Menikahi Paman Mu

Menikahi Paman Mu
Become A Mother


__ADS_3

"Besok-besok Bunda pasti ada aja ide untuk dekatkan kita, jadi mending kamu tolak dari awal. Kamu kan ngaku ganteng, masa iya enggak ada yang suka sampai harus dijodohkan macam begini."


Nana gadis yang saat Eltan nilai sangat feminim dengan gayanya namun ternyata kalimatnya berbeda 180 derajat.


Eltan menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar, "Saya lelah dan malas berdebat," ujar Eltan meninggalkan Nana.


"Bu," ucap Eltan sambil melirik jam tangannya, "aku harus pergi."


"Kamu bisa antar Nana?" tanya Laksmi.


"Tidak usah Tante, aku akan pulang bareng Bunda," ujar Nana yang berada di samping Eltan.


Eltan melirik sinis pada gadis disampingnya, sungguh gadis yang memiliki dua kepribadian. Tadi saat di toilet bicaranya lumayan pedas namun di sini dengan tutur kata halus.


Akhirnya Eltan berhasil meninggalkan Ibu dan rekannya dengan sedikit kebohongan. Bergegas untuk pulang karena fisik butuh rehat.


Bertempat di apartemen Elang, Kayla yang terbangun karena rasa tidak nyaman di perutnya. Menoleh pada Elang yang terlelap masih dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut sampai pinggang.


Setelah pergulatannya dengan Kayla, Elang langsung terlelap, Kayla mengenakan pakaian yang tadi Elang lucuti.


Menuju kamar mandi, cukup lama duduk di atas kloset namun tidak ada apapun yang keluar dari tubuhnya.


Kembali berbaring di samping Elang, Kayla meringis karena merasakan lagi tidak nyaman pada tubuhnya.


"Mas El," panggil Kayla lirih nsmun sudah pasti tidak didengar, akhirnya Kayla kembali memejamkan matanya.


.


.


.


Kayla mengerjapkan kedua matanya dan melihat Elang yang sedang merapihkan suitnya. "Pagi, kesayangannya Elang," ucap Elang lalu menghampiri Kayla dan mencium keningnya.


"Gombal," sahut Kayla dan dijawab dengan Elang yang terbahak. "Mas El, badanku rasanya pada pegal, aku enggak buatkan sarapan ya?"


"Iya sayang, kamu istirahat aja. Gak tega juga aku lihat perut kamu. Mau aku antar ke bunda atau gimana?"


"Aku di sini aja. Enggak tega tapi semalam sampai..."


"Tapi kan pelan-pelan Kay, dan posisinya juga spesial ibu hamil. Kamu kapan siap pindah ke rumah kita?"


"Aku masih nyaman di sini Mas, lagian di sini juga luas. Kalau buat conection door ke kamar sebelah gimana ?" pinta Kayla.

__ADS_1


"Oke, my queen. Apapun akan hamba lakukan, aku berangkat dulu ya?" Pamit Elang sambil memeluk Kayla.


Kayla merasakan perutnya kembali tidak nyaman, ia menuju kamar mandi. Seperti semalam, cukup lama berada di kloset namun tidak berhasil mengeluarkan apapun.


Mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,


"Iya Kay."


"Bunda..."


"Kamu kenapa? Sakit?"


"Perut aku enggak enak, bolak balik ke toilet tapi


..."


"Sejak kapan? Elang mana?"


"Semalam Bun, Mas Elang sudah berangkat kerja."


"Bunda ke sana ya, kamu jangan aktifitas berat sayang. Pokoknya tunggu Bunda."


Meera sudah mengakhiri panggilannya sebelum Kayla menjawab.


"Pih, kita lihat Kayla," ajak Meera.


"Elangnya kemana?"


"Sudah berangkat kerja, mereka sama-sama tidak berpengalaman," ujar Meera dari dalam kamar.


Kayla membuka pintu, sambil meringis menahan nyeri. Meera segera menuntunnya duduk di sofa, sakitnya seperti apa?"


"Aku mulas seperti mau pup, mana pinggangku panas," jawab Kayla.


"Kamu sudah siapkan yang perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Meera. Kayla menggeleng, "Maksud Bunda aku mau melahirkan? Tapi kan masih sekitar 3 mingguan lagi."


"Bisa maju, bisa juga mundur," sahut Meera.


Meera sedang menyiapkan perlengkapan yang perlu mereka bawa ke rumah sakit, sedangkan Kayla berada di kamar mandi, "Bun, Bunda," panggil Kayla yang berada di kamar mandi.


