
Balasan pesan belum Kayla terima namun Elang sudah bergerak cepat dengan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Kayla. Mencium leher jenjang itu, lalu berpindah pada bibir Kayla, memagutnya dengan sedikit kasar. Sedangkan tangannya sudah terampil menelusup ke dalam dress yang dikenakan Kayla, meraih gundukan yang masih tertutup kain berenda lalu mere*masnya.
Pasangan halal ini telah berpindah pada king size bed dengan sprei putih yang terasa sangat halus ketika bersentuhan dengan kulit. Kayla sudah berbaring tanpa busana, sudah pasti karena ulah Elang. Elang sendiri baru melepas jas dan dasinya, sedangkan kemejanya sudah kusut dan acak-acakan.
Terus men_cumbu Kayla hingga terengah, kini Elang menyapu leher dan terus turun pada dua bukit sintal milik Kayla, meng_hisap salah satu ujung puncaknya membuat bibir Kayla mendessah bahkan kedua tangannya sudah berada di rambut Elang lalu menjambaknya. Menjambak dengan perasaan dan penuh cinta untuk menyalurkan rasa nikmat karena sentuhan Elang.
"Akhhhh."
Kembali suara lembut nan menggoda itu terucap karena Elang berpindah pada puncak sebelahnya. Kemudian sapuan lidah dan bibir milik Elang perlahan turun ke bawah, tepat di atas perut buncit Kayla, Elang mengecup berkali-kali. Lalu turun lagi ke bawah dan berhenti di bawah perut Kayla.
Elang mengangkat wajahnya dan memandang hutan belantara inti tubuh Kayla, menatap dengan mata sendu dan nyalang. Kayla melirik sekilas, terlihat suaminya benar-benar dalam keadaan berga_irah. Kedua tangannya menekuk kedua kaki Kayla dan membuka agak sedikit melebar.
Kayla tidak dapat melihat wajah Elang karena sudah terbenam di bawah dan terhalang oleh perut Kayla, terasa permainan lidah dicekungan sempit milik Kayla. Memainkan dengan bergerak ke kiri dan kanan kadang berputar membuat si pemilik tubuh bergelinjang.
"Om El-lang, udahhh," ucap Kayla terbata-bata sambil memejamkan matanya sambil mere_mas sprei.
"Kenapa?" tanya Elang sambil berdiri, mengusap bibirnya yang basah. "Aku kan sudah janji mau bikin kamu enak." Kemudian melepas kemeja dan celana panjangnya menyisakan boxer yang bentuk di dalamnya terlihat sudah menegang.
Kayla menggigit bibir bawahnya melihat Elang melepaskan penutup tubuhnya yang terakhir menampilkan miliknya yang sudah menegang sempurna.
Membenamkan miliknya pada bagian inti Kayla yang sudah dibuat basah oleh Elang. "Ughhhhh," lenguuhan dari mulut Elang saat miliknya terbenam sempurna. Terdiam menikmati miliknya yang terasa dipijat oleh lubang hangat Kayla.
Hentakan dan gerakan pinggul Elang dilakukan pelan dan tanpa menekan perut Kayla, membuat keduanya bersahutan menikmati gelombang cinta dari arus kenik_matan yang sedang didayung keduanya.
Entah berapa lama Kayla dan Elang merasa melambung tinggi hingga tubuh Kayla menegang mencapai pelepasannya, Elang menghentikan gerakannya membiarkan Kayla terlena dengan rasa yang telah direguk.
Elang kembali bergerak bahkan sedekit cepat dan menegang, "Akhhhhh, Kay... nikmatmu masih sama, ruarrrr biasa." Rebah disamping Kayla dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Tidurlah, kita reka ulang besok pagi."
Kayla bergerak perlahan merubah posisinya miring menghadap Elang yang memejamkan matanya dengan kedua tangan dilipat dibelakang kepala.
"Sayang, sudah tidur?"
Elang membuka matanya, mereka kini berbaring berhadapan. "Kamu bilang apa tadi?"
"Sudah tidur."
"Bukan, sebelumnya?"
"Apa? Enggak ada." Kayla menyentuh rahang Elang, perutnya yang tanpa penghalang menempel pada tubuh perut Elang. Tiba-tiba, perut Kayla kedutan karena gerakan janin di dalamnya.
"Eh," ucap Elang, "itu tadi apa Kay?"
Kayla merubah posisinya menjadi terlentang, "Kedutan, mungkin dia bergerak," ucap Kayla mengelus perutnya yang dilapisi selimut."
Tangan Elang meraba perut Kayla, wajah Kayla terlihat sendu, "Kenapa? Hmm?"
"Om Elang, enggak akan tinggalin aku kan ?"
Elang memyangga kepalanya dengan tangan kiri, "Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?"
"Entahlah," ucap Kayla.
"Tidurlah Kay, jangan memikirkan yang tidak jelas. Kalau sampai kamu sakit bisa-bisa aku ditendang oleh Bunda."
