatnya bentuk perut hamil Kayla. Kayla juga membeli sebuah pasmina dan memakainya.


Ponselnya bergetar, "Halo."


"Dimana Kay?"


"Parkiran, aku menuju parkiran."


"Tunggu di sana."


Bara menutup panggilannya. Kayla berjalan menuju pintu keluar yang mengarah ke parkiran. Sudut matanya melirik Elang masih ada di sana, menatap keliling mencarinya. Bahkan saat ini mereka berpapasan dan Elang tidak mengenali karena busana yang dikenakan Kayla.


Bara membuka pintu mobil ketika melihat Kayla, "Hubungi Ria, minta dia naik taksi," titah Bara pada Kayla.


"Halo."


"Ria, aku dan Bara langsung pulang."


"Parah gue ditinggal."


"Nanti aja aku ceritakan."


"Oke."


"Serius pulang ke sini, enggak ke tempat Ria aja," ucap Bara saat mengantarkan Kayla ke tempat tinggalnya selama ini.


"Hmm, aku langsung masuk ya, rasanya lelah."

__ADS_1


Bara mengangguk dan menatap Kayla yang berjalan masuk melewati pintu gerbang.


"Shitt," ujar Elang saat benar-benar kehilangan jejak Kayla. Bertemu dengan beberapa orang yang memastikan keberadaan Kayla.


"Nyonya Kayla benar sering ke salah satu cafe ini Bos, bahkan dia ikut mengisi acara di sana."


"Maksudnya Kayla bekerja di cafe?" tanya Elang.


"Bisa dibilang begitu, Nyonya Kayla juga menjadi penjahit dari salah satu butik. Pemilik butik dan cafe ini mereka berteman, termasuk Nyonya Kayla."


Elang tidak menyangka istrinya harus bekerja seperti itu dalam pelariannya bahkan dengan kondisi mengandung anaknya. Rasa bersalah yang Elang rasakan tidak sepadan dengan penderitaan Kayla.


"Sshhhh, perutku sakit sekali," rintih Kayla sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. Ia berbaring berharap rasa nyerinya berkurang.


Kayla terus mengelus perutnya yang nyeri. "Apa karena aku tadi berlari ya," batin Kayla. Masih dengan rasa sakit di area perutnya, rintihan masih keluar dari bibir Kayla. Entah berapa lama ia menahan sakit sampai akhirnya terlelap.


Esok pagi, Kayla yang merasa sakit diperutnya telah berkurang memutuskan menemui Ria dan Bara. Karna motornya masih tertinggal di ruko sebelum kemarin mereka ke mall, Kayla memutuskan untuk menggunakan angkutan umum.


Turun dari angkutan umum tidak jauh dari ruko lalu berjalan kaki. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari ruko.


"Jadi gimana? Mereka tau tempat kost lo Kay?" tanya Ria yang sepertinya sudah mengetahui kejadian kemarin.


Kayla menggeleng, "Makanya aku mau bicarakan hal ini dengan kalian. Aku bingung, sebentar lagi pasti mereka tau tempat tinggal ku."


Bara baru saja tiba, "Gimana Kay?"


"Apanya yang gimana? Dia juga bingung," sahut Ria.


"Hmm, gimana ya. Bingung juga aku, Enggak nyangka aja, bisa ditemukan."


"Kamu bersembunyi dimana dan pergi kemana pun akan aku temukan Kay." Suara seseorang yang berada di pintu, mereka menoleh ke arah suara.


"Om Elang," ujar Kayla lirih.


"Kayla," panggil Elang lalu menghampiri Kayla, namun Kayla mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding.


Bara yang melihat Kayla menghindar dari pria yang menghampirinya segera mendekat lalu menahan tubuh Elang dengan tangannya.


"Sepertinya Kayla tidak ingin bertemu dengan anda," ucap Bara.


Elang menatap pria dihadapannya, lalu menoleh pada tangan yang menghalanginya. "Minggir, jangan ikut campur."


"Jelas ikut campur, ini tempat kita, lo enggak diundang disini," jawab Bara.


Tiba-tiba wajah Kayla memucat, sakit yang semalam ia rasakan kembali namun ia lebih khawatir jika Bara dan Elang bertindak lebih jauh dari ini karena keduanya terlihat sangat emosi.


"Kayla adalah istriku, aku harus menemuinya. Siapa kamu berani menghalangiku."


Bara tertawa, "Apa menurutmu Kayla mau bertemu denganmu, buktinya ia menghindar."


"Minggir, aku tidak ingin menggunakan kekerasan."

__ADS_1


Bara tersenyum sinis, "Kau pikir aku takut."


"Bara," panggil Kayla.


"Bara, sebaiknya kita duduk bicarakan baik-baik," ujar Ria.


Elang yang mendengar Kayla menyebut nama laki-laki dihadapannya menjadi emosi.


"Minggir," ucapnya sambil mendorong tubuh Bara.


Bara melepaskan pukulannya pada wajah Elang.


Bughhhh, Elang jatuh tersungkur. "Aahhhh," jerit Kayla melihat pukulan yang diterima Elang.


Bara menghampiri Elang yang sedang mengusap ujung bibirnya yang berdarah, meraih kerah kemeja Elang bermaksud memukulnya kembali. "Bara," panggil Ria sambil menahan tangan Bara. "Jangan gila lo, ingat dia itu siapa. Lo yang memulai ini," ujar Ria.


Kayla menggigit bibirnya menahan sakit, tangan kanannya memegang perut sedangkan tangan kiri berpegangan pada dinding. Tubuhnya lunglai perlahan turun sampai terduduk.


"Pe-rutku," ucap Kayla kemudian tidak sadarkan diri.


"Kay," panggil Elang lalu meringsek maju.


"Kayla," pekik Ria.


Bara dan Elang kembali akan berdebat saat mendekati Kayla. "Bisa kalian lanjutkan nanti perkelahiannya, gue mau bawa dia ke Rumah Sakit," bentak Ria.


"Siapin mobil," ucap Ria pada Bara yang langsung berlari keluar.


"Kay, Kayla. Sayang," panggil Elang sambil menepuk pipi Kayla kemudian menggendongnya.


Elang masuk ke dalam mobil yang ditunjuk Ria dimana Bara yang mengemudi. Sedangkan Ria duduk disamping Bara.


"Rumah sakit terdekat aja," titah Ria. Kurang lebih sepuluh menit mobil itu memasuki area rumah sakit dan berhenti di depan IGD.


Ria segera membuka pintu untuk memudahkan Elang membawa Kayla. "Suster," teriak Ria. Meletakan Kayla pada brangkar yang disediakan, Elang mengikuti sambil menggenggam jemari Kayla.


"Tunggu disini saja Pak," ucap perawat pada Elang. "Saya suaminya," jelas Elang. "Pasien akan diperiksa, silahkan tunggu disini."


Elang menyugar rambutnya, Bara berlari ke arah IGD setelah memarkirkan kendaraan. Ria sudah duduk di kursi tunggu dengan rasa khawatir. Ada dua oramg menghampiri Elang, sepertinya orang-orang kepercayaannya yang sebelumnya dalam misi mencari Kayla. Seorang suster keluar untuk mendata identitas Kayla dan meminta anggota keluarga mengurus administrasi.


Hampir setengah jam mereka menunggu, lalu seorang Dokter keluar. "Keluarga pasien atas nama Kayla?"


Ria, Bara dan Elang melangkah maju menghampiri dokter. "Keluarga Kayla?" tanyanya lagi.


"Saya suaminya, Dok."


"Ikut saya, akan saya jelaskan kondisi pasien."


_______________


Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

__ADS_1


__ADS_2