Saat ini Kayla sudah berada di UGD rumah sakit tempatnya biasa periksa kehamilan, "Pih, jangan lupa hubungi Elang," titah Meera sambil segera mengikuti brankar yang membawa Kayla menuju ruang tindakan


Dahi Kayla berkeringat, dari mulutnya terdengar desisan halus. Setelah diperiksa ternyata baru pembukaan dua, masih cukup lama proses kelahirannya.

__ADS_1


"Bun, sakit. Pinggang aku rasanya panas banget," ucap Kayla yang berpegangan pada pinggiran ranjang menahan rasa sakit.


Elang tiba di rumah sakit dan menghampiri saat Kayla muntah karena menahan sakit. Di bantu Meera yang memegang baskom stainless sebagai tempat muntahannya, "Sayang, gimana? Apa kata dokter Bun," tanya Elang yang berada di sisi kiri Kayla sambil memgusap keringat di dahi dan leher istrinya.


Sedangkan Meera berada di sisi kanan Kayla, "Bunda buang ini dulu," ucap Meera membawa baskom tidak lama kembali dengan baskom yang sudah bersih di tangannya.


"Baru pembukaan dua," sahut Meera, "kalau proses pembukaannya lambat maka Kayla akan terus kesakitan begini."


Kayla sudah dalam posisi berbaring miring menghadap Elang, wajahnya ia benamkan pada bantal.


Elang yang mengenakan kemeja dengan lengan digulung sampai siku, "Aku enggak tega lihat kamu kesakitan begini," ucap Elang sambil sedikit menunduk dan membelai kepala Kayla, "kita pilih operasi saja ya?"


Namun Kayla menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. "Shhhh," kembali meringis menikmati rasa sakit yang timbul tenggelam.


"Minum dulu sayang," ucap Meera, "kamu sudah makan?" Kayla kembali menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun Kayla," ujar Elang. "Sudah, kamu temani Kayla, biar Bunda yang urus makannya."


"Mas El, sakiittt," rengek Kayla dengan mata yang mengembun. Elang memeluk Kayla yang berbaring miring, "Sabar sayang."


"Aku enggak mau hamil lagi, rasanya sakit banget aku enggak kuat. Dokter bilang sekarang baru pembukaan dua, harus tunggu lengkap pembukaan sepuluh, gimana rasanya? Aku takut Mas," ucap Kayla lirih.


"Sttt, tenang, kamu simpan energi kamu untuk melahirkan sekarang tenang sayang. Aku temui dokter ya, kita pilih operasi?"


"Mas El mudah bilang tenang, karena enggak ngerasain. Cuma tau enaknya doang," pekik Kayla. Elang menggaruk tengkuknya, bingung harus jawab apa karena pada dasarnya yang Kayla sampaikan benar. Mulai dari mengandung, melahirkan dan menyusui dialami oleh perempuan.


Bahkan mendidik dan merawat juga lebih didominasi oleh perempuan, Elang menghela nafasnya, namun tetap membelai kepala Kayla.


Waktu sudah menjelang sore, Kayla sudah semakin lemah menahan sakit. Makan pun hanya sedikit, sesekali bahkan ia muntah.


Dokter kembali memeriksa Kayla, "Sudah lebih dari enam jam tapi pembukaannya lambat ya, baru naik pembukaan empat," ucap dokter.


"Jadi, bagaimana Dok?" tanya Elang.


"Masih memungkinkan pilih operasi atau induksi. Tapi saya tidak bisa menjamin dengan induksi akan cepat proses pembukaannya, silahkan diskusikan dulu ya."


Meera membelai kepala Kayla, "Kamu kesakitan sayang, sekarang kita pilih yang terbaik untuk kalian berdua. Dengarkan apa kata suami kamu ya!"


Elang mendekat pada Kayla yang saat ini kembali berbaring miring, duduk disisi ranjang pasien lalu memeluk Kayla, "Aku sayang kamu Kay, kalau begini beresiko untuk kalian berdua. Kamu tetap seorang Ibu walaupun tidak melahirkan normal. Aku putuskan operasi ya?"


Air mata Kayla membasahi bantal lalu ia mengangguk. "I love you sayang," ucap Elang kemudian menciumi pipi Kayla berkali-kali.


"Bunda temani Kayla, aku temui dokter."

__ADS_1


_____________


Haiiii, jangan lupa jejaksss, Selamat Berpuasa Ramadhan bagi yang menjalankan. Nantikan terus kelanjutannya ya, love you all


__ADS_2