
Hormon kehamilan Rika membuat wanita ini mengalami mood swing, Eltan harus extra sabar menghadapinya. Belum lagi Rika yang berubah sangat manja pada Eltan.
"Sayang," panggil Eltan melihat gelas berisi susu hamil Rika masih terisi penuh. "Hmm," jawab Rika dengan posisi berbaring miring disofa, ia sedang menonton tv.
"Kenapa susunya belum diminum?"
"Rasanya enggak enak, untuk Bang El aja," sahut Rika. Eltan menghampiri Rika, "Habiskan dulu," titahnya sambil menyerahkan gelas ke hadapan Rika.
Rika berdecak, "Minum!" titah Eltan. Rika memgambil gelas yang disodorkan Eltan. "Aku sudah penuhi permintaan Bang El, aku habiskan nih." Rika menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong.
"Sekarang Bang El yang harus penuhi permintaan aku," ujar Rika. "Kamu minta apa, sayang." Sambil mengelus rambut Rika.
"Nanti malam jangan ganggu tidur aku, Bang El tidur disofa." Rika beranjak dari sofa menuju kamar. "Loh, jangan gitu ding. Sayang," Eltan mengejar Rika.
"Mut, masa aku puasa lagi. Kemarin-kemarin kamu sakit aku enggak apa-apain kanu, sekarang kamu terlihat lebih sehat. Boleh ya Mut," harap Eltan dengan wajah penuh harap.
"Sana, jangan dekat-dekat aku. Bang El baunya enggak enak."
"Bau," ucap Eltan sambil mencium kedua pangkal lengannya. "Wangi, Mut. Aku kan habis mandi," terang Eltan.
"Pokoknya jangan ganggu, aku mau tidur," ujar Rika lalu berbaring di ranjang memunggungi Eltan.
"Kamu serius mau tidur?"
"Iya."
"Aku enggak boleh tidur disini?"
"Iya."
"Tapi boleh dong satu ronde dulu."
"Iya," jawab Rika. "Oke, sekarang ya," sahut Eltan sambil terkekeh.
"Eh, enggak ada ya," ujar Rika lalu merubah posisinya menjadi terlentang. Eltan tidak ingin melewati kesempatan tersebut langsung mengungkung tubuh Rika. "Kamu sendiri yang menjawab boleh," ucap Eltan.
"Curang, Bang El ..." Eltan melummat bibir Rika yang sejak tadi terus mengoceh. Menyesap lembut atas dan bawah bergantian. “Aku sayang kamu, Mut,” ujar Eltan saat melepaskan pagutannya.”Aku juga sayang Bang El,” sahut Rika sambil mengalungkan tangannya di leher Eltan.
__ADS_1
Kemudian keduanya meleburkan gelora dan rasa yang sama pada penyatuan diri yang membuat keduanya seakan berada di sungai madu cinta merasakan kenikmatan dunia. Saling mendessah, mengerang dan melenguh saat sentuhan dan gerakan dari pemilik tubuh itu saling memanja dan mendamba.
“Ba-ng El,” ucap Rika, “a-ku, aaaahhhh.” Rika yang mengejang lalu mendessah panjang karena telah sampai pada puncak kenikmatannya. “Ohhhh, sayang, ini ... nikmat. Aku benar-benar candu.” Eltan terus bergerak bahkan semakin cepat dan, “oughhhh.”
Nafas keduanya terengah, cairan kental telah tumpah di dalam lubang hangat Rika. “Terima kasih sayang,” ucap Eltan lalu mencium kening Rika. Melepaskan penyatuan tubuh mereka, Eltan berbaring di samping Rika.
“Bang El,” panggil Rika, namun tidak ada sahutan. Ia pun menoleh dan mendapati Eltan yang telah terpejam diiringi dengkuran halus. “Ishh, malah dia yang tidur duluan.”
.
.
.
Kayla yang baru saja tiba di salah satu ruang pertemuan Two Season, dengan tangan Elang yang merangkul pinggang Kayla berjalan ke tengah acara. “Kenapa aku harus ikut sih,” ujar Kayla pada Elang.
“Kejutan, ada yang ingin aku kenalkan sama kamu. Tapi udah kenal sih, Cuma sekarang beda status aja.” Kayla berdecak karena teka teki dari Elang. Berada dalam sebuah perjamuan merayakan kerjasama Two Season dengan rekanan baru untuk pembangunan cabang Jogya.
“Siapa sih?”
Pria tersebut menoleh dan tersenyum saat melihat Kayla, “Bara,” ucap Kayla, “kamu beneran Bara?”
