Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Puaslah, Masa Enggak


__ADS_3

Rika masih berada di kampus saat ponselnya bergetar, ternyata pesan masuk dari suaminya. 


"Mut, pulang kuliah langsung ke Two Season"


Rika sedang mengetik untuk membalas namun kembali masuk pesan dari Eltan. 


"Enggak ada penolakan ya, sayang." 


Rika mencibir membaca pesan kedua, "Niatnya mau cepet pulang terus tidur, alamat pulang malam deh," ujar Rika bermonolog. Reka yang duduk disampingnya sedang bicara dengan rekan lainnya menoleh pada Rika. "Kenapa sih, ngoceh-ngoceh enggak jelas?" tanyanya. 


"Enggak apa-apa, cuma gagal aja rencana tidur lebih cepat," sahut Rika lalu merebahkan kepalanya pada bahu Reka. "Aku kangen Bunda," ujarnya. 


"Tapi Bunda enggak kangen tuh sama loe, senang dia cewek rese dan malas kayak loe akhirnya pergi," ejek Reka yang dibalas dengan pukulan dari Rika. 


"Jahat banget sih, padahal loe juga kangen gue kan? Ngaku aja sih," ujar Rika. Reka hanya meringis mengusap lengannya yang dipukul Rika. 


"Punya kembaran kejam bener,” sahut Reka. Perdebatan mereka pun berhenti karena dosen mata kuliah berikutnya sudah masuk ruangan. 


.


.


.


"Pulang ke mana?" tanya Reka. 


"Aku mau nyusul Bang El ke hotel," jawab Rika sambil memakai ranselnya. "Mau gue anter?" tanya Reka yang sedang memakai jaketnya. Rika mengangguk, "Dari pada naek taksi, lumayan hemat." 


Reka menggelengkan kepalanya, "Jangan pelit-pelit, suami loe salah satu pemilik Hotel bintang lima, masih khawatir aja sama uang receh.” 


"Bodo amat," jawab Rika lalu berjalan menuju parkiran. Memeluk tubuh Reka saat berada di atas motor, akhirnya mereka sampai di depan lobby Two Season. "Gue lanjut ya," ucap Reka saat Rika turun dari motor dan melambaikan tangan. 


Rika mengetuk pintu ruangan Eltan, tidak ada jawaban ia pun menekan handle pintu. "Kok enggak ada, Bang El kemana ya?" 


Meletakan tasnya di sofa, Rika menuju kamar mandi. Merasa lebih segar, setelah mencuci mukanya. Saat keluar, ternyata Eltan sudah berada di meja kerjanya, seorang wanita berdiri tidak jauh dari Eltan. Sesekali mengangguk mendengar arahan dari Eltan mengenai berkas yang dipegangnya. 

__ADS_1


Eltan menoleh pada Rika, "Tunggu sebentar ya, sayang," ucapnya. Wanita yang ternyata asisten Eltan pun tersenyum pada Rika. 


Menunggu adalah hal membosankan, mau tidak mau Rika akhirnya fokus pada ponselnya sambil menunggu Eltan. Tidak menyadari kini Eltan sudah berada di sampingnya, “Kamu udah makan, Mut?” Rika menoleh, hembusan nafas Eltan terasa hangat di wajah Rika karena jarak mereka sangat dekat.


“Sudah, Bang El?’


Eltan mengangguk sambil membelai rambut Rika, “Nanti malam aku ada undangan pesta, kamu ikut ya?”


“Pesta?” Eltan mengangguk. Rika tampak berfikir, pesta yang dimaksud pasti sangat membosankan. Tapi sebagai seorang istri yang baik dan mendukung pekerjaan suaminya, Rika mau tidak mau harus siap mendampingi Eltan.


Dirinya akan belajar menjadi istri yang baik, “Tapi pakaian aku gimana?”


“Lisa sudah siapkan semuanya,” jawab Eltan. Dahi Rika berkerut, “Lisa? Lisa siapa?”


“Asisten aku, namanya Lisa. Yang tadi ada di sini,” jelas Eltan.


“Hmmm.”


Gaun yang disiapkan untuk Rika sangat pas ditubuhnya, entah dari mana asisten Eltan mengetahui ukuran tubuhnya. Dengan sedikit polesan make up, Rika terlihat menawan dan lebih dewasa.


Eltan yang sudah menunggu di luar ruang kerjanya sempat tercengang melihat penampilan istrinya. “Woww,” ucap Eltan. “You look so 'arghhhh',” bisik Eltan saat mereka berjalan berdampingan sambil merangkul bahu Rika menuju lift.