__ADS_1
Sudah hampir tengah malam, Elang sudah terlelap dengan dengkuran halusnya. Tapi Kayla belum Bisa memejamkan matanya, dia teringat tatapan wajah Sena saat dirinya dan Elang berlalu meninggalkan ruang rapat. Tatapan iri, benci, marah dan cemburu.
Esok hari, Elang sudah terbangun. Tersenyum membuka matanya melihat wajah cantik istrinya. Meski dalam keadaan tertidur, namun tetap terlihat menggemaskan. Elang sebenarnya merasa kurang percaya diri, karena perbedaan umur mereka. Khawatir jika ada permasalahan lagi, Kayla memilih berpisah. Maka sebisa mungkin, ia akan bersabar dan berusaha memahami Kayla.
Cup
Cup
Cup
Kayla terbangun karena ada sesuatu yang terasa lembut di pipinya berpindah pada dahinya lalu bibirnya.
"Ehmmm," perlahan Kayla mengerjapkan kedua matanya.
"Morning, cintaaaa," bisik Elang.
"Jam berapa Om? Kok aku masih ngantuk ya."
"Masih pagi, masih leluasa kalau mau olahraga dulu."
"Olahraga apa? Aku kan lagi hamil."
"Olahraga ranjang Kay," ucap Elang sambil tersenyum simpul dan menaik turunkan alisnya. Kayla mendelik pada Elang yang saat ini berbaring miring menatapnya.
"Enggak ah, aku capek."
"Rileks, kamu cukup diam dan nikmati. Aku yang akan aktif bergerak, oke?"
Elang kembali beraksi bergerak di atas tubuh Kayla, perlahan dan hati-hati. Namun membuat tangan Kayla mencengkram dan mere_mas bahu Elang menahan rasa nikmat karena perbuatan Elang.
"Hahhhh," kini Elang rebah disisi Kayla.
Kayla sudah menyelesaikan mandi dan memakai bathrobe, rambutnya ia gulung dengan handuk kecil. Melihat Elang yang malah terlelap, Kayla mendekat dan mengguncang pelan tubuh Elang.
"Hmm, kenapa sayang?"
"Aku lapar, kita sarapan yuk."
"Hmm."
"Om Elang!!!" Jerit Kayla.
"Kayla," ucap Elang langsung bangun, "kamu bikin kaget aja."
"Aku mau makan, Om," rengek Kayla, "lagi hamil itu cepat lapar dan gak boleh telat makan."
"Oke-oke, aku mandi dulu, sepuluh menit." Elang bergegas ke kamar mandi.
"Ayo," ajak Elang sudah mengenakan pakaian, masih pakaian yang ia pakai kemarin.
"Tapi aku maunya bubur ayam," jawab Kayla.
"Menu breakfast disini beragam, bubur ayam pasti ready."
"Tapi, aku maunya bubur ayam di sebelah rumah kost."
__ADS_1
"Oke," jawab Elang, "Eh, rumah kost?"
Kayla mengangguk.
"Rumah kost di Bandung?"
Lagi-lagi Kayla mengangguk.
"Sekarang?"
"Menurut Om, aku sarapan harusnya kapan? Besok?"
Elang melirik jam tangannya, "Kalau tidak terjebak macet, sampai sana jam sebelas siang Kay. Kalau macet bisa lebih lama, apa masih buka?"
Kayla mengedikkan bahu, Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi, kita berangkat sekarang?"
Kayla mengangguk.
Mereka sudah sampai lobby, "Makan bubur aja harus ke Bandung, masih enakan juga boleh chef disini," batin Elang.
Elang mengangguk pada pegawai yang menyapa, mood Kayla langsung berubah saat melihat Sena berjalan ke arah mereka.
"Selamat Pagi Pak?" sapa Sena.
"Pagi," jawab Elang, tanpa berhenti atau menoleh.
Mobil Elang sudah stand by tidak jauh dari lobby berikut supirnya, "Aku pulang aja deh," ucap Kayla.
Elang melirik Kayla, mencoba membaca raut wajah istrinya. Tidak menemukan raut marah, ngambek atau kesal, bahkan cenderung datar.
"Buburnya?"
"Udah enggak nafsu, lagian aku masih pakai baju semalam. Enggak nyaman."
Elang menarik nafas lega, tidak membayangkan jika ia ia dan Kayla harus menempuh jarak sekitar 3 jam hanya untuk makan bubur ayam.
"Ya udah aku diantar supir aja, Om mau langsung kerja kan?"
"Yakin? Aku antar aja!"
"Enggak usah, aku enggak mau dibilang menyusahkan suami," jawab Kayla.
"Tapi aku tidak merasa disusahkan."
Kayla akan membuka pintu mobil namun Elang menahan tangannya lalu mencium kening Kayla, "Hati-hati ya!"
"Hmm."
"Tunggu aja, nanti siang aku mau kasih kejutan," batin Kayla sambil tersenyum.
#untuk kata-kata tertentu sengaja diketik seakan typo untuk menghindari sensor
_______________
Tinggalkan jejak cinta dengan memberikan like, komentar, favorite, vote dan bintang 5. Salam sayang dari Author 💖💖
__ADS_1