Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Kehamilan Rika


__ADS_3

Eltan khawatir karena Rika tidak dapat dihubungi sejak semalam, ia pun meminta Reka mengecek keadaan Rika. 


"Pass codenya apa?" tanya Reka melalui sambungan telpon saat ia sudah berada di depan unit apartement Eltan.


Reka mencari keberadaan Rika dan menemukannya terbaring lemah di atas ranjang. "Astaga, ka. Rika," panggil Reka sambil menepuk pipi Rika. Rika tidak merespon panggilan dan sentuhan Reka, mau tidak mau ia harus membawa Rika ke Rumah sakit.  


Taksi berhenti tepat di depan UGD, Reka menggendong Rika dan merebahkan dibatas brankar yang langsung dibawa masuk oleh perawat. 


"Maaf, Mas tidak bisa masuk. Silahkan tunggu di sini," titah salah satu perawat. Reka segera menghubungi Eltan. 


Karena kondisi Rika yang lemah, dokter menyarankan ubtuk rawat inap. Inisiatif Reka membawa Rika ke Rumah sakit tempat Kenan di rawat untuk memudahkan keluarganya mendampingi pasien. 


"Kenapa bisa? Kemarin dia bilang sudah sehat taunya begini," ujar Meera saat menghampiri Reka di UGD. 


"Nanti tanya aja sama dokter sebenarnya sakit apa?" Jawab Reka sambil memainkan ponselnya. "Kata suster bentar lagi dipindah ke ruang rawat, ambil VIP juga. Paling enggak jauh dari kamar Kenan," tambahnya. 


Baik Elang maupun Eltan mempercepat kepulangannya, Eltan sudah berada di bandara menunggu jadwal keberangkatan ke Jakarta. Meera dan Reka mendampingi saat Rika dipindahkan ke ruang rawat. "Kalau suami Bu Rika sudah datang, diminta bertemu dokter ya. Mau dijelaskan tentang kondisi pasien," ujar perawat pada Meera. 


"Bunda bilang juga apa, makan! Malah begini, ngapain juga kemarin malah pulang," ucap Meera pada pada Rika. "Kepalaku pusing Bun," sahut Rika sambil memejamkan matanya. 


"Minum dulu, bibir kamu sampai kering begitu. Gimana nanti kalau Eltan datang lihat kamu begini, dipikir Bunda enggak bisa ngurusin kamu."


.


.


.


Eltan datang menjelang malam, saat masuk kamar Rika sedang tertidur. "Sebenarnya Rika sakit apa Bun?" tanya Eltan sambil menatap khawatir pada Rika. 


"Kamu temui dokter aja, untuk lebih jelasnya. Bunda temani Kayla dulu, biarkan dia tidur. Dari tadi mengeluh kepalanya pusing." 


“Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien atas nama Rika dalam kondisi hamil. Besok bisa kita konsulkan untuk memastikan kondisi kanduangan dengan poli kandungan. Yang perlu dikhawatirkan adalah pasien seperti dalam kondisi tertekan, dikhawatirkan akan berpengaruh pada kehamilannya. Anda suaminya, pastikan pasien tidak dalam kondisi stress belebihan.”


Penjelasan dokter membuat Eltan terkejut. Terkejut karena tidak menyangka saat ini Rika sedang mengandung, mengandung keturunannya. Tapi, masalah Rika sedang tertekan ia sama sekali tidak paham dengan hal ini.

__ADS_1


“Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?” batin Eltan. Kembali ke kamar rawat Rika setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, menahan tangannya yang sangat ingin mengusap keringat di dahi dan mengelus puncak kepala Rika agar tidak membuat istrinya terbangun.


“Gimana, apa kata dokter?” tanya Meera. Eltan menoleh pada Rika, memastikan istrinya masih nyaman. “Rika hamil, Bun.” Meera menutup mulutnya dengan kedua tangan, agar tidak menimbulkan suara. “Serius,” ucapnya lirih. Eltan mengangguk. “Aku akan punya cucu lagi?” tanya Rika, Eltan kembali mengangguk.


“Aku harus sampaikan ini pada yang lain, ini sih berita baik,” sahut Meera sambil meninggalkan kamar rawat Rika. Eltan duduk di samping brankar Rika, memandang wajah yang terlihat sangat pucat.


Tidak lama kemudian, terlihat pergerakan dari tubuh Rika. Kedua mata itu kini terbuka, “Sayang,” panggil Eltan.


"Bang El," ucap Rika, "aku mau pulang." Eltan menghela nafasnya, "Kita pastikan dulu semuanya aman," sahut Eltan. 


"Aman gimana? Memang aku sakit apa?" tanya Rika sambil berusaha bangun untuk duduk dibantu oleh Eltan. "Hati-hati, kamu mau ngapain? Sudah benar berbaring malah bangun."


"Aku mau ngomong serius," ujar Rika. Eltan ikut duduk pada sisi ranjang Rika. "Ngomong apa?" Eltan menggenggam tangan Rika yang terbebas dari infusan, padahal ia sudah ingin merengkuh Rika untuk berada dalam pelukannya karena rasa bahagia bahwa wanita dihadapannya sedang mengandung anaknya.