Bara terkekeh, “Kok bisa ada di sini? Mas Elang, yang tadi dimaksud adalah Bara?” Elang mengangguk. “Kalian ngobrollah, tapi enggak usah aneh-aneh. Kayla sudah paten milik gue,” ucap Elang pada Bara lalu pergi meninggalkan Bara dan Kayla menghampiri rekan lainnya.
“Ini maksudnya gimana sih?” tanya Kayla.
Bara mengedikkan bahunya, “Kalian kerja sama atau kamu bekerja di Two Season?”
“Lebih tepatnya sekarang kita partner,” jawab Bara, “Two Season kerja sama dengan perusahaan Ayah, dan untuk project ini beliau percayakanya untuk aku kelola.”
Kayla memicingkan matanya, “Jadi udah kembali ke habitat asli?’ Bara terkekeh, hanya membantu mengelola, ternyata tidak semua orang yang berada di sekeliling Ayah mempunya niat baik. Kebanyakan berhati busuk,” ungkap Bara.
Sedang asyik berbicara diselingi canda mengingat saat mereka hidup di Bandung yang sama-sama menghindari keluarga. “Kak Kay,” panggil Rika yang baru saja datang, mengenakan dress A line dengan lengan pendek berwarna putih dan wedges berwarna senada. Rambut yang digerai dan polesan flawless make up.
“Baru datang?” tanya Kayla yang dijawab dengan anggukan, sedangkan wajahnya terlihat menatap sekeliling. “Bang El mana sih?”
Bara menoleh pada wanita yang sedang berbicara dengan Kayla, “Loh, kamu,” ucap Bara yang membuat Rika menoleh ke arahnya. Rika melirik sinis dan mencibir, “Ngapain ketemu lagi sama ini orang, raja kepo,” batin Rika.
__ADS_1
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Kayla menatap Bara dan Rika bergantian.
“Enggak.”
“Iya.”
Rika dan Eltan menjawab berbeda, “Kapan juga gue kenal sama loe?”
“Bukan kenal, tepatnya pernah bertemu,” jawab Bara. “Terserah,” sahut Rika. Kembali memindai sekelilling mencari Eltan.
“Bang El,” panggilnya lalu meninggalkan Kayla dan Bara. “Kayaknya pertemuan kalian enggak baik ya, kalau lihat dari sikap Rika seperti itu,” ungkap Kayla.
Bara tertawa, “Waktu itu kita bertemu di pesta, aku pikir ngapain juga bocah di tengah para eksekutif muda. Dia bilang bareng suaminya, sempat enggak percaya sampai terucap istilah sugar baby untuknya,” terang Bara.
“Wajar aja Rika ngambek begitu, dia memang benar sudah menikah dan itu suaminya,” jelas Kayla pada Bara. Terlihat Eltan yang segera merangkul Rika dan mengecup kening istrinya, Bara menyaksikan moment tersebut.
“Mereka menikah karena perjodohan atau ...”
“Cinta, mereka saling mencintai. Memang jelas terlihat perbadaan umur, sama seperti aku dengan Mas Elang,” ungkap Kayla.
Sementara, percakapan yang terjadi antara Rika dan Eltan, “Bang El kenal dengan pria yang sedang bicara dengan Kak Kay?” tanya Rika membuat Eltan menoleh ke arah Kayla. “Owh, dia putra dari pemilik perusahaan yang sedang kita rayakan kerjasamanya. Beberapa bulan ke depan aku dan paman akan sering berhubungan dengan perusahaannya termasuk bertemu pria itu, namanya Bara. Kamu kenapa tanya tentang dia? Jangan bilang kamu terpesona sama si Bara,” tuduh Eltan.
Rika melepaskan rangkulan lengan Eltan, “Aku enggak suka ya, Bang El prasangka buruk begitu. Bukan seperti itu bertanyanya,” ucap Rika. “Aku pulang.” Rika berbalik dan meninggalkan Eltan.
“Sayang,” panggil Eltan sambil berjalan mensejajari Rika, “hei, aku bercanda dan hanya bertanya.”
“Bercanda Bang El sama sekali enggak lucu, udah deh mending Bang El kembali ke ruangan. Aku enggak mau wibawa Bang El jatuh karena ada yang menyaksikan kita bertengkar.”
“Rika,” panggil Eltan sambil meraih lengan istrinya.
“Eltan,” panggil seseorang yang membuat Eltan menoleh dan Rika berjalan semakin jauh.
_____
Hai, terima kasih masih setia menunggu kisah Kayla dan Rika. maaf kalau ceritanya tidak berpihak pada keinginan beberapa pihak pembaca. 🙏
jangan lupa jejaks yesss
__ADS_1