“Bang El,” ucap Rika sambil menggoyangkan lengan Eltan yang sedang dirangkulnya. Eltan menoleh dan sedikit menunduk karena terlihat Rika ingin membisikan sesuatu. “Aku mau ke toilet,” ujar Rika.


Eltan mengangguk dan menunjuk arah toilet, “Mau diantar?” Rika menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Eltan. Setelah dari toilet Rika menghampiri buffet yang tersedia.


Mulutnya sedang mengunyah dimsum saat seorang pria menghampirinya, “Hai,” sapa pria itu. Rika menoleh, pandangan pria tersebut membuat Rika tidak nyaman. Rika bergerak menuju meja minuman, mengambil segelas soda. “Ke sini bersama siapa?” tanya pria itu lagi. Rika menoleh ke arah Eltan, “With him,” jawabnya sambil menunjuk dengan dagu. Eltan yang juga sedang menatapnya tersenyum pada Rika.


Pria itu tertawa, “Sugar baby.”


Rika menatap sinis, “Kami menikah,” ucapnya sambil menunjukan cincin yang melingkar di salah satu jarinya. “Kamu terlihat masih muda, ada perbedaan umur antara kalian. “Married by accident? Atau perjodohan.”


“Kepo bener sih jadi orang, mau dijodohin atau bukan itu urusan gue. Enggak ada ya istilah hamil duluan, gue masih peraawan waktu akad nikah dengan Bang El,” ucap Rika lalu meninggalkan pria itu.


“Menarik,” ucapnya.  

__ADS_1


.


.


.


Kini Rika dan Eltan dalam perjalanan pulang menuju apartemennya, keduanya hanya diam. Jika Eltan diam karena sedang fokus pada kemudi, lain hal dengan Rika. Ia memikirkan apa yang dikatakan oleh pria yang mendekati dirinya saat berada di pesta.


“Sugar baby.”


Sepintas mungkin orang akan mengatakan hal yang sama jika melihat kedekatan dan kemesraan Eltan dan Rika. “Sayang,” panggil Eltan tanpa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh istri kecilnya.


“Hmm.”


“Kamu mau makan sesuatu? Kita belum makan malam, tadi belum sempat mencicipi apapun.”


“Sate,” jawab Rika. “Oke, kira-kira resto mana yang menu satenya enak?”


Rika menghela nafas, “Aku mau makan sate warung tenda pinggir jalan,” jawab Rika. “Hah, pinggir jalan? Kamu yakin makanan itu sehat?”


Awalnya Eltan yang mempermasalahkan soal kehigienisan dan sehat atau tidak dengan makan di warung tenda pinggir jalan. Namun saat merasakan cita rasa dari makaanan yang dipesan Rika, Eltan malah makan dengan porsi yang lebih banyak. “Ini Om sate kambingnya, dijamin meningkatkan gairah,” ucap pedagang sate lirih namun dapat didengar oleh Eltan dan Rika.


Rika yang sedang menenggak air mineralnya tersedak mendengar kalimat tadi, “Minumnya pelan-pelan dong,” ujar Eltan sambil mengelus pelan punggung Rika. “Itu maksud Bapak tadi apa, Bang? Meningkatkan gairah apa?” tanya Rika. Eltan tersenyum, “Nanti juga kamu tau,” jawabnya.


Akhirnya, semua itu terjawab saat Rika dan Eltan tiba di apartement. Rika yang sedang melepas heels yang sedari tadi sudah ingin ia lempar, mendapatkan sentuhan yang tidak terduga. Eltan yang setelah menutup pintu unitnya langsung merengkuh tubuh Rika dan mendorong pelan hingga menempel pada dinding dengan pagutan bibir yang terasa begitu menggebu.


“Bang El,” ucap Rika saat tangan terampil Eltan melucuti gaun yang dikenakan istrinya. “Jangan di – hmmpp,” ucapan Rika terpotong karena sudah dibungkam oleh penyatuan bibir Eltan.


Kini keduanya sudah berada di atas sofa dengan tubuh yang sama-sama polos. Rika hanya bisa mendessah saat Eltan meninggalkan banyak jejak di tubuhnya. Gerakan penuh perasaan dan gairah membuatnya juga menjeritkan nama Eltan saat ia sudah sampai pada puncak pelepasannya. Begitu pun Eltan, yang mengerang saat penyatuan tersebut mencapai tujuan maksimal yaitu kepuasan.


Dengan terengah Eltan melepaskan tubuhnya, “Bisa jadi ini efek dari sate kambing tadi. Sudah puas belum? Puaslah masa enggak.”


 


 

__ADS_1


________


Bang El yaaaa,,, jgn lupa jejaksss 🥰


__ADS_2