"Pokoknya kalau Bang El ke luar kota aku mau ikut, jangan titipin aku sama bunda. Kayak aku helm aja pake dititip segala," rengek Rika. Eltan menghela nafasnya, masih menggenggam tangan Rika. 


Bagaimana bisa ia akan mengajak Rika jika saat ini kondisinya sedang hamil. "Aku senang banget kalau kamu bisa dampingi aku kemana pun. Tapi saat ini kondisi kamu tidak bisa seenaknya begini.”


“Kenapa sih semua pada berlebihan, aku cuma pusing tapi sampai di rawat begini.” Eltan menahan emosinya, harus ekstra sabar menghadapi Rika yang jelas-jelas umurnya sangat jauh di bawah umurnya artinya untuk hal tertentu kadang Rika belum bisa bersikap dewasa.


“Ada yang mau kamu sampaikan? Aku ini suami kamu, masih mau main rahasia?”


Rika menggelengkan kepala, “Aku hanya kawatir.”


“Tentang?” tanya Eltan


“Bunda dan Kak Kayla.”


Eltan meraih dagu Rika dan sedikit mengangkatnya agar wajah Rika sejajar dengan wajahnya. “Cerita yang bener, ada masalah apa?”


“Bang El, apa kebahagian kita juga kebahagian untuk Bunda dan Kak Kayla? Aku khawatir Bunda sebenarnya tidak bahagia dan Kak Kayla sebenarnya kecewa.” Eltan merubah posisinya kembali duduk di atas kursi di samping ranjang Rika, lalu meletakann wajahnya pada punggung tangan Rika. “Maaf sayang, aku tidak tau kamu tertekan masalah ini. Agar tidak jadi beban pikiran kamu, aku akan tanyakan kembali pada Bunda tentang hal ini.”


“Tanya apa? Masalah apa?” Rika dan Eltan menoleh pada Meera yang berjalan ke arah mereka.


“Ada masalah apa?” Meera menatap bergantian Rika dan Eltan. Rika hanya menunduk, “Eltan!” ucap Meera.

__ADS_1


Eltan menarik nafasnya sebelum ia mulai bicara, “Rika khawatir jika selama ini Bunda tidak bahagia atau bahkan kecewa dengan pernikahan kami. Ini sudah pasti ada hubungan dengan masa lalu aku,” jelas Eltan. Rika menggeser tubuhnya memeluk lengan Eltan. “Maafin aku Bun,” ucap Rika sambil terisak yang membuat Eltan mengusap kepala Rika dan menghapus air mata di wajahnya.


“Tidak bahagia bagaimana? Bunda akan sangat bahagia kalau anak-anak Bunda bahagia. Melihat Kayla sekarang Bunda sudah tenang, menerima usul Papih untuk menikahkan kamu Bunda lebih tenang. Karena Bunda khawatir kalau kalian dekat tanpa menikah apalagi kami tidak merestui, Bunda tau karakter kamu yang nekat. Pilihan menikahkan kamu dengan Eltan itu jawaban terbaik agar kalian enggak aneh-aneh.”


“Tapi kak Kay?” sahut Rika.


“Kenapa dengan Kayla? Dia sudah move on, suaminya sekarang sudah bucin, ngapain harus ingat masa lalu,” ungkap Meera.


“Tapi ...”


“Sudah enggak usah banyak mikir macam-macam,” potong Meera, “fokus sama kuliah dan jaga kesehatan, jangan sampai yang diperut kamu kena imbasnya.”


Rika mengernyitkan dahi, “Emang di perut aku ada apanya, tadi juga cuma makan sedikit,” sahut Rika. Meera menyerahkan goody bag yang dibawa pada Eltan, “Suapi Rika, ini Sup jamur masih hangat, Bibik yang masak dan barusan Reka yang antar. Takutnya dia enggak suka makanan rumah sakit, jangan sampai perutnya kosong. Bunda mau nemenin Kayla lagi, Elang belum datang.”


“Iya Bun,” jawab Eltan.


Setelah Meera meninggalkan ruangan itu dan Eltan sedang mengeluarkan kotak bekal berisi sup jamur untuk ia suapi pada Rika. “Bang El, maksud Bunda apa sih. Emang kenapa dengan perut aku?”


Eltan meletakan kembali apa yang ia pegang dan menghadap Rika untuk menyampaikan kondisinya, “Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata kamu hamil,” ucap Eltan dengan wajah tersenyum dan tangannya menyentuh perut Rika, “ada keturunan aku di sini. Terima kasih sayang.” Eltan mencium kening Rika.


“Aku hamil? Bang El hamilin aku?” tanya Rika


“Hahhh.”


 


 


 ______


Good Morning gaesss ☺,,, sehat-sehat untuk para reader. jangan lupa jejaknya ya


 


 

__ADS_1


__ADS_2